Samudra Ilmu Agama Islam

Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Kapankah akhir waktu shalat Isya’

Posted by Administrator pada 28 Januari 2009

Pertanyaan dari Ikwanti (

Assalamu’alaikum… Ustadz sy mau tanya tentang rentang waktu pelaksanaan shalat isya itu sampai jam berapa?ada yang mengatakan hanya sampai jam 12malam, …

 

Jawab

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Bismillah walhamdulillah. Semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Rasulullah dan kepada semua pengikutnya sampai akhir zaman.

Tentang waktu awal dan akhir masing-masing shalat telah dijelaskan di dalam hadits Jibril yang mengajarkan shalat kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Selengkapnya hadits itu adalah sebagai berikut :

 

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ وَهُوَ الْأَنْصَارِيُّ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ : قُمْ، فَصَلِّهْ ، فَصَلَّى الظُّهْرَ حِينَ زَالَتْ الشَّمْسُ ، ثُمَّ جَاءَهُ الْعَصْرَ ، فَقَالَ : قُمْ فَصَلِّهْ ، فَصَلَّى الْعَصْرَ حِينَ صَارَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَهُ ، أَوْ قَالَ : صَارَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ ، ثُمَّ جَاءَهُ الْمَغْرِبَ ، فَقَالَ قُمْ فَصَلِّهْ فَصَلَّى حِينَ وَجَبَتْ الشَّمْسُ ، ثُمَّ جَاءَهُ الْعِشَاءَ فَقَالَ : قُمْ فَصَلِّهْ ، فَصَلَّى حِينَ غَابَ الشَّفَقُ ، ثُمَّ جَاءَهُ الْفَجْرَ فَقَالَ : قُمْ فَصَلِّهْ فَصَلَّى حِينَ بَرَقَ الْفَجْرُ ، أَوْ قَالَ : حِينَ سَطَعَ الْفَجْرُ ، ثُمَّ جَاءَهُ مِنْ الْغَدِ لِلظُّهْرِ ، فَقَالَ : قُمْ فَصَلِّهْ ، فَصَلَّى الظُّهْرَ حِينَ صَارَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَهُ ، ثُمَّ جَاءَهُ لِلْعَصْرِ فَقَالَ : قُمْ فَصَلِّهْ ، فَصَلَّى الْعَصْرَ حِينَ صَارَ ظِلُّ كُلِّ شَيْءٍ مِثْلَيْهِ ، ثُمَّ جَاءَهُ لِلْمَغْرِبِ الْمَغْرِبَ وَقْتًا وَاحِدًا لَمْ يَزُلْ عَنْهُ ، ثُمَّ جَاءَ لِلْعِشَاءِ الْعِشَاءَ حِينَ ذَهَبَ نِصْفُ اللَّيْلِ ، أَوْ قَالَ : ثُلُثُ اللَّيْلِ ، فَصَلَّى الْعِشَاءَ ، ثُمَّ جَاءَهُ لِلْفَجْرِ حِينَ أَسْفَرَ جِدًّا ، فَقَالَ : قُمْ فَصَلِّهْ ، فَصَلَّى الْفَجْرَ ثُمَّ قَالَ : مَا بَيْنَ هَذَيْنِ وَقْتٌ

 

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Al Anshori bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam didatangi Jibril, maka dia berkata : “Berdirilah dan shalatlah”. Maka dia mengerjakan shalat dzuhur ketika matahari tergelincir. Kemudian datanglah ashar, maka dia (Jibril) berkata : “Berdirilah dan shalatlah”. Maka dia melaksanakan shalat ashar ketika bayangan segala sesuatu sama dengannya, atau dia berkata : ketika bayangannya (Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam) sama dengan dirinya. Kemudian datanglah maghrib, maka dia berkata : “Berdirilah dan shalatlah”. Maka dia melaksanakan shalat ketika matahari telah terbenam. Kemudian datanglah isya’, maka dia berkata : “Berdirilah dan shalatlah”. Maka dia melaksanakan shalat Isya’ ketika mega merah telah terbenam. Kemudian datanglah shubuh, maka dia berkata : “Berdirilah dan shalatlah”. Maka dia melaksanakah shalat subuh ketika fajar sudah terbit .

Kemudian datanglah keesokan hari untuk shalat dzuhur, maka dia berkata : “Berdirilah dan shalatlah”. Maka dia melaksanakah shalat dzuhur ketika bayangan segala sesuatu sama dengannya. Kemudian datanglah waktu ashar, maka dia berkata : “Berdirilah dan shalatlah”. Maka dia melaksanakan shalat ashar ketika bayanagn segala sesuatu dua kali lipat darinya. Kemudian datanglah waktu maghrib di mana waktu maghrib itu hanya memiliki satu waktu yang senantiasa dibiasakan padanya. Kemudian datanglah waktu isya’, yaitu dimana telah berlalu separuh malam atau dia berkata : “sepertiga malam”, kemudian dia melaksanakan shalat Isya’. Kemudian datanglah waktu shalat shubuh ketika fajar telah terang benderang, maka dia berkata : “Berdirilah dan shalatlah”. Maka dia melaksanakan shalat shubuh. Kemudian Jibril berkata : “Antara dua ini adalah waktu”. (HR Ahmad, III/330 no. 14578 dan An Nasa’I, II/325 no. 510. Imam Bukhari berkata dalam mengomentari hadits ini : “Hadits ini adalah hadits yang shahih yang menjelaskan tentang waktu-waktu shalat).

Kesimpulan dari hadits ini adalah :

  1. waktu shalat dzuhur antara ketika matahari tergelincir ke arah barat sampai ketika bayangan sesuatu sama dengannya
  2. waktu ashar antara ketika bayangan sesuatu sama dengannya sampai bayangan sesuatu menjadi dua kali lipat dengannya.
  3. waktu maghrib hanya satu waktu saja, yaitu ketika matahari terbenam.
  4. waktu isya’ antara ketika mega merah sudah terbenam sampai setengah (sekitar jam 12) atau sepertiga malam (sekitar jam 9).
  5. waktu shubuh mulai terbit fajar sampai hari sudah terang.

Tetapi ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya (III,451, no. 1099), yang diantara isinya adalah sebagai berikut :

 

أَمَا إِنَّهُ لَيْسَ فِي النَّوْمِ تَفْرِيطٌ إِنَّمَا التَّفْرِيطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلَاةَ حَتَّى يَجِيءَ وَقْتُ الصَّلَاةِ الْأُخْرَى

 

Adapun bahwa tidur itu bukanlah kelalaian. Kelalaian itu adalah bagi orang yang tidak melakukan shalat sampai datang waktu shalat yang lainnya.

Perkataan ini dikatakan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau bepergian bersama dengan para sahabatnya, kemudian tertidur, sampai matahari sudah terbit, sedangkan mereka belum melaksanakan shalat shubuh. Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berwudlu, Bilal engumandangkan adzan, kemudian beliau shalat sunnah dan kemudian shalat shubuh berjama’ah dengan para sahabatnya. Kemudian mereka melanjutkan perjalanannya. Diantara sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ada yang berbisik satu sama lain : “apa kafarat dari shalat yang telah kita lalaikan?”. Mendengar hal ini, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Tidak cukupkan aku sebagai panutan kalian ?”. Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengatakan perkataan seperti yang disebutkan dalam hadits di atas.

Hadits ini dengan tegas mengatakan bahwa waktu shalat itu tidak habis sampai datang waktu shalat yang lain. Jadi habisnya waktu shalat dzuhur adalah datangnya waktu shalat ashar, habisnya waktu shalat ashar adalah datangnya waktu shalat maghrib. Demikian seterusnya. Kecuali waktu shalat shubuh saja, dimana waktu shalat ini habis ketika matahari terbit, bukan memanang waktunya sampai masuknya waktu dzuhur. Mengapa demikian ?. Karena telah terjadi ijma’ (kesepakatan para mujtahidin terdahulu) bahwa shalat shubuh dikecualikan dari keumuman hadits tersebut.

Jadi hadits Muslim ini menjelaskan makna yang terkandung dalam hadits Ahmad dan Nasa’I sebelumnya. Karena hadits Nasai dan Ahmad itu menjelaskan tentang waktu-waktu yang utama untuk melaksankan shalat-shalat itu, sedangkan hadits Muslim menjelaskan kelonggaran waktu masing-masing shalat, dimana tidak kelar waktu shalat sampai masuk waktu shalat yang lainnya.

Berdarsarkan hadits ini, kita berkesimpulan –seperti yang juga disepakati oleh madzhab empat- bahwa waktu shalat isya’ adalah sampai datangnya waktu shalat shubuh.

Adapun mereka yang berpendapat bahwa waktu shalat Isya’ itu hanya sampai separuh malam dalil yang sering mereka gunakan adalah sebagai berikut :

 

A. hadits Ahmad dan Nasa’I tersebut, dimana pada hari kedua Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat Isya’ pada tengah malam. Kemudian Jibirl berkata : “Antara dua ini adalah waktu”. Jadi akhir waktu isya’ adalah tengah malam.

B. Hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Istri berliau Aisyah radliallaahu ‘anha :

 

أَعْتَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ حَتَّى ذَهَبَ عَامَّةُ اللَّيْلِ وَحَتَّى نَامَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى فَقَالَ :  إِنَّهُ لَوَقْتُهَا لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي

 

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan shalat Isya’ sampai malam telah berlalu sebagian besarnya dan mereka yang menunggu di masjid sudah tertidur. Kemudian dia mengerjakan shalat dan berkata : “Ini adalah waktunya, jika saja aku tidak memberatkan umatku”. (Muslim, III/345, no. 1009)

C. Hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah

 

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ أَنْ يُؤَخِّرُوا الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ أَوْ نِصْفِهِ

 

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jika tidak memberatkan ummatku, maka aku akan memerintahkan mereka untuk mengakhirkan shalat Isya’ sampai sepertiga malam atau separuhnya” (HR Turmudzi dan dia mengatakan : “Hadits ini Hasan Shahih”, Sunan Turmudzi, I/280, 152)

D. hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amru bin Ash :

 

وَقْتُ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الْأَوْسَطِ

 

Waktu shalat Isya’ sampai pertengahan malam yang paling tengah”. (HR Muslim, III/294, 966)

Dan masih cukup banyak hadits-hadits lain yang sepadan dengannya.

Saya mengatakan :

Pertama : bahwa hadits-hadits ini tidak diragukan keshahihananya karena terpercayanya para rawinya. Tetapi antara hadits-hadits ini dengan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim tentang tertidurnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sampai melaksanakan shalat di luar waktu shubuh dan perkataan beliau setelahnya yang menunjukkan bahwa waktu shalat itu berakhir ketika sudah memasuki waktu shalat yang lain adalah tidak ada kontradikisi antar keduanya, sehingga harus kita tarjih dengan mengambil yang satu dan mengesampingkan yang lainnya. Tetapi kita harus mengambil kedua-duanya dengan mengatakan bahwa Hadits Muslim yang pertama itu menunjukkan keluasan waktu shalat sampai masuknya waktu shalat yang lain dan  hadits Muslim yang kedua dan hadits Turmudzi itu menunjukkan keutamaan waktu shalat Isya’, yaitu sampai tengah malam atau bahkan waktu tengah malam itulah yang terbaik. Dan itu adalah waktu shalat Isya’ jika tidak memberatkan ummatnya. Jadi hadits ini sama sekali tidak membicarakan akhir dari waktu shalat Isya’, tetapi hanya menjelaskan waktu utama dari waktu Isya’. Demikian juga kita memahami hadits yang diriwaytakn oleh Imam Muslim dari Abdullah bin Amru yang disebutkan terakhir ini.

Seperti yang dijelaskan oleh kita-kitab fiqih bahwa waktu shalat itu dibagi menjadi beberapa macam, seperti waktu mukhtar (waktu yang paling utama), waktu jawaz (waktu yang diperbolehkan) dan waktu karahah (waktu yang dimakruhkan). Nah melaksanakan shalat Isya’ di tengah atau sepertiga awal malam itu adalah waktu yang utama, itu jika tidak memberatkan ummat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Karena waktu ini memberatkan, maka kebiasaan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah melaksanakan shalat isya’ di awal waktu, seperti shalat-shalat yang lain atau kalau mengakhirkan, maka tidak selalu di tengah malam. Lihatlah redaksi dari hadits Aisyah : “pada suatu malam”. Jadi tidak demikian kebiasananya.

Kedua : jika hadits Jibril yang mengajarkan shalat itu dipahami sebagai batas awal dan akhir dari semua shalat, maka ini juga berlaku bagi shalat ashar, tidak hanya shalat isya’ saja. Di dalam hadits ini dijerlaskan bahwa waktu shalat ashar adalah antara ketika bayangan dengan bendanya sampai menjadi dua kali lipat dengan bendanya. Sedangkan kita paham bahwa ketika jam 5 sore atau lebih, ketika matahari masih ada bayangan itu kadang menjadi tiga kali lipat atau bahkan lebih. Nah, pakah kita kemudian juga menyimpulkan bahwa waktu shalat ashar itu berakhir pada jam setengah lima sore ?. Tidak bukan. Jadi semua hadits ini adalah saling menjelaskan satu sama lain, tidak saling kontradiksi, atau bahkan saling menafikan. Jadi kia harus mengambil keseluruhannya, bukan sebagiannya dan mencampakkan yang lainnya. Adapun jika ada sebuah kelompok yang menyatakan bahwa waktu shalat isya’ itu adalah tengah malam dan mereka mengatakan bahwa kami tidak berat melaksanakannnya, maka itu adalah bohong. Karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri menyatakan berat, padahal beliau adalah manusia yang paling bertaqwa. Apakah taqwa sama atau bahkan melebihi beliau ??. tentu saja tidak sama sekali.

Ketiga : di dalam Jibril itu disebutkan tengah malam atau sepertiga awal malam, demikian juga hadits Aisyah dan Abu Hurairah. Jadi yang mana batas akhirnya ?. Apa dasarnya kemudian kita mengatakan hanya sampai tengah malam saja ? Kemudian yang sepertiganya dikemanakan ? Dibuang ?. Mengapa kita memiliki pemahanam seperti itu, padahal itu adalah satu matan hadits. Jadi tarjih tidak mungkin dilakukan, karena dalam satu dalil.

Keempat : kalau dikatakan misalnya waktu isya’ habis sampai setengah malam saja, mengapa kemudian dikatakan sampai jam 12 malam. Apakah tengah malam itu selalu jam 12 malam. Tidak bukan ?. Pasti akan berubah setiap harinya, tergantung kapan terbenamnya matahari dan kapan terbitnya matahari di waktu itu, kemudian baru diambil tengahnya.

Kelima : Hadits Jibril itu menjelaskan shalat maghrib hanya memiliki satu waktu saja. Tetapi hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (III/294, 966) menjelaskan :

 

وَقْتُ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ مَا لَمْ يَغِبْ الشَّفَقُ

 

“Waktu shalat masghrib adalah selama mega merah belum hilang”.

Nah hadits ini seperti yang dijelaskan oleh jumhur ulama termasuk Imam Syafi’I dalam qoul qodimnya dan ini adalah pendapat yang ditetapkan didalam madzhabnya oleh para pengikutnya sepeninggalnya bahwa waktu shalat masghrib itu adalah seperti yang dijelaskan dalam hadits ini, yaitu sampai terbenamnya mega merah di sebelah barat.

Adapun qoul jadid beliau adalah sesuai dengan dzhir hadits Jibril itu, yaitu waktu shalat maghrib itu hanya cukup digunakan untuk berwudlu/tayamum, shalat sunnah dua raka’at, shalat maghrib tiga raka’at dan shalat sunnah ba’diyah dua raka’at, kemudian masuk waktu shalat Isya’. Jadi dalam qoul jadid waktu shalat maghrib itu sangat pendek. Pendapat ditinggalkan oleh para pengikutnya, berdasarkan perkataan belau sendiri : “Jika sebuah hadits itu telah shahih maka itu adalah pendapatku. Aku akan menarik kembali pendapatku, baik ketika aku masih hidup atau sudah mati”.

Sedangkan hadits Muslim itu adalah shahih, tidak diragukan lagi. Ini harus kita jadikan sebagai bahan I’tibar.

Jadi kesimpulannya adalah waktu itu tidak akan keluar sampai masuknya waktu shalat yang lain, kecuali shalat shubuh saja, berdasarkan ijma’. Jadi habisnya waktu isya’ adalah masuknya waktu shubuh, bukan tengah malam (jam 12).

Demikian penjelasan saya semoga bermanfaat. Kurang lebihnya semoga Allah mema’afkan. Wallaahu a’lam bish showab.

About these ads

2 Tanggapan to “Kapankah akhir waktu shalat Isya’”

  1. ikwanti said

    jazakallah khair Ustad atas penjelasannya…

  2. jajat sudrajat said

    yang pasti adalah solat itu paling utama dikerjakan di awal waktu dikerjakan di mesjid secara berjamaah. adapun tentang batas waktu salat isya saya sangat setuju sampai menjelang subuh menurut jumhur ulama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 87 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: