Samudra Ilmu Agama Islam

Islam Rahmatan Lil 'Alamin

BATASAN AURAT WANITA

Posted by Administrator pada 3 Februari 2009

Pertanyaan dari Yayuk Widianingsih (y_widianingsih@yahoo.co.id)

 

Assalamu’alaikum wr wb 

 

Saya ingin menanyakan :

1. Manakah batasan-batasan aurat wanita?

2. Apakah punggung telapak tangan  termasuk aurat wanita?

3. Apakah yang dimaksud ” yang biasa nampak ” bagi aurat wanita?

 

Sebelumnya Saya sampaikan jazzakumullah Khoiron Katsiron.

 

Jawab :

Segala puji bagi Allah dan semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan kepada semua pengikutnya sampai akhir zaman.

Tentang aurat wanita secara globat telah dijelaskan oleh Allah di dalam Al Qur’an surat An Nur ayat 31 :

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آَبَائِهِنَّ أَوْ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutup kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Penjelasan tentang ayat ini dapat dibuka di blog ini pada : https://imamuna.wordpress.com/2008/11/21/pelajaran-ketujuh-tafsir-surat-an-nur-ayat-27-34/

Harap kembali ke haman tersebut. Maka penjelasannya cukup gamblang. Tetapi di sini ada yang perlu saya tambahkan, yaitu penjelaan tentang aurat wanita di hadapan mahramnya (ingat : bukan muhrim, karena muhrim artinya adalah orang yang mengerjakan ibadah ihram) dan aurat wanita di hadapan wanita musliman yang lain.

Yang disebutan di dalam tulisan tersebut adalah Madzhab Syafi’I dan Madazhab Hanafi yang mengatakan bahwa aurat wanita di hadapan wanita dan aurat wanita di hadapan mahramnya adalah hanya antara pusat (pusar) sampai lutut (pusar dan lutut juga termasuk aurat). Jadi menurut madzhab ini punggung, tangan, lengan atas, dada bukan termasuk aurat. Jadi boleh diperlihatkan atau dilihat oleh mereka. Sejak dahulu saya sendiri kurang bisa menerima pendapat ini dan protes dalam hati. Sebab bagaimana mungkin melihat payudara misalnya, kok diperbolehkan, padahal ia dapat membangkitkan syahwat bagi laki-laki atau bahkan bisa jadi bagi wanita juga. Sehingga efek yang ditimbulkan dari madzhab ini cukup jelek. Kita bisa melihat dengan jelas di pesantren-pesantren, dimana jumlah santri putrinya bisa ratusan bahkan ribuan, tetapi kamar mandinya hanya kurang dari dua puluh atau bahkan hanya belasan saja. Sehingga mereka terbiasa mandi bersama sambil “kontes”. Ini adalah akibat dari kesalahan memahami pendapat madzhab dan mempraktekkannya di luar kehendak dari para pendiri madzhab itu. Terus terang sejak dahulu saja protes dalam hati, tetapi tidak ada dalil yang kuat yang dapat saya gunakan untuk membantah pendapat tersebut.

Sampai kemudian saya temukan bahwa sebenarnya hal itu hanya pada madzhab Syafi’I dan Hanafi saja, dengan syarat “aman dari fitnah”. Jika tidak aman dari fitnah, maka fitnah itu harus dihindarkan.

Madzhab maliki mengatakan bahwa aurat wanita di dahadapan mahramnya dan aurat wanita di hadapan wanita muslimah yang lain adalah : seluruh tubuhnya, kecuali : wajah, kepala, punggung, leher, kedua tangan dan kedua kaki (lutut ke bawah).

Madzhab Hanbali mengatakan bahwa aurat wanita di hadapan wanita mahramnya dan aurat wanita di hadapan wanita muslimah yang lai adalah seluruh tubuhnya kecuali : wajah, leher, kepala, dua tangan, tepalak kaki dan mata kaki (lutut sampai mata kaki aurat).

Pendapat ini dapat dilihat di Al Fiqhul Islami a adillatuhu karya Wahbah Az Zuhali, I/665. Pendapat inilah yang menurut saya lebih kuat dan lebih cocok dengan kondisi kita dewasa ini, mengingat perzinahan dan hal-hal yang mendekatkan diri kepadanya sudah sedemikian luasnya, bahkan hampir mendekati “dilegalkan”. Mengqiyaskan aurat wanita di hadapan wanita atau wanita di hadapan laki-laki mahramnya terhadap aurat laki-laki di hadapan laki-laki adalah kurang dapat diterima. Karena tabi’at badan wanita adalah lain daripada laki-laki. Sedangkan mahramnya adalah tetap “laki-laki”. Jadi menyamakan dia dengan laki-laki lain adalah lebih benar dan lebih sesuai dengan kondisi riil yang ada sekarang atau lebih sesuai dengan kemashlahatan yang ada di zaman yang serba permisif ini.

Cobalah bandingkan dengan keadaan para wanita shohabiyah seperti yang disebutkan didalam hadits berikut ini :

عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ شَيْبَةَ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَانَتْ تَقُولُ لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ { وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ } أَخَذْنَ أُزْرَهُنَّ فَشَقَّقْنَهَا مِنْ قِبَلِ الْحَوَاشِي فَاخْتَمَرْنَ بِهَا

Diriwayatkan dari Shofiyah binti syaibah bahwa Aisyah radliallaahu ‘anha berkata : “Ketika turun ayat (Dan hendaklah mereka menutup kain kudung ke dadanya), maka mereka mereka mengambil kain sarung mereka, kemudian menyobek bagian pinggirannya dan menjadikannya sebagai kerudung”. (HR Bukhari, IV/1782, no. 4480).

Lihatlah betapa mereka segera melaksanakan perintah yang dibacakan kepada mereka. Mereka tidak menawar-nawar lagi atau masih berusaha untuk membeli kerudung terlebih dahulu ke pasar, kemudian baru memakainya setelah itu. Tetapi begitu mereka mendengar perintah, mereka langsung melaksanakan perintah itu dengan segala sesuatu yang mereka miliki yang ada pada waktu itu. Mereka tidak perlu untuk mengadakan seminar terlebih dahulu, atau uji publik terlebih dahulu terhadap produk hukum yang sedang dalam masa proses penetapan.

Imam Asy Syaukani berkata : “Para ahli tafsir mengatakan bahwa para wanita jahiliyah menjulurkan kerudung mereka di belakang punggung mereka, sedangkan bagian depannya tidak ditutupi dengan kerudung, terluba lebar, sehingga akan tersikaplah leher dan kalung-kalung yang mereka pakai di leher mereka. Maka ayat ini menyuruh mereka untuk memakai kerung menjulur di bagian depan menutupi seluruh kancing baju atas mereka. Penggunaan kata : ضَرْب (memukul) pada ayat ini adalah untuk tujuan melaksanakan perbuat itu dengan segenap perhatian dan kehati-hatian”. (Fathul Qodir, V/208).

Lihatlah para wanita jahiliyah saja masih menggunakan kerudung, walaupun kerudungnya dijulurkan ke depan. Tetapi wanita-wanita sekarang ini sama sekali tidak memakai, tidak kedepan dan tidak pula ke belakang. Apakah zaman ini lebih buruk daripada zaman jahiliyah dahulu ?.

Jadi kerudung yang benar adalah kerudung yang menutup seluruh kancing baju atas bagian depan, karena makna جيوب adalah bagian yang terbuka di baju atas bagian depan.

Inilah batasan aurat wanita yang benar. Tulisan ini sekaligus sebagai tambahan dari tulisan dalam tafsir surat An Nur yang sudah terlebih dahulu saya postingkan.

Jadi aurat wanita di hadapan wanita atau aurat wanita di hadapan mahramnya adalah seluruh tubuh , kecuali wajah, kedua tangan, kaki (dengan perbedaan antara madzhab hanbali dan maliki. Madzhab hanbali lutut sampai mata kaki adalah aurat, sedangkan madzhab lutut sampai mata kaki maliki bukan aurat).,

Ingat, yang dimaksud dengan tangan di sini adalah mulai ujung jari-jari sampai lengan bagian atas.

Sedangkan apakah punggung telapak tangan itu termasuk aurat ?

Jika dihadapan wanita yang lainnya atau dihadapan mahramnya, maka ia bukan termasuk aurat, menurut kesepakatan madzhab empat.

Jika di hadapan laki-laki lain, maka perlu merujuk makna telapak tangan yang dikecualikan dari aurat. Karena menurut jumhur ulama bahwa aurat wanita di hadapan laki-laki yang bukan mahram adalah seluruh tubuh, kecualihanya wajah dan tepalak tangan saja. Nah, apa yang dimaksud dengan telapak tangan ini ?

Ini perlu merujuk kepada makna telapak tangan (mirfaqoin/ المرفقين) dalam Bahasa Arab. Kalau kita melihat kamus-kamus Bahasa Arab, maka maknanya adalah anggota tubuh sejak dari ujung jari-jari sampai pergelangan tangan, baik yang bagian luar (dzahir) atau yang bagian dalam (bathin). Jadi berdasarkan hal ini, maka bagian luar (punggung) dari telapak tangan adalah bukan aurat.

Ada kesalahpahaman dikalangan beberapa orang yang yang mengatakan bahwa bagian luar (punggung) dari telapak tangan adalah aurat, karena mengqiyaskan dengan menyentuh kemaluan atau dubur yang membatalkan wudlu, yaitu dengan tepalak tangan, yaitu dengan bagian dalamnya. Kemudian ketika mereka mereka mendengar kata : “telapak tangan”, maka itu yang mereka pahami, yaitu bagian dalam (bathin) dari telapak tangan itu. Padahal kalau kita membuka buku-buku fiqih dalam Bahasa Arab, baik yang klasik karya ulama terdahulu maupun yang modern, baik yang tipis maupun yang tebal dengan jelas ketika menjelaskan tentang yang membatalkan wudlu mereka selalu menyebutkan kata : “dengan bagian dalam tepalak tangan”. Penyebutan ini untuk membedakan antara bagian luar dengan bagian dalam. Ketika menyentuh dengan bagian luar, maka tidak membatalkan wudlu dan ketika menyentuh dengan bagian dalam, maka membatalkan wudlu. Sedangkan dalam penjelasan tentang aurat, hanya dikatakan “telapak tangan saja”. Ini untuk menyamakan antara bagian luar dan bagian dalamnya. Jadi bagian dalam dan bagian luarnya adalah bukan aurat. Mengapa kita sering salah memahami perkataan dan tidak memahami maksud dari perkataaan para ulama kita sendiri ?.

Adapun makna pengcualian “yang biasa nampak” dari firman Allah : وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا (dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya) adalah seperti yang dikatakan oleh Ibnu Katsir (VI/45) : “Kecuali yang tidak mungkin untuk disembunyikan”. Kemudian beliau menyebutkan secara rinci pendapat para ulama tentang hal ini, yaitu :

  1. Pendapat Ibnu Mas’ud : yaitu sarung dan pakaian yang tidak mungkin disembunyikan darinya.
  2. pendapat Ibnu Abbas : wajah dan telapak tangannya serta cincin
  3. pendapat Az Zyhri : cincin dan binggel di kaki

beliau lebih cenderung memilih pedapat Ibnu Abbas yang mengecualikan wajah, telapak tangan dna cincin. Beliau menyebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud :

عَنْ عَائِشَةَ، رَضِيَ الله ُعَنْهَا؛ أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِيْ بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ، فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَقَالَ: “يَا أَسْمَاءُ، إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيْضَ لَمْ يَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هذَا” وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ

Dari Aisyah radliallaahu ‘anha bahwa Asma’ binti Abi Bakar masuk menghadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan memakai pakaian yang tipis. Maka ia berpaling darinya dan berkata : “Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haidl (baligh),maka tidak layak untuk dilihat badannya, kecuali ini”. Dan dia menunjuk kepada wajah dan dua telapak tangannya”.

Beliau berkata : “hadits ini dlo’if”.

Saya berkata : Hadits ini dlo’if memang benar adanya. Tetapi ada sebuah dalil yang cukup kuat, yaitu bahwa wanita yang sedang melaksanakan ibadah haji dilarang untuk memakai penutup wajah dan tangannya. Padahal saat itu manusia sedunia berkumpul di sana. Jika memperlihatkan wajah dan telapak tangan itu dilarang, maka di saat itu lebih layak untuk dilarang. Karena manusian dari berbagai macam negara, berbagai macam tabi’at dan tradisi berkumpul menjadi satu. Tetapi justru menutup wajah dan telapan tangan dilarang. Ini menunjukkan keduanya bukan aurat yang harus ditutup”.

Ibnu Jarir Ath Thabari di dalam kitab Tafsirnya (XIX/158) juga mendukung pendapat yang mengatakan bahwa wajah dan telapak tangan adalah termasuk yang dikecualikan. Beliau mengatakan bahwa penafsiran seperti ini dasarnya adalah terjadinya ijma’ tentang kewajiban orang yang mendirikan shalat untuk menutup semua auratnya, sedangkan wanita itu diperbolehkan untuk tidak menutupi wajah dan telapak tangannya dan dia harus menutup anggota tubuhnya yang lain. Jika itu sudah disepakati oleh semua pihak, maka bolehlah bagi wanita untuk menampakkan anggota tubuhnya, selain auratnya. Sama seperti laki-laki. Karena yang bukan aurat, tidak haram untuk dinampakkan. Jika dia dierbolehkan untuk memperlihatkannya, maka jelaslah bahwa wajah dan telapak tangan itu termasuk yang dikecualikan oleh Allah pada ayat ini”. Demikian perkataan Ibnu Jarir Ath Thabari.

Jadi maksud dengan “bagian yang biasa nampak darinya” adalah wajahnya dan telapak tangannya.

Demikianlah semoga tulisan ini dapat menjawab pertanyaan yang anda ajukan. Sekian dan terima kasih atas pertanyaanya. Semoga bermanfaat bagi semua.

Wassalamu ‘alaikum

 

4 Tanggapan to “BATASAN AURAT WANITA”

  1. yayuk widianingsih said

    Jazakumullahu khairan katsiran ustadz atas jawabannya….

  2. robin said

    lantas bagaimana jika seorang wanita memakai kerudung dan memakai pakaian yang ketat/press body (secara tidak lansung memperlihatkan aurotnya meski dia memakai pakaian) yang mengikuti perkembangan zaman. bukannya itu juga memperlihatkan aurotnya secara tidak langsung?

  3. fauzi said

    Tidak hanya menutup aurat saja yang diwajibkan oleh Islam. Tetapi setelah menutup aurat, maka ada dua hal yang harus dipenuhi yaitu, tidak menjelaskan lekuk-lekuk tubuh dan tidak transparan. Dalam bahasan Arab di katakan لاَيَصِفُ و لاَ يَشِفُّ . Dua hal ini yang sering dilalaikan. Pakaian menutup aurat, tetapi ketat atau menutup aurat dan tidak ketat, tetapi transparan. Itu tidak haram dilakukan. Itulah makna menjulurkan jilbab seperti yang dimaksud oleh Surat Al Ahzab : 59

  4. Nisa Rosyida said

    Syukron atas penjelasannya..Alhamdulillah sangat membantu. Karena saya sering shalat dg mengenakan mukena yg kurang tebal, saya mengakalinya dg memakai baju panjang saat shalat, namun tetap saja bagian telapak tangan saya masih terlihat. Alhamdulillah sekarang saya tahu kalau telapak tangan bukan aurat.:-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: