Samudra Ilmu Agama Islam

Islam Rahmatan Lil 'Alamin

SEWA MENYEWA TANAH, SAMA DENGAN RIBA ?

Posted by Administrator pada 13 Februari 2009

Pertanyaan dari Noven (noven2005@gmail.com)

Assalamu’alaikum

Langsung aja, saya punya tiga pertanyaan terkait muamalah iqhtisodi yaitu :

1. apa benar transaksi sewa lahan pertanian termasuk yang dilarang ? Karena ada ulama yang melarang hal tersebut disebabkan menyerupai riba, sebab penyewa secara pasti memberikan biaya sewa sedangkan penyewa belum tentu mendapatkan hasil panen sebesar biaya sewanya, apa benar pendapat tersebut ?

2. bagaimana hukumnya jika kita menjual barang dengan harga yang berbeda antara pembelian tunai dg kridit, misal saya jual hp,dan saya tawarkan ke orang jika cash harganya 500 ribu, tetapi jika secara kridit harganya 600 ribu, haramkah cara demikian ? karena ada yang menganggap itu termasuk riba fudhori,apa benar ?

3. bagaimana hukum jual beli kepemilikan dalam bisnis usaha? misal saya punya saham/investasi/bagian kepemilikan di PT X senilai 100 juta kemudian hak kepemilikan saya tersebut saya alihkan ke orang lain dengan dibeli seharga 150 juta karena PT X tersbeut maju pesat sehingga prospek kedepannya karena itu saya jual lebih mahal dari nilai sebenarnya, apa boleh itu ?

Sementara itu dulu, nanti saya lanjutkan dengan pertanyaan yang lain..

Jazakallah sebelumnya….

 

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi wa barakaatuh

Segala puji bagi Allah dan rahmat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan kepada semua pengikutnya sampai akhir zaman.

Sebelumnya terima kasih atas pertanyaannya, semoga anda mendapakan rahmat dari Allah subhaanahu wa ta’ala.

Yang saya pahami dari pertanyaan pertama adalah hukum sewa menyewa tanah, bukan hukum muzaro’ah. Tetapi walaupun demikian saya nanti akan jelaskan sedikit tentang hukum muzaro’ah, untuk lebih meperluas wawasan kita. Karena penjelasan tentang sewa tanah berhubungan dengan penjelasan tentang muzaro’ah.

Tentang sewa menyewa tanah telah dijelaskan dalam sebuah hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut :

 

عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ سَعْدٍ قَالَ كُنَّا نُكْرِى الأَرْضَ بِمَا عَلَى السَّوَاقِى مِنَ الزَّرْعِ وَمَا سَعِدَ بِالْمَاءِ مِنْهَا فَنَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ ذَلِكَ وَأَمَرَنَا أَنْ نُكْرِيَهَا بِذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ

 

Diriwayatkan dari Sa’id bin Musayyib dan Sa’ad bin Abi Waqqash bahwa dia berkata : “Kami menyewakan tanah dengan tanaman yang keluar darinya (maksudnya harga sewa adalah hasil dari tanah tertentu dari tanah yang disewakan) dan dengan bagian yang dialiri air (maksudnya harga sewa adalah hasil dari tanah yang dialiri air). Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang kami untuk melakukan hal itu danbeliau memertahkan kepada kami untuk menyewakananya dengan emas atau perak”. (HR Abu Dawud, III/267, no. 3393) Al Al Bani, pentahqiq kitab ini berkata : “Hadits ini adalah hasan”)

Hadits ini menjelaskan tentang mu’amalah manusia pada zaman jahiliyah dan petunjuk Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk meninggalkannya dengan menggantinya yang lebh baik. Pada masa jahiliyah jika seseorang menyewa tanah, maka dia tidak perlu membayar uang pada waktu akan sewa, tetapi dia hanya mensyaratkan bagian sekian persen dari hasil tanah tertentu (misalnya yang sebelah utara, selatan, yang atas atau yang bawah, yang diseberang sungai atau yang lainnya). Kemudian penyewa langsung menggarap tanah yang disewa sampai panen dengan menyerahkan hasil yang sudah disepakati pada waktu akad.

Inilah yang dilarang oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan dganti dengan harga yang jelas pada waktu akad sewa, yaitu dengan uang yang pada masa itu adalah emas dan perak. Karena mu’amalah dengan cara ini lebih jelas dan kemungkinan untuk saling mendzalimi sangatlah kecil. Ini berbeda dengan mu’amalah pada masa jahiliyah itu. Karena kemungkinan gharar (tipuan, ketidak jelasan) akan sangat mungkin terjadi pada model ini. Sebab bisa saja pihak penyewa tidak begitu memperdulikan menggarap tanah yang akan menjadi bagian pemiliki tanah itu, atau bisa jadi tidak panen sama sekali karena adanya suatu musibah atau hal-hal lain diluar kendali manusia. Jika demikian, sudah pasti pemilik lahan akan menjadi pihak yang terdzalimi, karena sejak semula dia tidak mendapatkan bagian apapun, kemudian tidak ada panen lagi. Sudah atu tertimpa tangga pula.

Sedangkan mu’amalah yang diijinkan bahwa diperintahkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah sejak akad sewa, pemilik lahan sudah memiliki bagian yang jelas dengan nominal tertentu, dengan mata uang yang berlaku pada saat itu. Bisa saja seseorang mengatakan bahwa dalam model mu’amalah ini masih mungkin ada pihak yang didzalimi, yaitu misalnya jika kemudian pihak penyewa mengarap tanahnya, kemudian dia tidak dapat memanen tanamannya karena adanya mibah atau gagal panen karena sebab apapun, maka dalam hal ini dia didzalimi, karena dia tidak mendapatkan bagian sama sekali.

Kita mengatakan bahwa akad itu sudah sempurna ketika pihak pemilik lahan menyerahkan tanahnya dan penyewa sudah membayar uang sewanya, adapun hal-hal yang terjadi di kemudian hari, maka itu adalah sesuatu yang diluar kemampuan manusia untuk mengetahui dan mengontrolnya. Itu adalah murni milik Allah subhaanahu wa ta’ala. Seperti seseorang yang menyewa rumah dan sudah membayar uang sewa, kemudian dia menempati rumah itu, lalu baru beberapa hari kemudian terjadi sesuatu di luar kehendaknya, mislanya dia tidak kerasan di rumah itu atau terjadi bencana alam yang memporakporandakan semua, bahkan sampai rumah tempat tinggal pemilik rumah yang disewa juga hancur, apakah kemudian kita akan mengatakan bahwa pihak penyewa didzalimi, karena dia belum mendapatkan manfaat sesuatu yang disewa, kecuali hanya beberapa hari saja ?. Tentu saja tidak.

Contoh yang lain seseorang yang menyewa mobil untuk tujuan tertentu, berdagang misalnya, kemudian ternyata di hari itu dia tidak mendapatkan hasil yang menggembiraan, bahkan untuk mengembalikan ongkos sewa saja, tidak mencukupi, maka apakah sewa menyewa seperti ini tidak diperbolehkan?. Tentu saja sewa menyewa seperti ini adalah diperbolehkan.

Perbeaan mu’amalah model ini dan model jahiliyah yang dilarang adalah ketidakjelasan nilai transaksi ketika terjadinya akad. Model islami jelas nilainya, sedangkan model jahili tidak jelas noinalnya. Sedangkan ketidak jelasan nasib manusia adalah merupakan urusan ghaib yang hanya Allah saja yang menetahuinya.

Ada hadits yang lebih tegas lagi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :

 

عن حَنْظَلَةَ بْنِ قَيْسٍ الأَنْصَارِىِّ قَالَ سَأَلْتُ رَافِعَ بْنَ خَدِيجٍ عَنْ كِرَاءِ الأَرْضِ بِالذَّهَبِ وَالْوَرِقِ فَقَالَ لاَ بَأْسَ بِهِ إِنَّمَا كَانَ النَّاسُ يُؤَاجِرُونَ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى الْمَاذِيَانَاتِ وَأَقْبَالِ الْجَدَاوِلِ وَأَشْيَاءَ مِنَ الزَّرْعِ فَيَهْلِكُ هَذَا وَيَسْلَمُ هَذَا وَيَسْلَمُ هَذَا وَيَهْلِكُ هَذَا فَلَمْ يَكُنْ لِلنَّاسِ كِرَاءٌ إِلاَّ هَذَا فَلِذَلِكَ زُجِرَ عَنْهُ. فَأَمَّا شَىْءٌ مَعْلُومٌ مَضْمُونٌ فَلاَ بَأْسَ بِهِ

 

Diriwaatkan dari Handolah bin Qois Al Anshori bahwa dia berkata : “Aku bertanya kepada Rafi’ bin Khudaij tentang sewa menyewa tanah dengan emas dan perak. Maka dia berkata : “Tidak apa-apa. Dahulu para manusia saling menyewakan tanah pada masa sebelum Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan hasil tanah pada bagian yang dekat dengan air dan bendungan dan dengan bagian ternetu dari hasil tanam, sehingga bagian di sini binasa dan di bagian lain selamat, dan bagian ini selamat dan bagian lainnya binasa. Dan manusia tidak melakukan sewa menyewa kecuali dengan model ini. Karena itulah hal ini dilarang. adapun sewa menyewa dengan sesuatu yang jelas diketahui, maka tidak apa-apa”. (HR Muslim, V/24, no. 4034).

Pada hadits ini jelas membedakan dua model mu’amalah, antara yang diperbolehkan dan yang dilarang. Pada haditz ini dijelaskan bahwa Handzalah bertanya kepada Rafi’ bin Khudaij, karena Rafi’ ini adalah pemilik tanah yang luas dan terbiasa untuk melakukan sewa menyewa. Karena itulah dia yang lebih memahami permasalahan ini daripada yang lainnya, karena dia adalah praktisi langsung dari model mu’amalah ini. Itulah sebabnya mengapa pertanyaan ini diajukan kepada beliau, bukan kepada Abu Hurairah misalnya, sebagai perawi hadits yang terbanyak. Ini disebutkan di dalam misalnya kitab Ihkamul Ahkam fi syarhi ‘umdatil ahkam fi ma ittafaqo ‘alaihi asy syaikhon (I/379) yang disusun oleh Ibnu Daqiqil ‘Id dengan menukil riwayat langsung dari Rafi’ bin Khudaij.

Adapun mereka yang melarang sewa menyewa adalah bisanya hanya memanda kepada hadits-hadits berikut ini, tanpa menggabungkannya dengan hadits-hadits di atas yang juga shahih. Misalnya hadits berikut ini :

 

عَنِ ابْنِ أَبِى نُعْمٍ حَدَّثَنِى رَافِعُ بْنُ خَدِيجٍ أَنَّهُ زَرَعَ أَرْضًا فَمَرَّ بِهِ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ يَسْقِيهَا فَسَأَلَهُ « لِمَنِ الزَّرْعُ وَلِمَنِ الأَرْضُ ». فَقَالَ زَرْعِى بِبَذْرِى وَعَمَلِى لِىَ الشَّطْرُ وَلِبَنِى فُلاَنٍ الشَّطْرُ. فَقَالَ « أَرْبَيْتُمَا فَرُدَّ الأَرْضَ عَلَى أَهْلِهَا وَخُذْ نَفَقَتَكَ »

 

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Nu’aim bahwa Rafi’ bin Khudaij bercerita kepadanya bahwa pada waktu menggarap tanah, lewatlah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam di tanahnya, sedangkan dia sedang mengairinya. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya tentang siapakah pemilik tanaman dan siapakah pemilik tanah. Maka dia berkata : “Tanamanku, benihku dan pekerjaanku. Aku akan memperoleh separuh dan pemilik lahan memperoleh separoh. Maka dia berkata : “Kalian telah melakukan riba. Kembalikanlah tanah itu kepada pemiliknya dan ambillah upah kerjamu”. (HR Abu Dawud, III/271, no. 3404)

Dhahir hadits ini melarang sewa tanah. Tetapi kalau kita memperhatikan isinya, maka hadits ini justru mempertegas makna hadits sebelumnya.

Pertama bahwa hadits ini diriwayatkan oleh sahabat yang sama, yaitu Rafi’ bin Khudaij yang mustahil untuk meriwayatkan dua buah hadits yang saling kontradiksi.

Kedua bahwa larangan itu adalah tertuju kepada model sewa yang lama berlaku, yaitu penyewa tidak membayar apa-apa di muka. Dia hanya membayar sewanya dengan hasil panen di kemudian hari. Inilah yang dikatakan sebagai riba oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Atau yang ketiga bahwa maknanya adalah seperti yang dijelaskan dalam sebuah atsar yang lain, yaitu :

 

عَنْ سَالِمٍ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يُكْرِى أَرْضَهُ حَتَّى بَلَغَهُ أَنَّ رَافِعَ بْنَ خَدِيجٍ الأَنْصَارِىَّ حَدَّثَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَنْهَى عَنْ كِرَاءِ الأَرْضِ فَلَقِيَهُ عَبْدُ اللَّهِ فَقَالَ يَا ابْنَ خَدِيجٍ مَاذَا تُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى كِرَاءِ الأَرْضِ قَالَ رَافِعٌ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ سَمِعْتُ عَمَّىَّ وَكَانَا قَدْ شَهِدَا بَدْرًا يُحَدِّثَانِ أَهْلَ الدَّارِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ كِرَاءِ الأَرْضِ. قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَاللَّهِ لَقَدْ كُنْتُ أَعْلَمُ فِى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّ الأَرْضَ تُكْرَى. ثُمَّ خَشِىَ عَبْدُ اللَّهِ أَنْ يَكُونَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَحْدَثَ فِى ذَلِكَ شَيْئًا لَمْ يَكُنْ عَلِمَهُ فَتَرَكَ كِرَاءَ الأَرْضِ.

Diriwayatkan dari Salim bin Abdullah bin Umar bahwa Ibnu Umar menyewakan tanah sampai dia mendengar berita bahwa Rafi’ bin Khudaij Al Anshori bercerita bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang sewa menyewa tanah. Maka Abdullah bin Umar menemuinya dan berkata : “Wahai Pura Khudaij, apa yang kamu ceritakan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang sewa menyewa tanah ?. Rafi’ berkata kepada Abdullah bin Umar : “Aku mendengar dua orang pamanku, sedangkan keduanya ikut pada Perang Badar bahwa mereka berdua bercerita kepada penghuni rumah ini bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melarang sewa menyewa tanah”. Abdullah bin Umar berkata : “Aku benar-benar mengetahui bahwa tanah itu pada masa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam disewakan”. Kemudian Ibnu Umar takut bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah membuat ketentuan yang bar tentang hal itu. Maka dia meninggalkan sewa menyewa tanah. (HR Abu Dawud, III/268, no. 3396).

Di sini diceritakan bahwa kemudian Abdullah bin Umar lebih memilih untuk tidak menyewakan tanah, karena khawatir Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah membuat suatu keputusan yang dia tidak mengetahuinya, ketika mendengar hadits yang diriwayatkan oleh Rafi’. Di sini beliau lebih memilih untuk bersikap wara’, yaitu memilih seuatau yang terbaik dari dua hal yang sama-sama diperbolehkan. Gambarannya misalnya, jika ada sesuatu yang nilainya hanya 60 saja dan yang lainnya 90, maka beliau memilih yang 90 itu, sekalipun yang 60 itupun halal untuk dilakukan. Metode seperti inilah yang dilakukan oleh Imam Bukhari dalam meriwayatkan hadits di dalam kitab Shahihnya. Jika ada hadits shahih yang nilainya. Karena beliau hanya membatasi hadits shahih yang diriwayatkan di dalam kitabnya tidak kurang dari nilai 80 misalnya, kalau boleh memberikan nilai dengan angka seperti sekarang.

Tetapi hadits inipun dengan tegas menjelaskan bahwa Ibnu Umar dengan pasti dia mengetahui bahwa tanah pada masa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam itu disewakan. Hanya karena kekhawatirannya itu, maka beliau tidak melakukanya.

Dari semua penjelasan di atas, maka kita simpulkan bahwa :

  1. menyewa tanah dengan uang yang tertentu nilainya adalah boleh.
  2. menyewa tanah dengan hasil bumi di kemudian hari adalah dilarang (haram)
  3. menyewa tanah dengan mengecualikan sebagiannya, sepertiga yang sebelah sini, yang dekat dengan irigasi mislanya adalah haram. No 2 dan 3 ini adalah mu’amalah model jahiliyah.
  4. Ibnu Umar meninggalkan sewa menyewa tanah karena dilandasi dasar sikap wara’, bukan karena haram. Karena beliau sendiri mengetahui bahwa mu’amalah model ini terjadi pada masa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
  5. tidak mungkin seorang sahabat meriwayatkan dua model hadits yang berbeda. Larangan yang ada maknanya adalah mu’amalah dengan model no. 2 dan 3 dan kebolehan diriwayatkan adalah model no. 1
  6. penyerupaan sewa menyewa dengan riba adalah tidak tepat, kecuali untuk model ke 2 dan ke 3.
  7. larangan terhadap model no 1 dari mu’amalah ini ditafsirkan makruh oleh sebagian ulama, bukan haram. Tetapi jumhur menafsirkan larangan itu untuk model no 2 dan 3, berdasarkan hadits-hadits di atas.

 

Sekian dulu jawaban saya. Semoga bermanfaat. Adapun tentang muzaro’ah  dan jawaban dari pertanyaan ke dua dan ketiga, insya Allah akan saya jawab kemudian, karena memerlukan jawaban yang juga cukup panjang. Terima kasih.

Wassalam. Wallaahu a’lam.

8 Tanggapan to “SEWA MENYEWA TANAH, SAMA DENGAN RIBA ?”

  1. noven said

    Jazakallah Ust, semakin jelas dech atas masalah tentang sewa menyewa tanah, sebab ada sebagian kelompok umat Islam yang mengambil ijtihad untuk melarang/mengharamkan sewa tanah, semoga tulisan jawaban ust bisa dibaca yang lain sehingga bisa jadi wawasan….saya tunggu jawaban untuk pertanyaan yang lain Jazakallah

  2. Abu Zaidan said

    bagaimana caranya saya bisa gabung dengan web ini ?

  3. rukhul amin said

    saya mw bertanya tentang pandangan islam mengenai sewa-menyewa tanah untuk bangunan, karena sampai saat ini belum menemukannya

  4. aziz said

    assalamualaikum
    begini saya mau tanya bagai mana hukumnya orang yang menyewakan tanah dengan kesepakatan ,dan bayaaran ditetapkan perbulan

  5. aziz said

    assalamualaikum
    begini saya mau tanya bagai mana hukumnya orang yang menyewakan bangunan
    dengan kesepakatan ,dan bayaaran ditetapkan perbulan……..!!!

  6. asma said

    *Larangan Sewa Lahan Pertanian*

    Seorang pemilik tanah secara mutlak tidak boleh menyewakan tanahnya untuk
    pertanian. Ia tidak diperbolehkan untuk menyewakan tanah untuk pertanian
    dengan sewa yang berupa makanan ataupun yang lain, yang dihasilkan oleh
    pertanian tersebut, atau apa saja yang dihasilkan dari sana, sebab semuanya
    merupakan ijarah. Menyewakan tanah untuk pertanian itu secara mutlak
    hukumnya haram.

    Rasulullah saw. bersabda: *”Siapa yang mempunyai sebidang tanah, hendaknya
    dia menanaminya, atau hendaknya diberikan kepada saudaranya. Apabila dia
    mengabaikannya, maka hendaknya tanahnya diambil”* (HR. Imam Bukhari)

    Di dalam Shahih Muslim disebutkan: *”Rasulullah saw. melarang pengambilan
    sewa atau bagian atas tanah”*

    Diriwayatkan, *”Rasulullah saw. melarang menyewakan tanah. Kami bertanya:
    Wahai Rasulullah, kalau begitu kami akan menyewakannya dengan bibit. Beliau
    menjawab: ‘Jangan. ‘Bertanya (sahabat): ‘Kami akan menyewakannya dengan
    jerami. Beliau menjawab: “Jangan.” Bertanya (sahabat): ‘Kami akan
    menyewakannya dengan sesuatu yang ada di atas rabi. Beliau menjawab:
    “Jangan. Kamu tanami atau kamu berikan tanah itu kepada saudaramu.” *(HR.
    Imam Nasa’i)

    Dalam hadits shahih dinyatakan : *”Bahwa beliau (Nabi) melarang pengambilan
    sewa dan bagian atas suatu tanah, serta menyewakan dengan sepertiga ataupun
    seperempat.” Imam Abu Daud meriwayatkan dari Rafi’ bin Khudaij, bahwa
    Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang mempunyai tanah, hendaknya
    menanami tanahnya, atau hendaknya (diberikan agar) ditanami oleh saudaranya.
    Dan janganlah menyewakannya dengan sepertiga, seperempat, maupun dengan
    makanan yang sepadan.”*

    Imam Bukhari meriwayatkan dari Nafi’ bahwa Abdullah bin Umar diberitahu
    Rafi’ bin Khudaij: “*Bakwa Nabi saw. melarang menyewakan lahan pertanian.”
    Kemudian lbnu Umar pergi menemui Rafi’, lalu saya bersamanya, dan kami
    menanyainya. Dia berkata: “Nabi saw. telah melarang sewa lahan pertanian.”
    Imam Bukhari meriwayatkan dari Salim, bahwa Abdullah bin Umar telah
    meninggalkan sewa tanah.*

    Hadits-hadits di atas tegas menunjukkan larangan Rasulullah saw. terhadap
    penyewaan tanah. Larangan tersebut, menunjukkan adanya perintah untuk
    meninggalkannya sekaligus mengandung qarinah (indikasi) yang menjelaskan
    tentang adanya larangan yang tegas. Alternatif Islam tentang hal ini, adalah
    mempekerjakan orang lain untuk mengelola lahannya atau jika memang tidak
    mampu sama sekali, tanah hendaknya diberikan kepada orang lain sebagaimana
    yang disebutkan dalam hadits :

    Mereka bertanya kepada Rasulullah, *”Kami akan menyewakannya dengan bibit.”
    Beliau menjawab: “Jangan.” Mereka bertanya: “Kami akan menyewakannya dengan
    jerami.” Beliau tetap menjawab: “Jangan.” Mereka bertanya lagi: “Kami akan
    menyewakannya dengan rabi’ (danau)”. Beliau tetap menjawab: “Jangan.”
    Kemudian beliau pertegas dengan sabdanya: “Tanamilah, atau berikanlah kepada
    saudaramu.”*

    Larangan penyewaan lahan pertanian secara ekonomi dapat dipahami sebagai
    upaya agar lahan pertanian dapat berfungsi secara optimal. Artinya
    seseorang yang mampu mengolah lahan harus memiliki lahan sementara siapapun
    yang tidak mampu dan tidak mau mengolah lahan maka tidak dibenarkan untuk
    menguasai lahan pertanian.

  7. fauzi said

    Ada hadits-hadits yang melarang dan ada yang memperbolehkan. semua sudah saya sbutkan di atas.

  8. indriyani said

    lalu bagaimana hukumnya kalau penyewaan tanah untuk didirikan bar?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: