Samudra Ilmu Agama Islam

Islam Rahmatan Lil 'Alamin

PELAJARAN KETIGA

Posted by Administrator pada 19 November 2008

HUKUM PERTAMA

PERZINAAN MENODAI KEHORMATAN

 Seorang mu’min adalah orang yang terhormat karena pengaruh cahaya Allah yang terpancar dalam kekuatan imannya. Kehormatan diri yang dilindungi agama ini akan hilang ketika seorang mu’min melakukan perbuatan yang menodai imannya.

zina adalah salah satu bentuk perbuatan keji yang sangat mencemarkan. Firman Allah:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Artinya: Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu perbuatan yang keji. Dan jalan yang buruk. (QS. Al Isra’/17: 32)

 Seluruh agama mengutuk perzinaan dan tidak ada satupun agama yang melegalisasinya. Dari itulah hukuman zina menjadi salah satu bentuk hukuman yang berat di dunia maupun di akhirat. Firman Allah:

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (2) الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ (3)

Artinya: Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah. Jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.

        

Penegakan hukum kepada setiap pelanggar syari’ah Allah,  adalah salah satu bentuk pengabdian yang bernilai ibadah, karena hukuman zina adalah bagian dari syari’ah Islam. Firman Allah:

إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ

 

Artinya:  Jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat. (QS. An Nur/24:2)

 

Prinsip ini mengharuskan penegakan hukum kepada siapapun tanpa pandang bulu. Karena hukum yang diskriminatif akan membawa kehancuran umat, seperti yang pernah dialami umat-umat terdahulu.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا , أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الْمَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ فَقَالُوا : وَمَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالُوا: وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ حِبُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ , فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ ؟ ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ , ثُمَّ قَالَ : إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ , وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ , وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

Artinya: Diriwayatkan dari Aisyah radliallaahu ‘anha bahwa Suku Quraisy dirisaukan dengan salah seorang wanita dari Bani Makhzum yang mencuri. Mereka berkata : “Tidak ada orang yang berani berbicara tentangnya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasalam selain Usamah, kekasih Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasalam. Maka Usamah berbicara dengannya. Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasalam berkata :   “Apakah kamu hendak memberikan syafa’at (pertolongan/ penangguhan)  pada pelanggar salah satu hokum had (hukum yang telah ditetapkan oleh Allah kwantitasnya)  Allah? Lalu Nabi berdiri dan berkhutbah :”Wahai manusia, Sesungguhnya yang telah membinasakan umat sebelum kamu adalah jika ada orang terhormat diantara mereka yang mencuri, mereka tidak menegakkan hokum terhadapnya, sedang jika orang lemah yang mencuri, maka mereka menegakkan hokum atasnya. Demi Allah, jika Fathimah binti Muhammad mencuri, maka aku akan memotong tangannya.. (Hadits Muttafaq alaih)

 

a.      Hukuman Zina

1.      Penyekapan

Pada masa awal kedatangan Islam, hukuman zina adalah penyekapan di rumah dan celaan dengan kata-kata bagi wanita, dan celaan kata-kata saja bagi laki-laki. Firman Allah: 

وَاللَّاتِي يَأْتِينَ الْفَاحِشَةَ مِنْ نِسَائِكُمْ فَاسْتَشْهِدُوا عَلَيْهِنَّ أَرْبَعَةً مِنْكُمْ فَإِنْ شَهِدُوا فَأَمْسِكُوهُنَّ فِي الْبُيُوتِ حَتَّى يَتَوَفَّاهُنَّ الْمَوْتُ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلًا

Artinya: Dan (terhadap) wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi kesaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya. (QS. An Nisa/4: 15)

 

 

2.      Cambukan/dera seratus kali

Kemudian Allah turunkan hukuman perbuatan zina itu dalam surah An Nur. Ayat dua dan tiga surah An Nur inilah as sabil (jalan) yang disebutkan pada surah An Nisa itu.[1] 

Hukuman cambuk/dera seratus kali diberlakukan kepada pezina ghairu muhshan yaitu: seorang muslim, baligh, berakal dan bukan budak yang melakukan perzinaan, dan belum pernah menikah baik laki-laki maupun perempuan. Seperti yang disebutkan dalam firman Allah:

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ

Artinya: Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, (QS. An Nur/24:2)

 

3.      Rajam sampai mati

Rajam berarti melempari pelaku dengan batu sampai mati,[2] diberlakukan bagi pezina muhshan yaitu orang yang sudah pernah pernah berhubunan seksual dengan pernikahan yang sah, merdeka (bukan budak), baligh dan berakal. [3] 

Jika hukuman cambuk ditetapkan dalam Al Qur’an, maka hukum rajam ditetapkan dalam Sunnah Nabi, antara lain:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ , إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ : النَّفْسُ بِالنَّفْسِ , وَالثَّيِّبُ الزَّانِي , وَالْمَارِقُ مِنْ الدِّينِ التَّارِكُ لِلْجَمَاعَةِ

 

 

Artinya: Diriwqayatkan dari Abdullah bahwa dia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa Tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah Rasul Allah, kecuali dengan salah satu dari tiga hal berikut ini, yaitu: orang yang menghilangkan nyawa orang lain, orang yang sudah pernah menikah berbuat zina, dan orang yang meninggalkan agama memisahkan diri dari jama’ah (Islam). (H.R. Al Bukhari dan Muslim)

 

Dalam hadits lain disebutkan :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَزَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُمَا قَالَا  : إِنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَعْرَابِ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ , أَنْشُدُكَ اللَّهَ إِلَّا قَضَيْتَ لِي بِكِتَابِ اللَّهِ , فَقَالَ الْخَصْمُ الْآخَرُ : وَهُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ : نَعَمْ , فَاقْضِ بَيْنَنَا بِكِتَابِ اللَّهِ وَأْذَنْ لِي , فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : قُلْ , قَالَ : إِنَّ ابْنِي كَانَ عَسِيفًا عَلَى هَذَا , فَزَنَى بِامْرَأَتِهِ , وَإِنِّي أُخْبِرْتُ أَنَّ عَلَى ابْنِي الرَّجْمَ , فَافْتَدَيْتُ مِنْهُ بِمِائَةِ شَاةٍ وَوَلِيدَةٍ , فَسَأَلْتُ أَهْلَ الْعِلْمِ فَأَخْبَرُونِي أَنَّمَا عَلَى ابْنِي جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيبُ عَامٍ , وَأَنَّ عَلَى امْرَأَةِ هَذَا الرَّجْمَ , فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ , لَأَقْضِيَنَّ بَيْنَكُمَا بِكِتَابِ اللَّهِ , الْوَلِيدَةُ وَالْغَنَمُ رَدٌّ,  وَعَلَى ابْنِكَ جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيبُ عَامٍ , اغْدُ يَا أُنَيْسُ إِلَى امْرَأَةِ هَذَا , فَإِنْ اعْتَرَفَتْ فَارْجُمْهَا : قَالَ فَغَدَا عَلَيْهَا فَاعْتَرَفَتْ , فَأَمَرَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرُجِمَتْ

Abu Hurairah dan Khalid Al Juhani berkata : “Ada seorang A’rab (dari badwi  menemui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: Ya Rasulullah saya meminta kepada Engkau dengan nama Allah agar Engkau memutuskan untuk kami dengan Kitab Allah. Temannya yang lebih faqih (pandai) berkata : “Betul ! putuskan urusan kami dengan Kitabullah dan izinkan kami berbicara.” Rasulullah mempersilahkannya : ”Silahkan”. Orang itu berkata: “Anakku ini bekerja di rumahnya, lalu berzina dengan isterinya. Dan saya diberitahu bahwa anak saya wajib dirajam, lalu saya tebus dengan seratus kambing dan seorang budak perempuan. Kemudian ketika saya bertanya kepada ahlul-ilmi (ulama), ia katakan bahwa anak saya wajib dikenakan hukuman cambuk seratus kali dan diasingkan setahun, sedang bagi wanita itu rajam. Rasulullah bersabda:“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh aku akan memutuskan persoalan kamu berdua dengan Kitabullah. Seratus kambing dan budak perempuan dikembalikan kepadamu. Dan anakmu harus dicambuk seratus kali dan diasingkan selama satu tahun. Dan pergilah kamu, wahai Unais, tanyakan pada wanita itu, jika mengakui maka rajamlah. Dia (rawi hadits ini) berkata : “Maka keesokan harinya Unais berangkat menemui wanita itu, dan dia mengaku. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk rirajam. (Hadits Muttafaq alaih)

 

Kisah Ma’iz yang diriwayatkan dalam beberapa versi, semakin menegaskan keberadaan hukum rajam. Dalam kisah itu Ma’is mengaku berzina lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk dilakukan rajam atas diri Ma’iz[4].

Begitu juga kisah wanita Al Ghamidiyah yang mengaku telah berbuat zina lalu Rasulullah memerintahkannya untuk dirajam, setelah ia melahirkan dan menyusui anaknya selama dua tahun. [5]

 

4.      Hukuman Moral

Zina. adalah salah satu bentuk fisq (durhaka) yang sangat berat. Siapapun yang melakukan itu akan dicatat sebagai orang fasiq, dan ternoda kehormatannya.

Hukuman lain yang diberikan kepada pezina ghairu muhshan adalah pengasingan selama satu tahun,[6] dan tidak menikah kecuali dengan sesama pezina atau orang musyrik[7].

Sababun nuzul (sebab turunnya) ayat ke 3 surah An Nur ini semakin mempertegas larangan pernikahan orang yang berzina dengan orang yang bersih.

Ada beberapa riwayat yang menerangkan asbab turunnya ayat ini, yaitu :

 

1.      Riwayat An Nasa’i

Dari Abdullah ibnu Umar berkata: Ummu Mahzul seorang wanita pezina akan dikawini oleh seorang Sahabat Nabi, maka turunlah ayat ini.[8]

 

2.      Riwayat Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’iy dan Al Hakim.

Dari Amru Ibn Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya. Ada seorang yang bernama Murtsid mengangkut barang dagangannya dari Anbar ke Makkah untuk dijual di sana.

Ia bertemu dengan kawan lamanya seorang wanita bernama ‘Anaq. Murtsid meminta izin kepada Nabi untuk menikahi wanita itu. Akan tetapi Nabi tidak menjawabnya. Sehingga turunlah ayat ini.

Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hai Murtsid, seorang pezina tidak akan mengawini kecuali pezina pula. Oleh karena itu janganlah engkau mengawininya”[9]

 

3. Dalam riwayat lain.

Ayat ini turun berkaitan dengan Ahlus-suffah, yang pada umumnya hidup miskin tanpa keluarga, tinggal di masjid di waktu malam, dan siang harinya mereka mencari pekerjaan. Ada sebagian dari mereka yang ingin menikahi wanita pezina, untuk dapat tinggal di rumahnya dan menikmati makanannya. Maka turunlah ayat ini.

Orang yang berzina sesungguhnya adalah orang yang jiwanya sedang jauh dari nilai iman. Seorang mu’min yang berjiwa bersih tidak akan dapat manjalin hubungan ruhiyah (batin) dalam ikatan pernikahan dengan orang yang jauh dari nilai iman. Sehingga Imam Ahmad bin Hanbal melarang pernikahan antara pezina dengan orang yang bersih, kecuali jika pezina itu bertaubat dengan sesungguhnya sehingga ia bersih dari noda zina itu. [10]

 

b.      Penetapan Kasus Perzinaan

Kasus perzinaan dapat diteruskan sampai pada pemberian hukuman jika telah ditetapkan dengan salah satu dari tiga cara berikut ini, yaitu : [11]

1.      Pengakuan pelaku. Cara inilah yang  terjadi pada masa awal-awal Islam. Seperti pengakuan wanita Ghamidiyah, dan  Ma’iz.

2.      Kesaksian empat orang saksi laki-laki, merdeka, muslim, yang menyaksikan langsung terjadinya perzinaan dengan mata kepala sendiri, tanpa alat bantu, sebagaimana ia menyaksikan matahari di siang hari yang cerah. Cara kedua ini sangat langka. Karena sulitnya syarat yang harus dipenuhi.

3.      Kehamilan seorang wanita tanpa ada suami yang dikenali lingkungannya.  

c.       Pembelajaran Akhlaq 

Dalam pelaksanaan hukuman zina terdapat pembelajaran akhlaq yang sangat penting, yaitu :

1.      Obyektif dalam berkasih sayang. Al Qur’an melarang berbelas kasihan kepada pelaku tindakan keji dan munkar. Firman Allah:

وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ

 

Artinya: Dan janganlah berbelas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk menjalankan agama Allah, jika kamu orang beriman kepada Allah dan hari akhirat. (QS An Nur/24:2)

 

Islam mengembangkan cinta obyektif berdasar kepada al haq (kebenaran) dan menolak kemunkaran.

Kasih sayang yang salah ini telah banyak menjerumuskan orang ke dalam perbuatan dayyatsah (tidak memiliki rasa cemburu) terhadap kehormatan keluarganya. Perbuatan dayyatsah ini menghalangi seseorang dari surga. Sabda Nabi :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « ثَلاَثَةٌ لاَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ ، وَثَلاَثَةٌ لاَ يَنْظُرُ اللهُ إلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ : فَأمَّا الثَّلاَثَةُ الَّذِيْنَ لاَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ : فاَلْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ ، وَالدَّيُّوْثُ ، وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ تَشَبَّهَ بِالرِّجَالِ ، وَأمَّا الثَّلاَثَةُ الَّذِيْنَ لاَ يَنْظُرُ اللهُ إلَيْهِمْ : فَالْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ ، َوالْمُدْمِنُ الْخَمْرِ ، وَالْمَنَّانُ بِمَا أَعْطَى »

 

Artinya: Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa dia berkata : “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ada tiga orang yang tidak akan masuk surga dan ada tiga orang yang tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat. Adapun tiga orang yang tidak akan masuk surga adalah🙂 orang yang durhaka kepada kedua ibu bapaknya, dayyuts ,yaitu orang yang tidak memiliki kecemburuan (ketika melihat istrinya serong), dan wanita yang berusaha menyerupai laki-laki. Dan adapun tiga orang yang tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat adalah : orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, pecandu narkoba dan orang yang selalu menyebut-nyebut apa yang dia berikan kepada orang lain. (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak, Ath Thabrani dalam Al Mu’jam Al Ausath, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, Abu Ya’la dalam Musnadnya dan Abu Nu’aim di dalam Kitab Ma’rifatush Shohabah)

 

2.      Bersungguh-sungguh dalam penegakan ajaran Allah. Firman Allah:

وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya: dan hendaklah hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang yang beriman. (QS. An Nur/24: 2)

 

Kesaksian kaum muslimin dalam pelaksanaan hukuman akan manunjukkan kesungguhan dalam penegakan hukum.                              

3.      Membikin jera dengan hukuman fisik. Sesuai dengan sebutan yang tercantum dalam Al Qur’an yang menggunakan kata “adzab”. Dengan hukuman yang menyakitkan itu, dapat menjadi pencegah bagi pelaku zina agar tidak mengulang di kemudian hari.

4.      Aspek tarbiyah lain dari pelaksanaan hukuman zina ini adalah; Perbedaan hukuman dalam perbuatan yang sama karena perbedaan status pelaku. Kepada pezina ghairu muhshan (yang belum pernah menikah) diberikan peluang perbaikan. Sedang kepada pezina muhshan (yang sudah pernah menikah dengan pernikahan yang sah) tidak tersedia lagi peluang perbaikan.

5.      Perzinaan adalah bagaikan penyakit menular dan pernikahan adalah solusi akhir dari persoalan seksual. Maka ketika pernikahan itu tidak lagi dapat efektif membina kepribadian seseorang maka orang itu sudah tidak berpeluang lagi untuk dibina, dan harus dimusnahkan agar tidak menjalar ke bagian masyarakat lainnya, sebagaimana keputusan dokter untuk melakukan amputasi terhadap salah satu organ tubuh pasien ketika disimpulkan penyakit itu sangat membahayakan diri pasien karena akan menyebar ke bagian tubuh lainnya.

[1] Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al Azhim, op cit, Jilid I  h. 614

[2] Al Maraghi, op cit, Juz XVIII h. 68.

 

[3] Az Zamakhsyari, Al Kasysyaf, op cit, Juz III h. 47. Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al Azhim, op cit,  Jilid III h. 348, As Shan’ani, Subulussalam, op cit, Juz IV h. 10

[4] Abdul Baqi, Al Lu’lu’ wa Al Marjan, op cit,  Jiuz II h. 495. Al Asqalani, Bulughul Maram, op cit, h. 366 

[5] Al Asqalani Bulughul Maram,  op cit, h. 367

[6] Pengasingan pelaku zina dari tempat asalnya selama satu tahun menjadi perdebatan ulama, antara yang mengiyakan dan menjadikannya sebagai satu paket hukuman dengan cambuk seratus  kali dan yang menganggapnya tidak satu paket dengan cambukan seratus kali, tetapi diserahkan kepada imam untuk menetukan apa yang terbaik bagi pelaku zina itu. Ulama Hanafiyah tidak menjadikan pengasingan sebagai bagian dari hukuman zina, sedangkan ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah menjadikan pengasingan sejauh batas qashar shalat sebagai satu paket hukuman dengan cambuk seratus kali. Dan untuk wanita pezina harus disertai suami atau mahramnya. Sedangkan ulama Malikiyah menetapkan pengasingan itu hanya untuk laki-laki,sedang wanita tidak di asingkan, karena dikhawatirkan akan terjadinya perbuatan yang lebih parah lagi. Lihat Az Zuhaili,Wahbah, Al Fiqh Al Islami wa Adilatuh, (Beirut: Darul Fikr, 1989), Jilid VI h. 38-39.  

[7] Al Qurthubi, Al Jami’ li Ahkamil-Qur’an, (Beirut, Dar Ihya Turats Al Arabi, 1966) Juz XII, hal  167-169, melihat terjadinya perbedaan pendapat ulama dalam masalah ini, antara yang memperbolekan terjadinya pernikahan antara pezina dengan bukan pezina atau pezina hanya bisa menikah dengan sesama pezina. Penulis melihat bahwa celaan terhadap perzinaan itu terus terjadi. Dan sebagai hukuman moral maka realitas pernikahan yang selalu menjadikan keserasian dan kesepadanan menjadi salah satu bagian dari kelangsungan pernikahan maka persamaan realitas sesama pezina menjadi salah satu konsekwensi moral yang realistis, sebagai salah satu bentuk hukuman perzinaan. 

[8] As Suyuthi, Lubabun-Nuqul, Hamis Tafsir Jalalain, (Bandung: PT Al Ma’arif, T th) Juz II h. 7. Asy Syaukani,  op cit, Jilid IV h. 6. Al Qurthubi,  op cit,  Juz XII h. 168. Ibn Al Arabi,Abu Bakar Muhammad bin Abdullah,  Ahkamul Qur’an, (Beirut: Dar El Fikr, 1988) Cet. I Qism III, h. 336, As Shabuni, Rawa’I’ul-Bayan, (Beirut: Dar El Fikr, T th) Juz II, h. 12, Ibnu Katsir, op cit, jilid III h. 352

[9] ibid.

[10] Quthb,Sayyid, Fi Zhilalil-Qur’an,  (Jeddah, Syarikah Darul-ilmi, 1986) Jilid IV h. 2488

 

[11] Az Zuhaili, Wahbah, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuh, ( Beirut: Dar El Fikr, 1989) Cet. III, Jilid VI h. 46. Sabiq, Sayyid Fiqh Sunnah, (Jeddah, Maktabah Al Haditsah, T th), Juz II hal. 563


3 Tanggapan to “PELAJARAN KETIGA”

  1. wawan said

    mohon penjelasan tentang subyek pendidikan menurut al quran bagaimana

  2. fazrul Akhlani said

    ustad sy mohon ijin kopi karena banyak pertanyaan dan kejadian dan solusi yg diberi oleh islam dalam hal perzinahan. Jazakallah

  3. fauzi said

    Monggo silahkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: