Samudra Ilmu Agama Islam

Islam Rahmatan Lil 'Alamin

KESEPAKATAN SALAF TERHADAP RIWAYAT-RIWAYAT TENTANG TURUNNYA ALLAH

Posted by Administrator pada 3 Desember 2008

Seorang lelaki dari bani Tamim yang bernama Shabigh datang ke Madinah, ia banyak memiliki kitab, namun sering bertanya-tanya tentang ayat-ayat mutasyabihat. Berita inipun sampai ke telinga Umar bin Khattab. Maka Shabigh dipanggil sedangkan Umar sudah menyiapkan pelepah kurma, ketika orang itu sudah menemuinya, ia pun duduk. Umar bertanya: “Siapa kamu?” lelaki itu menjawab: “Saya Shabigh”. Umar kemudian berkata: “Saya Umar, hamba Allah”. Umar lalu menghajar lelaki itu dengan pelepah kurma, sampai kepalanya mengeluarkan darah. Maka Shabigh berkata: “Cukup, wahai amirul Mukminin, Demi Allah, kini sudah hilang yang selama ini bersarang di kepalaku”, kemudian Shabigh dikembalikan ke kaumnya dan Umar memerintahkan agar kaum muslimin tidak mengajaknya berbicara dengan Shabigh, sampai Shabigh benar-benar sembuh dari ‘penyakit’. Setelah Shabigh benar-benar sembuh dari penyakit suka bertanya-tanya tentang ayat mutasyabihat, maka umar membolehkan kaum muslimin untuk bergaul dengan Shabigh. 

 

Imam Syafi’i rahimahullah berkata: “Andaikata aku menemui Allah (wafat) dengan membawa segala dosa selain syirik, lebih aku sukai daripada aku menjumpai Allah dengan membawa sedikit saja dari kebid’ahan.  1

 

Sufyan bin Uyainah menyatakan: “Segala sifat yang Allah sifatkan bagi diri-Nya di dalam Al-Qur’an, penafsirannya adalah baca dan diam” (dikeluarkan oleh Baihaqi dalam Al-I’tiqad)

 

Diriwayatkan dari sebagian ulama salaf bahwa mereka mengungkapkan : “Islam itu datang semata-mata ditegakkan diatas rasa pasrah (menerima)”

 

Rasulullah shallallahu wa ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Islam ini dimulai dalam keadaan asing. Dan ia suatu saat akan kembali dianggap asing, maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing itu”

 

Abdul Qasim bin Sallam menyatakan: “Seorang pengikut sunnah, tak ubahnya orang yang menggenggam bara. Dan pada hari ini, bagiku ia lebih utama dari pada sabetan sebilah pedang di jalan Allah” (Dikeluarkan oleh Al-Khatib)

 

Ibnu Mas’ud menyatakan: “Wahai manusia, siapa diantara kamu yang mengetahui sesuatu, maka ungkapkanlah. Dan siapa yang tak mengetahui sesuatu maka hendaklah ia berkata wallahu a’lam. karena wallahu a’lam untuk sesuatu yang tidak diketahui, itu termasuk ilmu. Allah azza wa jalla berfirman:

 

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ

 

“Katakanlah [kepada manusia]: “Aku tidak meminta upah apapun kepadamu atas perbuatanku itu. Dan akupun bukan orang yang memaksakan diri untuk hal yang tidak diketahui” (Shaad:86)

(Dikeluarkan oleh Al-Humaidi, Al-Bukhari, At-Tirmidzi)  

 

Catatan kaki :

 

1. Sanadnya shahih,   dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: