Samudra Ilmu Agama Islam

Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Cincin dari perak untuk laki-laki boleh ?

Posted by Administrator pada 12 Maret 2009

Sehubungan dengan adanya beberapa komentar tentang hukum memakai cincin dari perak untuk laki-laki, maka di sini saya perlu untuk kembali menulis tentang masalah ini.

Benar apa yang dikatakan oleh Mas Robin bahwa diperbolehkan bagi laki-laki untuk memakai cincin yang terbuat dari perak, sekalipun emas dan perak adalah sama-sama perhiasan.

Semalam saya sempat berdiskusi kembali dengan beberapa kawan dan kembali membuka-buka refensi, terutama kitab-kitab hadits, dan terlebih lagi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dan ternyata kesimpulan yang terjadi adalah seperti di atas.P

Pada mulanya jawaban itu hanya saya dasarkan kepada ingatan saya belaka, tanpa merujuk kepada suatu kitab tertentu sebagaimana kebiasaan saya, karena minimnya waktu untuk nulis di blog ini.  Setelah ada waktu sedikit senggang saya kembali buka-buka referensi dan mendapatkan kesimpulan yang terbaik dengan tulisan yang sudah saya postingkan sebelumnya. Dan tulisan ini sekaligus meralat tulisan saya sebelumnya. Posting tersebut tidak saya hapus agar saya sendiri selalu mengingat bahwa saya pernah salah dalam menulis dan menjawab agar saya menjadi lebih hati-hati di masa yang akan datang. Semoga Allah mema’afkan kesalahan saya.

Ada banyak hadits yang menunjukkan kebolehan bagi orang laki-laki untuk memakai cincin dari perak. Diantaranya sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Umar yang terjemahannya demikian :

rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam membuat cincin yang terbuat dari emas dan mengukir kata “Muhammadrasulullah padanya. Kemudian para sahabat mengikutinya. Ketika beliau melihat para sahabatnya mengikutinya, maka beliau melemparkannya dan berkata : “Demi Allah aku tidak akan memakainya sama sekali”. Kemudian beliau membuat cincin dari perak dan para sahabat juga membuat cincin dari perak”. Kemudian Ibnu Umar : “Kemudian setelah rasulullah meninggal, maka cincin itu dipakai oleh Abu Baka, Umar dan utsman, sampai pada suatu saat jatuh darinya di Sumur Aris”. (HR Bukhari, V/2202 no. 5528)

Hadits ini jelas menunjukkan kebolehan memakai cincin dari perak.

Tetapi ada juga hadits yang diriwayatkan oleh juga Imam Bukhari dari Anas seperti yang disebutkan oleh Mas Robin bahwa Anas pada satu hari melihat Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam memakai cincin dari perak. Kemudian para sahabat membuat cincin yang terbuat dari perak dan memakainya. Maka rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam membuang cincinnya dan para sahabat juga membuang cincin mereka (HR Bukhari, V/2203, no. 5530)

Menanggapi dua buah hadits yang dhahirnya bertentangan itu, para ulama memiliki pandapat yang bermacam-macam. Ibnu hajar dalam syarah Bukhari menyebutkan paling tidak ada tiga buah pendapat :

  1. bahwa Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam membuat cincin dengan warna tertentu, karena beliau tidak ingin orang lain menirunya. Ketika para sahabat menirunya, maka beliau membuangnya. Nah, ketika beliau menginginkan untuk membuat cincin yang akan digunakan sebagai stempel surat yang beliau kirimkan kepada raja-raja atau negara yang lain, maka beliau membuat cincin dari perak dan memakainya.
  2. bahwa Rasulullah memakai cincin emas itu untuk perhiasan dan kemudian diikuti oleh para sahabat yang lainnya. Kemudian karena akhirnya emas diharamkan, maka beliau membuangnya. Dan kemudian karena kebutuhan untuk membuat stempel, maka beliau membuat setempel yang terbuat dari perak dan tidak untuk dipakai di tangan.
  3. pendapat yang ketiga mentarjih hadits yang pertama yang menjelaskan bahwa boleh bagi laki-laki untuk memakai cincin dari perak. Dan mereka menyatakan bahwa haidits dari Anas itu diriwayatkan oleh Imam Az Zuhri dan ini merupakan kesalahan dari dia, Az Zuhri itukarena riwayatnya berbeda dengan riwayat-riwayat yang masyhur yang lainnya.

Kemudian Ibnu hajar menyebutkan pendapat yang keempat, yaitu bahwa pada mulanya Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam membuat cincin dari emas untuk poerhiasan kemudian diikuti oleh para sahabat. Kemudian cincin dari emas diharamkan dipakai oleh laki-laki, karena itu beliau melemparnya dan mengatakan saya tidak akan memakainya selamanaya. Kemudian beliau mengambil cincin dari perak dengan mengukir namanya yang mulia pada cincin itu, untuk tujuan sebagai stempel. Kemudian hal ini juga diikuti oleh para sahabat yang lain. Akhirnya rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam lagi memiliki setempel khsusus, karena para sahabat juga memiliki stempel yang sama. Karena itulah beliau membuangnya, seperti yang disebutkan oleh Hadits Anas. Kemudian ketika para sahabat membuang cincin-cincin perak mereka, dan kebutuhan Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam terhadap masih ada, maka beliau mengambil kembali cincin perak itu dan menggunakannya sebagai setempel.

Nah kesimpulan dari jumhur ulama adalah mereka lebih cenderung menyatakan bahwa hadits Ibnu Umar lebih masyhur dari pada hadits Anas dan mereka lebih cenderung mentakwikan hadits Anas atau menyalahkan Az Zuhri sebagai perawi dari Anas. Inilah yang disepakati oleh hampir seluruh madzhab yang ada.Bahkan di dalam madzhab Syafi’i dengan tegas menyatakan bahwa yang diharamkan adalah memakai cincin dari emas untuk laki-laki.

Saya sendiri lebih condong kepada pendapat ini, yaitu kebolehan memakai cincin perak untuk laki-laki, apalagi perempuan. Tetapi, hadits yang dirtiwayatkan oleh Anas bin Malik itu juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahkan hanya selang satu hadits antara riwayat Ibnu Umar dan riwayat darinya. Kemudian tuduhan kesalahan terhadap Az Zuhri, saya masing kurang begitu memahaminya. Jika tuduhan itu benar, maka hadits yang seperti ini tidak lagi shahih, tetapi hadits yang syadz. Dan hadits yang syadz adalah hadits yang dla’id. Sedangkan Imam bukhari tidak meriwayatkan hadits yang dla’if di dalam kitab Shahihnya. Walaupu masih dimungkinkan untuk ditakwil bahwa hadits yang diriwayatkan oleh Anas adalah bersifat mutlak dan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar adalah menjelaskan dan membatasi kemutlakan hadits Anas itu.

Jadi hukum tertinggi bagi cincin perak adalah boleh, bukan sunnah. Karena makna sunnah adalah dianjurkan dan diberi pahala karena mengerjakannya. Sedangkan di sini ada hadits yang seolah-olah melarangnya.

Tetapi mnurut saya pribadi, permasalahan ini adalah seperti permasalahan memanjangkan rambut kepala. Kalau merujuk kepada yang dilakukan oleh Rasulullah sendiri bahwa rambut beliau adalam sampai bahunya. Jadi rambut beliau adalah panjang, tidak pendek. Tetapi tradidisi beliau adalah memakai surban dan penutup kepala dan menyisir rambutnya dan ketika menunaikan ibadah haji, beliau mencukur habis rambutnya. Ini yang beliau lakukan.

Tetapi lihatlah sekarang, masa sudah berubah. Rambut panjang dan gondrong adalah bukan ciri khas para ulama bahkan sebaliknya.Bahkan ada kesan angker dan serem ketika kita melihat orang yang memanjangkan rambutnya. Nah inilah ciri khas mereka.

Nah, kemudian apakah karena mencontoh rambutnya Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallamsaat ini diperbolehkan ? apalagi disunnahkan ?. Tentu tidak. Lebih baik memendekkan rambut daripada memanjangkan rambut.

Demikian, juga pada cincin. Ada kesan sangar ketika kita melihat seseorang memakai cincin. Bahkan cincin sekarang lebih mengarah kepada simbol dan kekuatan terntentu, apalagi yang berwujud akik. Ketika Rasulullah membuang shallaahu ‘alaihi wasallam membuang cincinnya pada mulanya, karena beliau tidak ingin para sahabatnya ikut-ikutan membuat cincin yang beliau inginkan untuk tujuan tertentu, yaitu untuk setempat. Jadi sekalipun menggunakan cincin perak diperbolehkan untuk laki-laki, tetapi menurut hemat saya, lebih baik tidak memakainya pada saat ini. Inilah kesimpulan saya pribadi, dengan merujuk kepada dua hadits di atas dan keadaan perubahan kemashlahatan yang terjadi.

Kepada Mas Robin, saya sampaikan terima kasih atas koreksinya dan saya tidak tersinggung atas semua kata-katanya, justru inilah yang diharapkan, yaitu forum diskusi untuk kebaikan bersama. Demikian juga mas atau mbak dari serbagratisbuku.wordpress.com. Semoga Allah mengampuni kesalahan saya dan kesalahan kita semua. Amin

About these ads

13 Tanggapan to “Cincin dari perak untuk laki-laki boleh ?”

  1. robin said

    alhamdulilah jika diperbolehkan oleh agama insak Alloh saya akan gunakan cincin perak sebagai pengikat pernikahan (tukar cincin saat menikah kelak)bukan lagi menggunakan cincin emas yang mana orang2 non muslim menggunakannya sebagai pengikat pernikahan(simbol).
    terimakasih banyak atas jawabannya ustad.semogah Alloh menambahkan ilmu kepada kita semua. amin.

  2. Rizalda said

    Ass Wr.Wabarakhatu.

    Pak Ustad saya mau tanya.
    Begini pak : ” Pada saat saya sedang shalat Jumat, di Depan saya 2 baris ke kanan ada jamaah tiba-tiba jatuh terjerembab dan pingsan. selama kurang lebih 2 menit. Tetapi para jamaah tidak ada yang membantu/menolong dia , sampai akhirnya dia tersadar dan langsung pulang tanpa mengakhiri shalat jumatnya. yang saya tanyakan apakah kita berkewajiban menolong dia dahulu disaat seperti itu atau menyelesaikan shalat Jum’atnya dulu. mohon kiranya dapat dijawab ke email saya berhubung saya jarang mengunjungi situs karena pekerjaan di : e-mail : nukhasep@gmail.com .
    Terima kasih pak Ustadz.

  3. Abdullah said

    2. menggunakan cincin adalah sunnah Rasul saw, berpuluh puluh hadits shahih dalam shahih Bukhari, Muslim, Tirmidzi dll menjelaskan hal itu, sebagaimana diriwayatkan bahwa Cincin Rasul saw itu terbuat dari perak, dan Rasul saw memakai cincin di tangan kanannya, dalam riwayat Imam Tirmidzi juga dijelaskan bahwa Cincin itu kemudian dipakai oleh Abubakar Asshiddiq ra, lalu kemudian dipakai Umar ra, lalu ketangan Usman bin Affan ra, lalu terjatuh ke sumur Aris (Assyama?il Imam Tirmidziy hadits no.95)
    Pula riwayat lain bahwa Rasul saw memakai cincin terbuat dari perak di jari kelingking beliau saw (Shahih Muslim hadits no.2095),
    Rasul saw memakai cincin di kelingkingnya (Shahih Bukhari hadits no.5536)
    Rasul saw melarang menggunakan cincin di jari tengah dan telunjuk (Shahih Muslim hadits no.2078),
    berkata Anas ra : ?bahwasanya cincin Rasul saw ditanganku, lalu setelahku dipakai oleh Abubakar, dan setelah dari tangan Abubakar ra pada tangan Umar, lalu pada tangan Usman, dan terjatuh di sumur Aris, hingga tiga hari kami mencarinya dan kami tak menemukannya? (Shahih Bukhari hadits no.5540).

  4. salman said

    asslmkm……… akhi, klu memakai cincin biasa, bukan perak bagaimana hukumnya…….

  5. fauzi said

    memakai cincin selain emas dan perak, tidak diperselisihkan kebutuhannya. hanya saja harap dipertimbangkan faktor kebutuhannya

  6. Chandra said

    Assalamu’alaikum Akhi..memakai cincin yang terbuat dari bahan platina buat pria bagaimana hukumnya?sebab platina lebih mahal dari emas..

  7. fauzi said

    wa’alaikum salam. Kepada Candra secara singkat saya bisa mengatakan bahwa yang diharamkan untuk orang laki-laki adalah memakai perhiasan emas berdasarkan hadits-hadits di atas. Adapun selainnya, maka semua boleh digunakan, walaupun harganya jauh lebih mahal puluhan kali lipat dari harga emas. Sekian dan ma’af atas segala kekurangan

  8. harry said

    assalamu’alaikum,mnurut saya klu ragu lbh baik dtinggalkan sja.lgipula cincin bagi laki2 kurang brmnfaat,drpd buat bli cincin mending di infaq kan bnr gag?.biar prempuan sja yg pke prhiasan.

  9. Nur Sadi said

    setelah membaca artikel ini saya msh ragu akan kebenaran … haram atau tidaknya memakai cincin dr perak …. tolong penjelasannya kembali lebih rinci . thx

  10. Baju Murah said

    barokallohulaka…amin

    link blog ini sudah dimasukkan ke http://blogtoshare.tk/blog/roda-link-tiga, jika berkenan mohon dipasang di sidebar blog ini atau di halaman khusus, link http://www.kedai-muslim.com/ dengan nama Jual Laptop Jogja. makasih.

    tuker link berputar http://www.kedai-muslim.com/ dan http://blogtoshare.tk/ moga manfaat. Kontak via YM: my_yamee.

  11. assalamualaikum
    kalau cincin dari emas putih boleh gak pria memakainya? saya membca dari salah satu blog,disitu disampaikan bahwa emas putih itu sama dengan platina.
    mohon penjelasannya.
    matur nuwun.

  12. Administrator said

    Untuk Hestiningtiyas.
    Jika namanya emas, maka ya sama saja. tetapi jika perbedaan nama itu memang mengacu kepada perbedaan bahan dasarnya, maka keduanya memiliki hukum yang berbeda. Seperti antara emas kuning (perhiasan) dan emas hitam (minyak tanah). Dan setahu saya emas putih adalah emas yang kuning itu dengan dicampur dengan bahan-bahan yang lain seperti perak, palladium dan lain-lain. jadi menurut saya hukumnya sama saja, haram laki-laki memakainya

  13. an'im said

    terima kasih infonya… :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 85 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: