Samudra Ilmu Agama Islam

Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Memakai cincin emas dan perak untuk laki-laki

Posted by Administrator pada 10 Maret 2009

Melanjutkan jawaban dari pertanyaan Mas Robin

Yaitu tentang memakai cincin emas dan sutra bagi laki-laki serta mengumandangkan adzan dengan pengeras suara.

Tidak diragukan lagi dan ini adalah merupakan konsesus (kesepakatan) dari seluruh ulama sejak dahulu sampai sekarang untuk menghamkan laki-laki memakai emas dan perak dan memakai baju sutra. Banyak sekali hadits-hadits yang melarang hal ini, diantaranya adalah :

 

عَنْ أَبِى فَرْوَةَ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُكَيْمٍ قَالَ كُنَّا مَعَ حُذَيْفَةَ بِالْمَدَائِنِ فَاسْتَسْقَى حُذَيْفَةُ فَجَاءَهُ دِهْقَانٌ بِشَرَابٍ فِى إِنَاءٍ مِنْ فِضَّةٍ فَرَمَاهُ بِهِ وَقَالَ إِنِّى أُخْبِرُكُمْ أَنِّى قَدْ أَمَرْتُهُ أَنْ لاَ يَسْقِيَنِى فِيهِ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ تَشْرَبُوا فِى إِنَاءِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلاَ تَلْبَسُوا الدِّيبَاجَ وَالْحَرِيرَ فَإِنَّهُ لَهُمْ فِى الدُّنْيَا وَهُوَ لَكُمْ فِى الآخِرَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ».

Diriwayatkan dari Abu Farwah bahwa dia mendengar Abdullah bin ‘Ukaim berkata : “Kami bersada degan Hudzaifah di Yaman. Kemudian Hudzaifah meminta air minum. Kemudian datanglah seorang ketua petani yang membawa minuman di dalam sebuah bejana yang terbuat dari perak. Maka Hudzaifah melemparnya dan berkata : “Aku memberitahu kalian bahwa aku sudah menyuruhnya untuk tidak memberikan air minuman kepadaku dalam bejana seperti itu. Karena sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah kalian minum dalam bejana yang terbuat dari emas dan perak dan janganlah memakai pakaian yang terbuat dari sutra. Sesungguhnya ia bagi mereka di dunia dan bagi kalian di akhirat”. HR Muslim : VI/136, no. 5515

Hadits dengan tegas menjelaskan sikap Hudzaifah, yaitu salah seorang sahabat yang paling mengetahui tentang orang-orang yan munafik ketika dia disuguhui minuman di dalam bejana yang terbuat dari emas dan perak. Jika minum dalam bejana seperti itu saja tidak diperbolehkan apalagi memakainya pada salah satu anggota tubuh kita. Demikian pula dengan pakaian dari sutra.

Kemudian di bagian akhir hadits itu disebutkan hikmah pengharaman itu, yaitu bahwa perhiasan itu adalah bagi orang non muslim di dunia dan bagi ummat islam nanti di surga.

Ada hikmah yang lain di balik pengharaman itu, diantaranya :

  1. emas dan perak adalah identik dengan perempuan. Dan Islam melarang laki-laki menyerupai perempuan dalam hal-hal yang memang hanya spesifik untuk perempuan saja.
  2. pada masa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan sampai beberapa generasi berikutnya, emas dan perak adalah jenis mata uang yang kita kenal dengan dinar untuk emas dan dirham untuk perak. Nah, bisa dibayangkan jika kaum laki-lakipun memakai emas untuk menghias dirinya, bisa-bisa tidak ada lagi bahan untuk membuat mata uang yang akan memudahkan mereka dalam bertransaksi.
  3. jika emas dan perak adalah jenis mata uang, maka kalau pada zaman sekarang ini sama dengan orang yang memakai uang ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu di tubuhnya. Kebayang nggak bagaimana bentuk orang itu. Terlihat sangat norak dan sangat tidak etis bkan. Karena itulah Islam menyuruh ummatnya agar menjauhkan diri dari perbuatan seperti itu.

Kemudian bagaimana jika emas dan perak itu digunakan sebagai tukar cincin ketika pertunangan ?.

Tukar cincin ketika pertunagan itu sendiri tidak ada yang mengharuskan. Itu hanya sebuah tradisi tanda jadi bahwa kedua belah pihak sudah sepakat untuk melangsungkan pernikahan. Jadi itu hanya sebagai tanda bahwa lamaran sudah diterima dan laki-laki lain sudah tidak boleh lagi meminang perempau tersebut. Sampai di sini  tidak ada masalah. Ini sama dengan orang yang sudah sepakat untuk melaksanakan jual beli dengan suatu panjar tertentu.

Adapun jika kemudian cincin itu dipakai oleh masing-asing pihak dan itu diharuskan untuk dipakai sebagai tanda pertunagan tersebut, maka hukumnya adalah haram untuk yang laki-laki dan halal untuk yang perempuan. Tetapi jika pihak laki-laki itu menyimpan cincin pertungannya di lemarinya atau tasnya atau di mana saja, maka tidak apa-apa, selama tidak dipakai. Bukankah emas adalah uang dan kita diperbolehkan untuk menyimpan uang?.

Kalau dikatakan para ulama tidak beromentar di sini, itu tidak benar. Para ulama lewat medianya masing-masing mengajarkan hal itu. Tetapi kalau kemudian para artis melaksanakan pertunangan seperti itu dan disaksikan oleh orang yang berpakaian seperti kiai, maka itu adalah kiai yang suk (jelek) dan sok (keminter). Padahal dia sebenarnya bukan kiai dan bukan ulama. Dia hanya orang yang pandai tampil menarik ala ulama. Ingat, ulama tidak dilihat dari pakaian taqwanya, tetapi dari perbuatan dan ilmunya. Kadang kita terlalu percaya kepada orang yang bersurban dan berjubah, padahal dia bukan apa-apa, dan ilmunya nol.

Kemudian untuk mahar pernikahan, sebisa mungkin dan sebaiknya adalah berupa harta materi yang dapat dimiliki dan berharga secara fisik, bukan jasa dan bukan barang yang bersifat konsumtif dan cepat saji. Ini karena beberapa hal :

  1. Contoh mahar yang diberikan oleh kepada seluruh istrinya adalah berupa harta. Yaitu sekitar 400 dirham atau setara dengan 40 dinar atau setara dengan 40 ekor kambing yang bagus. Jika 1 ekor kambing harganya 1 juta rupiah, maka mahar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk masing-masing istrinya adalah sekitar 40 juta atau setara dengan rumah tipe 36 di pinggiran kota Sidoarjo. Demikian juga mahar untuk putri-putri beliau. Dan mahar yang seperti itu adalah mahar yang tidak berlebihan.
  2. ketika ada orang laki-laki yang hendak menikah, maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyuruhnya untuk mencari sesuatu harta yang dapat ia berikan kepada istrinya walaupun hanya berupa cincin dari besi. Baru pada waktu ia benar-benar tidak memiliki apa-apa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menikahkan dia dengan ayat-ayat Al Qur’an yang dia hapalkan. Itu maharnya.

Itulah contoh yang diberikan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan itulah yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian sekarang ini ngetrend memberikan mahar kepada wanita yang dinikahi hanya berupa seperangkat ayat salat dan mushhaf Al Qur’an. Saya tidak mengatakan itu tidak boleh, hanya itu adalah kurang menghargai pihak perempuan. Karena apa ?

Mahar adalah harta yang paling halal yang dimiliki oleh pihak perempuan. Karena harta itu diberikan oleh laki-laki kepada calon istrinya dengan penuh kerelaan dan suka cita yang paling tinggi darinya. Bukankah Allah melarang memakan harta milik orang lain kecuali atas dasar suka sama suka,yaitu dengan cara jual beli. Nah mahar itu diberikan oleh calon suami kepada calon istrinya dengan sangat sangat rela. Karena itulah harta mahar adalah harta yang paling halal yang dimiliki oleh wanita.

Nah, jika kemudian harta yang paling halal itu hanya berupa seperangkat alat shalat, maka dimana pemuliaan seorang suami kepada calon istrinya ?. Terlebih lagi jika dipikir bahwa nafkah istri adalah menjadi tanggung jawab suami, termasuk membelikan pakaian yang dapat digunakan oleh istrinya untuk melaksanakan shalat.

Cobalah kita teliti sejarah hidup Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, maka kita akan menemukan mereka memberikan mahar kepada istrinya berupa harta, baik berupa uang atau kebun atau yang lainnya.

Inilah sebagian bukti bahwa Islam itu menghargai kepemilikan pribadi, termasuk kepemilikan perempuan. Jadi Islam telah membuatkan sarana bagi perempuan untuk memiliki harta, diantara salah satunya adalah melalui mahar yang akan dia ambil ketika menikah. Dan harta itu adalah milik perempuan itu dan suami tidak boleh memintanya kembali, kecuali melalui jalur hutang yang harus dikembalikan di kemudian hari. Lalu manfaatnya untuk si perempuan itu apa ?

Jika perempuan itu memiliki harta, maka ketika dia  mensedekahkan harta itu untuk kepentingan sosial, dia sendiri akan mendapatkan pahala. Bukan seperti perempuan sekarang yang hanya mengandalkan harta belanja dari suami. Kemudian jika ada peminta sedekah, dia memberikannya sedekah. Maka dalam kasus ini yang mendapatkan pahala adalah suami, bukan perempuan itu. Karena pada hakekatnya pemilik harta tersebut adalah suami, bukan istri. Istri hanya diberi amanah untuk membelanjakan hartanya untuk kepentingan kehidupan sehari-hari.

Lagi pula Islam mewajibkan zakat kepada siapa saja yang kaya, termasuk kepada perempuan. Jika perempuan tidak memiliki harta, maka bagiaman dia akan mengamalkan ajaran agamanya. Ketika Islam menyuruh perempuan untuk berzakat seperti pada Surat Al Ahzab ayat 33, maka itu maknanya Islam pun menyuruh wanita untuk memiliki harta, termasuk di dalamnya adalah dari mahar itu.

Terlebih lagi jika di kemudian hari terjadi gugatan cerai dari pihak istri yang dalam istilah fiqih disebut khulu’, maka istri harus mengembalikan maharnya kepada suami. Jika maharnya hanya berupa mushhaf atau seperangkan alat shalat, maka apakah itu mungkin dapat dikembalikan ?

Karena itulah saya sering mengajarkan kepada murid-murid saya untuk meminta mahar berupa harta yang dapat berguna dalam masa yang panjang.

Sekian dahulu jawaban saya. Dan jawaban yang terakhir insya Allah akan segera saya poskan kemudian.

About these ads

9 Tanggapan to “Memakai cincin emas dan perak untuk laki-laki”

  1. robin said

    mohon maaf sebelumnya.
    hadist yang mengatakan boleh untuk menggunakan cincin perak juga ada. yang artinya.
    Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
    Nabi saw. memakai cincin perak. Pada cincin itu terpahat kata Muhammad Rasulullah. Beliau bersabda kepada kaum muslimin: Aku membuat cincin dari perak dan padanya aku ukir kata Muhammad Rasulullah tak seorang pun dapat mengukir pada ukirannya. (Shahih Muslim No.3901)
    dan di Al-Quran hanya di haramkan memakai cincin dari emas dan kain sutra saja(lupa ayat dan surahnya).
    hadist yang dicantumkan itu larangan untuk meminum dari wadah emas dan perak bukan berarti larangan untuk menggunakan perak sebagai cincin.
    mohon di koreksi lagi.
    wassalam….

  2. robin said

    setelah membaca hadist di atas ada sebuah hadist lagi yang artinya.

    Hadis riwayat Anas bin Malik ra.:
    Bahwa ia melihat di tangan Rasulullah saw. terdapat sebuah cincin perak selama satu hari. Lalu orang-orang pun membuat cincin-cincin perak dan memakainya. Kemudian Rasulullah saw. membuang cincin beliau lalu orang-orang juga ikut membuang cincin-cincin mereka. (Shahih Muslim No.3905)
    terus yang bener itu yang mana??? jadi bingung???

  3. robin said

    ada seorang imam tempat biasa saya sholat, mengatakan boleh memakai cincin perak beliau juga memakainya.
    waktu saya memakai cincin dari emas saya ditegur lantaran haram hukumnya bagi seorang laki2 mukmin. setelah ditegur seorang imam itu datang kepada ku lalu bertanya: kenapa ditegur? saya bilang: tidak boleh memakai cicin dari emas. beliau menjawab: iya itu memang bener diharamkan bagi kaum laki2 tetapi tidak apa2 menggunakan cincin dari perak (sambil menunjukan cincinnya).
    saya belum bisa nerima kata2 beliau dan orang yang menegur aku. disepanjang jalan pulang kerumah saya terus memikirkan “jika diharamkan untuk memakai cincin dari emas lantas kenapa diperbolehkan memakai cincin perak? bukankah itu sama2 dengan perhiasa?”. setelah sampai saya langsung brosing diinternet yang menyatakan haram memakai cincin dari emas dan ada yang bilang sunah memakai cincin dari perak.
    setelah lama penantian jawaban,jawaban ustad lah yang bisa diterima akal pikiran saya meski awalnya ragu karena kelalaian saya(membaca setengah2 dari hadist).
    semogah Alloh memaafkan hambanya. Amin. dan mohon maaf jika ada kata2 yang menyinggung ustad.
    wassamm….

  4. robin said

    bener bgt ustad. saya berpikir mahar itu seperti membeli sesuatu yang sangat kita sukai meski harganya itu sangat mahal . dan kebanyak mahar yang di kasih dari calon suami itu di berikan kepada orang tua wanita, bisa jadi mahar itu sebagai pengganti biaya yang dikeluarkan oleh orang tua untuk anaknya meskipun harganya tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan oleh orang tuanya(karena saya lahir dari keluarga china, adat orang2 china melakukan hal itu. seperti jual beli yang ustad sampaikan) .

  5. serbagratisbuku said

    Oh iya Afwan ustad, sekedar masukan. perasaan ana memakai cincin perak bagi laki-laki itu tidak diharamkan. tapi ana lupa haditsny. kalau emas dan sutera memang iya. juga emas dan perak jika untuk bejana juga haram bagi laki-laki maupun perempuan. syukran
    salam kenal:
    http://serbagratisbuku.wordpress.com

  6. [...] dari sini (ditulis ulang biar ndak lupa ajah…) Download Versi PDF Share and [...]

  7. [...] { Oktober 14, 2009 @ 12:58 am } · { Hembusan Rohani } Memakai cincin emas dan perak untuk laki-laki [...]

  8. edi said

    pak ustad bagaimana kalau lai-laki memakai cincin emas berkadar renda bagaimana hukumnya,terima kasih

  9. havid said

    di Ats kn sdh d jlskan, bhwa mmkai cncin dr emas bgi lki2 itu hkmnya hram, tak trkcuali sdkt atau bnyak..wlwpn kadarnya sdkt, tp klo qt lht hds da ats, mmkai cncn ems bgi lki2 itu hkmnya hram.

    slnjtnya…
    alsn lain knp tdk bleh mmkai ems bgi lki2 imn, ykni… ems mrpkan slh satu prhiasn yg akn d pkai olh ahli srga nntinya, apbla qt mmkai d dnia, kelak d srga dy tdk akn mmkai prhiasn dr ems trsbut, bgtu jg dng kain stra.

    jazakumullohukhoiroh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 82 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: