Samudra Ilmu Agama Islam

Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Al Fatihah Setelah Do’a dan Cara Bangkit Dari Sujud

Posted by Administrator pada 8 Juli 2009

aslmkm, ust kaif hlk, smg ttp dlm lndngn Allah. ni mau tanya:

  1.  apa hukumnya orang yang mimpin doa bersama-sama lalu diakhirnya mesti di tambai kalimat “al faaatiah” misal: Semoga ibu fatimah segera diberi kesembuhan dari sakitnya, dan semoga adik nita diberi kelulusan didalam menempuh ujian, dan juga semoga bapak ahmad segera lancar usahanya, Al FAAAAAATihah…, (lalu jamaah membaca bersama-sama)apa ada dasar yang menyarankan seperti itu. dan gmn sebaiknya.
  2. tentang bangkit dari sujud untuk berdiri atau setelah tahiyat awal, ada yang mengepalkan tangan dan ada yang tanpa mengepal, Minta dasar keduanya
  3. Bila ana ikut jamaah di musholla, imamnya cepet sekali, berdosakah bagi makmum yang mundur dari barisan sholat tersebut, lalu dia sholat sendiri karena dikawatirkan kalo ikut imam sholatnya rusak (tidak sempurna bacaanya) dan bagaimana tentang hadis yang menyatakan bahwa” siapa yang punya imam, maka bacaan imam termasuk bacaan makmum” apakah makmum tanpa membaca apapun solatnya tetap sah?

 Jawab :

Assalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Sebelumnya saya minta ma’af atas terlambatnya jawaban ini. Karena berbagai macam hal saya tidak dapat duduk lama di depan computer untuk mengetik dan mengirimkan data lewat internet dan cukup lama tidak mengutak atik blog ini. Hari ini, liburan Pilpres, jadi ada waktu untuk duduk sebentar menulis. Semoga ada guna dan manfaatnya.

Untuk pertanyaan nomor satu, yaitu tentang membaca Surat Al Fatihah setelah berdo’a seperti yang disebutkan di dalam pertanyaan di atas. Sebenarnya alasan mereka melakukan hal itu adalah banyak hal, sekalipun hal itu tidak pernah ada contohnya dari Rasulullah saw dan dari para ulama salaf. Diantara alas an-alasan itu adalah :

  1. mereka meyakini Surat Al Fatihah adalah surat yang terbaik di dalam Al Qur’an untuk kategori surat. Adapun untuk kategori ayat, maka ayat yang terbaik adalah Ayat Kursi. Nah karena Surat Al Fatihah adalah surat yang terbaik, maka mereka membiasakannya untuk membacanya dalam berbagai macam kesempatan. Bahkan mereka memiliki do’a khusus untuk keutamaan Surat Al Fatihah ini, yang intinya dalam do’a itu mereka dengan segala rahasia, keutamaan dan kandungan dari Surat ini mereka meminta berbagai macam hal kepada Allah. Keyakinan mereka ini bahkan bias dikatakan cukup berlebih-lebihan, karena mereka mengatakan bahwa inti dari Al Qur’an adalah Surat Al Fatihah dan inti dari Surat Al Fatihah adalah Basmalahnya dan inti dari basmalah adalah pada huruf ba’nya. Nah, kalau kemudian diambil kesimpulan langsung maka huruf ba’ adalah huruf terbaik dalam Al Qur’an. Untuk yang terakhir ini tentu merupakan sesuatu yang berlebih-lebihan yang dilarang.
  2. Surat Al fatihah itu sendiri adalah do’a, bahkan termasuk kategori do’a yang terbaik, yaitu dengan permintaan petunjuk kepada jalan yang lurus.
  3. keumuman dari sabda-sabda Rasulullah saw seperti diantaranya :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ : مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْآنُ وَذِكْرِي عَنْ مَسْأَلَتِي، أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِينَ، وَفَضْلُ كَلاَمِ اللَّهِ عَلَى سَائِرِ الْكَلاَمِ كَفَضْلِ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ،  قَالَ أَبُو عِيسَى : هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ

Dari Abu Sa’id bahwa dia berkata : “Rasulullah saw bersabda : “Allah berfirman : “Barangsiapa yang disibukkan oleh Al Qur’an dan dzikir kepada-Ku dari meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberikan sesuatu yang terbaik yang Aku berikan kepada para peminta kepadanya. Dan keutamaan kalam Allah atas perkataan-perkataan yang lainnya adalah seperti keutamaan Allah atas seluruh makhluknya”. Abu Isa At Turmudzi berkata : “Hadits ini adalah Hasan Gharib”.

Imam Turmudzi sendiri menyatakan hadits ini adalah hasan. Tetapi Syeikh Nashiruddin Al Al Baani menyatakan hadits ini dla’if. Di dalam kitab Silsilah ahadits dla’ifah beliau menjabarkan panjang lebar mengapa hadits ini dla’if dan di dalam kitab yang lainnya beliau mengatakan dla’if jiddan.

Dan Al Hafidz Al ‘Iraqi di dalam Takhrij hadits-hadits Ihya’ ‘ulumuddin (I/296-297) tidak tegas menyatakan derajat hadits ini. Beliau hanya mengatakan bahwa ada sebagai ulama yang menyatakan hadits ini terpercaya dan ada yang menyatakan hadits ini dla’if. Adapaun beliau sendiri apa pendapatnya, tidak disebutkan dengan tegas.

Tetapi terlepas dari semua perbedaan yang ada, tetapi yang jelas Imam Turmudzi menyatakan bahwa hadits ini adalah hasan dan itu sudah cukup untuk menjadikan hadits ini sebagai hujjah.

Jadi sebenarnya tidak ada salah dari bacaan fatihah itu. Tetapi yang bermasalah adalah ritual yang digunakan untuk membacanya dan pembiasaannya. Jika satu waktu kita membaca Surat Al Fatihah untuk tujuan berdo’a, saya yakin itu adalah sebuah ibadah yang akan mendapatkan pahala. Tetapi jika suatu ibadah itu dilakukan dengan ritual khusus dan cara khusus yang tidak pernah ada contohnya dari Rasulullah saw, maka jadilah dia sebagai ibadah yang bermasalah yang kadang-kadang justru mendapatkan dosa, karena termasuk kategori bid’ah.

Contoh yang lain adalah membaca istighfar, tahlil, tahmid, atau membaca Al Qur’an itu sendiri. Semua itu adalah ibadah. Tetapi jika harus dilakukan dengan cara tertentu, di tempat tertentu, waktu-waktu tertetu yang itu tidakpenah ada contohnya dari Rasulullah saw dan para sahabatnya, maka itu justru membuatnya menjadi tercela.

Jadi jika suatu saat kita membaca Surat Al Fatihah ini sebagai do’a, maka hukumnya adalah boleh dan masuk kategori ibadah. Tetapi jika dibasakan dengan cara yang tidak ada dalilnya secara syar’i, maka hukumnya adalah bid’ah.

Adapun pertanyaan yang kedua, yaitu tentang tata cara berdiri, apakah dengan mengepalkan tangan atau tidak mengepalkan tangan.

Sejak dahulu saya tidak pernah memikirkan apakah kalau berdiri itu dengan mengepalkan tangan atau tidak sampai saya membaca terjemahan sifat shalat nabi karya Syeikh Nashiruddin Al Al bani yang diterjemahkan oleh Abu Zakariya Al Anshori. Di sana disebutkan sebuah hadits :

ثم كان صلى الله عليه وسلم ينهض معتمدا على الأرض إلى الركعة الثانية، (وكان يعجن في الصلاة : يعتمد على يديه)

Dan disebutkan di dalam kitab itu bahwa terjemahan hadits itu adalah sebagai berikut : Selanjutnya beliau saw bangkit bediri dengan bertelekan di atas tanah menuju raka’at kedua. Dan beliau mengepalkan kedua tangannya sewaktu hendak berdiri”.

Inilah terjemahan di buku itu. Tidak ada salah pada hadits yang diriwayatkan. Tetapi yang bermasalah adalah terjemahan dari hadits itu. Saya belum menemukan dalam kamus Bahasa Arab dari para pengarang terdahulu yang menjelaskan makna يعجن   adalah mengepalkan tangan dan redaksi dari hadits itu sendiri menolak terjemahan ini. Saya berpendapat terjemahan itu adalah salah.

Berikut ini akan saya jelaskan makna dari kata يعجن  dari kamus-kamus Arab.

  1. Al Mu’jam Al Wasith : II/586 :

عجن فلان عجنا : نهض متعمدا بيديه على الأرض كبرا أو سمنا والدقيق ونحوه خلطه بالماء ولاكه وملكه بيد أو آلة

عجن فلان عجنا adalah berdiri dengan metelekan dengan tangannya di atas tanah, karena sudah tua atau karena gemuk.

عجن والدقيق ونحوه  mencampur tepung atau yang semisalnya dengan air, mengaduknya dan membuatnya sebagai adonan, baik dengan tangan atau dengan alat.

  1. Mukhtarush Shihah karya Ar Razi (saya tidak menyebutkan halamannya karena bisa jadi buku yang sama miliki berbeda halamannya dengan versi cetaknya:

عَجَنَ الرجل : إذا نهض معتمدا على الأرض من الكبر

عَجَنَ الرجل : jika dia berdiri dengan bertumpu (bertelekan) pada tanah karena sudah tua.

  1. Asasul Balaghoh karya Az Zamahsyari

إن فلاناً عجن وخبز أي شاخ وكبر لأنه إذا أراد القيام اعتمد على ظهور أصابع يديه كالعاجن وعلى راحتيه كالخابز

Maksudnya dia sudah tua dan berumur, karena jika hendka berdiri maka dia bertumpu pada punggung kedua tangannya seperti orang yang membuat adonan atau pada bagian depan telapaknya seperti orang yang membuat roti.

Itulah makna dari kata عجن  di kamus-kamus Arab. Saya belum tahu, setidaknya saat ini, jika kata itu dapat diterjemahkan dengan mengepalkan. Bisa jadi terjemahan ini salah.

Lagi pula redaksi dari hadits di atas tidak menunjukkan kepada makna ini. Lihatlah bagaimana redaksinya : وكان يعجن في الصلاة : يعتمد على يديه. Lihatlah ada titik dua di tengahnya. Sedangkan di dalam tata cara imla’ dalam bahasa Arab titik dua itu digunakan untuk menunjukkan bahwa kalimat atau kata selajutnya adalah tafsir dari kata atau kalimat sebelumnya. Jadi saya berpendapat bahwa kata setelah titik dua itu adalah tafsir dari kata يعجن  itu yang maknanya adalah bahwa Rasulullah bertumpu pada kedua tangannya.

Itulah cara berdiri yang diajarkan pada waktu shalat. Sekalipun secara bahasa kata itu digunakan untuk menunjukkan cara berdiri bagi orang yang tua, tetapi itulah yang diajarkan dalam agama ini, untuk berdiri menuju raka’at kedua dan seterusnya.

Adapun cara detailnya apakah dengan bagian telapak tangan bagian depan atau dengan pnggungnya, itu tidak dijelaskan secara detail. Jadi menurut saya tidak ada keharusan untuk memilih salah satu dari semuanya. Karena semuanya sesuai dengan makna bahasa, seperti yang disebutkan oleh Az Zamahsyari di atas. Atau bisa jadi hanya dengan ujung-ujung jari saja. Saya yakin semua itu adalah diperbolehkan.

Jadi tidak ada masalah pada hadits yang disebutkan oleh Syeikh Nashiruddin, yang perlu dipikirkan lebih lanjut adalah terjemahannya dalam bahasa Indonesia oleh Al Atsari itu.

Untuk sementara dua jawaban ini dahulu. Dan untuk pertanyaan yang ketiga insya Allah akan saya jawab segera.

                                     

9 Tanggapan to “Al Fatihah Setelah Do’a dan Cara Bangkit Dari Sujud”

  1. diar said

    hanya menambahkan masukan yang semoga bermanfaat, bahwa menurut sistematika surat: bahwa surat-surat panjang dalam Al Qur’an adalah penjelasan dari Surat Al Fatihah dan surat-surat pendek merupakan kesimpulan, bahwa menurut systematika ayat: bahwa ayat pertama adalah inti surat, maka inti dari Surat Al Fatihah adalah Basmalahnya, namunperlu di ingat bahwa dalam basmalah ada kata yang di mahjub(tertutupi) yakni kata anaa(saya) yang mana merupakan jawaban dari wahyu iqra’, sehingga selengkapnya menjadi anaa bismillaahi… dst, sehingga inti keseluruhan dari al quran adalah si manusianya itu sendiri yang mau atau tidak dengan ajaran al quran menurut sunnah rasul-nya (2:2) . . . demikian sedikit masukan yang mana semoga bermanfaat.

  2. fauzi said

    masukan yang sebenarnya bermnfaat, tapi darimana kata ana itu berasal dan berdasarkan ilmu bahasa mana dia terbuang begitu saja dengan tidak ada satupun indikasi bahwa ada sebuah kata yang terbuang, sebagaimana tradisi Bahasa Arab yang jika membuang suatu kata atau bahkan kalimat, maka dia menyiratkan sesuatu yang menunjukkan bahwa ada kata/kalimat yang terbuang. Jika saja ada kata ana itu yang terbuang, maka kalimat-kalimat selanjutnya dalam Surat Al Fatihah itu menggunakan dlomir ana juga. Tetapi mengapa justru dlomir nahnu yang dipakai ? Suatu masukan yang masih harus ditinjau ulang kebenaranya.

  3. diar said

    anaa disini adalah penegasan dari jawaban iqra’ bismirabbika sehingga dijawab dengan anaa bismillaahi arrahmaani arrahiymi (mudah mudahan saya mau hidup dengan ajaran allaah al quran menurut sunnah rasulnya lagi yang memberikan satu kepastian hidup atas pilihan masing masing), betul sekali bahwa pada ayat kelanjutannya tetap ber awalan anaa sebagai satu senandung harapan mudah mudahan saya . . . . semoga bermanfaat

  4. farit said

    itu sih berdasarkan ilmu otak atik yg tdk mathuk tapi dipaksakan mathuk

  5. abuaghis said

    benar sekali dalam memahami agama ini kita harus merujuk kepada makna yang dijelaskan oleh ulama yang lurus yang bersumber dari kitab yang ashli bukan terjemahan.masalahnya sekarang ini banyak buku2 terjemahan yang dijadikan bahan bacaan bagi orang yang belajar agama sehingga bisa dimungkinkan keliru dalam memahaminya dan tidk sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh ayat atau hadits yang dimaksud.bahkan menurut beberapa sumber kitab asli ulama ahlusunnah saja banyak yang ditahrif oleh orang2 yang tidak bertanggung jawab karena dianggap tidak sepaham dengan ideologinya dan bekerja sama dengan penerbit. sehingga kita perlu berhati2 dalam memahami agama. cari guru yang benar2 sisi akhlaq dan ubudiyahnya tinggi sehingga dapat menuntun kita kepemahaman yang benar.

  6. chairul said

    ass.wr.wb saya mau tanya ustad bagaimana doa yang khusuk dan doa yang dikabulkan alloh swt dan sholat yang khusu

    wasalam

  7. suseno said

    Ibadah secara islam adalah mencontoh rosululloh dan apabila tidak ada rujukan rosululloh mestinya mesti dicari dasar hukum nya apa
    Kebenaran hanya milik Alloh semata manusia tidak tahu apa apa dan tidak ada kekuatan apapun ( lahaula walla quwata illa billah )

  8. Alan said

    apakah benda haram jg termasuk najis dlm Islam

  9. Administrator said

    Untuk Alan. Tidak semua benda yang haram adalah najis. Contoh racun adalah haram, tetapi jika mengenai tubuh maka dia tidak najis dan tidak perlu untuk disucikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: