Samudra Ilmu Agama Islam

Islam Rahmatan Lil 'Alamin

APAKAH MAKMUM BOLEH MEMISAHKAN DIRI DARI IMAM ?

Posted by Administrator pada 14 Juli 2009

Melanjutkan jawaban dari pertanyaan WAWAN

Pada dasarnya seorang makmu harus mengikuti imam dalam setiap gerakannya. Tetapi karena adanya satu dan lain hal, seperti kehendak untuk buang hajat, ada keperluan mendadak ketika shalat sudah dimulai, ada pencurian di samping masjid, ada orang yang pingsan di samping kita berdiri, dan lain-lain. Dalam keadaan seperti ini, bolehkan seseorang itu memisahkan diri dengan imamnya atau tidak boleh. Dalam pengertian jika dikatakan boleh, maka dia tinggal menambahkan shalat yang kurang, kemudian mempercepat shalatnya hingga selesai. Kalau dikatakan tidakboleh, maka shalatnya sebelum memisahkan diri adalah batal. Dan dia harus mengulangi shalat lagi dari awal, jika memisahkan diri. Jadi shalat sebelumnya dianggap tidak ada sama sekali.

Dalam hal ini ada perbedaan madzhab di kalangan para ulama madzhab empat. Di sini saya menyebutkannya satu per satu, yaitu :

  1. Madzhab Syafi’ menyatakan boleh, tetapi makruh memisahkan diri dari imam, baik dalam keadaan ada udzur atau tidak ada udzur, karena bertentangan dengan maksud dari shalat jama’ah, di mana seorang makmum diharuskan untuk mengikuti imamnya daam setiap gerakannya. Dan memisahkan diri bertentangan dengannya. Ini kecuali shalat Jum’at saja yang dalam keadaan apapun tidak boleh memisahkan diri dari imamnya. Jika memisahkan diri dari imamnya karena suatu keperluan, misalnya ad orang yang jatuh pingsan karena penyakit ayan atau yang lainnya, maka dia dapat meninggalkan imamnya dna batal shalatnya, kemudian menggantinya dengan shalat dzuhur.
  2. Madzhab Ahmad menyatakan boleh memisahkan diri dengan imam, jika ada udzur. Contoh dari udzur ini misalnya : imam terlalu panjang membaca surat (seperti yang terjadi pada masa Rasulullah, yaitu ketika Mu’adz membaca surat yang sangat panjang (Al Baqoroh atau An Nisa’, kemudian ada seorang yang memisahkan dirinya dan meneruskan shalatnya sendirian. Kemudian laki-laki itu mendengar bahwa Mu’adz mencelanya, maka dia melaporkan hal itu kepada Rasulullah dan beliau mencela Mu’adz dan tidak mencela orang laki-laki itu dan tidak menyuruhnya untuk mengulangi shalatnya (Shahih Bukhari, Tahqiqi Daibul Bigho, I/249, no. 673). Hadits ini dengan tegas menunjukkan bahwa memisahkan diri karena adanya suatu udzur yang syari’i adalah diperbolehkan. Tetapi jika tidak ada udzur, maka tidak diperbolehkan da shalatnya tidak sah. Artinya dia harus mengulang shalatnya dari awal.
  3. Madzhab Hanafi hanya memakruhkan mendahului imam pada waktu salam setelah tasyahud saja. Sebelumnya tidak diperbolehkan.
  4. madzhab Maliki tidak memperbolehkan sama sekali dalam keadaan apapu. Artinya shalatnya tidak sah dan dia harus mengulang dari awal.

 

Menurut saya pribadi setelah memperhatikan dalil masing-masing, maka madzhab Ahmad adala yang paling kuat di sini. Jika tidak ada udzur, maka tidak boleh memisahkan diri dari imam, karena hal itu bertentangan dengan semangat shalat berjama’ah. Dna kalau diperbolehkan maka akan menimbulkan kekacauan dalam shalat berjama’ah itu. Misalnya jika dia berdiri di shaf terdepan, kemudian hendak memisahkan diri dari imamnya, maka akan kacaulan barisan jama’ah shalat.

Tetapi jika ada udzur yang diperbolehkan, seperti pada kasus sahabat Mu’adz di atas, atau yang lainnya, misalnya takut hartanya dicuri orang, sedangkan dia seorang musafir yang tidak kenal daerah itu, atau sebab yang lainnya, maka dipebolehkan.

Bagaimana kalau bacaan imamnya terlalu cepat ?

Sepanjang pengetahuan saya, seorang makmu hanya diwajibkan untuk membaca surat Al Fatihah dan tasyahud akhir saja. Itupun masih diperselisihkan dalam madzhab empat apakah dia diwajibkan membaca surat Al Fatihah ini atau tidak. Sebagian ulama ada yang mewajibkan dan sebagian yang lainnya ada yang melarang. Hal ini karena adanya perbedaan hadits dalam hal ini dan perbedaan para ulama dalam menentukan derajat hadits-hadits itu.

Dan firman Allah :

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآَنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Jika dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, semoga kamu mendapatkan rahmat (QS Al A’raf : 204)

Ayat ini tegas menyebutkan jika ada orang yang membaca Al Qur’an, maka kewajiban yang lainnya adala mendengarkan dan diam.

Dan sabda Rasulullah :

من كان له إمام فقراءته له قراءة

Barangsiapa yang memiliki imam, maka bacaannya adalah juga bacaan baginya. (HR Ibnu Majah dari Jabir, III/845, no.840). Hadits ini dengan tegas menyebutkan bahwa seorang makmum tidak berkewajiban membaca apapun, bahkan surat Al Fatihah.

Hadits ini banyak dicela oleh para ulama dari sisi keshahihannya. Banyak dianatara mereka yang menyatakan bahwa hadits ini dla’if. Ini dapat dilihat pada Tahqiq Kitab Al Muwatho’ oleh Dr. Taqiyuddin An Nadwi, seorang guru hadits di Universitas Uni Emirat Arab, ketika memberikan komentar terhadap hadits tersebut, I/194, no. 117.

Tetapi syeikh Nashiruddin Al Al Bani menyakan bahwa hadits ini shahih (Silsilah Ahadits Adl Da’ifah : II/58 – 59) dan Hasan pada kitabnya yang lain (Shahih Ibnu Majah, I/141, no. 692; Shahih wa dl’aif Al Jami’ Ash Shoghir, no. 11433).

Apapun derajat hadits ini, maka kewajiban maksimal seorang makmum adalah membaca Surat Al Fatihah bagi yang mewajibkannya dan membaca Tasyahud Akhir saja. Karena itu tidak layak untuk memisahkan diri dari imam, karena bacaan imam yang terlalu cepat dan insya Allah shalatnya tetap sah asalkan bacaan Surat Al Fatihah imam sudah benar.

Ini tidak berarti makmum itu tidak usah membaca bacaan apapun. Dia tetap disunnahkan untuk membaca do’a pada waktu ruku’, sujud, do’a diantara dua sujud, tasyahud awal dan lain-lain.

Mengikuti imam bagi seorang makmum hukumnya adalah wajib, dan memisahkan diri dari imam ada yang mengatakan makruh bahkan ada yang mengatakan dilarang. Karena itu tidak layak meniggalkan yang wajib, hanya karena sesuatu yang makruh.

Dengan demikian akan terjagalah persatuan dan kesatuan ummat ini. Seperti inilah yang dilakukan oleh para sahabat pada masa pemerintahan Bani Umayyah. Banyak diantara mereka yang tidak suka dengan para khatib yang mencela Ali dan keluarganya, tetapi mereka tetap shalat berjamaah di belakang mereka.

Tidak pada setiap perbedaan pendapat, kita mesti memisahkan diri dari pemimpin. Jika ini yang dilakukan oleh setiap muslim, maka hancurlah ummat ini.

Sekian jawaban ini, mudah-mudahan ada guna dan manfaatnya. Wallaahu a’lam.

3 Tanggapan to “APAKAH MAKMUM BOLEH MEMISAHKAN DIRI DARI IMAM ?”

  1. aulia said

    oh sy bru tahu thx atas infonya

  2. hery imam s said

    alhamdulillahi robbal ‘alamiin … Dpt tambahan ilmu.trims..

  3. Yugo said

    Pak nnya duunt
    ap hukum islam tntng orng yg memprediksi atw meramal?
    Dan orng yg mempercayai’a

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: