Samudra Ilmu Agama Islam

Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Memakai pengeras suara ketika adzan, perlukah ?

Posted by Administrator pada 14 Maret 2009

Melanjutkan jawaban dari pertanyaan terakhir dari Mas Robin, yaitu tentang adzan dengan menggunakan peneras suara, perlukah dan bid’ahkah ?

Sebelumnya saya minta ma’af kalau dirasa jawaban ini cukup lama ditunggu dan ditunggu. Karena saya tidak punya banyak waktu untuk nguthek-uthek blog.

Yang diperintahkan dari agama Islam adalah mengumandangkan adzan sebgai tanda masuknya waktu shalat atau akan dimulainya shalat secara berjama’ah dan hukumnya adalah sunnah mu’akkadah, bahkan ada yang mengatakan fardlu kifayah. Tujuannya adalah memberi tahu kepada kaum muslimin bahwa waktu shalat sudah masuk, sekaligus seruan kepada mereka untuk datang ke masjid untuk shalat berjama’ah. Dan disunnahan adzan dikumandangkan dengan suara yang keras dan di tempat yang kemungkinan besar suara akan sampai ke tempat yang jauh. Itulah sebabnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memilih Bilal sebagai orang yang bersuara lantang untuk mengumandangkan adzannya.

Jadi tujuannya adalah bagaiamana agar suara itu sampai ke tempat yang jauh. Dahulu kaum muslimin membangun menara yang cukup tinggi dan seorang mu’adzin yang hendak mengumandangkan adzan, naik ke menara itu dan menyeru dengan suaranya yang indah dan keras. Kalau kita melihat film Ar Risalah, yaitu sebuah film yang menceritakan perjalanan dakwah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sejak pertama kali menerima wahyu sampai berhijrah ke Madinah, termasuk menceritakan tentang Perang Badar dan Perang Uhud pada masa beliau, yang dibintangi oleh Antonio Quin sebagai Hamzah, paan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang dicetakan bahwa damasuk Islam setelah membintangi film ini. Di film ini digambarkan Bilal mengumandangkan adzan dengan naik diatas Ka’bah, ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersama dengan kaum muslimin berhasil membebaskan Makkah dan kemusyrikan.

Kemudian pada masa ini, dengan ditemukannya berbagai macam teknologi, maka mu’adzin tidak perlu lagi naik ke atas menara untuk mengumancangkan adzannya, karena adanya teknolgi pengeras suara itu. Jadi dia cukup memegang speaker, menyalakan amplifier, kemudian melantunkan adzan dengan suara indahnya dan terdengarlah suaranya ke seluruh komplek yang ada. Dari sisi ini maka adzan dengan cara seperti ini tidak ada masalah dan perbuatan itu tidak termasuk ke dalam kategori bid’ah. Ini sama dengan pengajian yang menggunakan speaker yang dulu tidak pernah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam gunakan, karena tidak ada pada masa beliau. Dan sudah selayaknya kaum muslimin tidak merasa terganggu dengan hal satu ini dan yang non muslim juga memberikan toleransinya di sini.

Cuma yang cukup memprihatinkan adalah perilaku kaum muslimin sendiri. Mereka gemar membuat hal-hal yang tidak pernah ada dan tidak pernah diperintahkan dalam agamanya, yaitu melantunkan nyanyian-nyayian dan puji-pujian setelah adzan dan sebelum iqomah untuk menunggu datangnya imam. Ini yang tidak doerbolehkan dan dapat dikategorikan peruatan bid’ah, karena :

  1. tidak diperintahkan dalam agama dan tidak ada legalitas hukumnya, dari sisi manapun.
  2. tidak ada satu ulama salafpun yang pernah membicarakan bahwa hal itu diperbolehkan
  3. mengganggu orang orang yang hendak menjalankan shalat sunnah rawatib.
  4. kadang-kadang nyanyian-nyanyian dangdut, bahkan cucak rowo sekalipun diguanakn sebagai lagu dari pujian-pujiannya itu. Ini justru dosa dan penghinaan terhadap agama.
  5. menggnggu ummat non muslim

Apalagi masih ditambah dengan wirid setelah shalat yang dibaca dengan keras-keras dan dengan pengeras suara juga. Ummat kita memang pandai membuat produk yang tidak bermutu.

Jadi justru dosa yang didapat, bukan pahala. Alangkah indahnya dunia ini jika hanya adzan dan iqomah saja yang dikeraskan dengan speaker, atau bahkan hanya adzannya saja, sedangkan iqomahnya cukup disuarakan dengan tanpa speaker. Karena hakekat iqomah adalah untuk memberitahukan kepada jama’ah yang sudah  terkumpul di masjid bahwa salat akan segera dimulai.

Bahkan yang lebih parah dari itu, yang sering kita dengarkan sejak jam 3 atau 3.30 malam hari, yaitu teriakan-teriakan untuk bangun malam dari beberapa masjid, dengan puji-pujian dan kata-kata tertentu, yang tentu saja tidak ada contohnya dan justru mengganggi, bahkan bisa jadi membuat non muslim tidak lagi simpati dan respek terhadap islam. Para penyeru itu mengajak orang lain untuk shalat malam, padahal dia sendiri kemngkinan besar tidak melaksanakannya, karena sejak dia berteriak pertama kali tetap berterian dan berteriak sampai datangnya waktu shalat subuh. Sungguh perbuatan yang sangat tidak terpuji.

Dua hal itu tidak diperbolehkan dan itu termasuk bid’ah. Adapun mengumandangkan adzan dengan speaker pada dasarnya boleh-boleh saja, artinya jika perlu boleh dilakukan dan jika tidak boleh ditinggalkan, tergantung kemashlahaan yang ada.

Mas Robin tinggal di mana ?. Setahu saya, di Surabaya pun juga ada sebuah masjid yang tidak mengumandangkan dengan speaker atau pengeras suara, yaitu Masjid Cheng Ho yang ada di tengah komunitas China itu. Ketika ditanya tentang hal ini, mereka mengatakan bahwa pada masa sekarang ini semua manusia sudah memiliki jam, sedangkan jadwal shalat sudah dapat ditemukan di hampir setiap kalender. Apalagi sekarang banyak jam yang dilengkapi dengan alarm shalat, bahkan HP juga demikian. Mereka memandang semua itu sudah cukup mewakili dari kumandang adzan dengan speaker. Jadi adzan tetap dikumandangkan, hanya tidak dengan speaker. Jadi semua orang sudah tahu kalau jam 12 itu waktu shalat dhuhur, jam 3 waktu shalat ashar dan seterusnya. Jadi pada jam-jam itu mereka berangkat ke masjid. Jadi semacam janji untuk bertemu dengan orang lain yang harus dijaga dan diperhatikan.

Kemudian mereka juga menyadari bahwa yang tinggal di lingkungan itu tidak hanya masyarakat muslim, tetapi banyak masyarakat non muslim yang tinggal di sana. Jadi untuk memupuk semangat toleransi mereka tidak merasa perlu untuk mengumandangkan adzan dengan pengeras suara. Pertimbangan semacam ini juga diperbolehkan dan tidak apa-apa, selama jama’ah shalat di masjid itu masih senantiasa dilakukan.

Terkait dengan hal ini saya mengatakan bahwa banyak hal yang sia-sia yang dilakukan oleh ummat ini dewasa ini dan mereka tidak menyadari atau bahkan mereka menyangka bahwa dengan melaksanakannya mereka menyangka telah melaksanakan ajaran agamanya dan beribadah kepada Allah, padahal banyak ibadah lain yang mereka tinggalkan.

Contohnya :

Orang yang berteriak-teriak di tengah malam bulan ramadlan untuk membangunkan orang lain untuk makan sahur. Itu hanya mengganggu saja. Bukankah semua orang sekarang punya HP untuk alaram atau jam weker ?

Membangun masjid dengan begitu megah dan mewah dengan biaya milyaran rupiah, sedangkan masyaratkat yang tinggal di lingkungan masjid itu sangat miskin dan kumuh. Sungguh perbuatan yang tidak tahu mana yang harus diprioritaskan terlebih dahulu.

Kalau kita membaca sejarah, maka kita akan mendapatkan betapa sederhana masjid yang dibuat oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabatnya. Hanya berupa area tanah yang dibatasi dengan pembatas segi empat, dan hanya sebagianya saja yang diberi penutup bagian atasnya, tanpa hiasan dan tanpa ukiran, apalagi kaligrafi yang macam-macam. Apakah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersama sahabat-sahabatnya tidak mampu membuat yang lebih baik dari hal itu ?. Sering orang menuuduh demikian. Mereka menyatakan para sahabat itu miskin. Benarkah demikian ?

Ini tidak benar sama sekali. Banyak diantara sahabat yang termasuk ke dalam kategori kaya dan konglomerat menurut kita sekarang. Sekedar contoh Abu Bakar ketika membeli Bilal dari Umayyah ketika dia disiksa, dia membelinya dengan harga 5 auqiyah. 1 auqiyah sama dengan 40 dirham. Jadi 5 auqiyah sama dengan 200 dirham. 200 dirham sama dengan 20 dirnar. 1 dinar dapat dibelikan satu ekor kambing yang bagus pada masa itu. Jika sekarang 1 kambing yang bagus harganya 1 juta. Maka uang yang dikeluarkan oleh Abu Bakar untuk membeli Bilal adalah 20 juta.

Pada waktu itu Umayyah karena marahnya, dia berkata : “Jika kamu membeli dia hanya dengan harga 1 auqiyah saja, maka saya akan menjualnya”.

Abu Bakar berkata : “Demi Allah, jika kamu tidak mau menjualnya kecuali dengan harga 100 auqiyah, pasti aku akan membelinya”.

100 auqiyah kali 40 dirham adalah 4.000 dirham atau 400 dinar atau 400 ekor kambing atau 400 juta. Ini untuk membeli satu orang saja. Padahal Abu Bakar juga membeli beberapa sahabat yang lain, seperti Ammar bin Yasir dan lain-lain. Apakah orang yang demikian ini miskin?

Utsman bin Affan membeli sumur yang dimiliki oleh seorang Yahudi ketika terjadikemarau panjang dan orang Yahudi itu menjualnya dengan harga yang mahal. Utsman harus merogoh kocek sekitar 25.000 dinar untuk membelinya atau 25.000 ekor kambing kali 1 juta atau 25 milyar untuk membelinya. Apakah orang seperti ini miskin.

Ini belum sahabat-sahabat yang lain. Ini hanya sekedar sampel yang menunjukkan bahwa mereka bukan orang-orang yang melarat dalam pengertian mereka tidak berharta.

Tapi lihatlah bagaimana mereka membangun masjidnya. Sungguh sebuah masjid yang sangat sederhana. Tapi lihatlah keberkahannya. Sungguh suatu keberkahan yang tiada tara dan tidak pernah ada bandingannya dalam sejarah manusia.

Jadi dua orang itu saja mungkin mampu membangun masjid sebesar istiqlal atau bahkan lebih.

Kemudian sekarang kita membangun masjid seharga 3 milyar atau lebih, sedangkan masyarakat di sekitar masjid untuk besok mau makan apa, mereka masih tidak dapat memilikinya. Sungguh rasa sosial yang tidak ada.

Contoh yang lainnya ada sebuah stasiaun televisi swasta yang pernal merilis bahwa jumlah uang yang beredar untuk suksesnya pemilu legislatif dan presiden tahun 2009 ini mencapai angka 30 triliun. Sungguh angka yang fantastis untuk manfaat yang masih diragukan.

Saya membayangkan uang segitu kalau dibagunkan sekolah kemudian digratiskan biayanya dengan guru-gurunya tetap mendapatkan gaji yang layak akan banyak ribuan sekolah yang dapat didirikan.

Misalnya saja 1 banunan sekolah lengkap dengan peralatannya dengan 10 ruang belajar yang digunakan untuk shift pagi dan sore membutuhkan dana 3 milyar. Dan sekolah itu membutuhkan 30 tenaga pengajar dan pegawai yang rata-rata gajinya 2 juta, maka dibutuhkan dalam 5 tahun dibutuhkan dana 3 M + (30 x 2 juta x 12 x 5) atau sekitar 7 M per tahun atau kira-kira dapat dibangun lebih dari 200 sekolah gratis di seantero Indonesia. Sungguh jumlah yang sangat fantastis, mengingat di sini tidak ada sekolah gratis dalam makna yang sebenarnya.

Jadi sampai kapan perbuatan-perbuatan mubadzir itu terus dilakukan ? Bukankah masih ada agenda yang harus segera diselesaikan terlebih dahulu ? Mengapa kita senantiasa tidak mampu memilih prioritas mana yang harus lebih dahulu dilaksanakan ?

9 Tanggapan to “Memakai pengeras suara ketika adzan, perlukah ?”

  1. robin said

    saya tinggal di daerah rungkut. sebenarnya saya ingin sekali pergi ke masjid yg ustad sebut itu. tetapi masih belum ada kesempatan pergi kesana.bahkan slh 1 tmn saya (1 th masuk agama islam) mengajak kesana dan mengaji bersama dengan komunitas china muslim (dia sudah mengaji disana).
    tetapi ada tmn yg berpendapat klo disana itu komunitas islam budha. sejauh ini saya belum mencari kebenarannya tentang hal itu.
    sangat disayangkan jika ada diantara ulama2 membuat golongan2/komunitas seperti LDII, NU, Mohamadiah, ahmadiyah, dan mungkin akan bertambah lagi(73 golongan) seperti golongan yg membuat masjid dan didalamnya ada makam para wali atau ulama2 yg dianggap suci.jelas di agama tidak diperbolehkan dan di Al-quran juga sudah jelas tentang larangan itu. bahkah dilarang untuk sholat dimasjid itu (secara samar disampaikan didalam Al-quran). tetapi kebanyakan mereka tidak mengerti.
    tiap golongan2 tersebut merasa paling benar, sedangkan kebenarannya hanya milik Alloh.
    saya sependapat dengan nyayian2 setelah azan itu mengganggu orang yg melakukan sholat sunah. dan hal ini sering dilakukan oleh para muslim yg mengaku dirinya NU bukan ISLAM. bgtu jga Mohammadiah, dll. banyak sekali saya mendengar dari tmn2 waktu ditanya, km agama apa? NU,mohammadiah,dll. adakah agama itu wahai orang2 yg punya akal dan pemikir???
    jalan yg baik itu adalah jalan Alloh (Al-quran) dan Rosul(Hadist).
    tetapi kebanyakan mereka lebih mempercayai ulama dari pada mempelajari(mengkaji/mengaji) Al-quran dan Hadist sendiri atau berjama’ah(bersama2).
    hal ini yg sangat2 disayangkan kepada umat muslim indonesia maupun umat muslim didunia.
    contoh hal menentukan 1 syawal saja masih berbeda2 sedangkan 1 syawal bisa diketahui dari perputaran bulan dengan menggunakan alat bantu(teropong bintang) bukankah di Al-Quran juga membicarakan bulan sebagai penentuan tahun,bulan,hari???
    para golongan lebih suka berkumpul dengan golongannya sendiri. dan bahkan saling mencaci maki antara (seperti kata2 ustad diatas secara tidak langsung ustad mencaci maki golongan dan orang2 dari golongan tersebut saat membaca itu akan berbalik mencaci maki, begitu seterusnya) golongan 1 dengan golongan yg lain semisal orang NU dengan Muhammadiah, dll.
    menurut pendapat saya pribadi hal itu jangan lagi diperdebatkan (mungkin saja ada dalil yang diyakinin melakukan hal itu). yang seharus diperdebatkan ataupun dimusuhi atau diluruskan kejalan yg benar adalah golongan yang mendirikan masjid yang didalamnya ada makam para wali. golongan orang2 kafir, golongan yg meyakini ada rosul setelah nabi Muhammad, dll(yang “SANGAT” bertentangan di dalam Al-Quran)
    sesungguhnya perbedaan itu timbul dari akal pemikiran kita sendiri yg memahami 1 kalimat dari Al-quran dan Hadist. dan belum tentu pemikiran kita benar adanya. kebenaran hanya milik Alloh. dan apa yg kita pandang buruk bisa jadi itu baik di mata Alloh. mari kita berhenti mencaci maki golongan2 yg lain dan mencari2 kesalahan dari golongan itu sendiri. alangkah baiknya dari golongan yang ada di ambil yg positif2nya aja. itu lebih baik dari pada menyakiti perasaan umat muslim yang berbeda golongan. bukankah islam melarang untuk menyakiti umat muslim???

  2. robin said

    berbicara soal sekolah yg gratis. jika Alloh mengijinkan dan melapangkan reski saya. Amin. saya lebih memilih membangun masjid dan disebelahnya ada sekolahan yg gatis. bagaimana bisa, hal itu dilakukan??? sedangkan uangnya hanya bisa membangun masjid dan sekolahan saja bagaimana dengan gaji guru dll???
    saya berpikir uang amal di masjid yg tiap harinya ataupun minggunya selalu bertambah, alangkah baiknya uang itu di lakukan investasi (sesuai ajaran agama seperti jual beli) dan laba dari jual beli itu dibuat untuk memberi gaji para guru dll. bolehkan hal itu dilakukan???
    jika diperbolehkan oleh agama, kenapa para pendiri masjid dan para pengelolah masjid tidak dilakukan hal itu(seperti beberapa pesantren)???kenapa selalu menyalakan pihak lain???bukankah hal itu baik, dan tidak akan putus2nya pahalanya sebagai contoh orang yg beramal tiap jum’at memberi rp.1000,- dengan melakukan perputaran uang seperti jual beli pasti hasilnya akan bertambah menjadi rp.1100,- dengan laba perhari rp.100,- jika 30 hari uangnya bertambah 3000 menjadi rp.4000,-.itu baru uang 1000,- jika uang tiap jum’at lebih dari 1000 berapa laba yg didapat??? pasti akan banyak sekolah2 gratis tis….. tanpa embel2 seragam…dan kaos olah raga(seragam itu hanya pemborosan uang saja jika ada baju yg lanyak kenapa tidak memakai itu sebagai seragam)
    klo hanya menunggu bantuan dari pemerintah, pasti akan bertambah jumlah anak2 yg putus sekolah…
    mulailah dari kita sendiri itu lebih baik dari pada menunggu orang lain yang melakukannya.
    semogah hal ini menjadi ispirasi bagi orang2 yg membacanya.dan mengharapkan banyak masjid yg mendirikan sekolah gratis yg kualitas pendidikannya lebih baik dari sekolahan2 lainnya (alhaknya).

  3. achoey said

    Subhanallah
    Di sinilah ilmu berada

  4. fauzi said

    kepada mas achoey terima kasih banget sudah mampir

  5. fahri said

    yang nama islam tetep agama… ada NU, Muhamadiyah atau yang lainya… itu hanyalah sebuah organisasi (harap dimengerti.
    kita sebagai bangsa yang mempunyai budaya… jangan kita sampai lepas dengan budaya itu. bagaimana ketika islam masuk ke indonesia….
    dan siapa dibalik semua itu….
    yang terpenting adalah bagaimana semua perbuatan kita ini di ridoi alllah.

  6. sugiyanto said

    saya sangat seuju dengan mas fahri, budaya …. kecuali wahabi laknat yang merasa benar…..

  7. sugiyanto said

    baca sejarah muawiyah, wali songo di situ ada perbedaan yang sangat mencolok dalam siar….. diatas langit masih ada langit bung……..

  8. Toton said

    Mas Sugiyanto, jika yang Anda maksudkan sebagai wahabi adalah wahabi nya Muhammad bin Abdul Wahab, Anda telah keliru. Justru beliau yang mendakwahkan tauhid dan menjalankan Islam sesuai sunnah.

  9. Toton said

    Budaya boleh boleh saja kita lestarikan asalkan tidak menyalahi syariat Islam. Kalau tidak sesuai dengan syariat Islam lebih baik kita tinggalkan. Lebih utama dan mulia mana hukum dari Allah dengan hukum/budaya buatan manusia?

    Wali songo memang berbeda pendapat dalam mendakwahkan Islam di Jawa. Para wali sepuh mengajarkan Islam sesuai sunnah sedang para wali yang lebih muda mengajarkan Islam yang disesuaikan dengan adat dan budaya setempat. Tetapi para wali muda berkeyakinan bahwa nanti generasi setelah mereka akan ada orang yang meluruskan Islam sesuai dengan ajaran Rosulullah. Jadi itu cuma sekadar cara agar Islam bisa masuk dengan lebih mudah di Jawa. Tetapi pada kenyataannya, Islam yang tercampur dengan budaya dan agama lain tersebut tetap dipertahankan hingga kini. Kalau ada yang mencoba meluruskan malah dimusuhi dan dianggap menyimpang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: