Arsip untuk Desember 3rd, 2008
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
Salah satu ciri ahlus sunnah adalah kecintaan mereka terhadap para imam sunnah dan ulamanya, para penolong dan para walinya. Dan mereka membenci tokoh-tokoh ahli bid’ah yang mereka itu mengajak kepada jalan menuju neraka dan menggiring pengikutnya menuju kehancuran. Allah telah menghiasi dan menyinari ahlus sunnah dengan kecintaan mereka kepada ulama-ulama ahlus sunnah, sebagai karunia dan keutamaan dari Allah ta’ala.
Ahlus sunnah juga sepakat untuk merendahkan ahli bid’ah, menghinakan mereka, menjauhi dan memboikot mereka serta menghindari untuk bersahabat dengan mereka.
Janganlah kamu tertipu oleh banyaknya ahli bid’ah, karena banyaknya jumlah ahli bid’ah dan sedikitnya ahlus sunnah merupakan tanda dekatnya hari kiamat, sebagaiman sabda Nabi:
“Sesungguhnya termasuk diantara tanda-tanda dekatnya hari kiamat yaitu sedikitnya ilmu dan menyebarluasnya kebodohan (dalam agama)” HR. Bukhari, Muslim dan lainnya
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: aqidah, kajian tauhid, madzhab ahlus sunnah | 1 Komentar »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
Ciri-ciri ahli bid’ah sangat jelas dan terang, yang paling menonjol diantaranya adalah: kebencian mereka kepada para pembawa riwayat hadits, merendahkannya, dan menggelarinya dengan: penghafal catatan kaki, orang-orang dungu, orang-orang tekstual atau musyabihah (orang-orang yang menyamakan sifat Allah dengan sifat makhluk). Mereka meyakini adanya makna bathin dari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga mereka menafsirkan hanya dengan otak mereka yang telah dirusak oleh syaitan, hati nurani mereka teleh rusak, dan argumentasi dan pemikiran mereka sangat rancu dan berantakan. Allah berfirman:
أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ
“Mereka itulah orang-orang yang dilaknati oleh Allah dan ditulikan telinganya dan dibutakan penglihatan mereka.” (Muhammad:23).
Ahmad bin Sinan Al-Qaththan berkata: “Di kolong langit ini, tidak seorangpun ahli bid’ah yang tidak membenci ahli hadits, karena ketika orang itu telah berbuat bid’ah maka ia akan kehilangan kemanisan ilmu hadits dalam hatinya”.
Abu Hatim Muhammad bin Idris Al-Hanzali Ar-Razi berkata: “Ciri-ciri ahli bid’ah yaitu suka mengolok-olok ahlu atsar (ahli hadits), dan termasuk ciri-ciri orang zindiq (munafiq) yaitu suka menggelari ahli atsar sebagai penghafal catatan kaki, yang mereka inginkan adalah membatalkan atsar sebagai sumber hukum.
Termasuk ciri-ciri qadariyah (orang-orang yang mengingkari adanya takdir) adalah menggelari ahlus sunnah dengan jabariyah (orang-orang yang bergantung kepada takdir dan meninggalkan usaha).
Diantara ciri-ciri jahmiyyah (orang-orang yang mengingkari nama-nama dan sifat Allah) adalah menggelari ahlus sunnah dengan sebutan musyabihah (orang-orang yang menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk).
Diantara ciri-ciri rafidhah (syiah) adalah menggelari ahlus sunnah dengan sebutan nabithah dan nashibah (orang-orang yang membenci ahli bait).
Abu ‘Utsman berkata: “Saya melihat bahwa ahli bid’ah yang menggelari ahlus sunnah [namun dengan karunia dari Allah, tuduhan tersebut tidaklah benar dan tidak pantas disandarkan kepada ahlus sunnah] mereka (ahli bid’ah) mengikuti jalannya musrikin [semoga Allah melaknat mereka] yang menggelari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan gelar-gelar yang tidak pantas. Diantaranya ada yang menggelari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tukang sihir, dukun, ahli sya’ir, orang gila, orang kesurupan, pembohong, tukang nyleneh dan lain sebagainya. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat jauh dari semua ‘aib tersebut. Beliau adalah Nabi dan Rasul yang terpilih. Allah berfirman:
انظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الْأَمْثَالَ فَضَلُّوا فَلَا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلاً
“Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perbandingan-perbandingan tentang kamu, lalu sesatlah mereka, mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan (untuk menentang kerasulanmu).” (Al-Furqan:9).
Demikian juga halnya dengan ahlu hadits yang diberi gelar-gelar buruk oleh ahli bid’ah padahal ahlu hadits sangat jauh dan bersih dari celaan tersebut. Ahlu hadits adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan sunnah yang bersih, sistem kehidupan yang diridhai oleh Allah ta’ala, jalan-jalan yang lurus dan hujjah yang kokoh.
Allah telah menganugrahi ahlu hadits untuk dapat meneladani apa yang terdapat dalam kitab-Nya, wahyu-Nya dan firman-Nya, meneladani Rasul-Nya dalam setiap hadits dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk berlaku baik, dalam ucapan dan perbuatan serta mencegah mereka untuk berbuat kemungkaran.
Allah juga menolong ahlu hadits untuk dapat berpegang teguh dengan sistem kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berpegang teguh dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Allah-pun menjadikan mereka sebagai pengikut para wali yang terdekat. Allah juga melapangkan dada mereka untuk mencintai beliau, mencintai para ulama umat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya.” HR Bukhari dan Muslim
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: aqidah islam, kajian tauhid, madzhab ahlus sunnah | 1 Komentar »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
Mereka (Ashabul Hadits) juga berkeyakinan bahwa di dunia ini memang ada sihir dan tukang sihir, akan tetapi tukang sihir tersebut tidak dapat mencelakakan seseorang kecuali dengan izin Allah ‘azza wa jalla, sebagaimana firman Allah ta’ala:
وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ
“Dan mereka (tukang sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah ..”(Al-Baqarah:102)
Siapa yang menjadi penyihir atau menggunakan jasa sihir, sementara ia berkeyakinan bahwa sihir bisa memberi manfaat atau memberi mudharat tanpa izin Allah, maka ia telah kafir kepada Allah ta’ala.
Apabila seseorang telah melakukan hal-hal yang secara dzahir dapat membuatnya kafir itu, maka ia harus dipaksa untuk bertaubat, kalau enggan dipenggal lehernya (oleh penguasa muslim).
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: aqidah islam, kajian tauhid, madzhab ahlus sunnah | Leave a Comment »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
Mereka juga bersaksi dan berkeyakinan bahwa Allah subhanu wa ta’ala telah menciptakan syaitan yang akan menggoda umat manusia, agar mereka tergelincir, maka syaitan-syaitan itu terus mengawasi mereka, Allah berfirman:
وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَآئِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ
“Sesungguhnya syaitan itu membisikan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu, dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musrik..”. (Al-An’am:121)
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: ahlus sunnah wal jama'ah, aqidah islam, madzhab ahlus sunnah | Leave a Comment »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
Mereka juga bersaksi dan berkeyakinan bahwa Allah ‘azza wa jalla telah menentukan batas akhir kehidupan bagi setiap makhluk.
Sesungguhnya setiap jiwa itu tidak akan mati kecuali dengan izin Allah dan takdir dari-Nya. Apabila sudah ditakdirkan waktunya mati, maka tidak ada pilihan lagi kecuali mati. Tidak bergeser sedikitpun.
Allah berfirman:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ
“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya sesaatpun dan tidak pula memajukannya” (Al-A’raaf:34)
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: ahlus sunnah wal jama'ah, aqidah islam, kajian tauhid, madzhab ahlus sunnah | Leave a Comment »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
Mereka juga bersaksi dan berkeyakinan bahwa seseorang tidak bisa dipastikan masuk surga -walaupun ia telah melakukan amalan-amalan yang baik [ibadahnya nampak ikhlas, dan ketaatannya demikian tinggi] dan jalan kehidupannya pantas untuk diteladani- kecuali jika di izinkan oleh Allah, sebagai keutamaan yang diberikan kepadanya. Maka dengan keutamaan dan karunia-Nya itu ia masuk surga.
Karena amal baik yang ia lakukan tidaklah dapat dilakukan dengan mudah kecuali karena kemudahan dari Allah. Jika Allah tidak memberi kemudahan [niscaya ia tidak dapat melakukannya. Dan jika Allah tidak mengarunianya hidayah] niscaya ia tidak mendapat hidayah selama-lamanya, [meskipun ia telah berupaya keras]. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala:
وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَداً وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَاءُ
“…Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…”(An-Nuur:21)
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: ahlus sunnah wal jama'ah, aqidah islam, kajian tauhid, madzhab ahlus sunnah | Leave a Comment »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
Mereka berpendapat untuk menahan diri [untuk membicarakan] dalam perselisihan yang terjadi dikalangan sahabat. Memelihara lisan mereka untuk tidak mengucapkan kata-kata yang berkesan mendiskreditkan (menyudutkan) dan merendahkan para sahabat.
Ash-habul Hadits berpendapat, seharusnya mencintai mereka dan berwala’/loyalitas kepada mereka secara keseluruhan. Demikian juga mereka menganggap wajib memuliakan para istri-istri beliau radhiallahu ‘anhunna, mendoakan mereka, mengakui keutamaan mereka dan mengakui juga istri-istri Nabi sebagai ibu-ibu kaum muslimin.
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: ahlus sunnah wal jama'ah, aqidah islam, kajian tauhid, madzhab ahlus sunnah | Leave a Comment »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
Ash-habul Hadits berpendapat seharusnya melaksanakan shalat Jum’at, shalat ‘Ied dan selain keduanya dibelakang imam muslimin baik dia shalih maupun fajir.
Mereka juga berpendapat bahwa berjihad melawan orang-orang kafir itu bersama pemerintah meskipun mereka zhalim dan fasiq.
Mereka juga menganjurkan untuk mendo’akan mereka agar menjadi baik dan mendapat hidayah (serta menebarkan keadilan dalam masyarakat).
Mereka juga tidak membolehkan untuk memberontak kepada pemimpin-pemimpin fasiq tersebut, meskipun mereka menyaksikan penyimpangan pemerintah dari konsep keadilan dan menggantinya dengan diktatorisme dan penindasan.
Mereka juga berpendapat untuk memerangi para pemberontak sampai orang-orang itu kembali taat kepada pemerintah.
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: ahlus sunnah wal jama'ah, aqidah islam, kajian tauhid, madzhab ahlus sunnah | Leave a Comment »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
Dari kalangan sahabat yang mendapat kabar gembira (dengan disebutkan namanya), maka Ashabul Hadits mengakui hal itu dan membenarkannya atas berita dan janji tersebut, Karena beliau tidak akan mempersaksikan hal itu kecuali setelah mengetahuinya.
Allah subhanahu wa ta’ala memberitahu sebagian ilmu ghaib yang dikehendakinya, sebagaimana firman Allah:
عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداً – إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ
“(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya..”(Al-Jinn: 26-27)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi kabar gembira kepada sepuluh orang sahabatnya bahwa mereka akan masuk surga, yaitu: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubeir, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Sa’id (bin Zaid ), dan Abu Ubadah bin Jarrah. Hadits yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Zaid secara marfu’
Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Tsabit bin Qis bin Syammas: “Kamu termasuk ahli syurga”.
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: ahlus sunnah wal jama'ah, aqidah islam, kajian tauhid, madzhab ahlus sunnah | 1 Komentar »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
Ahlus Sunnah bersaksi atas orang yang mati dalam keadaan Islam akan masuk syurga. Dan jika ia ditakdirkan oleh Allah untuk disiksa terlebih dahulu di dalam neraka karena perbuatan dosa-dosanya yang belum bertaubat, maka adzab itu tidak kekal, pada akhirnya Allah akan masukkan dia ke Syurga. Tidak ada seorangpun dari muslimin yang akan kekal di neraka sebagai keutamaan dari Allah.
Dan siapa yang mati dalam keadaan kafir -Wal ‘iyadzu billah-, maka tempat kembalinya adalah neraka dan akan kekal didalamnya.
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: ahlus sunnah wal jama'ah, aqidah islam, kajian tauhid, madzhab ahlus sunnah | Leave a Comment »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
Ahlus Sunnah bersaksi dan berkeyakinan bahwa hasil akhir kehidupan para hamba adalah hal yang ghaib. Seseorang tidak mengetahui bagaimana ia mengakhiri hidupnya.
Mereka tidak menghukumi seseorang bahwa dia calon penghuni syurga atau calon penghuni nereka, kerena hal itu merupakan perihal ghaib. Mereka tidak mengetahui dengan apa mereka mengakhiri hidupnya (apakah dengan keimanan atau dengan kekufuran).
Oleh karena itu mereka mengatakan: “Mukmin insya Allah” (artinya: termasuk dari mukminin yang mengakhiri hidupnya dengan kebaikan, insya Allah)
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: ahlus sunnah wal jama'ah, aqidah islam, kajian tauhid, madzab ahlus sunnah | Leave a Comment »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
Demikian juga termasuk madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bahwa Allah ‘azza wa jalla berkehendak atas semua amal perbuatan hamba-hamba-Nya, yang baik maupun yang jelek.
Tidak ada seorang pun yang beriman kecuali dengan kehendak-Nya. Dan tidak ada seorangpun yang kafir kecuali dengan kehendak-Nya. Jika Allah menhendaki, niscaya Allah jadikan mereka satu umat, sebagaimana firman Allah:
وَلَوْ شَاء رَبُّكَ لآمَنَ مَن فِي الأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعاً
“Dan jikalau Rabbmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya..”(Yuunus:99)
Kalau Allah menghendaki untuk tidak terjadi kemaksiatan, Allah tidak ciptakan Iblis. Maka kekufuran orang yang kafir, keimanan orang yang beriman, (keingkaran orang atheis, tauhidnya ahli tauhid, ketaatan orang yang taat, dan kemaksiatan orang yang bermaksiat) semuanya terjadi kerena ketentuan, takdir, keinginan dan kehendak-Nya.
Dan Allah menghendaki semuanya itu dan menakdirkannya. Namun Allah meridhai keimanan dan membenci kekufuran dan kemaksiatan. Allah berfirman:
إِن تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِن تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ
“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.”(Az-Zumaar:7)
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: ahlus sunnah wal jama'ah, aqidah islam, kajian tauhid, madzhab ahlus sunnah | Leave a Comment »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
Ahlus Sunnah bersaksi dan berkeyakinan bahwa kebaikan dan kejelekan, manfa’at dan mudarat (kejadian yang manis maupun yang pahit) semuanya dari takdir dan ketentuan Allah ta’ala, tidak ada yang mampu mencegahnya, menyimpangkan atau menjauhkannya.
Seseorang tidak akan tertimpa suatu musibah melainkan apa yang telah ditakdirkan. Meskipun seluruh makhluk berusaha keras untuk menolong orang tersebut, akan tetapi Allah menakdirkan untuk tertimpa musibah maka usaha tersebut tidak berhasil.
Demikian juga meskipun seluruh makhluk berusaha untuk mencelakakan dirinya akan tetapi orang tersebut tidak ditakdirkan celaka, maka usaha tersebut tidak akan berhasil, hal ini sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas radiallahu’anhu.
“Ketahuilah, bahwa seseungguhnya seandainya bersatu umat manusia untuk memberikan manfa’at padamu dengan sesuatu, niscaya tiadalah mereka dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang ditakdirkan Allah kepadamu, dan seandainya mereka bersatu untuk mencelakakan kamu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan dapat mencelakakan kamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah takdirkan kepadamu. Telah diangkat pena (untuk menulis takdir) dan telah kering lembaran-lembaran itu (HR. Turmudzi dll dan dikatakan hasan shahih)
Yakni sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Allah berfirman:
وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلاَ رَآدَّ لِفَضْلِهِ
“Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya..”(Yuunus:107)
Termasuk dari pemahaman dan manhaj Ahlus Sunnah -selain keyakinan mereka bahwa kebaikan dan kejelekan semuanya dari takdir Allah- mereka juga menetapkan bahwa tidak diperkenankan menyandarkan kepada Allah apa-apa yang berkesan negatif bila diucapkan secara terpisah. Tidak boleh dikatakan, misalnya: Allah itu pencipta monyet, babi, kumbang kelapa dan jangkrik, meskipun kita tahu tidak ada makhluk yang tidak diciptakan oleh Allah. Dalam hal ini terdapat hadits tentang do’a istiftah: “Sungguh Maha Suci dan Maha Tinggi Engkau ya Allah, kebaikan seluruhnya di keduatangan-Mu dan kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu” HR Ahmad, Muslim dan lainnya
Maksudnya, wallahu a’lam, kejelekan tidak termasuk yang bisa disandarkan kepada Allah secara terpisah, seperti: “Wahai Pencipta keburukan, atau wahai yang menakdirkan kejelekan”. Meskipun benar bahwasanya Dia-lah yang menciptkan dan menakdirkan kejelekan tersebut.
Oleh karena itu Nabi Khidir ‘alaihis salam menyandarkan kehendak untuk merusak perahu kepada dirinya sendiri, seperti dikisahkan dalam Al-Qur’an:
“Adapun kapal itu kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku hendak merusakkan kapal itu, karena dihadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap kapal. (Al-Kahfi:79)
Namun ketika beliau menyebutkan kebaikan, kebajikan, dan rahmat, beliau menyandarkan kehendaknya kepada Allah, Allah ta’ala berfirman:
فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ
“..maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu, sebagai rahmat dari Rabbmu..”(Al-Kahfi:82)
Allah juga memberitakan tentang diri Ibrahim ‘alaihis salam dalam firman-Nya:
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
“dan apabila aku sakit. Dialah Yang menyembuhkan aku, (Asy-Syu’ara:80)
Beliau menyandarkan sakit kepada dirinya sendiri dan menyandarkan kesembuhan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Meskipun keduanya datang dari Allah Yang Maha Mulia
16
17 Dikeluarkan oleh:Ahmad, Muslim dan lainnya
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: ahlus sunnah wal jama'ah, aqidah islam, kajian tauhid, madzhab ahlus sunnah | Leave a Comment »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
Mereka (Ashabul Hadits) bersaksi bahwa Allah ta’ala memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki menuju Agama-Nya dan menyesatkan siapa saja yang dikehendaki untuk menjauhi Agama-Nya, namun bagi orang yang disesatkan-Nya tidak ada alasan (untuk bebas dari siksa-Nya).
Allah berfirman:
قُلْ فَلِلّهِ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةُ فَلَوْ شَاء لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ
“Katakanlah: “Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya”. (Al-An’am:149)
Allah berfirman:
وَلَوْ شِئْنَا لَآتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا وَلَكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi) nya, akan tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan) daripadaku; “Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka Jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama. (as-sajdah:13)
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: ahlus sunnah wal jama'ah, aqidah islam, kajian tauhid, madzhab ahlus sunnah | Leave a Comment »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
Termasuk diantara pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah keyakinan bahwa perbuatan hamba adalah makhluk (diciptakan oleh) Allah ‘azza wa jalla.
Mereka tidak ada yang membantah permasalahan ini, sebaliknya mereka menganggap orang-orang yang mengingkari hal ini sebagai orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dan petunjuk
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: ahlus sunnah wal jama'ah, aqidah islam, kajian tauhid, madzhab ahlus sunnah | Leave a Comment »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
Ahlus Sunnah berkeyakinan bahwa seorang mukmin meskipun melakukan dosa-dosa kecil dan besar tidak bisa dikafirkan dengan semuanya itu. Meskipun dia meninggal dunia dalam keadaan belum taubat, selama masih dalam tauhid dan keikhlasan, urusannya terserah Allah.
Jika Ia menghendaki, Ia akan mengampuni dan memasukkannya ke surga pada hari Kiamat dalam keadaan selamat, beruntung dan tidak disentuh oleh api neraka, tidak disiksa atas segala dosa yang pernah dilakukannya, ia biasakan dan terus menyelimutinya sampai hari kiamat. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: ahlus sunnah wal jama'ah, aqidah islam, kajian tauhid, madzhab ahlus sunnah | Leave a Comment »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
Termasuk pemahaman Ahlu Hadits adalah meyakini bahwa iman adalah ucapan, perbuatan, dan ma’rifah, bisa berkurang karena kemaksiatan dan bertambah karena ketaatan.
Sufyan bin Uyainah menyatakan: “Iman itu adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang”, maka saudaranya yang bernama Ibrahim bin Uyainah berkata: “Wahai Abu Muhammad, tadi kamu mengatakan iman bisa berkurang?!” Maka Sufyan bin Uyainah berkata: “Diam kamu ‘anak kecil’ Sungguh iman bisa berkurang hingga tidak tersisa sedikitpun.”
Ibnu Mubarak rahimahullah suatu ketika datang ke kota, salah sorang ahli ibadah tiba-tiba mendatanginya -yang diperkirakan berpemahaman khawarij- lalu ia bertanya kepada Ibnu Mubarak: “Wahai Abu Abdirrahman, apa pendapatmu terhadap seorang pezina, pencuri, dan peminum khamar”, Beliaupun menjawab: “Aku tidak mengeluarkannya dari keimanan.” maka laki-laki itu menukas: “Kamu sudah tua malah menjadi murji’ah”, maka Ibnu Mubarak menjawab: “Tidak, justru kami bertentangan dengan murji’ah, Murji’ah menyatakan kebaikan kita pasti diterima, sedangkan kemaksiatan kita pasti diampuni”. Seandainya aku (Ibnul Mubarak) tahu bahwa kebaikanku diterima, niscaya aku bersaksi bahwa aku masuk surga, kemudia ia menukil ucapan Umar bin Khatab: “Seandainya imannya Abu Bakar dibandingkan dengan imannya seluruh penduduk Bumi, niscaya imannya Abu Bakar lebih berat”
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: ahlus sunnah wal jama'ah, aqidah islam, kajian tauhid, madzhab ahlus sunnah | Leave a Comment »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
Ahlus Sunnah bersaksi (dan berkeyakinan) bahwa surga dan neraka adalah makhluk ciptaan Allah, dan keduanya kekal abadi-tidak akan musnah.
Orang yang masuk surga tidak akan keluar darinya, demikian juga penduduk neraka (dari golongan kafir) yang pantas memasukinya dan diciptakan untuk memasukinya, mereka juga tidak akan keluar darinya.
(kematian akan dipenggal dan disembelih dibatas antara surga dan neraka, lalu datanglah suara memanggil) pada hari itu:
“Wahai penghuni surga, kekekalan bagimu dan tidak ada lagi kematian. Wahai penghuni neraka, kekekalan bagimu dan tidak ada lagi kematian.” Demikian yang diriwayatkan dari hadits yang shahih dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. HR Bukhari
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: ahlus sunnah wal jama'ah, aqidah islam, kajian tauhid, madzhab ahlus sunnah | Leave a Comment »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
Ahlus Sunnah bersaksi bahwa kaum mukminin akan melihat Rabb mereka (pada hari kiamat) dengan mata kepala mereka, dan memandang-Nya sebagaimana dalam hadits shahih,
Diantaranya adalah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa ada beberapa orang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, Apakah kami akan melihat Tuhan kami pada hari kiamat ?”. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berkata : “Apakah kalian merasa payah ketika melihat bulan pada malam purnama ?”. Mereka berkata : “Ya, wahai Rasulullah”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Maka kalian akan melihatnya demikian”. Hadits ini diriwayatkan dengan lengkap oleh Bukhari dan Muslim.
Diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah Al Bajali bahwa dia berkata : “Kami duduk-duduk bersama dengan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, maka dia melihat ke arah bulan pada tanggal empatbelas. Maka dia berkata : “Sesunguhnya kalian akan melihat Tuhan kalan dengan jelas, sebagaimana kalian melihat ini. kalian tidak dihalangi dalam melihatnya”. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Keserupaan yang dimaksud dalam hadits ini adalah cara melihatnya yang tidak mendapat kesulitan (berdesak-desakan), bukan bentuk yang dilihat (Allah dengan bulan purnama)
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: ahlus sunnah wal jama'ah, aqidah islam, kajian tauhid, madzhab ahlus sunnah, melihat Allah, ru'yah | Leave a Comment »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
AL-HAUDH DAN TELAGA AL-KAUTSAR
Ashhabul Hadits mengimani adanya haudh dan Telaga Al-Kautsar, serta masuknya sebagian Ahlu Tauhid ke surga tanpa hisab, dan sebagian dari mereka dihisab dengan hisab yang ringan dan kemudian dimasukkan ke surga tanpa diadzab terlebih dahulu. Dan sebagian lagi para pelaku dosa besar dilebur dalam neraka kemudian dibebaskan dan dikeluarkan darinya, kemudian digabungkan dengan saudara-saudaranya yang telah mendahului masuk surga, [dan Ashhabul Hadits meyakini bahwa yang berdosa besar dari kalangan Ahlu Tauhid] tidak kekal di neraka [dan tidak akan tinggal di neraka selama-lamanya]
Adapun orang kafir akan kekal di neraka dan tidak akan keluar darinya selama-lamanya.
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: ahlus sunnah wal jama'ah, aqidah islam, kajian tauhid, madzhab ahlus sunnah, Telaga kautsar | Leave a Comment »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
Orang-orang yang dalam ilmu agama dan sunnahnya meyakini adanya syafa’at Nabi untuk para pelaku dosa besar dari kalangan ahlu tauhid, dan yang melakukan dosa-dosa besar dikalangan mereka, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Syafa’atku diberikan bagi pelaku dosa-dosa besar dari kalangan umatku” 1
Abu Hurairah pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam: “Yaa Rasulullah, siapakah yang paling senang mendapat syafa’atmu pada hari kiamat?” Beliau menjawab: “Aku mengira tak seorangpun yang menanyakan hal ini sebelum kamu, hal ini karena aku melihat kamu bersemangat dalam mencari hadits, “Orang yang paling senang mendapat syafa’atku pada hari kiamat yaitu orang yang mengucapkan laila ha illallah dengan jujur dari sanubarinya” 2
Catatan Kaki
1 Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan lainnya, dikatakan oleh Tirmidzi hadits ini hasan shahih
2 HR. Bukhari, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Abi ‘Ashim dan yang lainnya.
Ibnu Hajar mengomentari dalam Fathul Bari: “Ada yang dengan syafa’at itu tidak jadi dimasukkan ke neraka, ada yang menjadi masuk sorga tanpa hisab, ada yang derajatnya di surga dinaikkan
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: ahlus sunnah wal jama'ah, aqidah islam, kajian tauhid, madzhab ahlus sunnah, syafa'at | 1 Komentar »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
Orang-orang yang dalam ilmu agama dan sunnahnya meyakini adanya kebangkitan sesudah mati di hari kiamat, dan segala apa yang dikabarkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa suasana mencekam pada hari kiamat, beraneka ragam keadaan hamba dan makhluk ketika melihat dan menerima hasil perbuatannya. Bagaimana mereka menerima catatan amal apakah dengan tangan kanan atau tangan kiri, menjawab berbagai pertanyaan, serta kegoncangan yang dijanjikan Allah.
Pada hari yang agung, dalam suasana yang mencekam dibentangan sirath, timbangan, catatan amal meskipun hanya sebutir dzarrah kebaikan dan lain sebagainya
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: ahlus sunnah wal jama'ah, aqidah islam, hari kebangkitan, kajian tauhid, madzhab ahlus sunnah | Leave a Comment »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
Seorang lelaki dari bani Tamim yang bernama Shabigh datang ke Madinah, ia banyak memiliki kitab, namun sering bertanya-tanya tentang ayat-ayat mutasyabihat. Berita inipun sampai ke telinga Umar bin Khattab. Maka Shabigh dipanggil sedangkan Umar sudah menyiapkan pelepah kurma, ketika orang itu sudah menemuinya, ia pun duduk. Umar bertanya: “Siapa kamu?” lelaki itu menjawab: “Saya Shabigh”. Umar kemudian berkata: “Saya Umar, hamba Allah”. Umar lalu menghajar lelaki itu dengan pelepah kurma, sampai kepalanya mengeluarkan darah. Maka Shabigh berkata: “Cukup, wahai amirul Mukminin, Demi Allah, kini sudah hilang yang selama ini bersarang di kepalaku”, kemudian Shabigh dikembalikan ke kaumnya dan Umar memerintahkan agar kaum muslimin tidak mengajaknya berbicara dengan Shabigh, sampai Shabigh benar-benar sembuh dari ‘penyakit’. Setelah Shabigh benar-benar sembuh dari penyakit suka bertanya-tanya tentang ayat mutasyabihat, maka umar membolehkan kaum muslimin untuk bergaul dengan Shabigh.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: ahlus sunnah wal jama'ah, aqidah islam, kajian tauhid, madzhab ahlus sunnah | Leave a Comment »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
Ahlul Hadits menetapkan kebenaran akan turunnya Allah ta’ala pada setiap malam kelangit dunia, tanpa menyerupai dengan turunnya makhluk, tanpa memperumpamakannya serta tanpa mereka-reka bagaimananya.
Namun mereka menetapkan sebatas yang ditetapkan oleh Rasulullah, dan menafsirkan berdasarkan dzahirnya, sementara hakikat maknanya mereka serahkan kepada Allah.
Demikian juga mereka menetapkan berita yang diturunkan Allah ta’ala dalam Al-Qur’an diantaranya mengenai Al-Maji’ dan Al-Ityan (kehadiran dan kedatangan Allah), Allah berfirman :
هَلْ يَنظُرُونَ إِلاَّ أَن يَأْتِيَهُمُ اللّهُ فِي ظُلَلٍ مِّنَ الْغَمَامِ وَالْمَلآئِكَةُ
“Tiada yang mereka nanti-nanti [pada hari kiamat] melainkan datangnya Allah dan malaikat dalam naungan awan…”(Al-Baqarah:210) Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: ahlus sunah wal jama'ah, aqidah islam, kajian tauhid, langit dunia, madzhab ahlus sunnah, nuzul | Leave a Comment »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
Ahlul Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berada di atas tujuh lapis langit, di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana dalam surat Yunus:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الأَمْرَ مَا مِن شَفِيعٍ إِلاَّ مِن بَعْدِ إِذْنِهِ ….
“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada keizinan-Nya” (Yunus:3) Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: ahlus sunnah wal jama'ah, aqidah islam, istiwa', kajian tauhid, madzhab ahlus sunnah | Leave a Comment »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
[Syaikh Abu Utsman Isma'il Ash-Shabuni berkata:] “Ashhabul Hadits bersaksi dan berkeyakinan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah (ucapan Allah), Kitab-Nya dan wahyu yang diturunkan, bukan makhluk. Siapa yang menyatakan dan berkeyakinan bahwa ia makhluk maka kafir menurut pandangan mereka.
Al-Qur’an merupakan wahyu dan kalamullah yang diturunkan melalui Jibril kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dengan bahasa Arab untuk orang-orang yang berilmu sebagai peringatan dan kabar gembira, sebagaimana firman Allah ta’ala:
وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ - نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ - عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ - بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ
“Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. (Asy-Syu’ara: 192-195)
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: ahlus sunnah wal jama'ah, aqidah islam, kajian tauhid, kalam Allah, madzhab ahlus sunnah | Leave a Comment »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
Dan demikian juga pernyataan mereka tentang sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla yang disebutkan dalam Al-Qur’an maupun hadits-hadits yang shahih, diantaranya: pendengaran, penglihatan, mata, wajah, ilmu, kekuatan, kekuasaan, keperkasaan, keagungan, kehendak, keinginan, perkataan, ucapan, ridha, marah, hidup, terjaga, gembira, tertawa, dll. Tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluk, tetapi mencukupkan dengan apa yang dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya tanpa menambah-nambahi, mengembel-embeli, takyif, tasybih, tahrif, mengganti, merubah, serta tidak membuang lafadz khabar yang bisa dipahami untuk kemudian ditakwil dengan makna yang salah.
Mereka menafsirkan berdasarkan dzahirnya dan menyerahkan makna sesungguhnya kepada Allah, dan mengatakan bahwasanya hakikat sesungguhnya yang mengetahui hanyalah Allah. Sebagaimana diberitakan oleh Allah tentang orang-orang yang dalam ilmunya:
وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الألْبَابِ
” Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal” (Ali-Imran:7
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: ahlus sunnah wal jama'ah, aqidah islam, ayat-ayat mutasyabihat, kajian tauhid, madzhab ahlus sunnah | Leave a Comment »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
[Syaikh Abu Utsman Isma'il Ash-Shabuni berkata]: Semoga Allah melimpahkan taufiq. Sesungguhnya Ashhabul Hadits (yang berpegang teguh kepada Al-Kitab dan As-Sunnah) -semoga Allah menjaga mereka yang masih hidup dan merahmati mereka yang telah wafat- adalah orang-orang yang bersaksi atas keesaan Allah, dan bersaksi atas kerasulan dan kenabian Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam.
Mereka mengenal Allah subhanahu wata’ala dengan sifat-sifatnya yang Allah utarakan melalui wahyu dan kitab-Nya, atau melalui persaksian Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits-hadits yang shahih yang dinukil dan disampaikan oleh para perawi yang terpercaya. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: ahlus sunnah wal jama'ah, aqidah islam, jahamiyah, kajian tauhid, madzhab ahlus sunnah, mu'tazilah, musyabbihah, sifat-sifat Allah | Leave a Comment »
Ditulis oleh fauzi di/pada 03/12/2008
Materi ini disarikan dari karya :
Syaikhul Islam Abu Utsman Isma’il Ash-Shabuni
(373 H – 449 H)
Beliau adalah sosok Ulama yang gigih menuntut ilmu, pada umur 10 tahun sudah menjadi juru nasehat.
Imam Al-Baihaqi, murid langsung beliau berkata: “Beliau adalah syaikhul Islam sejati, dan imam kaum muslimin sebenar-benarnya”.
Ditulis dalam Tauhid | Bertanda: ahlus sunnah wal jama'ah, aqidah islam, Ash Shabuni, Imam Al Baihaqi, kajian tauhid, madzhab ahlus sunnah, syaikhul Islam | 1 Komentar »