Samudra Ilmu Agama Islam

Islam Rahmatan Lil 'Alamin

PELAJARAN KELIMA (TAFSIR SURAT AN NUR)

Posted by Administrator pada 21 November 2008

HUKUM KETIGA

MENJAGA KESUCIAN KELUARGA

Keluarga muslim adalah keluarga terhormat yang dibangun di atas sendi agama dan kehormatan kedua belah fihak. Maka jika terjadi penodaan oleh salah satu dalam keluarga itu, dan tidak memiliki cukup saksi untuk membuktikannya, jalan keluarnya adalah dengan bersumpah li’an (kutukan).

Sababun nuzul ayat ke 6 surah An Nur ini akan memperjelas permasalahan ini.

1. Diriwayatkan oleh Al Bukhari, Abu Dawud, dan At Tirmidziy.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ هِلَالَ بْنَ أُمَيَّةَ قَذَفَ امْرَأَتَهُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَرِيكِ ابْنِ سَحْمَاءَ , فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْبَيِّنَةَ أَوْ حَدٌّ فِي ظَهْرِكَ , فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ , إِذَا رَأَى أَحَدُنَا عَلَى امْرَأَتِهِ رَجُلًا يَنْطَلِقُ يَلْتَمِسُ الْبَيِّنَةَ , فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : الْبَيِّنَةَ وَإِلَّا حَدٌّ فِي ظَهْرِكَ , فَقَالَ هِلَالٌ : وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ إِنِّي لَصَادِقٌ , فَلَيُنْزِلَنَّ اللَّهُ مَا يُبَرِّئُ ظَهْرِي مِنْ الْحَدِّ , فَنَزَلَ جِبْرِيلُ وَأَنْزَلَ عَلَيْه :ِ { وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ فَقَرَأَ حَتَّى بَلَغَ إِنْ كَانَ مِنْ الصَّادِقِينَ } فَانْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَرْسَلَ إِلَيْهَا , فَجَاءَ هِلَالٌ فَشَهِدَ , وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ أَنَّ أَحَدَكُمَا كَاذِبٌ فَهَلْ مِنْكُمَا تَائِبٌ , ثُمَّ قَامَتْ فَشَهِدَتْ , فَلَمَّا كَانَتْ عِنْدَ الْخَامِسَةِ وَقَّفُوهَا , وَقَالُوا : إِنَّهَا مُوجِبَةٌ , قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : فَتَلَكَّأَتْ وَنَكَصَتْ , حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهَا تَرْجِعُ , ثُمَّ قَالَتْ لاَ أَفْضَحُ قَوْمِي سَائِرَ الْيَوْمِ , فَمَضَتْ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَبْصِرُوهَا فَإِنْ جَاءَتْ بِهِ أَكْحَلَ الْعَيْنَيْنِ سَابِغَ الْأَلْيَتَيْنِ خَدَلَّجَ السَّاقَيْنِ فَهُوَ لِشَرِيكِ ابْنِ سَحْمَاءَ , فَجَاءَتْ بِهِ كَذَلِكَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَوْلاَ مَا مَضَى مِنْ كِتَابِ اللَّهِ لَكَانَ لِي وَلَهَا شَأْنٌ

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Bahwa Hilal bin Umayyah mengadukan kepada Rasulullah bahwa isterinya berzina. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Bukti, kalau tidak ia sendiri yang akan dicambuk”.

Hilal berkata:”Ya Rasulallah! Sekiranya salah seorang dari kami melihat isterinya bersama dengan seorang laki-laki, apakah ia mesti mencari saksi lebih dahulu?” Rasulullah tetap meminta bukti atau ia sendiri yang dicambuk. Berkata Hilal: ”Demi Allah, Dzat yang mengutus engkau dengan haq, sesungguhnya aku benar dan mudah-mudahan Allah menurunkan sesuatu yang menghindarkan dari hukum cambuk”.

Maka turunlah Jibril membawa ayat ini, Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyuruh untuk memanggil istri Hilal. Kemudian Hilal bersaksi, sedangkan Rasulullah berkata : Sesungguhnya Allah mengetahui bahwa salah seorang diantara kalian adalah berbohong. Maka adalah salah seorang diantara kalian berdua yang mau bertaubat. Kemudian istri hilal berdiri dan bersaksi. Kemudian ketika yang kelima, maka para sahabat menyuruhnya berhenti. Mereka berkata : “Ini adalah yang memberikan efek hokum”. Ibnu Abbas berkata : “Kemudian wanita ragu-ragu dan akan menunduk, sampai-sampai kami mengira dia akan kembali. Kemudian dia berkata : “Aku tidak akan menghinakan kaumku sepanjang waktu. Kemudian dia melanjutkan. Ras Shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Perhatikanlah dia. Jika dia melahirkan bayi yang kehitam-hitaman kelopak matanya, besar kedua pantatnya, kecil kedua betisnya, maka dia adalah anak dari Syuraik bin Sahma’”. Maka lahirnya bayi yang seperti itu. Ras Shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Jika tidak karena Kitab Allah yang telah lalu, maka aku dengan wanita itu maih memiliki urusan”.[1]

 

2. Dalam riwayat lain disebutkan:

Bahwa ketika turun ayat “wal-ladzina yarmunal-muhshanati” sampai “syahadatan abada” berkata Sa’d bin Ubadah, seorang pemimpin Kaum Anshar: “Apakah demikian lafadh ayat itu Ya Rasulallah?”

Bersabda Rasulullah: “Hai kaum Anshar! Tidakkah kalian dengar ucapan pemimpinmu itu?

Kaum Anshar menjawab: “Ya Rasulallah, janganlah engkau mencelanya. Sesungguhnya ia seorang yang sangat cemburu. Demi Allah, karena sangat cemburunya, tidak seorang pun yang berani mengawini wanita yang disukai Sa’d.

Berkatalah Sa’d: “Ya Rasulallah sesungguhnya aku tahu bahwa ayat ini adalah haq dan ayat ini dari Allah, akan tetapi aku merasa aneh apabila aku dapatkan wanita jahat yang beradu paha dengan seorang laki-laki, dan aku tidak boleh memisahkan atau mengusiknya sebelum mereka selesai memuaskan nafsunya”.

Beberapa hari kemudian terjadilah suatu peristiwa yang dialami oleh Hilal bin Umayyah (salah seorang di antara tiga orang yang diampuni Allah karena tidak turut perang Tabuk).

Ia mengadu kepada Rasulullah tentang kejadian yang dialaminya pada waktu malam hari ketika ia pulang dari kebunnya. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, mendengar dengan telinganya sendiri, bahwa isterinya sedang ditiduri seorang laki-laki akan tetapi ia dapat menahan diri sebelum mengadukannya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Pengaduan Hilal ini menyebabkan Rasulullah tidak merasa senang.

Maka berkumpullah kaum Anshar membicarkan peristiwa Hilal itu, mereka berkata: ”Kita telah diuji dengan apa yang dikatakan oleh Sa’d bin Ubadah, dan sekarang Rasulullah pasti membatalkan kesaksian Hilal dan akan mencambuknya.

Berkatalah Hilal: “Demi Allah, sesungguhnya aku mengharap agar Allah memberikan jalan keluar bagiku”.

Kaum Anshar berkata: ”Pasti Rasulullah akan memerintahkan menghukum Hilal”.

Maka turunlah ayat ini. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Berbahagialah wahai Hilal, sesungguhnya Allah telah memberikan jalan keluar kepadamu”.[2] Yaitu firman Allah:

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ (6) وَالْخَامِسَةُ أَنَّ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ مِنَ الْكَاذِبِينَ (7) وَيَدْرَأُ عَنْهَا الْعَذَابَ أَنْ تَشْهَدَ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ (8) وَالْخَامِسَةَ أَنَّ غَضَبَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ (9) وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ حَكِيمٌ (10)

Artinya: Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa la’nat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta. Isterinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-oarng yang dusta, dan (sumpah) yang kelima: bahwa la’nat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar. Dan andaikata tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atas dirimu dan (andaikata) Allah bukan Penerima Taubat lagi Maha Bijaksana, niscaya kamu akan mengalami kesulitan-kesulitan). (QS. An Nur/24: 6-10)

 

Ayat ini memberikan jalan keluar bagi para suami, karena mendesaknya kebutuhan dan posisi yang sangat menyulitkan, yaitu ketika seorang suami menyaksikan isterinya melakukan perselingkuhan tanpa ada saksi kecuali dirinya sendiri.

Jalan keluar yang Allah ajarkan adalah dengan bersumpah empat kali bahwa tuduhannya itu benar.

Dan pada sumpah yang kelima,[3] setelah dinasehati qadli ia bersumpah bahwa ia siap mendapatkan la’nat Allah jika ia berdusta dalam menjatuhkan tuduhan pada isterinya.

Dengan sumpah ini seorang suami mendapatkan lima keterikatan hukum, yaitu:

a. Tidak dikenakan hukum cambuk qadzf, delapan puluh kali,

b. Isterinya dikenakan hukuman zina (rajam)

c. Zawalul-firasy (hilang hak hubungan suami isteri)

d. Kehilangan nasab anak, jika isterinya hamil.

e. Haram menikahinya untuk selama-lamanya.

Dan ketika isteri menolak hukuman zina itu, maka isteri itu dipersilahkan bersumpah empat kali bahwa suaminya dusta dalam melancarkan tuduhan.

Dan setelah dinasehati qadhi, ia bersumpah yang kelima dengan menyatakan bahwa ia siap menerima la’nat Allah jika suaminya benar dalam melancarkan tuduhan.

Dengan sumpah itu, isteri yang dituduh dibebaskan dari hukuman zina.

Demikianlah syari’ah Islam memberikan solusi atas setiap persoalan yang muncul dalam membangun keluarga.

[1] Al Qurthubi, op cit, h.183. Ibnu Katsir, op cit, h. 356. Ibnu Al Arabiy, op cit, III h. 350.

[2] Al Qurthubi, op cit, Juz XII h. 183. Ibn Al Arabiy, op cit, III, h. 350. Ibnu Katsir, op cit. Jilid III h. 355.

 

 

[3] Al Husaini, Taqiyyuddin Abu Bakr ibn Muhammad, Kifayatul Ahyar,(Bandung: PT Al Ma’arif, T. th), hal. 123


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: