Samudra Ilmu Agama Islam

Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Membawa bunga ke kuburan bid’ah ?

Posted by Administrator pada 6 Maret 2009

Lanjutan jawaban dari pertanyaan Mas Robin.

Setelah berhenti satu hari dalam mengurus blog ini, al hamdulillah pagi ini saya bisa kembali lagi menulis.

Tentang pertanyaan mengenai bid’ah dan apakah menaburkan bunga termasuk ke dalamnya ?

Bid’ah seperti yang dimaksud oleh Hadits Bukhari dan Muslim seperti yang Mas Robin sebutkan adalah segala sesuatu yang baru yang tidak ada dasar dan landasan syar’inya dari seluruh dalil-dalil yang dapat dijadikan sebagai rujukan dalam mengambil hukum, baik yang disepakai oleh para ulama, yaitu Al Qur’an, hadits, ijma’ dan qiyas atau yang diperselisihkan boleh tidaknya diadkan sebagai hujjah, yaitu istihsan, syari’at ummat sebelum Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kemaslahatan yang umum dan lain-lain.

Ada diantara sebagian kaum muslimin yang membagi-bagi bid’ah itu menjadi bermacam-macam hukumnya. Ada yang bid’ah hasanah (baik) dan ada yang bid’ah sayyi’ah (buruk). Jika sesuai dengan dasar syari’at, maka ia bid’ah hasanah dan jika tidak ada dasar sya’inya, maka dia bid’ah sayyi’ah.

Tetapi kalau kita merujuk kepada definisi bid’ah seperti yang saya sebutkan di atas, maka tidak perlu lagi pembagian bid’ah kepada yang hasanah atau yang sayyi’ah. Karena segala hal yang baru yang tidak ada dasar syar’inya adalah bid’ah. Jadi semua bid’ah adalah sayyi’ah.

Jadi sebenarnya perbedaan antara mereka yang membagi dan yang tidak membagi bid’ah menjadi dua macam itu sebenarnya hakekatnya sama saja.

Kemudian apa perbedaan antara bid’ah dan mashlahah (kemashlahatan) ?.

Bid’ah terjadi dalam ibadah, sedangkan mashalahah terjadi dalam bidang mu’amalah (hubungan antara sesama manusia dalam transaksi mereka, termasuk ke dalam kategori ini adalah sarana dan metode untuk menunaikan ibadah). Ibadah adalah inti yang dikehendaki yang tidak boleh dirubah-rubah sedangkan cara untuk menuju ibadah, seperti cara menuju ke masjid, kalau dahulu naik unta atau jalan kaki, sekarang naik sepeda motor atau mobil. Yang terakhir ini yang mengikuti perkembangan zaman. Dahulu dakwah berhadapan langsung dengan obyek dakwah, sekarang bisa dengan internet seperti ini, dimana antar da’I dan obyek dakwahnya kadang-kadang tidak pernah bertemu dan tidak kenal.

Jadi dalam bidang transaksi, ummat Islam diberikan kesempatan untuk berkreasi selas mungkin untuk kesuksesan hidunya di dunia ini, dengan tetap mengacu kepada rambu-rambu yang sudah digariskan oleh agama ini.

Nah terkait dengan tradisi yang sifatnya tidak wajib, mungkinkah bid’ah terjadi di dalamnya ?

Jika tradisi itu memiliki landasan syar’inya, maka tentu bukan bid’ah, seperti shalat fardlu jama’ah, shalat tarawih berjama’ah, membiasakan do’a-do’a tertentu yang memang ada ajarannya, seperti do’a sebelum makan,sebelum tidur, bangun tidur dan lain-lain.

Tetapi jika tradisi itu tidak memiliki landasan syar’inya, baik oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam atau oleh para sahabatnya, kemudian seseorang membiasakan hal itu. Seperti contohnya demikian, seorang muslim mentradisikan dirinya untuk membaca satu halaman Al Qur’an setiap kali selesai shalat fardlu. Nah, bukankah ini tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Apakah diperbolehkan ? Maka jawabanya boleh, selama dia tidak memiliki keyakinan bahwa satu halaman itu adalah lebih baik daripada yang lainnya dan dia tidak mau membaca kecuali hanya satu halaman itu. Seseorang mebiasakan diri untuk membaca shalawat kepada nabi 1000 kali setiap harinya. Maka ini boleh-boleh saja dilakukan, selama tidak ada keyakinan yang macam-macam. Dia melakukan itu karena hanya melaksanakan perintah untuk membaca Al Qur’an dan membaca shalat untuk Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Jika ada niat yang macam-maca, maka bid’ah bisa masuk ke dalamnya. Terlebih lagi jika angka 1000 itu dianggap angka keramat, maka bisa terjerumus ke dalam syirik nantinya.

Apalagi jika tradisi yang umum seperti ini kemudian dinisbatkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka menjadi semakin tidak diperbolehkan.

Karena ada sebagian kaum muslimin yang mentradisikan shalat rawatib dengan berjama’ah dan dia tidak mau shalat rawatib kecuali dengan jama’ah serta menganggap pahala shalat rawatib dengan berjama’ah itu pahalanya seperti pahala shalat fardlu berjama’ah. Maka pembiasaan yang seperti ini tremasuk bid’ah. Karena tidak ada landasannya. Tetapi kalau sesekali dia melakukannya dengan berjama’ah, karena untuk suatu kepentingan misalnya, maka tidak apa-apa, sebagaiamana yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa kadang-kadang beliau melaksanakan shalat sunnah dengan berjama’ah.

Adapun tentang contoh yang Mas Robin sebutkan di atas, yaitu membawa kembang-kembang ketika melakukan ziarah kubur, maka jawaban saya sama seperti yang di atas. Jika dia membawa kembang itu karena mengkuti keumuman sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang memakai wangi-wangian, maka boleh-boleh saja. Jadi dalam hal ini tidak harus kembang yang dia bawa. Dia cukup memakai wangi-wangian untuk dirinya dengan wangi-wangian apa saja, yang berupa minyak atau yang lainnya, ya silahkan saja. Tetapi jika dia beranggapan bahwa harus wangi-wangian itu berupa bunga dan kembang, apalagi jika hanya jenis tertentu, dengan cara tertentu, yang kesemuanya itu tidak ada landasasan syar’inya, maka bid’ah masuk ke dalamnya. Ini tidak boleh dan haram.

Bukankah kuburan itu kotor dan kadang-kadang bau dan bukankah kita dianjurkan untuk memakai wangi-wangian ketika berkumpul dengan orang lain. Nah, jika niat dia membawa bunag atau memakai wangi-wangian itu karena untuk melaksanakan perintah ini, maka silahkan.

Mungkin ini dulu jawaban saya. Untuk pertanyaan berikutnya, insya Allah akan saya jawab pada tulisan yang akan datang. Sekali lagi terima kasih atas pertanyaan dan kunjungannya.

Kurang lebihnya semoga Allah mema’afkan. Wallaahu a’lam.

Wassalam.

3 Tanggapan to “Membawa bunga ke kuburan bid’ah ?”

  1. robin said

    sangat berterimakah sekali atas penjelasanya. sekarang saya mengetahui klo membawa bunga untuk berziarah ternyata untuk memberikan wewangian.
    saya sangat sependapat dengan kata ustad” Terlebih lagi jika angka 1000 itu dianggap angka keramat, maka bisa terjerumus ke dalam syirik nantinya”
    saya sempat diberikan surat tentang hal ini
    “BERITA PENTING”
    Surat ini datangnya dari “Shek Ahmad” di Saudi Arabia.

    Aku bersumpah demi nama ALLAH S.W.T dan Nabi Mohamad S.A.W.
    Kasih untuk semua umat islam seluruhnya Shek Ahmad.
    Seorang panjang makam Rossullaloh S.A.W di Madinah yaitu “Masjid Nabawi” di Saudi Arabia. Pada makam tarala “Hamba“ membaca Al-Quran di makam Rossullaloh dan hingga tertidur, lalu hamba “bermimpi” didalam mimpi hamba bertemu Rossullaloh S.A.W. Beliau berkata “Dari 30.000 orang yang meninggal dunia, diantara mereka yang meninggal tidak ada orang yang beriman. Dikarenakan seorang istri tidak mendengarkan (mendengar dan melaksanakan yang baik – baik) kata – kata suami, ayah dan ibu mereka. 5 Orang yang kaya (hartanya/yang mampu) tidak lagi merasa kasihan kepada orang – orang yang “MISKIN” padahal mereka mampu untuk melaksanakannya. Oleh sebab itu Wahai! Shek Ahmad hendaklah engkau sabdakan kepada semua umat Islam didunia supaya membuat kebajikan dan menyembah kepada ALLAH S.W.T ” demikian pesan Rossullaloh kepada hamba maka diperdengarkan pesan Rossullaloh tersebut.
    namun diujung surat itu berisikan untuk menyebarkan minimal 20 lembar dan jika tidak menyebarkan akan mendapat bencana, sedangkan yang menyebarkan mendapat kebaikan.
    apakah surat ini menjerumus ke syrik? hal itu yg sya pertanyakan pertamakali saya pikirkan.lantas saya tdk menyebarkan surat ini karena saya masih meragukan kebenarannya tentang jumlah orang meninggal dari 30.000 ataukah 100.000 yg masuk surga hanyalah 1 orang saja(orang yg beriman).

    ustad kasih forum tentang diskusi atau pengalam pribadi gtu dong.
    ohya kasih artikel tentang ilmuan yg beragama islam (wkt saya lihat di BBC membahas tentang ilmuan/para penemu yg beragama islam jauh sebelum bangsa eropa menemukannya)

  2. fauzi said

    Surat seperti itu sudah pernah saya baca sejak saya masih di SD sekitar pada tahun 1984, yaitu surat dari Syekh Ahmad dengan diiringi ancama seperti itu dengan disertai cerita orang yang menyebarkan surat itu dan mendapatkan kekayaan dan orang yang menyia-nyiakan surat itu kemudian mendapat celaka. Surat itu sangat sangat diragukan. Siapa Syeikh Ahmad ? Orang yang tidak jelas. Saya memiliki puluhan kawan alumni Madinah, dan mereka sama sekali tidak mengetahui siapa dia. Akhirnya saya yakin itu surat palsu. Nggak usah dipedulikan isinya apalagi ancamannya. Sejak saya membaca surat itu lebih dari 20 tahun sebelumnya dan saya tidak menyebarkannya, alhamdulillah sapai sekarang tidak terjadi apa-apa. Segala sesuatu itu Allah yang menentukan, bukan sepucuk surat itu.
    Tentang forum diskusi, bagaiamana cara membuatnya ? Saya tida begitu paham dengan dunia web dan bagaimana membuatnya ? begitu juga tentang hamalam untuk pengalaman pribadi.

  3. Fakhrurozi M Nur said

    Nabi Muhammad pernah Menancapkan Pelepah Kurma Diatas Kuburan Untuk Meringankan Siksa Mereka. Kebanyakan mereka disiksa karena air Kencing, Membawa Bunga kekuburan Bukanlah Bid’ah,,,,, Tetapi Mereka Meniru Apa Yang Dilakukan Oleh Nabi Muhammad.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: