Samudra Ilmu Agama Islam

Islam Rahmatan Lil 'Alamin

PELAJARAN KESEPULUH (SURAT AN NUR 58 – 64)

Posted by Administrator pada 21 November 2008

ADAB BERMASYARAKAT

Pada awal surah telah dibicarakan hal-hal besar seperti hukum pidana (perzinaan dan tuduhan), hingga upaya preventif dari tindak pidana itu seperti isti’dzan sebelum memasuki rumah dan ghadhdhul-bashar, adab kaum muslimin dan kaum munafiq dalam bertahkim kepada Rasulullah.

Pada bagian ini akan dibahas secara khusus adab pergaulan dalam masyarakat, isti’dzan memasuki rumah orang lain maupun untuk meninggalkan majlis, dan penataan ziyarah dan jamuan makan antara sahabat dan kerabat, di samping adab dalam memanggil orang yang lebih mulia. Semuanya ini adalah adab yang berkaitan dengan masyarakat muslim dalam menata hubungan sosialnya.

Permasalahan ini dijelaskan dalam surah An Nur ayat 58 sampai 64

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلاَةِ الْعِشَاءِ ثَلاَثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلاَ عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (58) وَإِذَا بَلَغَ الأَطْفَالُ مِنْكُمُ الْحُلُمَ فَلْيَسْتَأْذِنُوا كَمَا اسْتَأْذَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (59) وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (60) لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَى حَرَجٌ وَلاَ عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلاَ عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ وَلاَ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَنْ تَأْكُلُوا مِنْ بُيُوتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ آَبَائِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أُمَّهَاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ إِخْوَانِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخَوَاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَعْمَامِكُمْ أَوْ بُيُوتِ عَمَّاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخْوَالِكُمْ أَوْ بُيُوتِ خَالاَتِكُمْ أَوْ مَا مَلَكْتُمْ مَفَاتِحَهُ أَوْ صَدِيقِكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَأْكُلُوا جَمِيعًا أَوْ أَشْتَاتًا فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (61) إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِذَا كَانُوا مَعَهُ عَلَى أَمْرٍ جَامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوا حَتَّى يَسْتَأْذِنُوهُ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ فَإِذَا اسْتَأْذَنُوكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَنْ لِمَنْ شِئْتَ مِنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (62) لاَ تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (63) أَلَا إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قَدْ يَعْلَمُ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ وَيَوْمَ يُرْجَعُونَ إِلَيْهِ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (64)

Artinya: Hai orang-orang yang beriman hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepadamu tiga kali (dalam satu hari), yaitu sebelum shalat Shubuh, ketika menanggalkan pakaian (luar)mu, ditengah hari dan sesudah salat Isya’. Itulah tiga aurat bagimu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak pula atas mereka selain (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang sebelum mereka memeinta izin.

Dan perempuan-perempuan tua yang telah berhenti (dari haidh) yang tiada ingin kawin (lagi, tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak bermaksud menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri makan (bersama-sama mereka) di rumah kamu sendiri atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibumu, di rumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, di rumah saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara bapakmu yang perempuan, di rumah saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara ibumu yang perempuan, di rumah yang kamu miliki kuncinya, atau di rumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat (Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.

Sesungguhnya yang sebenar-benarnya orang mu’min ialah orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam suatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Janganlah kamu jadikan panggilan Rasulullah di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain. Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.

Janganlah kamu jadikan panggilan Rasulullah di antarakamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sabagian yang lain. Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.

Ketahuilah sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bui. Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya. Dan mengetahui pula hari manusia dikembalikan kepada-Nya, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

 

 

1. Waktu Privasi

Para pelayan (budak) dan anak-anak yang sudah mumayyiz (berusia kurang lebih 7 tahun) sebelum berusia baligh boleh memasuki rumah tanpa meminta izin terlebih dahulu, kecuali dalam tiga waktu berikut ini.yaitu :

a. Sebelum shalat fajar. Sebab biasanya pada waktu itu seseorang sedang tidur, atau dalam keadaan yang tidak ingin terlihat orang lain.

b. Waktu Zhuhur, (tidur siang). Sebab pada waktu itu biasanya seseorang menanggalkan pakaiannya karena udara panas, atau sedang bersama keluarganya.

c. Setelah shalat Isya’. Sebab waktu itu adalah waktu tidur dan istirahat.

Hal ini didasarkan pada firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ثَلاَثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلاَ عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepadamu tiga kali (dalam satu hari), yaitu sebelum shalat Shubuh, ketika menanggalkan pakaian (luar)mu, ditengah hari dan sesudah salat Isya’. Itulah tiga aurat bagimu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak pula atas mereka selain (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An Nur/24:58)

Tiga waktu ini disebut dengan “aurat” karena sering terbukanya aurat pada waktu-waktu seperti itu.

Ayat di atas memerintahkan kepada para pendidik untuk membimbing anak yang belum mencapai usia baligh, tetapi sudah mumayyiz supaya meminta izin.

Di luar tiga waktu itu tidak diharuskan meminta izin terlebih dahulu karena akan sangat berat dilakukan oleh orang-orang yang terbiasa keluar masuk rumah tersebut, karena usianya yang masih anak-anak atau kebutuhan pelayan untuk menjalankan tugasnya.

Hal ini sebagai antisipasi jika orang yang berada dalam rumah itu, dalam keadaan yang tidak ingin terlihat orang lain, termasuk anak-anaknya sendiri.

Dengan konsep ini Allah mendidik kaum mu’minin dengan adab mulia, agar terbangun umat yang sehat, lurus jiwanya, suci pikirannya, bersih perasaannya dan jelas pemahamannya.

Dan ketika anak sudah baligh maka ia diharuskan meminta izin sebelum masuk rumah orang lain dan bahkan rumah orang tuanya sendiri, sebagaimana orang dewasa lainnya. Firman Allah :

وَإِذَا بَلَغَ الأَطْفَالُ مِنْكُمُ الْحُلُمَ فَلْيَسْتَأْذِنُوا كَمَا اسْتَأْذَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ

Artinya: Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang sebelum mereka memeinta izin. (QS. An Nur/24: 59)

 

Dari Atha’ bin Yasar, menceritakan ada seseorang yang bertanya kepada Nabi : “Apakah saya harus meminta izin sebelum memasuki rumah ibuku? Jawab Nabi; Ya!. Orang itu berkata:” Saya serumah bersamanya?”. Sabda Nabi: “Mintalah izin kepadanya!”. Orang itu berkata lagi : “Saya yang menjadi pelayannya?”. Sabda Nabi: “Mintalah izin kepadanya! Apakah kamu ingin melihat ibumu telanjang? Jawab orang itu : ”Tidak!”. Sabda Nabi: “Mintalah izin kepadanya”. [1]

Demikianlah ajaran Islam mentarbiyah umatnya untuk memiliki kepribadian yang mulia, dan mampu menghormati hak orang lain.

 

2. Penataan Hubungan antar Kerabat dan Sahabat

Sebelum datang ayat ini, kaum muslimin sering merasa bersalah ketika makan bersama-sama tiga kelompok ini, yaitu:

a. Orang buta, karena ia tidak melihat makanan sehingga tidak dapat mebedakan mana yang enak dan mana yang kurang enak.

b. Orang pincang, karena ia tidak dapat mapan ketika duduk, sehingga dikhawatirkan mengganggu hak duduk orang lain.

c. Orang sakit, karena tidak dapat menikmati makanan sebagaimana layaknya.

Ada beberapa riwayat yang menjelaskan sebab turunnya ayat ini yaitu:

 

1. Dari Mujahid

Bahwa orang-orang pada waktu itu apabila berkunjung ke rumah bapaknya, atau rumah saudaranya, rumah saudarinya, rumah pamannya, atau rumah saudara ibunya, biasa bersama-sama dengan orang buta, pincang atau sakit. Orang-orang yang diajaknya merasa berkeberatan dengan mengatakan: “Mereka membawa kamu ke rumah orang lain”. Maka turunlah ayat in sebagai kelonggaran bagi mereka untuk makan di rumah orang lain.[2]

2. Dari Ibnu Abbas

Ketika turun ayat 29 surah An Nisa,[3] kaum muslimin menghentikan makan di tempat orang lain, padahal mereka beranggapan bahwa menjamu makan itu adalah memanfaatkan harta yang paling utama. Maka turunlah ayat ini, memberikan kelonggaran untuk makan yang disediakan untuk mereka.[4]

3. Dari Adh Dhahhak

Bahwa orang-orang Madinah sejak sebelum Nabi diutus sebagai rasul tidak suka makan dengan orang buta, orang sakit, atau orang pincang. Karena orang buta tidak dapat makanan enak, orang sakit tidak dengan cocok makanan orang sehat, dan orang pincang tidak dapat berebut makanan. Maka ayat ini turun untuk mengubah kebiasaan mereka.[5]

Maka ayat ini menjadi solusi atas persoalan mereka. Firman Allah :

لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَى حَرَجٌ وَلاَ عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلاَ عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ وَلاَ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَنْ تَأْكُلُوا مِنْ بُيُوتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ آَبَائِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أُمَّهَاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ إِخْوَانِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخَوَاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَعْمَامِكُمْ أَوْ بُيُوتِ عَمَّاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخْوَالِكُمْ أَوْ بُيُوتِ خَالاَتِكُمْ أَوْ مَا مَلَكْتُمْ مَفَاتِحَهُ أَوْ صَدِيقِكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَأْكُلُوا جَمِيعًا أَوْ أَشْتَاتًا فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Artinya: Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri makan (bersama-sama mereka) di rumah kamu sendiri atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibumu, di rumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, di rumah saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara bapakmu yang perempuan, di rumah saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara ibumu yang perempuan, di rumah yang kamu miliki kuncinya, atau di rumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat (Nya) bagimu, agar kamu memahaminya. (QS. An Nur/24:61)

 

a. Makan Bersama

Ada sebagian tradisi Arab yang mereka warisi dari Nabi Ibrahim, bahwa tidak diperbolehkan makan sendirian, harus ada yang menemani sewaktu makan. Tradisi ini masih dipelihara oleh suku Kinanah. Jika ia punya tamu, ia tidak akan makan kecuali bersama dengan tamunya.

Ayat ini menjelaskan tentang sunnah makan yang sangat berbeda dengan tradisi Arab yang mengharamkan makan sendirian.

Arab memang berhasil mengukir kedermawanan, namun ia berlebihan dalam penekanan. Islam meluruskan tradisi itu dengan mengatakan bahwa makan bersama-sama itu baik, akan tetapi makan sendirian juga tidak dilarang.[6]

Kemudian adab makan dalam Islam dijelaskan dengan lebih detail yaitu:

1. Mencuci tangan sebelum makan, sabda Nabi:

عَنْ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُكْثِرَ اللَّهُ خَيْرَ بَيْتِهِ فَلْيَتَوَضَّأْ إِذَا حَضَرَ غَدَاؤُهُ وَإِذَا رُفِعَ

Artinya: Diriwayatkan dari Anas bin Malik radliallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah bersabda : “Barang siapa menginginkan agar Allah memperbanyak kebaikan rumahnya maka hendaklahia berwudhu ketika makanan datang dan diangkat (selesai makan)”. (HR. Ibnu Majah)

 

2. Berdoa dan membaca basmalah, ketika hendak memulai dan hamdalah ketika usai makan, sabda Nabi:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرْ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى , فَإِنْ نَسِيَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِي أَوَّلِهِ , فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

Artinya: Diriwayatkan dari Aisyah radliallaahu ‘anha bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jika di antara kamu maka, hendaklah ia menyebut nama Allah (Basmalah). Dan apabila ia lupa menyebut nama Allah pada awalnya, maka hendaklah ia mengucapkan: “Bismillah awwalahu wa akhirahu”(Dengan menyebut nama Allah di awal dan di akhirnya)”.(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad)

 

عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ أَكَلَ طَعَامًا , ثُمَّ قَالَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا الطَّعَامَ وَرَزَقَنِيهِ , مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ , غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ, قَالَ : وَمَنْ لَبِسَ ثَوْبًا , فَقَالَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَسَانِي هَذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ , غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ

Artinya: Dari Sahal bin Mu’adz bin Anas dari bapaknya bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang memakan makanan kemudian berkata : Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan ini, dan memberi rizki tanpa kekuatan dan daya kami, maka Allah akan ampuni dosanya yang telah berlalu dan yang akan datang. Dan barangsiapa yang memakai pakaian, kemudian berkata : “Segala puji bagi Allah yang telah memberikanku pakaian ini dan memberikannya sebagai rizki kepadaku, dengan tanpa kekuatan dan daya kami, maka Allah akan ampuni dosanya yang telah berlalu dan yang akan datang. (HR. Abu Dawud)

 

3. Tidak mencela makanan yang disajikan. Abu Hurairah berkata:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ , إِنْ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ , وَإِلَّا تَرَكَهُ

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliallaahu ‘anhu bahwa dia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah mencela makanan. Jika ia berselera ia makan dan jika tidak berselera ia tinggalkan. (Hadits Muttafaq alaih)

 

4. Makan dengan tangan kanan dan mengambil yang terdekat dengan posisinya. Umair ibnu Abi Salamah berkata: Aku pernah menjadi pelayan di rumah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ketika makan tanganku menjuluri meja makan. Rasulullah menegurku:

يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

Artinya: Hai anak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kanan, dan makanlah makanan yang terdekat denganmu. (Hadits Muttafaq alaih)

 

5. Tidak makan sambil bersandar. Abu Juhfah Wahb bin Abdullah berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Artinya: Saya tidak makan sambil bersandar. (HR Al Bukhari)

 

6. Mendoakan tuan rumah seusai makan. Anas ra berkata bahwa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam datang ke rumah Sa’ad bin Ubadah. Sa’ad membawakan roti dan minyak kepada beliau. Beliaupun memakannya kemudian berdo’a:

أَفْطَرَ عِنْدَكُمْ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمْ الْأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمْ الْمَلَائِكَةُ

Artinya: Semoga orang-orang yang berpuasa berbuka di rumahmu, dan orang-orang baik yang makan makananmu, dan para malaikat mendoakanmu. (HR. Abu Dawud)

7. Tidak menyia-nyiakan nikmat Allah. Anas ra berkata : Apabila Rasulullah makan makanan, maka beliau menggunakan ketiga jarinya dan berkata: “Apabila sesuap makananmu jatuh, maka hendaklah ia mengambilnya dan membersihkan kotorannya, lalu hendaklah ia memakannya dan janganlah membiarkannya untuk syetan. Dan Rasulullah menyuruh kami supaya mengeluarkan piring besar, seraya bersabda:

إِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ فِي أَيِّهِ الْبَرَكَةُ

Artinya: Sesungguhnya kamu tidak mengetahui di bagian manakah terdapat barakahnya. (HR. Muslim)

 

b. Memberikan salam

Islam sangat mendorong umatnya untuk menyebarkan salam yang berarti do’a keselamatan. Firman Allah:

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً

Artinya: Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. (QS. An Nur/24: 61)

 

Ayat ini mengungkapkan dengan lembut kekuatan hubungan masyarakat muslim. Orang yang memberikan salam kepada orang lain, sesungguhnya ia memberikan salam kepada dirinya sendiri. Dan salam yang diberikan adalah salam yang datangnya dari Allah.

Dalam sebuah hadits disebutkan :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ ؟ قَالَ : تُطْعِمُ الطَّعَامَ , وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ , عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

Artinya: Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bahwa ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah : “Islam manakah yang paling baik ?”. Dia bersabda : “Engkau memberikan makan dan memberikan salam kepada yang telah engkau kenal dan yang belum engkau kenal”. (Hadits Muttafaq alaih)

 

Dalam hadits lain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa dia berkata : “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Kalian tidak akan masuk surga sebelum kalian beriman, dan kalian tidak beriman sebelum kalian saling cinta-mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang apabila kalian kerjakan niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah (budayakan) salam di antara kalian”. (H.R. Muslim)

 

3. Isti’dzan Meninggalkan Majlis

Kaum muslimin adalah sebuah keluarga besar, dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai qa’id (pimpinan) keluarga itu.

Dalam mengatur hubungan internal keluarga ini Allah SWT mengajarkan adab mulia yang menunjukkan ketinggian budi dan kebesaran jiwa.

Ayat ini dilatar belakangioleh sikap orang munafiq yang meninggalkan forum bersama tanpa izin, sperti yang diterangkan dalam sababun nuzul ayat ini, yaitu: Ketika Rasulullah dan kaum muslimin sedang menggali khandaq (parit) untuk menghadapi perang Ahzab. Rasulullah sendiri menyisingkan lengan bajunya bekerja keras bersama kaum muslimin. Akan tetapi kaum munafiq memperlambat pekerjaan itu dengan memilih pekerjaan yang ringan-ringan dan sering mereka diam-diam meninggalkan pekerjaan itu tanpa sepengetahuan Rasulullah untuk menengok keluarganya. Sedangkan kaum muslimin apabila terpaksa harus meninggalkan pekerjaan itu, ia meminta izin terus terang kepada Rasulullah dan Rasulullah mengizinkannya. Apabila telah selesai kepentingan mereka, mereka segera melanjutkan tugasnya. Berkaitan dengan sikap inilah ayat ini turun, dengan menjelaskan perbedaan sikap orang beriman dan orang munafiq.[7]

Firman Allah:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِذَا كَانُوا مَعَهُ عَلَى أَمْرٍ جَامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوا حَتَّى يَسْتَأْذِنُوهُ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ فَإِذَا اسْتَأْذَنُوكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَنْ لِمَنْ شِئْتَ مِنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Sesungguhnya yang sebenar-benarnya orang mu’min ialah orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam suatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Janganlah kamu jadikan panggilan Rasulullah di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain. Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS. An Nur/24: 62)

 

Apapun latar belakangnya, ayat ini mengajukan konsep adab mulia dalam bermasyarakat.

Adab ini hanya bisa muncul dari dalam jiwa yang dipenuhi dengan cahaya iman. Dan jika adab ini ditegakkan dengan baik maka akan tegaklah sendi kemasyarakatan yang kokoh. Dan jika tidak ditegakkan maka akan melahirkan kekacauan-kekacauan dan ketidak pastian dalam tata kemasyarakatan.

Keberadaan iman yang hakiki menjadi kunci keberhasilan konsep ini. Tidak cukup hanya dengan pernyataan iman lalu tidak ada realisasi ajaran agama dalam kehidupannya.

Adab-adab kaum muslimin terhadap Rasulullah sebagai pimpinan umat dalam bermasyarakat itu ialah:

a. Adab majlis.

Umat Islam yang merupakan satu kesatuan keluarga harus memiliki perhatian terhadap urusan-urusan penting yang memerlukan peran serta seluruh umat, seperti permusyawaratan, peperangan, atau kerja-kerja sosial lainnya.

Di sinilah seorang mu’min tidak diperbolehkan meninggalkan forum tanpa mendapatkan izin dari pimpinannya, untuk menjaga suasana agar tidak kacau dan urusan bersama menjadi terbengkelai.

Kaum mu’minin meyakini konsep ini sebagai konsep rabbani (datangnya dari Allah), mereka konsisten dengan konsep ini sebagaimana mereka konsisten dengan kepentingan bersama umat ini. Mereka tidak akan meninggalkan forum kecuali dalam terpaksa. Iman dan adab melindungi mereka agar tidak meninggalkan urusan bersama yang menjadi perhatian masyarakat, dan memerlukan pertemuan bersama.

Al Qur’an memberikan hak untuk mengizinkan atau tidak kepada pendapat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai pimpinan umat. Al Qur’an memberikan otoritas kepada pemimpin untuk memerankan fungsi leadernya. Mempertimbangkan mashlahat (kebaikan) dan madharrat (kerugian) yang timbul dari keberadaan seseorang atau kepergiannya.

Walaupun demikian Al Qur’an mengarahkan bahwa bertahan dalam urusan jama’ah jauh lebih baik daripada meninggalkannya, untuk memenuhi kebutuhan yang dianggap mendesak. Sebab keluarnya seseorang dari permasalahan jama’ah mengesankan kurangnya perhatian dan kurangnya keterlibatan dalam urusan jama’ah. Sehingga Rasulullah sebagai pimpinan umat diajarkan untuk memintakan ampunan kepada orang yang meninggalkan forum, meskipun telah mendapatkan izinnya.

b. Adab memanggil Rasulullah

Seorang mu’min ketika memanggil Rasulullah hatinya dipenuhi oleh rasa cinta dan hormat kepadanya. Sehingga setiap kalimat yang keluar dari mulutnya adalah cerminan dari rasa cinta dan hormat itu.

Hal ini mendasar untuk disampaikan, karena Rasulullah sebagai seorang pendidik harus dihormati oleh anak didiknya. Sebagai seorang pemimpin harus disegani oleh rakyatnya.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sangat tawadhu’ (rendah hati), lunak dan mudah. Kondisi ini tidak boleh melenakan para sahabat, bahwa Rasulullah adalah murabbi (guru)- nya, yang bisa dipanggil sebagaimana panggilan antara mereka. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang pendidik yang harus tetap diposisikan lebih tinggi dari sesamanya, dalam batas-batas yang diajarkan agama.

Adab muslim dalam memanggil Rasulullah adalah:

1. Tidak memanggilnya dari balik kamar. Firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang memanggilmu dari luar kamar (mu) kebanyakan mereka tidak mengerti” (QS. Al Hujurat/49: 4)

 

2. Tidak mengeraskan suaranya melebihi suara nabi. Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

Artinya: Hai orang-orang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalmu, sedang kamu tidak menyadari. (QS. Al Hujurat/49: 2)

 

3. Tidak memanggil dengan namanya atau nama kunyah-nya (Abu Qasim), sebagaimana panggilan kepada sesama. Akan tetapi memanggilnya dengan panggilan kehormatan sebagaimana Allah menghormatinya, yaitu: Ya Nabiyyahllah, atau Ya Rasulallah.

 

c. Ancaman Meninggalkan Majlis Tanpa Izin

Allah SWT memperingatkan kepada siapapun yang keluar dari majlis Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan sembunyi-sembunyi sebagai bentuk penyimpangan dari Kitabullah dan Sunnah rasul-Nya, atau merupakan perlawanan terhadap perintah Allah dan rasul-Nya. Mundur dengan sembunyi-sembunyi menunjukkan sifat pengecut dan perbuatan hina yang menunjukkan kehinaan seseorang.

Meskipun mata kepala Rasulullah tidak melihatnya, tetapi penglihatan Allah tidak akan pernah terlena. Firman Allah:

قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya: Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS. An Nur/24: 63)

 

Amrihi (perintah rasul) dalam arti luas adalah seluruh ajaran yang disampaikan. Sabda Nabi:

عَنْ عَائِشَةُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Artinya: Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barang siapa yang mengada-ada sesuatu dalam agama ini, yang tidak ada dasarnya, maka itu pasti tertolak”. (Hadits Muttafaq alaih)

 

Peringatan ini sangat menakutkan. Orang-orang yang meninggalkan jalan hidup Rasulullah untuk mencari jalan hidup lainnya, dengan bersembunyi-sembunyi atau terang-terangan diancam dengan :

a. Terkena fitnah kemunafikan. Tidak ada stabilitas nilai, tidak ada keterikatan aturan, bercampur aduk antara haq dan batil, baik dan buruk, kerusakan tatanan sosial, sehingga tidak ada seorangpun yang dapat merasa aman atas diri dan kekayaannya.

b. Berhadapan dengan azab Allah yang sangat pedih. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengumpamakan dirinya dengan umat ini, mengatakan:

 

إِنَّمَا مَثَلِي وَمَثَلُ النَّاسِ كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ جَعَلَ الْفَرَاشُ وَالدَّوَابُّ تَتَقَحَّمُ فِيهَا فَأَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ وَأَنْتُمْ تَوَاقَعُونَ فِيهَا

Artinya: Perumpamaan diriku dan kamu semua adalah bagaikan seorang laki-laki yang menyalakan api. Serangga dan laron memperebutkan api itu hingga terbakar, dan orang itu berusaha menghalau serangga dan laron itu dari api. Dan saya sudah menghalau kamu semua dari api neraka, tetapi kamu melepaskan diri dari tanganku. (H.R. Ahmad dan Muslim)

 

Peringatan ini ditutup dengan mengingatkan manusia, yang beriman maupun yang menyimpang, bahwa Allah melihat semua yang terjadi, mengawasi semua perbuatan yang mereka lakukan. Firman Allah:

أَلاَ إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قَدْ يَعْلَمُ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ وَيَوْمَ يُرْجَعُونَ إِلَيْهِ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya: Ketahuilah sesungguhnya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang). Dan (mengetahui pula) hari (manusia) dikembalikan kepada-Nya, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah mengetahui segala sesuatu. (QS. An Nur/24: 64)

Demikianlah surah ini menutup pembahasannya dengan mengikat hati dan pandangan manusia kepada Allah SWT. Mengingatkannya untuk senantiasa bertakwa dan takut kepada-Nya. Inilah jaminan terakhir. Rasa takut dan takwa kepada Allah-lah yang akan menjadi pagar pembatas manusia dari aturan, hukum, adab, dan akhlak yang telah Allah tetapkan untuk manusia ini.

Wallahu a’lam.

[1] Al Maghribi, Jam’ul Fawaid, op cit, Juz III h. 14

[2] ibid.

[3] Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.

[4] As Suyuti, op cit, h. 23

[5] ibid,

[6] ibid.

[7] Ibid,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: