Samudra Ilmu Agama Islam

Islam Rahmatan Lil 'Alamin

PELAJARAN KEDELAPAN (SURAT AN NUR AYAT 35 – 45)

Posted by Administrator pada 21 November 2008

SUMBER PENDIDIKAN AKHLAQ

CAHAYA ALLAH VS KEGELAPAN KEKAFIRAN

 

Kata nur berasal dari akar kata nara-nauran, berarti menerangi, semakna dengan kata anara, nawwara, istanara. Dalam bentuk kata benda yang memiliki kedekatan makna dengan nur adalah nar, yaitu unsur alamiyah yang aktif mengeluarkan cahaya, panas, dan membakar, disebut juga dengan al lahab, ketika menjilat-jilat. Sedang nur berarti cahaya, yaitu penerang yang menjelaskan sesuatu sehingga terlihat hakekat yang sesungguhnya.[1]

An Nur dalam surah ini menjadi dasar pembentukan akhlaq mulia. Terputusnya seseorang dari Nur Allah akan menempatkannya dalam kesia-sian hidup di dunia dan akhirat. Dan untuk membuktikan pengaruh nur Ilahi dalam pendidikan akhlak mulia, Allah SWT menunjukkan kekuasaan-Nya dalam contoh-contoh alam nyata.

Tema ini disajikan dalam rangkaian ayat 35 sampai 45.

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (35) فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ (36) رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ (37) لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ (38) وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآَنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ (39) أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ (40) أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ (41) وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ (42) أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَنْ يَشَاءُ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ (43) يُقَلِّبُ اللَّهُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ (44) وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِنْ مَاءٍ فَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى بَطْنِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى رِجْلَيْنِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى أَرْبَعٍ يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (45)

 

Artinya: Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (sesuatu), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manuisa, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, dan dari membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.

Mereka mengerjakan yang demikian itu supaya Allah memberi balasan kepada mereka dengan balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunian-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.

Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan di dapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.

Tidakkah kamu tahu bahwasannya Allah; kepada-Nya bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui cara sembahang adan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah-lah kembali (semua makhluk).

Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadi-kannya bersusun-susun maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, yaitu dari gumpalan-gumpalan awan seperti gunung-gunung, maka di timpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.

Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihata.

Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya, dan sebagian lagi berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. An Nur/24:35-45)

 

Dalam bab ke empat ini akan dibahas prinsip pembentukan akhlak mulia yang merupakan pancaran dari nur Allah. Permasalahan-permasalahan penting yang akan dibahas meliputi:
a. Allah Pemberi cahaya langit dan bumi

b. Terputusnya orang kafir dari nur Allah

c. Fenomena iman dan nur

d. Peran ayat Allah dalam membina akhlaq

 

 

1. Allah Pemberi Cahaya Langit dan Bumi

Allah menyebut diri-Nya sebagai “An Nur” sebagaimana Allah menyebut Al Qur’an juga dengan sebutan “Nur”. Firman Allah:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا

Artinya: Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an). (QS. An Nisa’/4: 174)

 

Penggabungan kata “nur” dengan “samawat” (langit) dan “ardh” (bumi) untuk menunjukkan betapa luasnya jangkauan cahaya Allah, sehingga seluruh langit dan bumi menjadi terang. Abul-‘Aliyah berkata: “Allah menghiasi langit dengan matahari, bulan, dan bintang-bintang, dan menghiasi bumi dengan anbiya’ (para nabi) dan ulama’.[2]

a. Masuknya Nur Ilahi pada Orang-orang Beriman

Orang-orang beriman akan memperoleh cahaya itu ketika menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآَمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. (QS. Al Hadid/57: 28)

 

Dalam surah An Nur ini, pembahasan tentang nur Ilahi diletakkan setelah perintah bertaubat. Firman Allah:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An Nur/24: 31)

 

Dengan bertaubat inilah orang beriman menemukan kembali nur Ilahi yang sempat lepas darinya kerena perbuatan dosa.

 

b. Perumpamaan Cahaya Allah

Al Qur’an mendekatkan pemahaman terhadap nur Ilahi itu dengan membuat perumpamaan terdekat, yang dapat ditangkap alat indera pada umumnya. Firman Allah :

مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ

 

Artinya: Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis). (QS. An Nur/24: 35)

 

Perumpamaan ini adalah perumpamaan hidayah Allah kepada kaum mu’minin.

Ibnu Asyur, melukiskan perumpamaan itu, seperti yang dinukil oleh Abdul Halim Mahmud,[3] mengatakan : “Al Misykat adalah perumpamaan hidayah dan petunjuk Allah yang meyakinkan, yang dilengkapi dengan bukti-bukti kuat tanpa ada peluang untuk ragu-ragu maupun mundur.

Cahaya yang terlindung dari pemadaman adalah perumpamaan Al Qur’an yang terjaga dari segala penyimpangan. Firman Allah:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

 

Artinya: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al Hijr/15: 9)

 

Hidayah Islam adalah bagaikan cahaya penerang, yang menjelaskan segala sesuatu dengan benar. Kemurnian ajaran Islam dari kerancuan dan keraguan adalah bagaikan terangnya kaca dalam memancarkan cahaya.

Dan wahyu Allah yang disampaikan baik berupa Al Qur’an maupun As Sunnah adalah bagaikan pohon yang banyak berkahnya, yang memberikan buahnya sepanjang waktu. Bayangannya menjadi teduhan bagi siapapun yang berlalu.

Toleransi dan sikap moderat Islam dilukiskan dengan keberadaan pohon yang ada di pertengahan ufuq, tidak timur dan tidak barat. Islam adalah moderat antara sikap tegas yang menyulitkan dan sikap lunak yang melenakan. Dan keabadian bimbingan Islam digambarkan dengan kebadian nyala api lampu.

Pengajaran Al Qur’an dan penjelasan agama yang Rasulullah lakukan terhadap umatnya dilukiskan sebagai minyak yang bersih yang dapat terlihat dengan jelas oleh setiap orang yang berakal, mudah dicerna, dan hampir-hampir dapat dipahami tanpa diajari.

Minyak yang diperoleh dari pohon zaitun, melambangkan perlunya ijtihad ulama dalam menggali hukum agama sesuai dengan berlalunya waktu.

Menurut penulis ada tiga hal penting yang dijelaskan dalam ayat ini, yaitu:

Pertama; Bahwa Allah akan membimbing kepada cahaya-Nya itu siapa saja yang Allah kehendaki. Pernyataan ini menjawab pertanyaan tentang banyaknya orang-orang yang tidak mendapatkan hidayah Al Qur’an (Islam), padahal begitu jelasnya Al Qur’an menguraikan permasalahan. Hal ini tidak lain karena pertama-tama hidayah itu atas kehendak Allah, sebelum keinginan akal. Firman Allah:

 

إِنَّكَ لاَ تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Artinya: Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. (QS. Al Qashash/28: 56)

 

Ayat di atas meluruskan kegundahan Nabi yang merasa gagal karena tidak mampu mengislamkan Abu Thalib, pamannya yang telah banyak membantu da’wahnya.

Kedua; Allah SWT membuat perumpamaan bagi manusia ini agar menjadi peringatan bagi mereka lalu menjadi orang yang benar. Akan tetapi ada sebagian orang yang telah menikmati kesesatan sehingga perumpamaan-perumpamaan seperti ini tidak efektif lagi dalam memberikan peringatan. Padahal perumpamaan-perumpamaan adalah petunjuk yang paling mudah dipahami.

Ketiga; Allah Maha Mengetahui siapakah orang-orang yang benar karena mendapat hidayah dan siapa saja yang tetap dalam kesalahan. Pernyataan ini mengandung ancaman yang dalam jika direnungkan dengan seksama.

 

c. Sifat Orang-orang yang Mendapatkan Pancaran Nur Ilahi

Allah SWT menerangkan sifat orang-orang yang telah mendapat cahaya-Nya:

يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالآَصَالِ

Artinya: Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang. (QS. An Nur/24: 36)

 

Cahaya Allah yang menerangi langit dan bumi itu memenuhi pula rumah-rumah yang membuat penghuninya selalu berhubungan erat dengan Allah. Terus menerus mendekatkan diri, selalu berdzikir, dan terlepas dari godaan-godaan duniawi.

Hudzaifah Ibnu Yaman berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya nur Ilahi itu jika telah masuk ke hati, ia akan lapang dan terbuka. Ada salah seorang sahabat bertanya: “Apakah ada tandanya Wahai Rasulullah? Rasul menjawab: “Ya, ada, yaitu menjauhi kehidupan ghurur (melenakan) dan menghadap kepada kehidupan abadi, dan bersiap-siap mati sebelum kedatangannya. [4]

Sebagaimana ia berdzikir di dalam masjid, ia berdzikir pula di dalam rumahnya sendiri. Islam tidak membatasi peribadatan hanya pada rumah-rumah peribadatan tertentu saja. Sabda Nabi:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اجْعَلُوا مِنْ صَلَاتِكُمْ فِي بُيُوتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا

 

Artinya: Diriwayatkan dari Ibnu Umar radliallaahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa dia bersabda : “Jadikanlah sebagian shalatmu di dalam rumahmu, dan jangan kamu jadikan rumahmu menjadi kuburan. (Hadits Riwayat Muslim, Turmudzi dan Ahmad)

 

Ciri-ciri orang yang telah mendapatkan nur Ilahi, yaitu:

1. Tidak terlalaikan oleh perniagaan duniawi. Mereka adalah orang-orang yang bertebaran mencari rizki di muka bumi, tetapi harta dunia itu tidak membuatnya lupa diri. Abdullah ibnu Abbas berkata: Mereka itu adalah para pedagang, akan tetapi ketika datang kewajiban-kewajiban dari Allah mereka tidak terlenakan dagangannya, ia tunaikan shalat dan zakat. [5]

2. Mendirikan shalat tepat waktu. Memenuhi syarat rukunnya. Menjauhkan diri dari perbuatan munkar sebagai konsekwensinya. Sabda Nabi:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ : سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ ؟ قَالَ : الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا , قَالَ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ, قَالَ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Artinya: Diirwayatkan dari Abdullah (bin Mas’ud) radliallaahu ‘anhu bahwa dia berkata : Aku bertanyat kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Amal apakah yang palingdicintai Allah?”. Dia berkata : “Shalat di awal waktu”. Dia berkata : “Kemudian apa ?”. Dia berkata : “Berbuat baik kepada kedua orang tua”. Dia berkata : “Kemudian apa ?”. Dia berkata : “Berjihad di jalan Allah”.. (H.R. Bukhari, Muslim, Nasa’i dan Ahmad)

 

3. Membayar zakat wajib maupun shadaqah sunnah, sebagai wujud pembersihan jiwa dari keterikatan duniawi. Firman Allah.

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

Artinya: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan, mensucikan mereka. (QS. At Taubah/9: 103)

 

4. Sangat takut hari kiamat. Rasa takut mereka terhadap hari kiamat, terucap dalam setiap do’anya, tercermin dalam sikap perbuatan sehari-harinya.

إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا

Artinya: Sesungguhnya kami takut (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. (QS. Al Insan/76: 10)

 

Demikianlah ketakutan orang-orang beriman, terhadap pedihnya azab Allah di hari kiamat.

 

d. Balasan Orang-orang yang Mendapatkan Pancaran Nur Ilahi

Orang-orang yang hidup dalam pancaran nur Ilahi ini, memiliki sifat yang berbeda dengan kebanyakan penghuni dunia lainnya. Maka pantaslah mereka mendapatkan balasan Allah yang berlipat ganda, lebih baik dari apa yang pernah dikerjakan di dunia ini. Firman Allah:

لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (QS. An Nur/24: 38)

 

Allah menyediakan balasan amal kebaikan orang-orang beriman sepuluh kali lipat, tujuh ratus kali lipat, hingga kelipatan yang tidak terbatas.

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

Artinya: Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat. (QS. Al An’am/6: 160)

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menimbulkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Baqarah/2: 261)

 

 

2. Terputusnya Orang Kafir dari Nur Ilahi

Setelah Allah menerangkan keadaan orang-orang beriman yang hidup di dunia dengan pancaran cahaya Ilahi dan beramal saleh. Bahwa di akhirat nanti dijanjikan keberuntungan dengan memperoleh ridha dan karunia Allah, segera disusul dengan pembicaraan tentang amal perbuatan orang-orang kafir di dunia dan balasan mereka di akhirat. Firman Allah:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآَنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ (39) أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ

Artinya: Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan di dapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun. (QS. An Nur/24: 39-40)

 

a. Kekufuran dan Kegelapan

Allah SWT mengumpamakan iman dengan nur (cahaya) dan kufur dengan dhulmah (kegelapan). Firman Allah:

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya: Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al Baqarah/2: 257)

 

Iman yang sering didefinisikan sebagai kalimat yang merangkum semua yang dicintai dan diridhai Allah. Dan kufr adalah kalimat yang merangkum segala sesuatu yang dibenci dan dilarang Allah, meskipun amal perbuatan itu tidak langsung menyebabkan kekufuran; karena ia memiliki dasar-dasar iman tetapi melakukan bagian-bagian kecil dari cabang kekufuran. Sebagaimana orang kafir tidak dapat menjadi beriman, ketika ia melakukan cabang-cabang keimanan; karena ia masih berada dalam dasar-dasar kekufuran.

Hudzaifah berkata: Sesungguhnya iman itu akan tampak di hati seperti goresan putih. Semakin seseorang beriman, semakin bertambah putih hatinya. Maka jika kamu buka hati orang beriman itu akan kamu lihat putih bercahaya. Dan sesungguhnya kemunafikan itu adalah seperti goresan hitam. Semakin bertambah kemunafikan akan semakin bertambah pula hitam hatinya. Maka jika kamu buka hati orang munafik itu pasti akan kamu temukan hitam kelam. [6]

Al Qur’an menggambarkan orang-orang munafiq sebagai orang yang kehilangan cahaya. Firman Allah:

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لاَ يُبْصِرُونَ

Artinya: Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya. Allah hilangkan cahaya yang menyinari mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. (QS Al Baqarah/2: 17)

 

Mereka menyia-nyiakan nur Ilahi di dunia ini dengan pura-pura tidak mengetahui ajaran agama Allah atau tidak mau tahu dengan ajaran Allah.

 

b. Amal Kebaikan Orang Kafir

Amal kebaikan orang kafir digambarkan sebagai fatamorgana yang ada di padang terbuka. Menampakkan kilau kepalsuan, dikejar oleh orang yang sedang kehausan. Orang itu telah membayangkan dahaganya akan segera lepas, tetapi fatamorgana lebih cepat menghilang. Firman Allah:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآَنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا

Artinya: Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. (QS. An Nur/24: 39)

 

Demikianlah orang kafir yang melakukan perbuatan-perbuatan mulia di mata manusia, yang dianggap akan memberikan manfaat di hari akhirat. Dan ia menemukan sesuatu yang tidak pernah terbayangkan dalam hatinya, pengadilan Allah yang selama di dunia ini ia dustakan. Firman Allah:

وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Artinya: Dan di dapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS. An Nur/24: 39)

Demikianlah perumpamaan amal kebaikan orang kafir seperti: silaturrahmi, kedermawanan, pertolongan kemanusiaan, dsb. Kufurnya membuat amal kebaikan yang dilakukan berlalu tanpa bekas.

c. Perumpamaan Amal Keburukan Orang Kafir

Amal keburukan orang-orang kafir, Allah umpamakan sebagai dhulmah (kegelapan). Firman Allah:

أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ

Artinya: Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpu. ( QS. An Nur/24:40)

 

Kufur adalah dhulmah (kegelapan) dan perbuatan dosa adalah noda hitam, sehingga bertumpuk-tumpuklah hitam dan kegelapan. Kufur adalah dhalal (kesesatan), sehingga seseorang tidak mampu lagi melihat petunjuk terdekatnya, seperti melihat tangannya sendiri. Kufur adalah makhafah (ketakutan) yang tidak pernah memberikan rasa aman dan ketenangan, seperti orang yang berada di tengah-tengah goncangan ombak yang bergulung-gulung.

Ubay bin Ka’ab berkata: Orang kafir itu berbolak balik dalam lima kezhaliman, yaitu: ucapannya, amalnya, pintu masuknya, pintu keluarnya, dan kepulangan akhirnya ke neraka”.[7]

Abdullah ibn Abbas berkata tentang kegelapan yang dialami orang kafir, yaitu: “kegelapan hati, kegelapan penglihatan dan kegelapan pendengaran”.[8]

Al Hasan mengatakan bahwa dalam surah An Nur ini Allah menyebutkan tiga macam kegelapan yaitu: kegelapan laut, kegelapan ombak, dan kegelapan awan. Demikian pula orang kafir, ia juga memiliki tiga kegelapan, yaitu: kegelapan keyakinan, kegelapan ucapan, dan kegelapan amal perbuatan. [9]

3. Fenomena Imam dan Nur.

Fenomena iman, hidayah dan cahaya di alam raya ini dapat terlihat dalam beberapa realitas berikut ini, yaitu :

a. Kepatuhan Seluruh Alam Raya Bertasbih Kepada Allah.

Alam raya dengan segala isinya bertasbih kepada Allah SWt. Mulai dari manusia, jin, para malaikat, tata surya, material, dan mineralnya. Firman Allah:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ

Artinya: Tidakkah kamu tahu bahwasannya Allah; kepada-Nya bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi dan juga burung-burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. An Nur/24: 41)

 

Manusia tidaklah satu-satunya makhluk di alam ini. Di sekitarnya, kiri kanannya, atas bawahnya, sejauh mata memandang, atau ke manapun ia membayangkan, di sana ada makhluk Allah yang lain, dengan karakter, bentuk, dan warna yang berbeda. Akan tetapi semuanya bersatu dalam menghadap Allah, bertasbih memuji Allah. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui tentang apa yang mereka kerjakan.

Al Qur’an mengajak manusia untuk memperhatikan alam sekitarnya yang ada di langit maupun yang ada di bumi. Semuanya bertasbih memuji dan patuh kepada Allah. Demikianlah burung yang terbang dengan mengembangkan sayapnya di angkasa lepas, tetap bertasbih memuji Allah. Masing-masing telah mengetahui cara sembahyang dan tasbihnya. Dan manusialah yang sering kali lupa bertasbih kepada Tuhannya. Padahal manusialah makhluk Allah yang paling layak beriman, bertasbih, dan sembahyang.

Seluruh alam yang tampak nyata ini khusyu’ dalam menghadap Penciptanya, bertasbih memuji-Nya, berdiri menyembah-Nya. Demikianlah fitrah alam semesta, patuh kepada kehendak Penciptanya. Hal ini tercermin dalam siklusnya.

Dan ketika manusia dapat berperan secara maksimal dalam kepatuhan dan kekhusyukan menghadap Allah, maka ia akan dapat menemukan kebersamaan dengan makhluk lain di alam ini dalam bertasbih.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mampu mendengarkan tasbih bebatuan ketika sedang berjalan. Rintihan batang pohon kurma, yang pernah dipakai sebagai mimbar di masjidnya.[10]Nabi Daud AS ketika tilawah karena keindahan suranya membuat gunung-gunung termangu, dan burung-burung terbang diam menunggu.[11]

 

b. Fenomena Awan dan Hujan

Awan dan hujan adalah fenomena alam yang kurang mendapat perhatian, padahal sangat indah untuk direnungkan, banyak memberi pelajaran, obyek observasi dan bukti pancaran nur Ilahi, kebenaran dan keimanan. Firman Allah:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَنْ يَشَاءُ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ

Artinya: Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan ke luar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. (QS. An Nur/24:43)

 

Allah terangkan fenomena awan dengan perlahan-lahan dalam tahapan yang memberikan peluang perenungan pada setiap tahapan terjadinya hujan. Proses yang detail itu agar mampu menyentuh jiwa dan menyadarkannya, merenungkan tadbir (rekayasa) Allah yang ada di balik semua fenomena.

Hanya Allah yang menggiring awan dari satu tempat ke tempat lainnya, menyebar dan mengumpulkannya. Ketika sudah tebal tersusun dari sekian banyak lapisan barulah keluar air, dan turunlah hujan lebat. Awan yang menggumpal bagaikan gunung-gunung besar di atas angkasa. Dan dalam awan itu terdapat pula kristal-kristal salju.

Menyaksikan fenomena awan bagaikan gunung sangat jelas nyata bagi orang yang berada di atas peshallallaahu ‘alaihi wa sallamat terbang. Peshallallaahu ‘alaihi wa sallamat itu terbang di atas gumpalan-gumpalan awan, menembus atau menerobos di sela-selanya. Fenomenanya menjadi gunung sungguhan bukan seperti gunung. Al Qur’an menceriterakan awan dengan penggambaran hakiki yang dapat dibuktikan dengan mata kepala.

Gunung-gunung di atas angkasa itu hanya patuh kepada Allah SWT. Ia akan berarak sesuai dengan arah yang Allah kehendaki, dan menghidar dari yang arah yang Allah tidak kehendaki. Dengan awan dan hujan Allah merahmati manusia dan dengan awan dan hujan itu pula Allah pernah menurunkan azab-Nya.

Fenomena awan ini, Allah lengkapi dengan kilau kilat, yang semakin menambah indah suasana. Perpaduan antara cahaya besar yang memenuhi alam dengan kilau kilat yang membelah awan.

Di balik fenomena ini, Allah mengajarkan prinsip-prinsip iman. Firman Allah:

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Artinya: Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. (QS. Al A’raf/7:57)

 

c. Pergantian Malam dan Siang

Fenomena berikutnya adalah pergantian malam dan siang. Firman Allah:

يُقَلِّبُ اللَّهُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ

Artinya: Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat pelajarn yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan. (QS. An Nur/24: 44)

 

Renungan terhadap pergantian malam dan siang dalam struktur yang tidak pernah berubah dan waktu yang tidak pernah telat, akan menggugah sensitifitas jiwa untuk memahami rahasia di balik rekayasa Allah dalam menggerakkannya.

Al Qur’an mengantarkan jiwa manusia untuk merenungkan fenomena alam ini, agar dapat menatapnya dengan pandangan dan interaksi yang selalu diperbaharui. Firman Allah:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. (QS. Ali Imran/3:190)

 

Malam dan siang sejak manusia temukan pertama kali sampai hari ini tidak ada yang berubah, tidak pudar keindahannya. Malam dan siang yang dulu pernah diimpikan tetaplah malam dan siang yang hari ini ditemui. Hati manusia-lah yang berubah dingin dan tidak peka, sehingga tidak lagi mampu mengaguminya.

Al Qur’an memperbaharui pandangan kita yang beku tentang malam dan siang sebagaimana pembaharuan yang terjadi pada malam dan siang itu sendiri. Menyaksikan setiap fenomena dengan penuh renungan, mencari apa rahasia di balik semua ini. Siapa yang mengendalikannya? Apa hikmahnya?.

Firman Allah:

وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

Artinya: Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahri dan bulan yang terus menrus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. (QS. Ibrahim/14: 33)

 

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا

Artinya: Dialah yang menjadikan malam bagimu supaya kamu beristirahat dan menjadikan siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). (QS. Yunus/10: 67)

 

Dengan cara ini, Allah menghendaki kita mampu memandang segala sesuatu sebagai nikmat yang baru pertama kali kita temukan, sehingga kita selalu merasakan pembaharuan nikmat di setiap waktu.

Fenomena alam memang indah dan menakjubkan. Dan fitrah kita sama dengan fitrah alam itu. Memancar dari sumber yang sama, keluar dari rahasia yang sama.

Berkomunikasi dengan rahasia malam dan siang memberikan kedamaian, kemesraan, dan kebahagiaan pertemuan dengan kerabat dekat yang lama terpisahkan.

Kita temukan nur Ilahi ada dalam fenomena malam dan siang. Allah Pemberi cahaya langit dan bumi. Dan kita temukan cahaya itu di ufuk barat dan ufuk timur, sebagaimana pancaran cahaya Ilahi itu ada dalam diri kita.

Dari itulah Al Qur’an selalu mengingatkan kita setiap waktu mengarahkan jiwa dan perasaan kita ke seluruh penjuru alam nyata, agar semua itu tidak berlalu dalam kelalaian mata hati kita. Agar pada saat keluar dari kendaraan besar dunia ini, kita tidak lalai tanpa perbekalan, atau dengan perbekalan yang tidak maksimal.

 

d. Penciptaan Makhluk Hidup

Fenomena lain dalam membangun kesadaran adalah dengan mengenali awal kelahiran semua makhluk hidup. Semua makhluk hidup ini berasal dari sumber yang sama, tabi’at yang sama, walupub berbeda-beda bentuk dan tabi’atnya. Firman Allah:

وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِنْ مَاءٍ فَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى بَطْنِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى رِجْلَيْنِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى أَرْبَعٍ يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. An Nur/24: 45)

 

Ayat ini mengajarkan kepada orang-orang beriman bahwa Allah SWT menciptakan semua makhluk yang berjalan di atas bumi ini dari air ayah ibunya. Kemudian dari air itu terbelah dalam sel-sel yang membentuk organ tubuh, dengan spesifikasi bentuk dan fungsi.

Ayat lain yang mengaskan asal muasal makhluk hidup dari air terdapat pula dalam firman Allah berikut ini:

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

 

Artinya: Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwa-sannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yag padu, kemudian Kami pisahkan. Dan dari air Kami jadikan sesuatu yang hidup, maka mengapakah mereka tiada juga beriman. (QS. Al Anbiya/21: 30)

 

Makhluk hidup ini berbeda-beda bentuk dan macamnya. Ada bintang melata yang berjalan dengan perutnya. Ada yang berjalan di atas dua kakinya seperti manusia dan burung. Dan ada pula yang berjalan dengan empat kakinya, seperti kebanyakan binatang pada umumnya. Semua itu sesuai dengan sunnatullah dan kehendak-Nya, bukan karena hukum alam atau kebetulan. Allah menciptakan makhluk sesuai dengan yang Allah kehendaki, tidak terikat oleh siapapun.

Semua ini seharusnya mendorong manusia untuk merenungkan dirinya sendiri. Mencari posisinya di tengah persamaan makhluk ini, lalu merumuskan apa yang seharunya dilakukan dalam kehidupan ini.

Renungan ini tidak akan pernah terjadi kecuali jika jiwa manusia itu terjaga, mata hatinya mencerna, akal fikirannya bekerja. Jika proses itu berlangsung dengan benar maka ia akan dapat bertasbih memuji Allah sepanjang waktu. Firman Allah:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiada Engkau ciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka. (QS. Ali Imran/3: 191)

 

Atha’ berkata: Saya berkunjung ke rumah Aisyah ra bersama Ibnu Umar dan Ubaid ibnu Umair, di antara kami dan dia ada hijab (sekat). Aisyah bertanya: “Hai Ubaid mengapa kamu (lama) tidak mengunjungiku?” Ubaid menjawab: “ Seorang penyair mengatakan: Ziarahlah jarang-jarang nanti akan bertambah sayang”. Ibnu Umar berkata: “Ceritakanlah kepada kami tentang sesuatu yang paling engkau lihat menakjubkan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam” Aisyah menangis dan berkata: Semuanya menakjubkan. Pernah suatu hari ia tidur bersamaku, kulitku menyentuh kulitnya. Kemudian ia berkata: ” Biarkan aku beribadah kepada Rabbku Azza wa Jalla”. Aku katakan: “Sesungguhnya saya masih ingin dekat bersamamu, akan tetapi aku lebih suka engkau beribadah menyembah Rabbmu”. Lalu Rasulullah menuju ke tempat air wudhu dan berwudhu dengan tidak banyak menuangkan air. Kemudian ia shalat dan menangis hingga basah jenggotnya. Kemudian ia sujud dan menangis hingga membasahi tanah. Kemudian ia berbaring sambil menangis hingga datang Bilal mengumandangkan adzan Shubuh. Aisyah berkata: Bilal bertanya : Ya Rasulallah, apa yang membuatmu menangis sedangkan Allah telah mengampuni dosamu yang lalu maupun yang belum terjadi? Jawab Nabi: Sembarangan saja kamu Bilal. Apa yang menghalangiku menangis, belum lama turun ayat kepadaku malam ini:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (QS. Ali Imran/3: 190)

 

Kemudian Rasulullah bersabda: “Sungguh celaka orang-orang yang membacanya tetapi tidak memikirkannya”. [12]

 

4. Peranan Ayat Allah dalam Membina Akhlaq

Pada bagian lalu telah dibahas pula tentang orang-orang lelaki yang istiqomah dalam beribadah, tidak terganggu oleh perniagaan dunia. Begitu juga telah dibahas tentang amal perbuatan kaum kafir dan kegelapan yang mereka alami.

Ayat-ayat Allah adalah penjelasan yang mengungkapkan persoalan dengan jelas dan terang. Ia merupakan nur Ilahi sebagai pembimbing kepada jalan yang benar, memberikan batas baik dan buruk, bersih dan kotor dengan tegas dan jelas.

Ayat-ayat itu menjelaskan jalan Islam dengan sempurna, detail, tidak ada kerancuan dan tidak ada permasalahan yang terlewatkan. Ia menjelaskan hukum Allah di muka bumi ini tanpa syubhat (kesamaran) dan ketidak jelasan. Firman Allah:

لَقَدْ أَنْزَلْنَا آَيَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. Dan Allah memimpin siapa saja yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS. An Nur/24: 46)

 

Ayat di atas memberitahukan kepada kaum mu’minin bahwa Allah telah menurunkan hukum-hukum, adab, hikmah, dan contoh-contoh yang cukup bagi perjalanan hidup manusia, bebas dari penderitaan dalam mencapai kehidupan yang mulia sebagai manusia. Allah telah mudahkan Al Qur’an ini untuk dipahami. Firman Allah:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآَنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (QS. Al Qamar/54: 17)

 

Jika masih ditemukan ketidak jelasan dalam pengamalan, maka Sunnah Nabi menjadi penafsir yang merinci permasalahan secara aplikatif.

Ayat di atas (QS. Al Qamar/54: 17) diulang empat kali di ayat-ayat berikutnya, dengan menerangkan pengalaman kaum terdahulu dengan para nabinya, yaitu:

a. Kaum ‘Ad pada ayat 18

b. Kaum Tsamud pada ayat 23

c. Kaum Nabi Luth AS, pada ayat 33

d. Fir’aun dan keluarganya, pada ayat 41

Kemudahan Al Qur’an untuk dibaca, difahami, dan diamalkan itu dimaksudkan untuk menjadi kabar gembira bagi orang-orang beriman dan peringatan bagi mereka yang durhaka. Firman Allah:

فَإِنَّمَا يَسَّرْنَاهُ بِلِسَانِكَ لِتُبَشِّرَ بِهِ الْمُتَّقِينَ وَتُنْذِرَ بِهِ قَوْمًا لُدًّا

Artinya: Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an itu untuk dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembisa dengan Al Qur’an itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang. (QS. Maryam/19: 97)

 

Hadits-hadits Nabi banyak menceriterakan tentang kemudahan aplikatif ajaran Al Qur’an ini. Misalnya:

Dalam sebuah hadits disebutkan ::

عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا بَعَثَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِهِ فِي بَعْضِ أَمْرِهِ , قَالَ : بَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا وَيَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Musa bahwa dia berkata : “Jika mengutus salah seorang sahabatnya, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Berikan kabar gembira, jangan kamu takut-takut. permudahlah, jangan kamu persulit, (HR Muslim, Abu Dawud dan Ahmad)

 

Kemudahan Al Qur’an ini hanya dapat dirasakan oleh kaum mu’minin yang mau melakukan pengamatan, renungan, dan pemahaman, hingga menjadi pengamalan. Sedang bagi orang yang buta mata hatinya, kemudahan Al Qur’an ini tidak banyak memberikan pengaruh. Karena bagi orang yang buta mata hatinya, tidak ada beda baginya cahaya atau kegelapan. Semuanya tidak terlihat, kecuali hitam dan gelap.

Maka jika seseorang ber-tahkim (memutuskan hukum) dengan ayat-ayat Allah itu, sesungguhnya ia bertahkim kepada syari’ah (hukum) yang jelas dan terjamin. Fihak yang benar tidak akan ketakutan dengan haknya, tidak ada pengkaburan kebenaran dengan kebatilan, halal dan haram, dan fihak yang kalah tidak merasa dizalimi sesamanya.

Kehendak Allah dalam mengantarkan seseorang menjadi benar atau sesat adalah kehendak mutlak yang tidak dapat terbantahkan. Firman Allah:

وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Artinya: Dan Allah memimpin siapa saja yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS. An Nur/24 46)

 

Hanya saja, Allah telah membuat jalan khusus bagi kebenaran. Barang siapa mengarahkan dirinya melewati jalan itu maka ia akan menemukan hidayah Allah. Dan barang siapa menghindar dari jalan itu, maka ia kehilangan nur Ilahi, dan akan menemukan jalan yang menyesatkan. Sesuai dengan kehendak Allah dalam kebenaran dan kesesatan.

[1] Majma’ Al Lughah Al Arabiyah, Al Mu’jam al Washith, ( Istanbul, Turki: Al Makatabah Al Islamiyah, 1972) Cet. II, Juz II h. 962.

 

[2] Al Alusi, Al Bahrul-Muhith fi at Tafsir, op cit, Juz VIII, h. 43

[3] Mahmud, Abdul Halim, Sil silah Tarbiyah Al Islamiyah fi Al Qur’an,, ( Kairo: Mathabi’ Dar ath Thiba’ah wa an Nasyr, 1994) Cet. I. H. 213

[4] Ibnu Taimiyah. Majmu’ fatawa, op cit, Juz XV h. 283

[5] Asy Syaukani, Fat-hul Qadir, op cit, Jilid IV h. 37

[6] Ibnu Taimiyah, Majmu’ fatawa, op cit. Juz XV h. 283

[7] Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al Adhim, op cit, Jilid III h. 396

[8] ibid,

[9] Ar Razi, Tafsir Al Kabir atau Mafatihul-Ghaib op cit, Jilid XII, Juz XXIV h. 9

[10]Al Jazairi, Abu Bakar Jabir, Aqidatul-Mu’min, (Beirut:. Dar El Fikr, T. th) h. 236-237

[11] Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al Adhim, op cit, Jilid III, h. 252

[12] Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al Adhim, op cit, Jilid I h. 584-585


4 Tanggapan to “PELAJARAN KEDELAPAN (SURAT AN NUR AYAT 35 – 45)”

  1. Asep Kadarisman said

    Bismillah,
    Jazakallahu khairan katsiro dengan artikel yang bapak publikasikan menambah saya pengetahuan dan iman kepada Allah SWT, untuk itu karena saya juga menyertakan diri bagian dari amar maruf nahi munkar walaupun bukan lulusan dari pesantren atau pendidikan agama namun hati selalu terpaut menyampaikan syiar Islam. Oleh karena itu mohon kiranya Bapak dapat mengirimkan artikel-artikel Islam dan khutbah Jum’ah kepada saya. Pada saat ini saya sedang bertugas di Aljazair tepatnya di Propinsi Oran dan setiap Jum’at memberikan khutbah Jum’at kepada karyawan Indonesia (lebih dari 200 orang). Atas perhatianya diucapkan terimakasih.
    Wassalam,
    Asep

  2. syahrudin Biboen said

    Jazakallahu khair, Alhamdulillah bisa dimanfaatkan dimana saja. Mhn izin utk dikopi bagian2 yg kita buka.
    wassalm
    syahruddin.

  3. Administrator said

    Silahkan

  4. […] https://imamuna.wordpress.com/2008/11/21/pelajaran-kedelapan-surat-an-nur-ayat-35-45/ […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: