Samudra Ilmu Agama Islam

Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Hukum Membenci Polygami

Posted by Administrator pada 28 Mei 2009

Pertanyaan dari SDP Nasution
Assalamualaikum.wr.wb.
Saya mendengarkan seorang wanita muslim membenci yang namanya polygami menurut islam sedang yang saya tau , apabula membenci hukum Allah maka yang membenci tersebut jatuh musrik. bagai mana itu Pak Ustadz ?Wassalamualaikum.wr.wb.

Jawab

Wa’alaiku salam warahmatullaahi wabarakaatuh

Bismillah wal hamdulillah wa sholatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa’ala aalihi wa shohbihi wa mawwaalah.

Telah disepakati oleh para ulama bahwa barangsiapa yang mengingkari salah satu ajaran Islam yang tegas dan bersifat qoth’i (pasti) adalah telah kafir. Dalam mahkamah Islam orang yang demikian ini akan diajukan ke hadapan hakim dan diminta untuk bertaubat setelah terlebih dahulu diberikan nasehat dan diajak untuk berdialog sampai keslahpahaman yang mungkin terjadi pada dia menjadi hilang. Seperti orang yang mengingkari kewajiban shalat, puasa, zakat, haji bagi yang sudah mampu, yang mengingkari haramnya riba, yang menikah dengan saudara dan lain-lain, termausuk diantaranya yang mengingkari kebolehan poligami. Dia diberi kesempatan untuk betaubat selama 3 hari, jika tidak mau bertaubat, maka hakim berhak memberikan keputusan terhadapnya.

Adapun jika dia tidak mengingkari, tetapi enggan atau malas untuk mengerjakannya, maka orang ini tidak dihukumi kafir dan dia berdosa besar dan diminta bertaubat. Ini adalah pendapat dari Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah. Sedangkan menurut sebagian ulama yang lain, mereka ini hukumnya sama saja dengan yang pertama, yaitu yang mengingkari kewajiban-kewajiban itu. (Lihat penjelasan tentang masalah ini di Fiqhus Sunnah, I : 80 – 82)

Dalilnya adalah banyak, diantaranya :

Hadits Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Jabir bahwa beliau bersabda :

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“Antara seseorang dan antara kemusyrikan dan kekafiran itu adalah meninggalkan shalat”. HR Muslim, I : 62, no. 257.

Hadits ini menjelaskan tentang hukum bagi orang yang meninggalkan shalat, tanpa memerinci sebab dia meninggalkannya, apakah karena lalai, enggan atau mengingkarinya. Karena tidak ada perincian, maka semuanya adalah sama. Jadi barangsiapa yang meninggalkan shalat, maka dia telah kafir dan musyrik. Kafir karena dia telah mengingkari syari’at dan musyrik karena dia telah membuat syari’at sendiri, yaitu syari’at untuk tidak shalat. Sedangkan yang berhak menentukan syari’at itu hanyalah Allah semata. Jika ada orang lain yang membuat syari’at yang baru, maka dia telah menyamakan dirinya dengan Allah dan orang yang menyamakan dirinya dengan Allah adalah musyrik.

Adapun Madzhab Syafi’I dan Abu Hanifah yang menyatakan bahwa orang tersebut tidak menjadi kafir dan musyrik adalah keumuman dalil bahwa dosa yang tidak diampuni oleh Allah adalah dosa syirik saja. Adapun dosa-dosa yang lainnya, maka jika Allah menghendaki, Dia akan mengampuni dan jika tidak menghendaki ampunan, maka Dia akan menyiksa hamba itu terlebih dahulu. Lihat QS An Nisa’ : 116

Terlepas dari itu semua, maka sesungguhnya meninggalkan dengan sengaja suatu kewajiban adalah sebuah dosa yang besar, apapun alasannya. Ini disepakati oleh para ulama. Dan membenci suatu ajaran syari’at yang tegas adalah juga termasuk dosa besar juga. Seperti membenci jilbab, jenggot, mengatakan orang-orang yang berdakwah di jalan Allah sebagai orang yang sok suci dan lain sebagainya.

Adapun tentang masalah poligami, maka hal itu adalah sudah merupakan syari’at yang tegas dan bersifat pasti kebolehannya. Sejak masa dahulu sejak masa Rasulullah saw masih hidup, syari’at ini sudah dipraktekkan dan orang-orang kafir pada masa itu, sebangsa Abu Lahab dan kawan-kawannya sama sekali tidak mencela ajaran ini. Ini menunjukkan bahwa ajaran yang seperti ini disepakati oleh semua ummat manusia, minimal yang ada pada masa itu, baik yang beriman maupun yang kafir. Jika sekarang kemudian ada orang-orang yang megingkarinya dan memberncinya, boleh jadi orang-orang itu lebih buruk daripada Abu Jahal dan Abu Lahab  yang sudah jelas akan masuk neraka, boleh jadi.

Ada sebagian orang yang melarang poligami karena berdasar kepada firman Allah pada Surat An Nisa’ : 129

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri- istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Dzahir ayat ini kelihatan melarang poligami. Tetapi jika diperhatikan lebih lanjut dan ayat ini dibaca dari awal sampai akhir ayat ini justru membolehkan poligami. Lihatlah pada awal ayat dinyatakan bahwa kalian tidak mungkin berbuat adil terhadap para istri, kemudian pada lanjutan kalimatnya dijelaskan bagaimana solusi agar suami terhindar dari ketidak adilan ini, yaitu agar dia tidak terlalu condong kepada salah satu pihak dan meninggalkan yang lainnya terkatung-katung. Jika poligami itu dilarang, pastilah ayat selanjutnya tidak akan memberikan solusi seperti ini. Adanya solusi menandakan bahwa melaksanakan solusi itu adalah boleh.

Ayat inilah yang sering dipuja-puja oleh mereka yang mengingkari poligami. Dan ayat inilah yang diulang-ulang oleh para feminis dalam diskusi-diskusi yang disiarkan oleh banyak setasiun TV ketika permasalahan ini memanas beberapa saat yang lalu. Sesuatu yang justru menunjukkan kebodohan mereka. Hanya pekerjaan dan uang yang mereka cari. Jika mereka sedikit merenungkan ayat ini, justru ayat ini menjadi bumerang bagi mereka. Begitulah perilaku orang-orang munafiq yang menjadi sesuatu yang membahayakan diri mereka sendiri sebagai pegangan dan cahaya, seperti yang dilukiskan oleh Surat Al Baqoroh ayat : 19 -20 dimana orang-orang munafiq itu berjalan dicuaca hujan, gelap gulitan diiringi kilat dan petir yang menyambar-nyambar. Justru mereka mejadikan kilat sebagai cahaya petunjuk bagi mereka. Jika ada kilat mereka berjalan, dan jika tidak ada kilat mereka berhenti. Tidak diragukan lagi kilat adalah sesuatu yang membahayakan siapapun juga.

Tetapi yang perlu diingat bagi setiap laki-laki, bahwa poligami itu boleh tapi bersyarat. Dia tidak boleh mentang-mentang, karena poligami itu dibolehkan kemudian dia semena-mena melaksanakannya. Tanpa memperdulikan syaratnya, yaitu adil dan mampu. Apalagi jika menteror istri untuk mengakui dan mencintai syari’at yang satu ini. Jika demikia, maka dia adalah profil suami yang tidak tahu diri.

Contohlah Rasulullah ketika diperbolehkan untuk menikah dengan empat kelompok wanita. Lihat Surat Al Ahzab ayat 50, yaitu :

  1. istri-istri yang sudah ada yang sudah diberi mahar
  2. budak perempuannya
  3. kerabatnya dari Suku Quraisy jika berhijrah bersamanya
  4. dan wanita yang menghibahkan dirinya kepadanya.

Sejarah mencatat dari semua istri Rasulullah saw, tidak ada satupun yang termasuk dalam kategori yang keempat, yaitu wanita yang menghibahkan dirinya kepadanya. Sekalipun hal itu diperbolehkan untuknya. Karena itu tahu dirilah sebelum melaksanakan poligami, apakah diri ini sudah siap dengan syaranya atau belum.

Khusus tentang pertanyaan saudara tentang poligami, saya agak sedikit ada pertanyaan dalam hati, mengapa permasalahan ini yang ditanyakan. Saya kurang jelas apakah anda ini seorang laki-laki atau perempuan. Jika anda seorang perempuan, maka tidak ada masalah. Masalahnya jika anda seorang laki-laki, mengapa anda memikirkan orang lain. Tidakkah lebih baik memikirkan diri sendiri dan berusaha untuk menjadi yang terbaik. Agama ini tidak memerintahkan ummatnya untuk mempertanyakan orang lain. Agama ini memerintahkan masing-masing personnya untuk selalu muhasabah (koreksi diri) dan selalu berlomba untuk menjadi yang terbaik. Lihatlah hadits-hadits Rasulullah saw dan pertayaan para sahabat. Mereka semua bertanya untuk masalah masing-masing pribadi bagaimana agar menjadi lebih baik. Mereka tidak bertanya untuk menjekkan orang lain.

Kita yang misalnya sudah sadar dan mengerti untuk mengerjakan beberapa ajaran sunnah, kita tidak perlu melihat orang yang lain yang tidak melakukan sunnah-sunnah tersebut. Jika bisa ingatkanlah dia. Jika tidak mau, maka istiqomahlah di jalan yang benar yang kita yakini itu. Lihat Surat Al Maidah : 105.  Kita tidak perlu menjelek-njelekkan orang tersebut. Sebab boleh jadi suatu saat nanti dia akan bertaubat dan menjadi orang yang justru lebih baik daripada kita saat itu. Lihat Surat Al Hujurat : 11

Sekian jawaban ini, semoga bermanfaat. Kurang lebihnya semoha Allah memaafkan.

Wassalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.

7 Tanggapan to “Hukum Membenci Polygami”

  1. feri said

    Ketua MUI bogor mengatakan ayat tersebut diatas sudah tidak relevan lagi untuk zaman sekarang, yg relevan UU no 174 yaitu larangan menikah lebih dari satu kali, kalo perempuan manentang poligami msh wajar, tapi kalo laki2 apalagi dia ketua MUI bogor menentang poligami..apa ya namanya?..munafik bukan?

  2. AHMAD said

    poligami bukan perintah Allah, tetapi produk penyimpangan dari manusia. Jika benar poligami perintah Allah maka Adam harusnya di beri lebih dari 1 istri, misalnya hawa, siti, mutmainah dsb..lebih tegasnya poligami bertentangan dengan maksud Allah alias dosa.

  3. astagfirullah………

    akhi kamu salah besar tentang poligami……..

    jika anda ingin mengkomentar harus lah ada dalil yang melarangnya.. dan dalil itu harus shohih……

    jika anda tanpa dalil jangan komentar tentang poligami…..

    poligami itu harus dilakukan bago orang yang adil…
    dan tidak saling berat sebelah…..

    jangan anda salah memahami poligami….

    saya minta maaf jika kata-kata saya terlalu menyinggung anda……

    syukron jazakumullah khoron

  4. just nut said

    Maaf sebelumnya berkomentar, selama kita menganggap islam agama kita dan nabi Muhammad adalah kekasih Allah, apa kalian akan mengingkari kalau perkataan dan keputusan dan aturan yang di berikan kepada kita makhluk ciptaan Nya yang tidak lebih tau dan tidak lebih sempurna dari Khaliq nya….? adalah salah dan sudah tidak relevan lagi di dunia ini yang di atur Nya dan hanya diketahui oleh Nya …. apakah kalian makhluk lebih mengetahui dari Nya………..dan kalian semua sudah tau jawabannya………..maka dia telah menyamakan dirinya dengan Allah dan orang yang menyamakan dirinya dengan Allah adalah musyrik……………..

  5. Sarwo Edy said

    Subhanallah, begitu indah pandangan dan perbedaan…..Sesungguhnya jika seseorang mengaku beriman dan memahami makna iman….Insha Allah seseorang tidak akan berani lepas rel yang sudah menjadi ketetapan Milik-Nya..

  6. moch bean said

    Segala sesuatu ada sebab akibat,yg mau monggo yg kga mau silakn toh yg ngerasain bukan orang lain.yg penting karna Alloh dan rosulnya-ikhtiar tawakal wajib masalah hasil Alloh swt ygnentuin.2jaga hukum islam jngn keluar dri pedoman hidup—-aamiin.

  7. Usamah bin Zaid said

    Saudara Ahmad…..mengapa anda mengatakan poligami bukan perintah allah, padahal jelas2 allah menyatakannya dalam Alquran bagi mereka yang mampu berlaku adil…..
    Mengapa Adam hanya diberi satu istri, itu karena syariat Islam belum ada, syariat Islam tentang poligami ini ada ketika masa kerasulan Nabi Muhammad, semasa adam belum diberlakukan……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: