Samudra Ilmu Agama Islam

Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Indonesia Menjadi Wisata Seks Terpopuler Bagi Turis Arab ???

Posted by Administrator pada 25 April 2009

Ada sebuah pemberitaan di eramuslim yang cukup menggelitik saya dan saya rasa perlu untuk memberikan komentar dan meletakkan sesuatu susuai dengan tempatnya masing-masing.

Ya, penulisan berita itu cukup menyakitkan dan bahkan bisa dikategorikan menjelek-njelekkan pemerintahan Saudi Arabia, Syeikh Abdullah bin Baz dan Wahabi dan bahkan merendahkan martabat Bangsa Indonesia sendiri. Sungguh ironi sebuah media muslim yang cukup konsisten memperjuangkan permasalahan keummatan, tetapi menulis berita seperti itu. Saya yakin penulis berita itu bukan ahli fiqih dan menukil perkaaan seorang ulama sepotong-sepotong. Untuk membaca berita lengkapnya silahkan klik di sini. Nanti akan saya jelaskan mengapa saya mengatakan bahwa penulis itu menulis pendapat Syeikh bin Baz hanya sepotong-potong. Di bagian bawah berita itu dinukilkan teks fatwa asli dari Bin Baz yang diambil dari  ahlalhdeeth.com (dalam forum diskusi di situs itu).

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mendukung fatwa itu, tetapi hanya untuk meluruskan kemiringan, sehingga tidak terjadi kesalahpahamana diantara sesama ummat Islam yang mulia ini. Saya sangat tidak setuju dengan fatwa itu. Saya terjemahkan dulu teks fatwanya dengan lengkap, saya berikan komentar, kemudian saya jelaskan sikap saya pribadi terhadap fatwa ini.

Terjemahan teks itu adalah : 

“Wahai para masyayikh yang mulia dan para penuntut ilmu yang agung. Assalamua’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Syeikh Bin Baz rahimahullah berfatwa bahwa pernikahan yang dilakukan oleh seseorang yang menyembunyikan untuk menceraikan istrinya setelah beberapa waktu adalah boleh. Ini adalah teks fatwanya : “Saya mendengar fatwa anda pada sebuah kaset rekaman tentang kebolehan menikah di negeri asing, sedangkan dia berniat untuk meninggalkannya setelah masa tertentu, seperti ketika waktu daurah ada pengutusan sudah selesai”. Maka apakah perbedaan antara pernikahan ini dengan pernkahan mut’ah ?

Jawab :

Ya, telah terit fatwa dari Majlis Tetap dan saya adalah ketuanya tentang kebolehan menikah dengan niat thalaq, jika niat itu ada antara dia dengan Tuhannya, jika dia menikah di negeri asing, bahwa kapan saja waktu studinya sudah selesai atau posisi dia sebagai pegawai dan lain-lain bahwa dia boleh menceraikan istrinya bahwa hal itu adalah boleh menurut jumhur ulama. Niat adalah antara dia dengan Tuhannya –subhaanahu wa ta’ala- dan niat itu bukan merupakan syarat.

Perbedaanya dengan nikah mut’ah adalah adanya syarat waktu tertentu, satu bulan, atau dua bulan, atau satu tahun atau dua tahun. Jika masa itu sudah habis, maka otomatis pernikahan itu telah batal. Inilah nikah mut’ah yang haram. Adapaun jika dia menikah sesuai dengan ketetapan Allah dan rasul-Nya, tetapi di dalam hatinya berniat bahwa jika tugasnya telah selesai di negeri itu, maka dia akan menceraikan istrinya. Maka yang demikian ini tidak merusak pernihakan itu. Dan niat yang seperti ini kadang-kadang dapat berubah dan tidak dapat diketahui serta bukan merupakan syarat”.

Apakah para masyayikh yang mulia dapat memberitahukan kepada kami para ulama salaf dan para sahabat yang memperbolehan pernikahan dengan niat thalaq ?

Ini adalah diskusi yang terjadi pada tanggal 5-9-2001 pada jam 06.03 pagi (seperti yang tertulis pada situs ini)

Dan eramuslim hanya menukil situs ini sampai di sini saja. Ini menurut saya sebuah kekurangan dan pendeskriditan terhadap Bin Baz dan kepada pemerintah Arab Saudi. Jika saja eramuslim menyediakan halaman komentar, saya akan memberikan komentar langsung pada tulisan itu.

Selanjutnya masih di halaman yang sama disebutkan jawaban dari pertanyaan terakhir, yaitu pada hari yang sama jam 05.00 sore harinya, berikut ini terjemahannya :

“Saudara yang mulia ..

Boleh jadi referensi yang paling utama adalah yang diriwayatkan dari Imam Malik –rahimahullah- :

Seorang imam dari madzhab Maliki di Andalus, sekaligus kawan dan lawan diskusi Ibnu Hazm, Abul Walid Sulaiman bin Khalf Al Baji (wafat 474) di dalam kitabnya Al Muntaqo syarah kitab Al Muwatho (Juz III : 336) berkata : “Barangsiapa yang menikah dengan seorang wanita, dimana dia tidak ingin mempertahankannya, tetapi dia hanya berkeinginan untuk bermesraan denganya, maka telah diriwayatkan dari Imam Malikbahwa hal itu adalah boleh, tetapu bukan merupakan tindakan yang baik dan bukan merupakan perilaku (akhlak) manusia”.

Maknanya adalah seperti yang disebutkan oleh Ibnu Hubaib : “Sesungguhnya pernikahan itu terjadi seperti layaknya pernikahan dan tidak ada syarat apapun di dalamnya. Tetapi yang disebut dengan nikah mut’ah adalah yang disyaratkan waktu habisnya akad”.

Imam Malik berkata : “Kadan-kadang seorang laki-laki itu menikan dengan seorang perempuan tidak untuk mempertahankannya, kemudian istrinya membuatnya bahagia, sehingga dia berkeinginan untuk mempertahannkannya. Dan kadang-kadang dia menkahinya untuk tujuan mempertahankannya, kemudian dia melihat darinya sesuatu yang berlawanan dengan kesepakatannya semula, sehingga dia menceraikannya”. Dia (Imam Malik) bermaksud bahwa hal ini tidak bertentangan dengan makna nikah, karena seorang lai-laki itu memiliki hak untuk mempertahankan atau menceraikan. Tetapi yang membatalkan nikah adalah penentuan waktu pada akad”.

Disebutkan di dalam Al Maus’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah (Ensiklopedi Fiqih Kuwait) yang diterbitkan oleh kementrian wakaf ( II : 33) tentang penyembunyian niat oleh suami tentang penentuan masa pernikahan :

67- Madzhab Hanafi dan Madzhab Syafi’I menegaskan bahwa jika dia menikah dan dalam niatnya dia akan menceraikan istrinya setelah masa tertentu, maka pernikahannya adalah sah. Tetapi Madzhab Syafi’I berpendapat bahwa nikah itu adalah makruh. Karena segala sesuatu yang jika disebutkan dengan jelas itu dapat membatalkan, maka menyembunyikannya di dalam hati adalah makruh menurut mereka”. Sebagaimana Madzhab Maliki berkata : “Sesungguhnya waktu itu jika dijelaskan oleh suami kepada istrinya, tetapi hanya dia sembunyikan di dalam hatinya, sedangkan istri atau walinya memahami akan terjadinya perpisahan setelah masa tertentu, maka hal itu tidak apa-apa. Ini adalah pendapat yang rajih (kuat). Walaupun Bahram di dalam Kitab “Syarahnya” dan di dalam “Kitab Syamil”nya berpendapat bahwa pernikahan ini batal jika pihak istri memahami hal yang disembunyikan oleh suami di dalam hatinya itu. Jika suami tidak menyebutkan secara tegas kepada istrinya dan kepada walinya dan istri tidak memahami apa yang disembunyikan suami di dalam hatinya, maka ini bukan termasuk nikah mut’ah”.

Adapun Madzhab Hanbali menegaskan bahwa jika ada orang asing yang menikahi seorang perempuan dengan niat akan menceraikannya jika dia sudah keluar dari negeri itu, maka pernikahannya batal (tidak sah). Karena pernikahan itu adalah pernikahan mut’ah yang bathil. Tetapi disebutkan di dalam Kitab Al Mughni : “Jika dia menikahinya dengan tanpa syarat bahwa di dalam hatinya dia akan menceraikannya setelah satu bulan atau setelah hajatnya selesai di negeri ini, maka pernikahan itu adalah sah menurut kebanyakan ahli ilmu, kecuali menurut Imam Al Auza’i. Dia berakata : “Itu adalah nikah mut’ah”. Tetapi yang benar bahwa pernikahan itu adalah sah dan niatnya tidak membatalkannya. Seorang laki-laki tidak disyaratkan untuk berniat akan mempertahankan istrinya jika ia cocokdengannya. Dan jika tidak, maka dia menceraikannya”.

Inilah terjemahan lengkap dari situs yang dinukil oleh eramuslim itu. Diskusi yang kedua tidak dinukil oleh eramuslim. Ini letak ketidakobyektifannya. Karena yang kedua ini menyebutkan para ulama lain, bahkan madzhab empat yang memberikan pendapat tentang pernikahan model ini, di mana hanya madzhab hanbali saja yang melarangnya, walaupun Ibnu Qudamah di dalam Kitab Al Mughninya justru melegalkannya.

Jadi kesimpulan dari sikusi ini adalah bahwa yang memperbolehkan pernikahan ini bukan hanya Bin Baz saja, tetapi paling tidak beberapa ulama sebagai berikut :

  1. Abul Walid Al Baji pensyarah Kitab Al Muwatho’, seorang ulama besar dalam Madzhab Malik yang kedudukannya setara dengan Imam Nawawi dalam Madzhab Syafi’i
  2. Imam Malik sendiri
  3. Madzhab Syafi’I dengan memberikan catatan bahwa nikah ini adalah makruh
  4. Madzhab Maliki
  5. Madzhab Hanafi
  6. Ibnu Qudamah dalam Kitabnya Al Mughni

Dan yang melarang pernikahan model ini adalah :

  1. madzhab hanbali
  2. Bahram dalam Kitab Syarah dan Syamilnya
  3. Imam Al Auza’I dari Syam, Syiria.

Adapun untuk kapasitas Negara, tidak hanya Arab Saudi saja yang memperbolehkan, tetapi juga Kuwait dengan membolehkan pernikahan model ini dalam Ensiklopedi resmi negaranya.

Nah melimpahkan fatwa itu hanya kepada Bin Baz saja, atau kepada Saudi Arabia saja atau justru kepada Wahabi adalah suatu tindakan yang sangat tidak ilmiah. Lihatlah beliau berpendapat demikian karena ada ulama lain yang kapasitasya jauh lebih baik dari beliau dan lebih senior, seperti Imam Malik yang memperbolehkannya. Jadi beliau tidak mengada-ada. Dan apalagi jika dituduhkan tujuannya adalah untuk “wisata seks” secara masal.

Dan kalau kita memperhatikan fatwa dari Bin Baz, bahwa fatwa itu ditujukan kepada kalangan tertentu, bukan kepada khalayak ramai atau masyarakat umum, yaitu kepada para pelajar, utusan negara yang bertugas di negara asing dalam waktu yang cukup lama.

Nah, kemudian apakah pernikahan model ini memang benar menurut saya. Saya seseorang yang miskin ilmu ini sependapat dengan Imam Al Auza’I, Bahram dan madzhab hanbali, tentu saja selain Ibu Qudamah yang membolehkan. Menurut saya pernikahan ini adalah tidak boleh dan sama dengan nikah mut’ah.

Alasannya adalah karena niat memiliki pengaruh yang luar biasa besarnya terhadap suatu perbuatan, bahkan seseorang diberi pahala atau tidak tergantung dia berniat apa, seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di awal kitab shahihnya. Saya tidak perlu menukil teks dan terjemah lengkap haditsnya, karena hadits itu sudah sedemikian masyhurnya.

Jadi niat adalah kunci pokok sahnya atau tidaknya amal perbuatan. Lihatlah orang yang melaksankan gerakan shalat, tetapi tidak berniat shalat, maka shalatnya tidak sah dan dia tidak mendapatkan pahala apa-apa. Bukankan kebanyakan ulama berpendapat bahwa niat itu tidak harus disebutkan melalui lisan. Jadi niat yang tidak disebutkan secara lisan itu tetap memiliki pengaruh terhadap perbuatan yang dilakaukan.

Para ulama sepakat bahwa jika seseorang melaksankan shalat dengan niat yang benar, kemudian setelah berlalu satu raka’at dia bekeinginan untuk membatalkan shalatnya, maka shalat itu tabal dengan sendirinya, atau dia berkeinginan untukmerubah shalatnya, misalnya dari shalat safar menjadi shalat muqim, maka shalatnya batal secara langsung.

Ini berbeda dengan puasa. Karena ada ijmak ulama juga yang menyatakan bahwa jika seseorang berkeinginan untuk berbuka atau menggantungkan niat untuk berbuka, maka puasanya tidak batal, sampai dia memang benar-benar berbuka puasa dan keinginan hatinya tidak mempengaruhi keabsahan dan pahala puasa. Mungkin ada seseorang yang mengatakan bahwa ini kan hanya dalam urusan ibadah, sedangkan pernikahan kan bukan ibadah murni, jadi harus dibedakan.

Saya mengatakan bahwa di dalam pernikahan pun niat tetap memiliki peranan yang tidak kecil. Ada sebuah nikah yang jelas-jelas diharamkan karena pengaruh niat ini, yaitu nikah istihlal, yaitu jika ada seseorang yang sudah menceraikan istrinya tiga kali, maka istrinya tidak lagi halal bagi dia sampai istri itu dinikah dengan wajar oleh laki-laki lain dan keduanya bersenggama, kemudian terjadi perceraian antara kedua. Semua kejadian itu harus terjadi secara wajar. Nah kemudian suami yang pertama baru boleh menikah kembali dengan istri yang sudah diceraikan tiga kali itu setelah masaiddahnya habis.

Pada kasus nikah istihlah dia menyewa orang lain untuk menikahi istrinya dengan nikah yang sempurna, kemudian menceraikannya dalam waktu tertentu. Pernikahan yang demikian ini adalah dilaknat. Berikut hadits-hadits tentangnya :

عَنْ عَلِيٍّ  قَالَ  : لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ الْمُحَلِّلَ وَالْمُحَلِّلَ لَهُ

Dari Ali bahwa dia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melaknat pelaku nikah muhallil dan orang yang meminta pelaksanaan nikah mihallil”. (HR  Ibnu Majah, I/662. Syeikh Al Albani berkata : “Hadits ini shahih”.)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud (2/188 no. 2078) dan hadits ini juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Di dalam Kitab Bulughul Maram (hal. 388) disebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Nasai dan Turmudzi dan dia menshahihkannya.

Dan lebih tegas lagi riwayat yang disebutkan oleh Imam Baihaqi di dalam Kitab As Sunan Ash Shughro (VI/196) dari Ibnu Umar bahwa dia ditanya tentang seorang laki-laki yang menceraikan istrinya tiga kali, kemudian saudara kandungnya menikahi istrinya dengan tanpa adanya persekongkolan antara dia dengan suami yang pertama, dengan niat agar istrinya menjadi halal untuk suami yang pertama, apakah istri itu menjadi halal bagi suami yang pertama. Dia berkata : “Tidak, kecuali nikah yang niatnya adalah suka sama suka. Kami mengangap hal yang seperti ini sebagai perzinahan pada masa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam”.

Riwayat ini lebih tegas menyebutkan walaupun pernikahan itu terjadi dengan tanpa adanya persekongkolan antara suami pertama dengan calon suami kedua. Tetapi suami yang kedua itu dengan kerelaan dirinya sendiri menikahi janda kakaknya, dengan tujuan agar ia menjadi halal lagi untuk dinikahinya. Dan boleh jadi istri tidak mengetahui suami yang kedua itu menikahinya untuk kemudian diceraikan agar dia menjadi halal lagi bagi suami yang pertama. Jadi sejak semula suami yang kedua sudah mengetahui bahwa dia menikah hanya sementara waktu saja. Mengapa pernikahan ini tidak halal ?

Diantara sebabnya adalah adanya masa tertentu yang akan diniatkan oleh suami yang kedua untuk menceraikan istrinya. Ini sama dengan nikah dengan niat thalak yang difatwakan sah oleh beberapa ulama di atas. Dan ini bertentangan dengan maksud dan tujuan serta masa pernikahan yang masa dan waktunya hanya ditentukan oleh Allah saja, tanpa ada campur tangan manusia di dalamnya. Ini sama dengan seseorang yang menikah dengan niat hanya untuk mendapatkan dua orang anak saja atau jumlah tertentu lainnya. Niat yang demikian tidak boleh karena niat ini sama dengan membatasi takdir Allah subhanahu wa ta’ala dan mencampuri hak-Nya.

Dzahir dari pernikahan ini memang sah. Saksi yang menyaksikannya juga akan menyataan pernikahannya sah. Ini sama dengan shalat, puasa dan ibadah lainnya yang dilakukan oleh orang munafik. Kita akan menyatakan shalatnya sah. Tetapi Allah tahu bahwa semua amal perbuatannya di dunia sia-sia dan diakhirat dia akan ditempatkan di neraka yang paling dalam. Itu semua tidak lain dan tidak bukan karena pengaruh niat hatinya. Yang melaksanakan ibadah hanya badannya, hatinya sama sekali tidak. Ini sama dengan nkah dengan niat thalak. Badannya menikah, tetapi hatinya tahu dia akan menceraikan istrinya suatu waktu nanti.

Ini sama dengan akal-akalan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi terhadap larangan bekerja dan berburu ikan pada Hari Sabtu. Karena mereka melihat ikan justru pada hari ini melimpah ruah, maka mereka melakukan tipu daya dengan cara memasang jaring, dimana ikan yang masuk pada hari ini tidak bisa keluar, dan mereka memanenya paa hari selanjutnya. Ini adalah suatu cara mengakali hukum. Dan akibatnya mereka dirubah oleh Allah menjadi kera, karena tindakan mereka ini. Dan ini sama dengan orang yang badannya menikah tetai hatinya tahu bahwa dia akan menceraikan istrinya suatu masa nanti.

Lihatlah ungkapan redaksi Al Qur’an yang sungguh-sungguh indah di dalam Surat An Nisa’ 21 : “mereka para istri sudah mengambil janji yang kuat (mitsaqon ghalidzan) kepada kamu”. Ayat ini berkaitan dengan suami yang hendak menceraikan istrinya, maka dia dilarang untuk mengambil kembali semua pemberian yang sudah diberikannya kepadanya, termasuk mahar, hadiah dan lain-lain. Karena diantara sebabnya adalah pihak istri sudah mengambil mitsaqon ghalidzon terhadap suami. Redaksi pada ayat ini cukup indah. Karena janji itu adalah berasal dari pihak istri. Jadi seolah-olah pihak istri menyumpah suamiya dan suaminya menyetujui sumpah itu. Dan semua ummat islam diperintahkan untuk mentaati sumpah dan janjinya. Bukankah mengingkari janji dan sumpah adalah diantara tanda-tanda orang yang munafiq. Sekalipun thalaq itu ada di tangannnya, sangat tidak layak baginya menggunakan hak itu semena-mena. Karena mtsqon gholidzon akan dipertanggungjawabkan olehnya di hadapan Allah kelak.

Boleh saja orang berkata bahwa pernikahan dengan niat thalak itusah secara hukum, karena semua syarat dan rukun nikah sudah dipenuhi semuanya, bahkan bisa jadi juga sah secara hukum negara, karena dilaksankan di KUA. Memang semu syarat rukun sudah ada, kecuali satu yaitu niat. Di dalam kaidah fiqih disebutkan bahwa keputusan pengadilan tidak dapat merubah yang halal menjadi haram atau yang haram menjadi halal. Berikut ini adalah beberapa dalil tentang hal ini :

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « إِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَىَّ ، وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَلْحَنُ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ ، فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِحَقِّ أَخِيهِ شَيْئًا بِقَوْلِهِ ، فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنَ النَّارِ فَلاَ يَأْخُذْهَا »

Diriwayatkan dari Ummi Salamah radluallaahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya kalian mengangkat perselisihan kalian kepada saya. Dan boleh jadi sebagian dari kalian lebih fasih hujjahnya daripada yang lainnya. Maka barangsiapa yang aku putuskan untuknya tentang sesuatu dimana sesuatu itu menjadi hak milik saudaranya berdasarkan perkataananya itu, maka sesungguhnya aku hanya mengambilkan untuknya potongan api neraka. Maka janganlah dia mengambilnya”. (HR Bukhari, hadits no. 2680, dimana beliau juga meriwayatkannya pada no. 2458, 6967, 7181 dan 7185). Hadits ini juga diriwayatkan oleh para penyusun kutubus sab’ah yang lain. Tetepi riwayat dari Bukhari ini saja sudah cukup untuk dijadikan sebagai acuan keshahihan hadits ini.

Lihatlah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri sebagai kapasitas beliau sebagai manusia tidak menjamin semua keputusannya –yang didasarkan kepada hal-hal yang bersifat lahiriah- adalah benar tanpa kecuali. Beliau hanya memutuskan sesuatu berdasarkan dhahirnya saja. Karena kita hanya diperintahkan untuk menghukumi hanya dari sisi dhahirnya saja, adapun sisi bathin, Allah yang akan memutuskannya. Sikap beliau terhadap orang-orang munafik pada masanya adalah bukti nyata dari hal ini, bahkan terhadap pemimpin mereka, yaitu Abdullah bin Ubay bin Salul. Karena itulah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa jika mereka yang berperkara itu tahu bahwa keputusan beliau salah agar jangan mengambil keputusannya, karena itu hanya api neraka yang akan dia pertanggungjawabkan di hadapan Allah nati di hari kiamat.

Permasalahan seperti ini di dalam madzhab hanafi sering diungkapkan dengan istilah boleh/halal secara pengadilan dan haram secara hukum (dalam arti yang sebenarnya). Istilah ini untuk menunjukkan bahwa perbuatan yang masuk dalam kategori ini agar ditinggalkan, bukan untukdikerjakan, walaupun pengadilan menyatakannya boleh.

Contoh nyata dalam hal ini adalah adalah cerai. Di dalam hukum negeri ini cerai dianggap sah jika sudah tercatat di pengadilan agama. Setalah proses persidangan yang biasanya dilaksakanan minimal dua kali, maka peceraian itu dianggap sah, yaitu cerai satu. Pengadilan tidak memandang apakah suami sudah menlafalkan kata cerai lagi setelah cerai yang pertama dijatuhkan atau tidak, sebab boleh jadi selama proses persidangan itu suami kembali menjatuhkan kata thalaqnya, yang berarti thalak tidak hanya jatuh satu kali saja, bisa jadi dua atau bahkan tiga kali. Oleh karena itu walaupun hakim hanya memutuskan dia menjatuhkan satu thalaq untuk istrinya, maka hukumnya secara agama dia sudah menjatuhkan thalaqnya lebih dari satu. Karena itulah dia harus bertaqwa kepada Allah dan melihat kepada diri sendiri, sudah berapa kali thalaq dia jatuhkan kepada istrinya.

Karena itu kesimpulan terhadap kesimpulan hukum pernikahan dengan niat thalak adalah haram dan pernikahan itu batal. Atau paling tidak hukum teringan darinya adalah makruh (lebih baik ditinggalkan daripada dikerjakan). Dalilnya adalah :

  1. niat dari pernikahan itu adalah batal. Sedangkan niat merupakan pondasi awal sebuah perbuatan. Jika pondasinya batal, maka otomatis perbuatan yang dikerjakan juga batal.
  2. pernikahan itu bertentangan dengan prinsip mitsaqon gholidzon yang diambil oleh pihak istri terhadap suaminya.
  3. pernikahan itu hanya menguntungkan salah satu pihak, yaitu suami dan mencelakan pihak yang lain, yaitu istri. Sedangkan Islam adalah agama yang datang untuk menguntungkan semua pihak. Dalam bertransaksi tidak boleh ada pihak yang terdzalimi.
  4. hal-hal yang secara dzahir halal dan boleh belum tentu boleh dalam hukum yang sebenarnya, karena keputusan pengadilan tidak dapat merubah yang halal menjadi haram atau yang haram menjadi halal.
  5. dzahir pernikahan ini walaupun sah secara hukum, tetapi pada hakekatnya sama dengan nikah mut’ah yang sudah jelas diharamkan. Karena suami tahu dia akan menceraikan istrinya setelah masa tertentu. Hanya bedanya tidak diucapkan ketika akad nikah dan yang itu diucapkan ketika akad nikah.

Karena pernikahan model ini tidak sah secara hukum Islam, maka pelakunya dihukumi sebagai pezina. Tetapi di dalam syari’at Islam, apakah pelakunya dianggap melanggar hukum had (pidana) yang dapat dijatuhi hukuman cambuk 100 kali plus pengasingan selama satu tahun bagi yang belum menikah dan hukuman rajam bagi yang sudah menikah ?

Jawabannya adalah tidak. Karena pernikahan model seperti ini diperselisihkan diantara para ulama tentang boleh tidaknya. Ini mirip dengan kasus pernikahan tanpa wali, atau pernikahan tanpa saksi yang dinyatakan sah oleh beberapa ulama. Mereka yang berpendapat bahwa pernikahan itu tidak sah, tentu saja menghukumi pelakunya telah berzina, ketika sudah diingatkan dan dinasehati. Tetapi hukuman cambuk dan rajam itu tidak dapat dijatuhkan oleh mahkamah syari’at sekalipun, karena hukuman had itu harus ditinggalkan jika ada keserupaan-keserupaan (adanya syubuhat). Sebagaimana sahabat Umar pernah meninggalkan potong tangan kepada pencuri makanan yang mencuri pada waktu musim paceklik, sedangkan mereka sangat membutuhkan makanan itu.

Dan penyebutan “wisata seks” dalam hal ini adalah sesuatu yang sungguh keterlaluan. Justru memalukan bangsa ini, seolah-olah bangsa ini adalah bangsa pelacur. Wallahu’alam.

6 Tanggapan to “Indonesia Menjadi Wisata Seks Terpopuler Bagi Turis Arab ???”

  1. Eramuslim dulu sangat saya yakini keakuratan berita-beritanya, setelah mencantumkan hal yang sifatnya jelas-jelas menjelekkan kaum muslimin, dengan pernyataan yang jelas-jelas salah, maka saya tidak lagi yakin dan menjadikan eramuslim sebagai media yang baik untuk dijadikan rujukan dan bacaan.
    sayang sungguh sayang… mengapa eramuslim menyebutkan perkataan wahabi lagi. bukankah wahabi itu perkataan buatan Inggris untuk menjelek-jelekkan kaum muslimin India yang sehabis pulang haji mereka semakin kuat perlawanannya terhadap Inggris karena berguru kepada syaikh muhammad bin Abdul wahab. Inggris membuat pernyataan demikian, agar kaum muslimin menjauhi agama yang benar. andaikan berpegang teguh kepada ajaran Nabi Muhamamad saw disebut sebagai seorang wahabi, maka dengan sangat senang hati saya mengatakan bahwa saya adalah orang wahabi.
    seseorang tidak dilihat dari namanya, meski dia mengatakan dirinya ikhwani, salafi, atau yang lainnya, tetapi dia jauh dari tuntunan Nabi Muhammad yang benar, maka dia bukan apa-apa.

  2. fauzi said

    Penyebutan Wahabi memang hanya untuk menambah kotak bagi ummat ini yang memang udah terkotak-kotak dan itu adalah trik non muslim untuk menjauhkan ummat Islam dari Islam.

  3. […] Klik disini untuk mendapatkan penjelasannya by Ustad Fauzi […]

  4. yayuk widianingsih said

    Semoga umat islam lekas bersatu, tidak tercerai berai dan berserakan, Amiiin Yaa Rabb…
    Mengenai eramuslim, mdh2n kedepannya lebih teliti dan obyektif, krn beritanya banyak menjadi sumber bagi website teman2, termasuk saya sebagai pembaca setianya..

  5. Hi, nice post. I have been wondering about this issue,so thanks for sharing. I will certainly be coming back to your posts.

  6. “Indonesia Menjadi Wisata Seks Terpopuler Bagi Turis Arab”

    Kalau menurut hemat kami berita itu tidak masalah, juga tidak merendahkan martabat bangsa indonesia, karena kenyataannya memang demikian, coba anda bayangkan setiap kota kabupaten hampir semuanya ada lokalisasi WTS ( yg tidak pakai istilah PSK – ini hanya untuk mengangkat martabat PSK tersebut). disamping masih banyak yang berkeliaran di Cafe2 – Klub Malam – Mall2 dll.
    Kalau hemat kami Subtansi dari berita tersebut bukannya wisata sexnya, tapi fatwa syeh bin Baz tentang bolehnya ” Niat nikah untuk cerai “. Salah2 tanpa fatwa yang demikian mereka juga mau melaksanakan juga, bahkan istilah kawin kontrak ada sejak tahun 70 an.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: