Samudra Ilmu Agama Islam

Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Halal dan haram tentang makanan

Posted by Administrator pada 4 Maret 2009

Pertanyaan dari Mas Robin

Assalamu’allaikum wr wb

Ustadz,  saya hanya menyampaikan unek-unek di dalam hati saya. semoga Ustadz bisa membantu dan menenangkan hati dan pikiran saya.Amin Amin ya robbal alamin.

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut nama) selain Allah[108]. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Al-Baqarah ayat 2)

ketika saya makan diluar rumah dan memakan daging yang saya beli dipasar dan makanan – makanan yang dari laut( see food). saya kuatir makanan yang saya makan adalah haram (menyembelih tidak dengan nama Alloh) bagaimana hukumnya orang yang memakan makanan tersebut (menyembelih tidak dengan nama Alloh) sedangkan orang tersebut tidak mengetahuinya(mengetahui proses penyembelihannya)? dan apa yang harus saya lakukan untuk terbebas dari makanan haram tersebut? dan apa yang saya lakukan?

Ustadz, umat laki-laki diharamkan memakai perhiasan yaitu emas dan kain sutra terus kenapa kebanyakan umat muslim laki-laki dan diperbolehkan oleh ulama memakai perhisan emas sebagai suatu ikatan suami istri (tukar cincin)? apakah mereka (para ulama dan umat laki-laki) tidak mengetahui hal ini? dan jika ada salah 1 diantara mereka mengetahui hal ini bukannya sebaiknya diperingatkan?

bid’ah yang bagaimana dikatakan sesat seperti didalam hadits ini : Barangsiapa menimbulkan sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kita yang bukan dari ajarannya maka tertolak. (HR. Bukhari) Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah, dan sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, sedangkan seburuk-buruk urusan agama ialah yang diada-adakan. Tiap-tiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan tiap bid’ah adalah sesat, dan tiap kesesatan (menjurus) ke neraka. (HR. Muslim) saya melihat ketika orang mau berziarah ke makam kebanyakan mereka membawah bunga-bunga(tabur bunga di atas makam) sempat saya berpikir “apakah di arab ada bunga-bunga seperti itu?” dan saya menganggap hal itu “Bid’ah. tetapi itu juga budaya yang mendekatkan diri ke Alloh dan meminta agar dapat meringankan dosa orang yang sudah meninggal

” saya juga berpikir “kenapa orang yang azan memakai pengeras suara (mix), padahal nabi Muhamad mengajarkan kita azan ke tempat yang tinggi bukankah itu juga bid’ah?” saya pernah melihat berita kalau ada masjid (diluar negeri tepatnya saya kurang tau, seingat saya di inggris) yang “tidak” menyeruhkan azan menggunakan pengeras suara tetapi orang yang azan naik ke pilar/menara. mereka berpendapat kalau azan menggunakan pengeras suara akan mengganggu orang lain(non muslim), bukankah itu hal yang baik?kenapa tidak kita gunakan di masjid-masjid indonesia? sedangkan di indonesia bukan negara islam(tidak 100% muslim) bukankah dengan begitu toleransi sesama manusia akan lebih baik? saya mempunyai teman yang non muslim dia mengeluh dan tidak tenang tidurnya kalau tiap pagi/shubuh ada orang azan yang begitu kerasnya. bukankah islam mengajarkan kita untuk berbuat baik terhadap sesama manusia? tidak berbuat keributan dan merugikan orang lain? atas perhatiannya saya ucapkan banyak – banyak terimakah. wassalamu’allaikum wr wb Jawab.

Wassalamu’alaikum

Segala puji bagi Allah dan semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Raulullah dan kepada semua pengikutnya sampai akhir zaman.

Wah banyak sekali pertanyaannya, sampai bingung saya mau menjawab dari mana. Tetapi terima kasih atas pertanyaan-pertanyaannya, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Saya meringkas petanyaan ini menjadi

1.      makanan yang tidak kita ketahui asal usulnya, halalkah ?

2.      tentang bid’ah, apakah menaburkan bunga ke kuburan ketika berziarah termasuk ke dalamnya

3.      memakai cincin untuk laki-laki

4.      memakai mix (pengeras suara) ketika adzan, bid’ahkah ?

Saya mulai dari pertanyaan pertama.

Makanan yang haram adalah makanan yang dijelaskan di dalam Al Qur’an seperti pada Surat Al Baqoqoh : 173 (bukan ayat 2, seperti yang Mas Robbin sebutkan di atas), Al Maidah : 3, Al An’am : 145. Masing-masing ayat ini dapat dilihat teks lengkapnya di mushhaf dan terjemahannya di Al Qur’an terjemah terbitan DEPAG.

Ayat dalam Surat Al Baqoroh menjelakan tentang keharaman 4 macam makanan. Ayat dalam Surat Al Maidah menjelaskan secara rinci tentang yang termasuk ke dalam kategori bangkai, yaitu binatang yang terceking, yang terjatuh, yang saling beradu sampai mati, termasuk secara analogi (qiyas) binatang yang tertabrak mobil, yang terinjak, yang sakit kemudian mati sebelum disembelih dan lain-lain. Kemudian ayat pada Surat Al An’am itu membatasi keharaman hanya pada 4 macam makanan tersebut. Seolah-olah ayat ini menyatakan bahwa selain yang empat itu maka halal hukumnya. Tetapi ada beberapa hadits dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang menambahkan jenis makanan yang diharamkan, diantaranya binatang yang bertaring, binatang (burung) yang memiliki kuku tajam (membunuh dengan cakar). Demikian juga anjing, karena kenajisan mulutnya. Para ulama mengatakan jika mulutnya saja najis dan najisnya termasuk najis yang berat, karena harus dicuci tujuh kali dan salah satunya dengan debu, maka dagingnya juga diharamkan. Nah pendapat jumhur ulama mengatakan bahwa kita harus memahami petunjuk Al Qur’an dan hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam itu dan menempatkannya dalam tempat yang sama. Jadi yang disebutkan oleh Al Qur’an itu adalah haram, demikian juga yang disebtkan oleh hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam itu juga haram. Kita tidak setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa yangdisebutkan di dalam Al Qur’an itu haram dan yang disebutkan oleh hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam itu adalah makruh. Apalagi pendapat yang mengatakan bahwa selain yang disebutkan oleh Surat Al An’am : 145 adalah halal. Karena tambahan yang disebutkan di dalam hadits itu adalah nasakh (menghapus) dari hukum Al Qur’an, sedangkan hadits tidak boleh menasakh Al Qur’an, jadi penjelasan dalam hadits itu harus ditolak. Karena itulah ada sebagian orang yang mengatakan bahwa misalnya daging anjing itu adalah tidak haram. Ada yang mengatakan hanya makruh dan bahkan ada yang mengatakan halal.

Pendapat yang terakhir ini lebih tidak dapat diterima daripada yang kedua. Karena tambahan yang disebutkan di dalam hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah menjelaskan dari apa yang disebutkan dalam Al Qur’an dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan sesuatu yang bersumber dari hawa nafsunya, tetapi semua itu adalah wahyu dari Allah subhaanahu wa ta’ala.

Jadi, makanan yang diharamkan adalah yang disebutkan oleh Al Qur’an dan yang djelaskan (ditambahkan) oleh sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu adalah halal dengan syarat jika berupa binatang harus disembelih dengan sembelihan yang dijelaskan oleh syari’at Islam, kecuali ikan yang murni hidup di laut (termasuk sea food).

Kemudian bagaiamana kita mendapatkan makanan yang halal itu ? Tentu saja dengan kerja sebelumnya. Dan jika kita tidak memiliki sendiri binatang itu, tentu saja dengan membelinya, baik yang masih hidup kemudian kita sembelih sendiri atau yang sudah siap masak alisa berupa daging yang sudah dipotong-potong. Kemudian bagiamana dengan sembelihannya ? Bukankah kita tidak mengetahuinya ? Dan dari mana asal binatang itu ? Jangan jangan … jangan jangan ….

Nah di sini ada sebuah kaidah : hal-hal yang pada dasarnya halal yang ghaib dari kita, maka tanggung jawab terhadap barang itu tidak ada pada kita (ما غاب عنا لا نسأل عنه). Nah berdasarkan kaidah ini, maka jika kita membeli daging di pasar, yang jelas kita mengetahui bahwa penjualnya adalah seorang muslim, apalagi jika kita kenal dengan dia sebagai orang yang shaleh, misalnya, maka kita tidak perlu bertanya kepadanya tentang hal-hal yang akan membuat kita dan dia merasa nggak enak. Kita tidak perlu bertanya kepadanya apakah hewan itu disembelih dengan sembelihan yang sesauai syariat, kemudian kita mengetesnya terlebih dahulu. Kita juga tidak perlu bertanya kepadanya asal muasal ayam yang hendakkita beli misalnya, apakah dia memperolehnya dengan cara yang halal atau mencuri misalnya, kemudian kita mengetesnya. Kalau hal ini kita lakukan, maka rasa saling mencurigai akan menjadi sesuatu yang biasa, padahal kita diharamkan untuk su’udz dzon (berburuk sangka) kepada sesama muslim. Jadi yang penting kita mengetahui dhahir keadaan penjual itu baik dan shaleh, kemudian fisik dari daging yang hendak kita beli itu baik secara kesehatannya, maka halallah dia. Kita tidak perlu bertanya yang macam-macam kepadanya. Demikian juga jika kita hendak beli soto ayam misalnya, kita tidak perlu bertanya yang macam-macam, hanya perlu waspada dan memilah dan memilih, mengingat karena banyaknya penjual yang curang. Jika kita mengetahui ada penjual yang menjual daging bangkai misalnya, maka kita harus senantiasa menghindarkan diri dari membeli darinya sampai kita benar-benar tahu dia sudah bertaubat dengan benar.

Ini ada sebuah cerita yang dinisbatkan kepada Imam Abu Hanifah tentang hal ini yang mngkin dapat kita jadikan sebagai rujukan dalam menghapadapi hal-hal yang serupa. Inti dari cerita itu demikian :

“Ada seorang laki-laki yang menghadap kepada belia dan bertanya : “Wahai Imam, saya adalah seseorang yang tinggal di sekitar Sungai Nil. Setap hendak shalat saya mengambil air dari sungai ini. Kemudian berwudlu di rumah. Kemudian aku berpikir, jangan-jangan bejana yang aku gunakan itu tertimpa najis, sedangkan aku tidak mengetahui. Maka aku berwudlu langsung di piggir Sungai Nil itu. Kemudian selang beberapa hari aku berpikir, jangan-jangan air yang ada di piggir itu sudah terkena nasji, karena banyak digunakan oleh penduduk di sebelah atas sana. Kemudian aku membuat perahu kecil yang aku gunakan untuk mencapai tengah sungai, kemudian berwudlu di sana. Tetapi selang beberapa hari aku juga berpikir jangan-jangan air yang ditengahpun juga najis, karena telah tercampur dengan najis yang di pinggir. Nah, bagaiama solusinya, wahai Imam Abu Hanifah”.

Imam Abu Hanifah mengatakan : “Kamu tidak wajib berwudlu”.

Dia berkata : “Mengapa wahai Imam?”.

ImamAbu Hanifah berkata : “Kamu sudah gila dan orang gila tidak wajib berwudlu, bahkan tidak wajib shalat dan mengerjakan ibadah yang lain”.

Benar tidaknya penisbatan cerita ini kepada Abu Hanifah memang masih perlu diselidiki. Tetapi inti dari cerita itu benar adanya. Lihat saja air sungai nil yang begitu luas dan bannya itu masih dia ragukan kesuciannya, jadi orang yang demikian itu keadaannya, maka dia tidakakan pernah bisa menunaikan ibadah dengan tenang.

Saya sering menjumpai orang yang tidak melaksanakan shalat ketika bepergian dan lebih memilih untuk mengwodlo’ shalatnya, karena dia ragu-ragu terhadap kesucian pakaiannya, ragu terhadap kebolehan melakukan shalat jamak atau qashar atau jarak perjalanannya apakah sudah diperbolehkan melakuakn jamak qohsor dan lain-lain. Inilah keraguan yang harus dihindarkan. Agama ini mudah. Lihatlah bagaimana ajaran agama ini ketika melakukan istinja’ (cebok) ketika setelah buang hajat. Cukup hanya menghilangkan bau, rasa dan warnanya saja, sebatas yang diketahui oleh manusia. Kita tidak dibebani untuk menghilangkan bekas kencing itu secara keseluruhan 100 persen. Asalkan sudah hilang bau, rasa, dan warnanya, maka sudah suci. Karena kalau misalnya kita selesai kencing, kemudian kita melakukan istinja’ dengan baik, kemudian kita bawa ke labortaorium dan kita periksa farji kita dengan mikroskop, maka bekas najis itu masih ada. Tetapi kita tidak diperintahkan untuk melakukan hal-hal yang seperti ini. Islam tidak disyari’atkan untuk memberatkan pemeluknya, tetapi memudahkan mereka, dengan syria’atnya yang mudah, tetapi dia memerintahkan pemeluknya untuk istiqomah dan memegang prinsipnya sampai meninggal dunia.

Kita juga banyak menyaksikan orang yang ragu-ragu dalam shalatnya, sehingga kita melihat dia bertakbir tidak cukup hanya sekali, bahkan berpuluh-puluh kali untuk takbiratul ihram saja. Nah orang yang seperti ini, bagaimana jika dia jadi imam. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam selama hidupnya selalu menjadi imam shalat, kecuali hanya satu atau dua kali saja. Apakah beliau ragu-ragu sampai seerti ini. Tidak dan tidak. Contohlah beliau dalam segala hal.

Tetapi untuk sea food, maka ia adalah halal, bahkan bangkainya. Asalkan tentu saja belum busuk, karena akan banyak kumannya dan menjijikkan. Sea food tidak perlu disembelih. Boleh langsung dibersihkan kotorannya kemudian digoreng dan siap dimakan. Ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang air laut, maka beliau mengatakan : “Air laut itu suci dan mensucikan dan halal bangkainya”.

Tetapi di sini para ulama menjelaskan bahwa jika bangai ikan itu terapung dengan sendirinya di atas air, apalagi dalam jumlah yang besar, maka dia tidak halal, tetapi haram. Karena kita tidak mengetahui secara pasti sebab matinya ikan itu, boleh jadi dia mati sebab racun dan hal-hal yang juga membahayakan bagi manusia. Karena itu dia diharamkan.

Untuk sementara ini dulu jawaban saya. Untuk pertanyaan selanjtnya, insya Allah akan saja jawab pada tulisan mendatang. Dan sekali lagi terima kasih atas kunjungan dan pertanyaannya. Semoga bermanfaat. Wallaahu a’lam

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

3 Tanggapan to “Halal dan haram tentang makanan”

  1. robin said

    oh ya ustad slh masut angka itu surah ke 2. semogah Alloh memaafkan kesalahan hambanya.
    terimakah banyak atas jawabanya.
    sekarng saya merasa legah alhamdulilah.dan berusaha keras tidak ragu2 lgi terhadap makan yg saya makan halal atau haramnya (terkecuali yg binatang haram yg disebutkan diatas)
    bicara tentang binatang burung bukankah ayam itu sejenis burung(unggas)?

    Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

  2. fauzi said

    Ayam juga sejenis burung, teapi ayam tidak memiliki cakar tajam yang digunakan untuk mencengkeram mangsanya atau dalam bahasa Arab disebut (mikhlab), seperti burung elang. Kalau yang ini haram hukumnya

  3. iman tauhid said

    “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut nama) selain Allah[108]. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Al-Baqarah ayat 2)”….
    APA BENER?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: