Samudra Ilmu Agama Islam

Islam Rahmatan Lil 'Alamin

PELAJARAN KEEMPAT (TAFSIR SURAT AN NUR)

Posted by Administrator pada 19 November 2008

HUKUM KEDUA

TUDUHAN ZINA MENGGONCANG SENDI KELUARGA

a. Pernikahan sebagai sebuah Perisai

Wanita yang sudah menikah sering disebut “Al Muhshanat.” bentuk jama’ dari kata muhshan, yang berasal dari kata “tahashshun” yang berarti tamannu’ “ perlindungan/pencegahan. Dari itulah kuda disebut “ hishan” karena dapat mencegah dan melindungi pengendaranya dari serangan. Sedang kata “hashan” digunakan untuk menyebut al ‘afifah (wanita yang bersih), yang menjaga diri, sering digunakakan untuk menunjukkan al mutazawijat (wanita yang sudah bersuami). Makna yang lain yang ditunjukkan dengan kata “hashan” adalah al hurrah (wanita merdeka).[1]

 

b. Dampak Tuduhan bagi Keutuhan Keluarga

Membiarkan orang bebas melakukan tuduhan kepada wanita muhshanat tanpa ada bukti yang kuat, sama halnya membuka peluang yang seluas-luasnya bagi runtuhnya bangunan keluarga.

Tidak ada seorangpun yang merasa aman bahwa kehormatannya tidak ternoda, namanya tidak tercemar. Setiap orang dapat dengan mudah dituduh menyeleweng atau tersangka berselingkuh. Seorang suami meragukan kesucian isterinya dan seorang suami diragukan kejujurannya. Rumah tangga terancam kebinasaan dan kehancuran. Sebuah keadaan yang meresahkan. Hidup dalam keraguan yang luar biasa.

Terdengarnya berita perselingkuhan sampai ke telinga orang yang masih bersih akan memotivasi orang yang semula risih melakukan tindakan keji menjadi berani mencoba, dan seterusnya menjadi pecandu, karena yang terbayang di benaknya adalah sudah sedemikian banyak orang yang melakukannya, sehingga dirasa menjadi sesuatu yang aghlab (lumrah/umum) karena rumor dan berita perselingkuhan yang banyak terdengar.

Perbuatan yang dianggap tabu oleh masyarakat sering kali menjadi tidak tabu karena dilakukan oleh banyak orang, apalagi ketika penegakan hukum juga sangat lemah. Seperti yang terlihat dalam pelanggaran-pelanggaran hukum di masyarakat. Sebut saja melanggar lampu lalu lintas, akan terasa sebagai sebuah pelanggaran jika dilakukan sendirian, tetapi ketika pelanggaran itu dilakukan oleh sejumlah komunitas besar, sering kali mereka tidak merasa ada pelanggaran hukum, dsb.

 

c. Hukuman Tuduhan Berzina tanpa Bukti

Dalam menjaga keutuhan dan kehormatan keluarga, Al Qur’an dengan tegas memberlakukan hukuman cambuk bagi orang yang menuduh orang lain berzina dan tidak mampu menghadirkan empat orang saksi. Firman Allah:

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Artinya: Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. An Nur/24: 4)

 

Said ibnu Jubair berkata: “Ayat ini turun berkaitan dengan orang-orang yang melakukan tuduhan terhadap diri Aisyah ra.” Sedangkan ulama lainnya mengatakan bahwa ini ayat ini sebab turunnya adalah tuduhan qadzaf secara umum, bukan hanya pada peristiwa Aisyah saja.[2]

 

Hukuman itu ialah :

1. Cambukan/dera delapan puluh kali, sebagai hukuman fisik.

2. Tidak diterima lagi syahadah (kesaksiannya), sebagai hukuman sosial. Sehingga segala perkataan yang keluar darinya tidak lagi didengar oleh masyarakat di sekelilingnya.

3. Diberikan label Fasiq (mu’min yang menyimpang), sebagai hukuman keagamaan karena ia telah keluar dari jalan yang lurus.

Hukuman kedua dan ketiga itu akan terus mejadi label sepanjang hayatnya, selama ia tidak bertaubat. Firman Allah

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An Nur/24: 5)

 

Taubat orang yang telah melakukan tuduhan tanpa bukti yang kuat itu tidak akan mempengaruhi hukuman cambuknya, artinya biarpun ia bertaubat tetap juga dicambuk, meskipun dapat menghilangkan label fasiq-nya.

Dan yang menjadi perbedaan Ulama adalah pengaruh taubat terhadap syahadah (kesaksian) nya. Apakah setelah bertaubat kesaksiannya bisa diterima atau tidak. [3]

Imam Malik, Ahmad dan As Syafii, berpendapat bahwa kesaksiannya diterima jika ia bertaubat. Tetapi Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa kesaksiannya tidak bisa diterima, walaupun ia bertaubat. [4]

As Sya’bi dan Adh Dhahhak mengatakan bahwa orang yang berbuat demikian tidak akan diterima kesaksiannya, walaupun ia bertaubat kecuali jika ia mengakui bahwa yang dituduhkan dahulu itu palsu dan dusta, maka setelah itu ia diterima kesaksiannya. [5]

 

[1] As Syaukani, Fathul Qadir, op cit, Jilid I h. 448

[2] Al Qurthubi, op cit, Juz XII. h. 172.

[3] Al Qurthubi, Al Jami’ li Ahkam Al Qur’an, op, cit. Juz XII hal 179

[4] Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al Adhim, op, cit, Jilid III hal 354

[5] ibid


2 Tanggapan to “PELAJARAN KEEMPAT (TAFSIR SURAT AN NUR)”

  1. fazrul Akhlani said

    jazakallah ustad saya mohon ijin mengkopi untuk di sampaikan ke adik-adik mahasiswi

  2. wafiq said

    Assalamu’alaikum.Salam kenal. Bos muhun bila berkenan kirimi saya file tafsir-tafsir alqur’an utamanya tafsir Ibnu Katsir legkap 30 juz agar saya bisa segera membaca dan mempelajarinya karna saya kesulitan mendownload file2 tersebut. Atas bantuannya diucapkan Jazakumullohu Ahsanal Jazaa.Wassalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: