Samudra Ilmu Agama Islam

Islam Rahmatan Lil 'Alamin

PELAJARAN KETUJUH (TAFSIR SURAT AN NUR AYAT 27 – 34)

Posted by Administrator pada 21 November 2008

SARANA PREVENTIF DALAM PENDIDIKAN AKHLAQ : ADAB-ADAB DALAM RUMAH TANGGA DAN MENJAGA AURAT

Islam tidak hanya mengandalkan hukuman dalam mendidik umatnya. Lebih dari itu Islam sangat mengedepankan sarana preventif pendidikan akhlaq.

Problem seksual yang menjadi tema akhlaq keluarga dan masyarakat dalam surah An Nur dicegah dengan sarana preventif pencegahan seperti yang diterangkan dalam ayat 27 sampai 34 ini.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (27) فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَإِنْ قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا هُوَ أَزْكَى لَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ (28) لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ مَسْكُونَةٍ فِيهَا مَتَاعٌ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ (29) قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (30) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آَبَائِهِنَّ أَوْ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (31) وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (32) وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَالَّذِينَ يَبْتَغُونَ الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا وَآَتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آَتَاكُمْ وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَنْ يُكْرِهُّنَّ فَإِنَّ اللَّهَ مِنْ بَعْدِ إِكْرَاهِهِنَّ غَفُورٌ رَحِيمٌ (33) وَلَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ آَيَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ وَمَثَلًا مِنَ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ (34)

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminat izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu ingat.

Jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapatkan izin. Dan jika dikatakan kepadamu, “Kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih baik bagimu. Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutup kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan kepadamu.

Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.

Prinsip-prinsip umum pendidikan akhlaq seperti yang termuat dalam ayat di atas adalah :

1. Mempersempit peluang penyimpangan

2. Menjauhkan semua faktor pengganggu (fitnah)

3. Memilih jalan yang menarik

4. Menghilangkan gangguan yang merintangi proses pemuasan yang dilakukan dengan cara halal.

Sarana prefentif pendidikan akhlaq dalam membangun keluarga akan kami paparkan dalam beberapa kosep berikut ini, yaitu:

1. Isti’dzan (meminta izin) sebelum memasuki rumah

2. Ghadhdhu al bashar (menundukkan pandangan)

3. Memudahkan proses pernikahan

4. Penghapusan pelacuran

1. Isti’dzan (Meminta Izin) Sebelum Memasuki Rumah

  1. Kehormatan Rumah

Di antara ciri peradaban manusia adalah adanya rumah sebagai tempat tinggal, setelah pakaian sebagai penutup aurat.

Dengan rumah itu seseorang mendapatkan privasi diri, tidak menjadi sasaran pandang setiap orang, penghuninya dapat menikmati kesenangan pribadinya dengan leluasa. Rumah menjadi perisai seseorang dari pandangan orang luar, dan menjadi batas yang tidak boleh dilewati tanpa izin.

Sababun nuzul ayat ini akan semakin memperjelas tujuan disyariatkannya isti’dzan sebelum masuk ke ruamh orang lain.

Seorang wanita Anshar mengadu kepada Rasulullah: “Ya Rasulallah! Aku berada di rumahku dalam keadaan yang aku sendiri tidak ingin dilihat orang lain. Akan tetapi selalu saja ada laki-laki dari familiku masuk ke dalam rumahku. Apa yang harus aku lakukan?” Maka turunlah ayat 27 ini.[1]

Firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminat izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. (QS. An Nur/24: 27)

Masuknya seseorang ke rumah orang lain tanpa sepengetahuan penghuninya, akan membuka peluang terkuaknya tabir penutup kehormatan seseorang, sehingga menimbulkan terjadinya perbuatan yang tercela atau menjadi sasaran tuduhan bagi orang-orang yang hendak menyebarkan fitnah dalam masyarakat.

Dari itulah Islam menjadikan rumah sebagai ruang privasi, yang tidak boleh diganggu kehormatannya. Tidak boleh ada orang asing, masuk ke dalamnya tanpa mendapatkan izin dari tuan rumah, karena dikhawatirkan akan melihat rahasia-rahasia isi rumah itu, melihat aurat penghuni rumah yang sedang terlena, dsb. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَوْ أَنَّ رَجُلًا اطَّلَعَ عَلَيْكَ بِغَيْرِ إِذْنٍ فَخَذَفْتَهُ بِحَصَاةٍ فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ مَا كَانَ عَلَيْكَ مِنْ جُنَاحٍ

Artinya: Dari Abu Hurairah bahwa ras saw bersabda : Jika ada seorang laki-laki yang mengintipmu dengan tanpa ijin, kemudian kamu melemparnya dengan kerikil, sehingga kamu membuat luka matanya, maka kamu tidak berdosa”. ( H.R. Bukhari dan Muslim)

  1. Adab Isti’dzan

Larangan memasuki rumah orang lain itu berlaku sampai mendapatkan izin dari pemilik rumah. Dalam meminta izin ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :

1. Memberi Salam Dahulu, Kemudian Meminta Izin.

Rib’iy Ibn Harasy bercerita: Ada seorang laki-laki mendatangi rumah Nabi, lalu orang itu berkata: “Bolehkah saya masuk?”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada pembantunya :

عَنْ رِبْعِيٍّ قَالَ : حَدَّثَنَا رَجُلٌ مَنْ بَنِي عَامِرٍ أَنَّهُ اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي بَيْتٍ , فَقَالَ : أَلِجُ , فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِخَادِمِهِ : اخْرُجْ إِلَى هَذَا فَعَلِّمْهُ الِاسْتِئْذَانَ , فَقُلْ لَهُ : قُلْ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَأَدْخُلُ , فَسَمِعَهُ الرَّجُلُ , فَقَالَ : السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَأَدْخُلُ , فَأَذِنَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَخَلَ

Artinya: Dari Rib’i bawha dia berkata : “Kami diberi cerita oleh seseorang dari Bani Amir bahwa dia meminta ijin untuk masuk menghadap ras saw pada waktu dia berada di rumah. Dia berkata : “Bolehkan saya masuk ?”. Maka ras saw berkata kepada pembantunya : “Keluarlah dan temui orang itu, kemudian ajarkan kepadanya: Katakan Assalamualaikum, Bolehkah saya masuk?. Laki-laki di luar itu mendengar ucapan Nabi. Lalu dia mengatakan: : Assalamualaikum, Bolehkah saya masuk? Nabi memberinya izin, dan laki-laki itupun masuk. (Hadits Riwayat Abu Dawud)

2. Memberitahukan Nama, atau Julukan Yang dikenal.

Dalam hadits Isra’ disebutkan :

عَنْ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ صَعْصَعَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَأُتِيتُ بِدَابَّةٍ أَبْيَضَ دُونَ الْبَغْلِ وَفَوْقَ الْحِمَارِ الْبُرَاقُ , فَانْطَلَقْتُ مَعَ جِبْرِيلَ حَتَّى أَتَيْنَا السَّمَاءَ الدُّنْيَا , قِيلَ : مَنْ هَذَا ؟ قَالَ : جِبْرِيلُ , قِيلَ : مَنْ مَعَكَ ؟ قَالَ : مُحَمَّدٌ , قِيلَ : وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ ؟ قَالَ : نَعَمْ , قِيلَ : مَرْحَبًا بِهِ , وَلَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ , فَأَتَيْتُ عَلَى آدَمَ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ , فَقَالَ : مَرْحَبًا بِكَ مِنْ ابْنٍ وَنَبِيٍّ , فَأَتَيْنَا السَّمَاءَ الثَّانِيَةَ , قِيلَ : مَنْ هَذَا ؟, قَالَ : جِبْرِيلُ , قِيلَ : مَنْ مَعَكَ ؟ قَالَ : مُحَمَّدٌ , قِيلَ : وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ ؟, قَالَ : نَعَمْ , قِيلَ : مَرْحَبًا بِهِ وَلَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ , فَأَتَيْتُ عَلَى عِيسَى وَيَحْيَى , فَقَالَا : مَرْحَبًا بِكَ مِنْ أَخٍ وَنَبِيٍّ , فَأَتَيْنَا السَّمَاءَ الثَّالِثَةَ قِيلَ : مَنْ هَذَا ؟ قِيلَ : جِبْرِيلُ , قِيلَ : مَنْ مَعَكَ ؟, قِيلَ : مُحَمَّدٌ , قِيلَ : وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ ؟, قَالَ : نَعَمْ , قِيلَ : مَرْحَبًا بِهِ وَلَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ , فَأَتَيْتُ عَلَى يُوسُفَ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ , قَالَ : مَرْحَبًا بِكَ مِنْ أَخٍ وَنَبِيٍّ , فَأَتَيْنَا السَّمَاءَ الرَّابِعَةَ , قِيلَ : مَنْ هَذَا ؟ قَالَ : جِبْرِيلُ , قِيلَ : مَنْ مَعَكَ ؟, قِيلَ : مُحَمَّدٌ, قِيلَ : وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ , قِيلَ : نَعَمْ , قِيلَ : مَرْحَبًا بِهِ وَلَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ, فَأَتَيْتُ عَلَى إِدْرِيسَ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ , فَقَالَ : مَرْحَبًا بِكَ مِنْ أَخٍ وَنَبِيٍّ , فَأَتَيْنَا السَّمَاءَ الْخَامِسَةَ , قِيلَ : مَنْ هَذَا ؟, قَالَ : جِبْرِيلُ , قِيلَ : وَمَنْ مَعَكَ ؟, قِيلَ : مُحَمَّدٌ , قِيلَ : وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ ؟, قَالَ : نَعَمْ , قِيلَ : مَرْحَبًا بِهِ وَلَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ , فَأَتَيْنَا عَلَى هَارُونَ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ , فَقَالَ : مَرْحَبًا بِكَ مِنْ أَخٍ وَنَبِيٍّ , فَأَتَيْنَا عَلَى السَّمَاءِ السَّادِسَةِ , قِيلَ : مَنْ هَذَا ؟, قِيلَ : جِبْرِيلُ , قِيلَ : مَنْ مَعَكَ ؟, قِيلَ : مُحَمَّدٌ , قِيلَ : وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ ؟ مَرْحَبًا بِهِ وَلَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ , فَأَتَيْتُ عَلَى مُوسَى فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ , فَقَالَ : مَرْحَبًا بِكَ مِنْ أَخٍ وَنَبِيٍّ , فَلَمَّا جَاوَزْتُ بَكَى , فَقِيلَ : مَا أَبْكَاكَ , قَالَ : يَا رَبِّ هَذَا الْغُلَامُ الَّذِي بُعِثَ بَعْدِي يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِهِ أَفْضَلُ مِمَّا يَدْخُلُ مِنْ أُمَّتِي ؟, فَأَتَيْنَا السَّمَاءَ السَّابِعَةَ , قِيلَ : مَنْ هَذَا ؟, قِيلَ : جِبْرِيلُ , قِيلَ : مَنْ مَعَكَ ؟, قِيلَ : مُحَمَّدٌ , قِيلَ : وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ ؟ مَرْحَبًا بِهِ وَلَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ , فَأَتَيْتُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ , فَقَالَ : مَرْحَبًا بِكَ مِنْ ابْنٍ وَنَبِيٍّ

Dari Anas ra, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Kemudian Jibril naik membawa aku ke langit dunia lalu mengetuk pintu, ia ditanya: “Siapakah ini? Ia menjawab: “Jibril”. Kemudian ditanya : “Dan siapakah orang yang bersamamu? Ia menjawab: “Muhammad”. Kemudian ia membawaku ke langit kedua, ketiga dan seterusnya. Dan pada setiap pintu langit ia ditanya “Siapa ini?” Dan Jibril pun menjawab: “Jibril”. (Hadits Muttafaq alaih)

Jabir ra berkata:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ : أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي دَيْنٍ كَانَ عَلَى أَبِي , فَدَقَقْتُ الْبَابَ , فَقَالَ : مَنْ ذَا ؟, فَقُلْتُ : أَنَا , فَقَالَ : أَنَا أَنَا , كَأَنَّهُ كَرِهَهَا

Artinya : “Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radlia’llaahu ‘anhuma bahwa dia berkata : “Saya pernah mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk membayar hutang bapakku kepadanya, lalu saya mengetuk pintu. Beliau bertanya: “Siapa itu?”. Saya menjawab: “Saya”. Beliau berkata : “Saya, saya”. Sepertinya beliau tidak suka. (H.R. Al Bukhari dan Muslim)

Dalam sebuah riwayat hadits yang lain disebutkan :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ عُمَرَ أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي مَشْرُبَةٍ لَهُ , فَقَالَ : السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ , السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَيَدْخُلُ عُمَرُ ؟

Artinya : “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dari Umar bahwa dia dating menghadap ras saw pada waktu sedang minum. Dia berkata : “Assalamu’alaikum, wahai ras. Assalamu’alaikum. Bolehkan Umar Masuk?”.

3. Meminta Izin Tiga Kali

عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ أَنَّهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْاسْتِئْذَانُ ثَلَاثٌ فَإِنْ أُذِنَ لَكَ فَادْخُلْ وَإِلَّا فَارْجِعْ

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Musa Al Asy’ari ra, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Meminta izin itu tiga kali, jika diizinkan, maka itu untukmu, dan jika tidak dizinkan maka kembalilah. (H.R Malik di dalam Al Muwatho’)

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ : كُنْتُ فِي مَجْلِسٍ مِنْ مَجَالِسِ الْأَنْصَارِ إِذْ جَاءَ أَبُو مُوسَى كَأَنَّهُ مَذْعُورٌ , فَقَالَ : اسْتَأْذَنْتُ عَلَى عُمَرَ ثَلَاثًا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي فَرَجَعْتُ , فَقَالَ : مَا مَنَعَكَ ؟ قُلْتُ : اسْتَأْذَنْتُ ثَلَاثًا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي فَرَجَعْتُ, وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا اسْتَأْذَنَ أَحَدُكُمْ ثَلَاثًا فَلَمْ يُؤْذَنْ لَهُ فَلْيَرْجِعْ ، فَقَالَ : وَاللَّهِ لَتُقِيمَنَّ عَلَيْهِ بِبَيِّنَةٍ , أَمِنْكُمْ أَحَدٌ سَمِعَهُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ : وَاللَّهِ , لَا يَقُومُ مَعَكَ إِلَّا أَصْغَرُ الْقَوْمِ , فَكُنْتُ أَصْغَرَ الْقَوْمِ , فَقُمْتُ مَعَهُ , فَأَخْبَرْتُ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ذَلِكَ

Artinya : Dari abu Said Al Khudzriy berkata: “Ketika saya bersama-sama kaun Anshar, tiba-tiba datang Abu Musa yang kelihatan sangat berduka, dan berkata: “Saya meminta ijin kepada Umar tiga kali, tetapi tidak mendapatkan jawaban lalu saya kembali pulang. Kemudian Umar ra menegurku: “Kenapa kamu tidak datang menemuiku?”. Saya katakan bahwa saya telah datang dan meminta inin untuk masuk tiga kali tetapi tidak mendapatkan jawaban dari dalam rumah, lalu saya kembali pulang, karena saya mendengar Rasulullah pernah bersabda: “Jika salah seorang di antaramu meminta izn tiga kali lalu tidak diizinkan, maka hendaklah ia kembali”. Umar berkata: “Demi Allah, kamu harus dapat membukti-kan hadits itu. Apakah di antara kalian ada yang pernah mendengarnya dari Nabi?. Ubay bin Ka’ab berkata: “Demi Allah, tidak ada orang yang dapat membuktikannya kecuali orang yang paling muda.” Maka saya (Abu Said Al Khudzriy) orang yang paling muda pada waktu itu, berangkat menemui Umar, untuk menyampaikan bahwa Rasulullah pernah mengucapkannya. (HR Al Bukhariy)[2]

4. Tidak Mengetuk Pintu Dengan Keras

Dilarang mengetuk pintu dengan keras, apalagi jika yang ada di dalam rumah itu adalah orang-orang yang dihormati. Seperti orang tua, guru, atau orang-orang mulia lainnya.

Para ulama salaf, jika ingin mengetuk pintu guru-gurunya, ia ketuk dengan kukunya. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sangat memperhatikan masalah penghormatan dan etika. Apalagi jika orang yang hendak ditemui berada di dekat pintu. Tetapi jika orang yang hendak ditemui jauh dari pintu maka ketukan disesuaikan dengan kebutuhan pada waktu itu, selama tidak dengan menggedor pintu. Dan jika terdapat bel, maka hal itu akan sangat membantu menjaga akhlak dan kehormatan masing-masing.

Disebutkan dalam sebuah hadits

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ أَبْوَابَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم كَانَتْ تُقْرَعُ بِالأَظَافِيرِ

Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa pintu-pintu rumah ras saw itu dapat diketuk dengan kuku-kuku. (HR Baihaqi dalam Syu’abul Iman, Abu Nu’aim dalam Akhbaru Ashfahan, Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad dan Ibnu Hajar dalam kitab Al Mathalib Al ‘Aliyah).

5. Menjauh Diri Dari Pintu Atau Tidak Menghadap Ke Pintu Ketika Meminta Izin

Pada saat meminta izin posisi tamu berada agak jauh dari pintu. Hal ini dikhawatirkan jika yang membuka pintu itu lawan jenis yang bukan mahram. Sedangkan meminta izin sebelum memasuki rumah bertujuan untuk meyakinkan apakah ada yang di rumah itu atau tidak, diizinkan masuk atau tidak. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا جُعِلَ الِاسْتِئْذَانُ مِنْ أَجْلِ الْبَصَرِ

Artinya: Sesungguhnya meminta izin itu disyariatkan tiada lain kecuali karena pandangan. (H.R. Al Bukhari)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى بَابَ قَوْمٍ لَمْ يَسْتَقْبِلْ الْبَابَ مِنْ تِلْقَاءِ وَجْهِهِ , وَلَكِنْ مِنْ رُكْنِهِ الْأَيْمَنِ أَوْ الْأَيْسَرِ , وَيَقُولُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ , السَّلَامُ عَلَيْكُمْ , وَذَلِكَ أَنَّ الدُّورَ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهَا يَوْمَئِذٍ سُتُورٌ

Artinya: Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam jika hendak mendatangi pintu suatu kaum, ia tidak pernah menghadap pintu dari arah depannya, melainkan dari sudut sebelah kanan atau sebelah kiri dan mengucapkan “Assalamu-alaikum, assalamualaikum. Hal itu karena rumah-rumah pada waktu itu tidak memiliki penutup-penutup.” (H.R. Abu Dawud).

Dalam hadits lain, Sa’d As Sa’idiy memberitahukan kepada Rasulullah tentang seseorang yang melongok ke arah pintu rumah Nabi, pada waktu itu Nabi sedang memegang jarum. Mendengar hal itu Nabi bersabda:

Artinya: Jika saya mengetahuinya akan saya colok matanya (HR. Muslim)

6. Pulang dengan lega hati, jika diminta pulang

Firman Allah:

وَإِنْ قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا هُوَ أَزْكَى لَكُمْ

Artinya: Jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapatkan izin. Dan jika dikatakan kepadamu, “Kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih baik bagimu. (QS. An Nur/24: 28)

Bagi orang beriman yang meminta izin ke rumah seseorang lalu tidak diizinkan masuk, maka harus menerima dengan lega hati.

Inilah kriteria umum seorang yang hendak memasuki rumah orang lain. Kecuali jika berada dalam kondisi terpaksa, seperti adanya musibah kebakaran, serangan pencuri, atau kondisi lain yang tidak memungkinkan seseorang meminta izin.

Ada lagi rumah yang boleh dimasuki tanpa izin, yaitu: rumah-rumah singgah yang menjadi tempat persinggahan umum bagi para pedagang, dsb.

Seperti yang disebutkan dalam sababun nuzul (sebab turunnya) ayat ini, yaitu:

Ketika sudah turun ayat perintah meminta izin memasuki rumah, Abu Bakar berkata: “Ya Rasulallah! Bagaimana pedagang-pedagang Quraisy yang hilir mudik ke Makkah, Madinah, Syam, dan mereka mempunyai rumah-rumah tertentu di jalan, apakah mereka mesti minta izin dan memberi salam padahal tidak ada penghuninya? Maka turunlah ayat 29.[3]

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ مَسْكُونَةٍ فِيهَا مَتَاعٌ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ

Artinya: Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan. (QS. An Nur/24:29)

Dengan demikian hilanglah kesulitan mendapatkan izin memasuki rumah, seperti yang dipertanyakan Abu Bakar.

Adab isti’dzan (meminta izin) sebelum memasuki rumah ini menunjukkan kehormatan rumah dan penghuninya, yang berarti penghormatan kepada diri orang yang hendak memasukinya.

2. Ghadhdhul-Bashar (Menundukkan Pandangan)

Sesungguhnya Islam berusaha keras membangun masyarakat yang bersih, jauh dari rangsangan-rangsangan birahi, dan dorongan-dorongan nafsu bergejolak setiap waktu.

Proses rangsangan akan terus berjalan tanpa pernah henti, sehingga manusia hanya tersisa nafsu hewaninya. Pandangan mata, dandanan yang mengundang selera, dan tampilan yang mempesona, menjadi bunga-bunga yang membangkitkan selera.

Salah satu perhatian utama dalam membangun pendidikan akhlaq adalah menumbuhkan dinamika sosial tanpa mengekspos rangsangan seksual. Mempertahankan dorongan fitrah manusia dalam berkomunikasi dengan lawan jenis bersih tanpa virus, alamiah tanpa rekayasa, tepat guna sesuai dengan pesan Allah SWT. Pesan ini disampaikan suran An Nur dalam dua ayat berikut ini:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (30) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آَبَائِهِنَّ أَوْ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (31)

Artinya: Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutup kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An Nur/24: 30-31)

Dua ayat ini memberikan aturan detail tentang penggunaan mata, dan pergaulan antara orang-orang beriman. Adab-adab ini akan membentuk hati yang bersih dari dosa, dan dengan itu akan terhindar dari perbuatan ma’siat.

a. Arti Menundukkan Pandangan

Menundukkan pandangan artinya mengalihkan dengan cepat pandangan yang tanpa sengaja melihat sesuatu yang telah Allah haramkan.[4]Firman Allah :

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ

Artinya: Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. (QS. An Nur/24: 30)

Pandagan faj’ah (terjadi tanpa disengaja) ini masih ditolerir syari’ah, tetapi pandangan berikutnya dilarang agama. Sabda Nabi kepada Ali bin Abi Thalib:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ : يَا عَلِيُّ , إِنَّ لَكَ كَنْزًا مِنْ الْجَنَّةِ , وَإِنَّكَ ذُو قَرْنَيْهَا , فَلاَ تُتْبِعْ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّمَا لَكَ الأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الآخِرَةُ

Artinya: Dari ali radliallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya : Hai Ali, Sesungguhnya kamu memiliki timbunan harta dari surga dan sesungguhnya kamu adalah pemilik dua tanduknya. Maka janganlah kamu lanjutkan pandangan tanpa sengajamu dengan pandangan berikutnya, karena yang pertama itu boleh dan yang kedua tidak boleh. (H.R. Ahmad dalam bab musnad hadits Ali).

Hadits yang seperti ini juga diriwayatkan dari Abdullah bin Buraidah Al Bajali oleh Abu Dawud, Turmudzi dan Ahmad).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan orang duduk di tepi jalan:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ فِي الطُّرُقَاتِ , قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ , مَا لَنَا بُدٌّ مِنْ مَجَالِسِنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا , قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجْلِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ , قَالُوا : وَمَا حَقُّهُ ؟, قَالَ : غَضُّ الْبَصَرِ, وَكَفُّ الْأَذَى , وَرَدُّ السَّلَامِ , وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ , وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa dia bersabda : “Janganlah kamu duduk di pinggir jalan!”. Para sahabat menjawab :” Ya Rasulallah, kami memerlukannya untuk membicarakan urusan kami”. Rasulullah bersabda: ” Jika kamu membutuhkannya maka berikanlah hak jalan itu”. Tanya sahabat: “Apakah hak jalan itu?”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Menundukkan pandangan, menghilangkan/mencegah gangguan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar. (H. R. Muslim)

Dari Jarir bin Abdullah berkata:

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ : سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِي أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِي

Dari Jarir bin Abdullah bahwa dia berkata : “Saya pernah bertanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan tanpa sengaja, lalu dia menyuruhkuagar mengalihkan pandanganku . (H.R. Muslim, Turmudzi dan Ahmad. Dan Turmudzi berkata : “Hadits ini adalah hasan shahih)

Menundukkan pandangan bagi seorang laki-laki menunjukkan pribadi yang beradab mulia. Ia merupakan usaha untuk membersihkan jiwa dengan meredam gejolak nafsu yang ingin memperhatikan keindahan, pesona dan fitnah yang ada pada wajah atau fisik lawan jenisnya. Firman Allah:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ

Artinya: Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. (QS. An Nur/24: 30)

Dengan menjaga pandangan ini, maka tertutuplah pintu pertama yang menyeret kepada penyimpangan dan godaan.

b. Menjaga Aurat

Kata “aurat” menurut bahasa berarti an naqshu (kekurangan). Dan dalam istilah syar’iy (agama), kata aurat berarti : sesuatu yang wajib di tutup dan haram dilihat. Dan para ulama telah bersepakat tentang kewajiban menutup aurat baik dalam shalat maupun di luar shalat. [5]

Menjaga aurat adalah konsekwensi logis dari konsep menundukkan pandangan, atau sering pula disebut sebagai langkah kedua dalam mengendalikan keinginan dan membangun kesadaran, setelah konsep menundukkan pandangan.

Dari itulah dua hal ini diletakkan dalam satu rangkaian ayat yang mengisyaratkan adanya hubungan sebab akibat, atau keduanya sebagai dua langkah strategis yang saling mendukung.

Aurat seseorang terhadap orang lain dapat dipetakan dalam kerangka berikut ini, yaitu: aurat laki-laki terhadap laki-laki, aurat wanita terhadap wanita, aurat laki-laki di hadapan wanita, dan aurat wanita di hadapan laki-laki. [6]

1. Aurat laki-laki bersama dengan laki-laki.

Bersama dengan kaum lelaki, ia tidak boleh menampakkan bagian antara lutut dan pusarnya, baik laki-laki yang melihatnya itu kerabatnya maupun orang lain, baik muslim maupun kafir. Adapun selain anggota tubuh itu boleh terlihat selama tidak ada fitnah. Rasulullah bersabda:

عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ مُحَمَّدِ بن عَلِيٍّ، قَالَ : قُلْنَا لِعَبْدِ اللَّهِ بن جَعْفَرٍ، حَدِّثْنَا بِمَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَأَيْتَ مِنْهُ، وَلا تَحَدِّثْنَا عَنْ غَيْرِكَ، وَإِنْ كَانَ ثِقَةً، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ:”مَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ عَوْرَةٌ

Artinya: Dari Abu Ja’far bin Muhammad bin Ali (bin Abi Thalib) bahwa dia berkata : “Kami berkata kepada Abdullah bin Ja’far : “Berilah kemi cerita dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan janganlah kamu memberi cerita kepada kami dari selainnya, walaupun dia orang yang terpercaya”. Maka dia berkata : “Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Apa yang ada di antara pusar dan lutut adalah aurat. (H.R. Al Hakim)

عَنْ عَلِيٍّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ تُبْرِزْ فَخِذَكَ وَلاَ تَنْظُرَنَّ إِلَى فَخِذِ حَيٍّ وَلاَ مَيِّتٍ

Artinya: dari Ali radliallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah kamu menampakkan pahamu, dan janganlah kamu melihat kepada pada orang yang masih hidup atau yang sudah mati”. (H.R.Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)

2. Aurat wanita terhadap wanita

Wanita bersama dengan kaum wanita, bagaikan laki-laki terhadap laki-laki, diperbolehkan melihat seluruh badannya kecuali antara lutut dan pusarnya, kecuali diindikasikan akan membawa fitnah, maka tidak boleh menampakkan bagian tubuh itu.

Hanya saja kepada wanita yang tidak seagama, wanita muslimah tidak boleh menampakkan auratnya sebagaimana kepada sesama wanita muslimah. Karena wanita yang tidak seagama berstatus orang lain bagi wanita muslimah. Allah berfirman :

أَوْ نِسَائِهِنَّ

Artinya: …atau wanita-wanita Islam…. (QS. An Nur/24:30)

3. Aurat laki-laki di hadapan wanita

Seorang wanita muslimah diperbolehkan melihat kaum lelaki yang berjalan di jalan-jalan, atau memainkan permainan yang tidak diharamkan, yang sedang berjual beli, dan sebagainya.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyaksikan orang-orang Habsyiy bermain lembing di dalam masjid pada hari raya dan Aisyah ikut menyaksikan mereka dari belakang beliau. Rasulullah menghalangi Aisyah dari mereka, sampai ia merasa bosan dan pulang. Peristiwa ini terjadi pada tahun ke tujuh Hijriyah. [7]

Sedangkan hadits yang mengatakan :

“Berhijablah kalian berdua dari padanya. Apakah kalian berdua buta? Bukankah kalian berdua melihatnya?”[8] Menunjukkan bahwa Ummu Salamah dan Maimunah berkumpul bersama Ibnu Ummi Maktum di dalam satu majlis, mereka bertemu pandang dan berhadap hadapan.

Pada kenyataannya, memang sangat berbeda antara pandangan laki-laki pada wanita dan pandangan wanita pada laki-laki. Wanita dengan rasa malu yang tinggi akan cenderung pasif, sedangkan laki-laki dengan sifat pemberaninya akan cenderung aktif dan kreatif.

Kesimpulannya, wanita diperbolehkan melihat lelaki lain dengan dua syarat, yaitu :

Pertama, tidak dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah.

Kedua, tidak berada dalam satu majlis berhadap-hadapan.

4. Aurat wanita di hadapan laki-laki

Keberadaan wanita di hadapan lawan jenisnya memiliki rincian hukum yang berbeda-beda, yaitu:

a. Di hadapan laki-laki lain, yang tidak ada hubungan mahram. Maka seluruh badan wanita adalah aurat, kecuali wajah dan telapak tangan. Karena keduanya diperlukan dalam bermu’amalah, memberi dan menerima.

Pandangan laki-laki kepada wajah dan telapak tangan wanita bisa diklasifikasikan dalam tiga kelompok, yaitu:

1. Tidak diperbolehkan dengan sengaja melihat wajah dan telapak tangan wanita lain tanpa tujuan sya’iy. Dan jika tanpa sengaja melihatnya maka segera harus memalingkan pandangan seperti yang telah dijelaskan pada pandangan faj’ah (tanpa sengaja).

2. Melihat karena ada tujuan syar’iy dan tidak ada fitnah, seperti melihat untuk melamar.

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ اِمْرَأَةً ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى بَعْضِ مَا يَدْعُوْهُ إِلَى نِكَاحِهَا فَلْيَفْعَلْ » فَخَطَبْتُ اِمْرَأَةً مِنْ بَنِيْ سُلَيْمٍ فَكُنْتُ أَتَخَبَّأُ لَهَا فِيْ أُصُوْلِ النَّخْلِ حَتَّى رَأَيْتُ مِنْهَا مَا دَعَانِيْ إَلَى نِكَاحِهَا فَتَزَوَّجْتُهَا . قال حاكم : هذا حديث صحيح على شرط مسلم ، ولم يخرجاه

Artinya: Dari Jabi (bin Abdullah) bahwa dia berkata : “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jika salah seorang diantaramu, meminang seorang wanita maka jika ia mampu melihat bagian yang mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah”. Kemudian aku meminang seorang wanita dari Bani Sulaim, lalu aku bersembunyi di bawah pohon korma untuk melihatnya, sampai aku dapat melihat kepada beberapa hal yang menodorngku untuk melihatnya, kemudian aku menikahinya. (HR Hakim dan dia berkata : “Hadits ini shahih sesuai dengan syarat Muslim dan keduanya (Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya )

Dan untuk semua tujuan itu, seseorang diperbolehkan melihat wajahnya, yang dengan melihat wajah itu sudah cukup untuk mengenalinya.

3. Memandang dengan syahwat, inilah pandangan terlarang, seperti yang disebutkan dalam hadits Nabi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنْ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

Artinya: Diriwayatkan dari Abu hurairah radliallaahu ‘anhu bawha Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : “Telah ditetapkan atas setiap anak Adam bagian dari zina, zina mata adalah memandang, zina telinganya adalah mendengarkan, zina mulut adalah ucapannya, , zina tangan adalah memegangnya, zina kaki adalah langkahnya, zina hatinya berharap dan berkehendak, sedangkan kemaluannya membenarkan atau mendustakannya. (H.R. Muslim, Ahad dan Baihaqi dalam As Sunan Al Kubro)

Sababun nuzul ayat 30 ini sangat memperjelas kewajiban menjaga pandangan, yaitu kisah seorang laki-laki yang lewat di salah satu jalan di Madinah, ia memandangi seorang wanita. Dan wanita itupun membalas memandanginya. Syetan ikut bermain menggoda keduanya, sehingga keduanya saling mengagumi. Sambil berjalan laki-laki itu terus memandangnya hingga ia menabrak tembok dan berdarah hidungnya. Ia berkata:

“Demi Allah! Saya tidak akan membasuh darah ini sebelum saya menemui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam lalu saya ceritakan kejadian ini.”

Laki-laki itu segera menemui Nabi dan menceritakan kejadiannya. Nabi bersabda:

“Inilah hukuman dosamu”. Dan Allah menurunkan ayat 30 dan 31 ini.[9]

Pengecualian dalam hukum ini adalah jika berada dalam keadaan terpaksa, seperti penglihatan dokter muslim yang terpercaya untuk pengobatan, khitan, atau penyelamatan dari bahaya kebakaran, tenggelam, dsb.

b. Di hadapan laki-laki yang memiliki hubungan mahram

Jika laki-laki itu memiliki hubungan mahram karena nasab, sepersusuan, atau hubungan perkawinan (mertua), maka aurat wanita itu sebagaimana aurat laki-laki yaitu diperbolehkan melihat semua badannya kecuali antara pusar dan lututnya. Kecuali jika ada fitnah, maka harus menutup seluruh badannya.

Ada Ulama lain yang mengatakan bahwa dalam kondisi itu wanita hanya boleh menampakkan bagian tubuh yang biasa terlihat sewaktu bekerja, yaitu: rambut, leher, lengan, dan betis. Firman Allah:

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آَبَائِهِنَّ أَوْ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ

Artinya: …Dan hendaklah mereka menutup kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasan-nya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka…( QS. An Nur/24:31)

c. Di hadapan suami

Seorang wanita di hadapan suaminya boleh menampakkan seluruh anggota badannya. Karena segala sesuatu yang boleh dinikmati, tentu boleh juga dilihat. Firman Allah:

إِلاَّ لِبُعُولَتِهِنَّ

Artinya: … kecuali kepada suami mereka, …,

Ada sebagian ulama yang mengatakan makruh melihat kemaluan. Karena Aisyah ra mengatakan tentang hubungannya dengan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا مَا رَأَيْت مِنْهُ وَلَا رَأَى مِنِّي

Artinya: “Saya tidak pernah melihat darinya dan ia tidak pernah melihat dariku.

d. Budak wanita di hadapan orang yang tidak boleh menikmatinya

Aurat budak wanita di hadapan laki-laki yang tidak boleh menikmatinya adalah seperti aurat laki-laki, yaitu antara lutut dan pusar. Dan jika di hadapan tuan yang boleh menikmatinya maka kedudukannya bagaikan isteri dengan suaminya. Firman Allah:

أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ

Artinya: …atau budak-budak yang mereka miliki,….

e. Zienah (Pesona) Wanita

Zienah wanita dikategorikan dalam dua bagian yaitu zienah khilqiyyah (ciptaan Allah), dan zienah muktasabah (diusahakan) sendiri oleh yang bersangkutan.

Zienah khilqiyah wanita adalah tubuh dan wajahnya yang merupakan pusat keindahan, dan sumber pengetahuan. Sedang zienah muktasabah adalah segala sesuatu yang diusahakan wanita untuk mempercantik dirinya, seperti pakaian, perhiasan emas-perak, dsb.[10]

Dari perhiasan itu ada yang zhahir (tampak luar) dan ada yang batin (di dalam).

Al Qur’an hanya memerintahkan kaum wanita untuk tidak menampakkan pesonanya itu, kecuali yang zahir seperti disebutkan dalam ayat :

Artinya: kecuali yang biasa nampak dari padanya.

Hal ini diajarkan, sebagai upaya menghindari fitnah.

Pengecualian yang disebutkan dalam ayat itu, difahami dengan berbeda-beda oleh para ulama. [11]

1. Abdullah ibn Mas’ud mengatakan bahwa zinah zahir adalah pakaian.

2. Ibnu Jubair menambahkan wajah termasuk yang zahir.

3. Al Auza’iy dan Atha’, menyebut wajah, dua telapak tangan dan pakaian.

4. Abdullah ibnu Abbas, Qatadah, dan Al Miswar menyebutkan zienah zahir itu adalah sipat mata, gelang, dan cincin.

5. Ibnu Athiyyah mengatakan bahwa dari tekstual ayat itu menunjukkan bahwa para wanita diperintahkan untuk tidak menampakkan dan berusaha keras menutupi apapun yang dikategorikan sebagai perhiasan yang mengundang daya tarik, kecuali bagian-bagian yang terpaksa tampak karena kebutuhan untuk bergerak.

Pendapat terakhir inilah pendapat yang paling obyektif menurut penulis. Dan pada kenyataannya wajah dan telapak tangan boleh ditampakkan baik dalam ibadah seperti shalat dan haji, maupun dalam ‘adah (keseharian).

Dalam hadits Nabi disebutkan :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ , فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ : يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتْ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ

Artinya: Diriwauyatkan dari Aisyah radliallaahu ‘anha bahwa Asma’ binti Abu Bakar datang ke rumah Nabi mengenakan pakaian yang agak tipis, lalu Nabi berpaling dan mengatakan: ”Wahai Asma’ sesungguhnya wanita yang sudah sampai usia haidh tidak boleh menampakkan badannya kecuali ini”. Sambil menunjuk muka dan telapak tangan. (HR Abu Dawud, Turmudzi dan Ahmad)

f. Gerakan erotis

Langkah prefentif lain yang diajarkan Al Qur’an adalah agar wanita tidak melakukan gerakan-gerakan yang memperlihatkan pesonanya, menggugah nafsu terpendam bagi orang yang melihatnya. Firman Allah:

وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ

Artinya: Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. (QS. An Nur/24: 31)

Allah SWT mengajarkan langkah prefentif yang faktual. Sesuai dengan reaksi jiwa manusia.

Sering kali hayalan itu terasa lebih dahsyat dalam menggugah birahi dibandingkan dengan penglihatan langsung. Banyak orang yang lebih terpesona ketika melihat baju, dan perhiasan dari pada melihat anggota badannya. Sebagaimana banyak orang yang lebih terpesona ketika parfum wanita menembus hidungnya daripada menyaksikan wanita itu di hadapan matanya.

Gemercik suara perhiasan dan semerbak aroma parfum dari kejauhan lebih sering membangkitkan gairah laki-laki dan menggelorakan jiwanya hingga tidak mampu mengendalikannya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Musa Al Asy’ari bawha dia berkata : “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Wanita mana saja yang menggunakan wewangian, kemudian berlalu di majlis (laki-laki) agar mereka mencium wanginya, maka dia adalah pezina”. ( H.R. Nasa’i, Ahmad, Hakim dan Baihaqi. Hakim berkata : “Hadits ini sanadnya shahih dan tidak diriwayatkan oleh mereka berdua”.)

Berangkat dari realitas ini maka suara wanita yang semula tidak termasuk aurat, bisa menjadi aurat jika disajikan dalam alunan yang mendayu-dayu, yang menggugah rasa kaum lelaki untuk menikmatinya lebih jauh lagi. Firman Allah:

فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

Artinya: Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. (QS. Al Ahzab/33: 32)

Kepada isteri Rasulullah saja Allah memerintahkannya untuk menjaga nada suaranya. Padahal mereka adalah ummul-mu’minin (ibu orang-orang beriman), apalagi kepada wanita selain mereka tentu peringatan ini jauh lebih diperlukan.

g. Mahram

Setiap wanita yang diharamkan bagi laki-laki untuk mengawininya disebut wanita mahram. Demikian pula setiap laki-laki yang diharamkan wanita untuk kawin dengannya disebut mahram. Di luar itu disebut sebagai ajnabi (orang lain).

Orang yang masuk dalam kelompok mahram diterangkan dalam ayat berikut ini:

وَلاَ تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آَبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلاً (22) حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاَتُكُمْ وَبَنَاتُ الأَخِ وَبَنَاتُ الأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللاَّتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللاَّتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلاَئِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلاَبِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الأُخْتَيْنِ إِلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (23)

Artinya: Dan janganlah kamu mengawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan. Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudar ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki dan anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan. Ibu-ibu yang menyusukan kamu dan saudara-saudara perempuan sepersusuan, ibu-ibu isterimu (mertua), anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum bercampur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan) maka kamu tidak berdosa mengawininya. Dan diharamkan (bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu)…. (QS. An Nisa/4: 22 – 23)

Mahram seseorang dapat dikelompokkan dalam pengkelompokan berikut ini:

1. Mahram karena nasab (keturunan), yaitu : ibu, anak perempuan, saudara perempuan, ‘amah/bibi (saudara ayah), khalah /bibi (saudara ibu), anak saudara laki-laki (keponakan), anak saudara perempuan (keponakan).

2. Mahram karena Pernikahan, yaitu: Isteri ayah (ibu tiri), Isteri anak (menantu), Ibu isteri (mertua), Anak-anak perempuan dari isteri (anak tiri).

3. Mahram karena Sepersusuan, yaitu: Ibu susu, dan saudara sepersusuan.

3. Mempermudah Proses Pernikahan

Kecenderungan laki-laki kepada wanita adalah kebutuhan biologis yang tidak dapat dipungkiri. Sunnatullah yang menjadikan semua makhluk di bumi ini berpasang-pasangan berlaku juga pada bangsa manusia yang pada saatnya membutuhkan pasangan hidupnya.

Cara-cara prefentif di atas memang ideal, tetapi tidak menyelesaikan masalah dengan baik. Masih dibutuhkan tindakan riil untuk mengatasi permasalahan moral itu dengan pemecahan yang realistis dan tidak berlawanan dengan fitrah manusia itu sendiri.

Al Qur’an mengajukan pemecahan masalah besar ini dengan membantu mempermudah proses pernikahan. Firman Allah:

وَأَنْكِحُوا الأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (32) وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لاَ يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَالَّذِينَ يَبْتَغُونَ الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا وَآَتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آَتَاكُمْ وَلاَ تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَنْ يُكْرِهُّنَّ فَإِنَّ اللَّهَ مِنْ بَعْدِ إِكْرَاهِهِنَّ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan kepadamu…. (QS. An Nur/24: 32-33)

a. Hikmah Nikah

Nikah adalah lembaga formal dalam agama untuk membangun keluarga. Dalam nikah akan ditemukan beberapa hikmah, antara lain :

1. Memelihara keturunan. Firman Allah:

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً

Artinya: Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenismu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu. (QS. An Nahl/16: 72)

2. Melindungi diri dari godaan nafsu. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ : قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ , مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ , فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ , وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Artinya: Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa dia berkata : “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata ke[ada kami : “Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mempunyai kemampuan untuk kawin, maka hendaklah ia kawin. Sebab perkawinan itu akan lebih menahan pandangan dan memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu hendaklah dia berpuasa. Sesungguhnya puasa itu adalah tameng baginya. (H.R. Al Bukhari)

3. Membangun interdependensi antara suami dan isteri dalam tanggung jawab keluarga. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ , الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ , وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ , وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا , وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya: Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya. Penguasa adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Orang laki-laki adalah pemimpin di dalam keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Dan wanita adalah pemimpin di dalam rumah suaminya dan ia akan dinatanya tentang kepemimpinannya. Seorang pembantu adalah pemimpinpada harta tuannya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya”. (H.R. Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi dan Ahmad)

4. Mendapatkan ketenteraman rohani. Firman Allah:

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih dan sayang…. ( QS. Ar rum/30:21)

b. Kendala Pernikahan

Islam mewajibkan umatnya untuk senantiasa iffah (menjaga diri dari perbuatan haram), terutama dalam hubungan lawan jenis, dan Islam menjadikan sarana untuk iffah itu menjadi sangat mudah, sehingga ketika seseorang membutuhkan pemenuhan kebutuhan biologisnya nya ia tidak terjerumus dalam perbuatan keji (zina).

Kendala terbesar dalam proses pernikahan adalah kendala finansial. Maka Islam mengajarkan bahwa kemiskinan tidak boleh menjadi hambatan bagi orang yang hendak menikah.

Selama mereka memang layak dan shaleh untuk menikah maka rizki yang ada di sisi Allah menjadi sangat terbuka baginya. Firman Allah:

إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya: Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberiannya) lagi Maha Mengetahui. (QS. An Nur/24: 32)

Kendala finansial yang merintangi seseorang dalam proses pernikahan diuraikan dengan langkah-langkah riil antara lain :

1. Mempermudah peluang kerja, sehingga setiap orang mampu menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya.

2. Membiayai pernikahan orang-orang yang belum mampu secara finansial, agar dapat melaksanakan pernikahan. Firman Allah:

وَأَنْكِحُوا الأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ

Artinya: Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak berkawin dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. (QS. An Nur/24:32)

3. Memberikan peluang kepada budak yang melakukan perjanjian untuk merdeka, dan memberikan kepada mereka modal untuk mandiri. Firman Allah:

وَالَّذِينَ يَبْتَغُونَ الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا وَآَتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آَتَاكُمْ

Artinya: dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan kepadamu…(QS. An Nur/24: 33)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُمْ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيدُ الأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa dia berkata : Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Ada tiga orang yang Allah pasti akan menolongnya, yaitu : Mujahid di jalan Allah, budak yang melakukan perjanjian dengan tuannya, dan orang yang hendak menikah karena ingin iffah. (H.R. At Tirmidzi, An Nasa’iy, dan Al Hakim. Turmudzi berkata : “Hadits ini adalah hasan”. Hakim berkata : “Hadits ini sesuai dengan syarat Muslim dan mereka berdua tidak meriwayatkannya”.)

Demikianlah Islam menguraikan permasalahan secara praktis, sehingga memudahkan setiap orang yang sudah sampai waktunya menikah ia dapat menikah dengan halal, meskipun memiliki kelemahan dalam bidang fiansial.

4. Penghapusan Pelacuran

Kemiskinan seringkali menjadi pembenaran sosial untuk melakukan penyimpangan dengan menjual diri agar dapat mendapatkan uang dalam jumlah besar dengan cara yang mudah dan gampang.

Pelacuran adalah masalah sosial yang paling krusial. Lemahnya iman, keinginan untuk menyalurkan kebutuhan biologisl dan tuntutan mendapatkan uang dengan cara mudah menjadi faktor utama terjadinya perbuatan pelacuran.

Keberadaan budak di tengah masyarakat menjadi hambatan sosial yang sangat besar, ketidak bebasan dan keterpaksaan yang mereka miliki dapat dengan mudah dimanfaatkan orang untuk melakukan pelacuran, karena tergiur oleh uang yang banyak. Seperti yang disebutkan dalam sababun-nuzul ayat ini.

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah: Bahwasannya Abdullah bin Ubay menyuruh budak wanitanya melacur untuk mendapatkan uang yang banyak dengan mudah[12], maka turunlah ayat ini. Firman Allah:

وَلاَ تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَنْ يُكْرِهُّنَّ فَإِنَّ اللَّهَ مِنْ بَعْدِ إِكْرَاهِهِنَّ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran sedang mereka sendiri menghendaki kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barang siapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa (itu). (QS. An Nur/24:33)

Larangan ini sebagai upaya prefentif, pendidikan akhlaq dalam membangun pribadi yang bersih. Keberadaan pelacur akan menjadi peluang besar terjadinya penyimpangan seksual. Dan jika tidak ada pelacuran maka kebutuhan seksual itu akan dipenuhi dengan cara yang halal dan terhormat, yaitu dengan menikah.

a. Keterpaksaan

Ayat di atas menunjuk kepada pemaksaan yang dilakukan para tuan terhadap hamba sahayanya. Keterpaksaan akan menangguhkan hukum bagi seseorang yang dipaksa. Firman Allah:

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإِيمَانِ

Artinya: Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah) kecuai orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman. (QS. An Nahl/16: 106)

Sabda Nabi :

عَنْ أَبِي ذَرٍّ الْغِفَارِيِّ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Dzar Al Ghifari bahwa dia berkata : “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah memaafkan dari ummatku ketika salah, lupa, dan apa yang dipaksakan kepada mereka” (H.R.Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

Sehingga status budak sahaya yang dipaksa tuannya melakukan perbuatan itu bebas dari hukuman. Dan kepada pemaksanyalah hukuman itu dikembalikan.

Keterpaksaan hanya dapat terjadi jika disertai dengan ancaman yang membinasakan diri atau sebagian anggota tubuh seseorang, seperti ancaman dengan pembunuhan, dan sejenisnya. Tetapi jika ancaman itu tidak membahayakan maka tidak akan membuat orang berstatus terpaksa.

Dari itulah dalam status keterpaksaan para budak di ayat ini disertai dengan penjelasan “keinginan para budak untuk suci”, sebab keinginan inilah yang membuatnya terpaksa, berbeda jika para budak itu menikmati pelacuran itu sebagai sesuatu yang menyenangkan, maka tidak ada istilah keterpaksaan.

b. Bentuk-bentuk Pelacuran

Pelacuran di zaman jahiliyah dapat dikategorikan dalam dua bentuk, yaitu :

1. Pelacuran berkedok Pernikahan

Pelacuran model ini sering dilakukan oleh para budak yang kurang tercukupi atau wanita merdeka yang belum bersuami atau keluarga yang melindunginya. Pelacuran model ini dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

a. Seorang wanita tinggal di rumah, bersama dengan beberapa orang laki-laki, para lelaki itu membiayai kebutuhan wanita, dan wanita itu memenuhi hajat para lelaki itu. Ketika wanita itu hamil dan melahirkan, dikumpulkannyalah seluruh laki-laki yang pernah menggaulinya, lalu dipilihlah dari sekian laki-laki itu yang diinginkan oleh wanita tadi. Dan laki-laki yang ditunjuk tidak dapat menolak.

b. Seorang suami berkata kepada isterinya ketika bersih dari bulanannya: “ Datanglah ke rumah si fulan, dan mintalah digauli orang itu”. Setelah itu sang suami tidak menggauli isterinya itu sebelum ketahuan hamil. Dan ketika diketahui sudah hamil barulah suami itu bergaul dengan siterinya itu. Cara ini dimasudkan untuk mendapatkan keturunan berkualitas seperti yang diinginkan suami.

c. Gundik-gundik, yang menjadi simpanan seseorang tanpa dinikahi. Mereka beranggapan, jika yang tersembunyi maka itu tidak apa-apa, tetapi yang kelihatanlah yang menjadi tercela. Inilah yang disebut Allah dalam firman-Nya:

غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلاَ مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ

Artinya: …tidak dengan maksud zina atau menjadikannya gundik-gundik….(QS. Al Maidah/5:5)

2. Pelacuran konvensional di rumah-rumah bordil.

Pelacuran konvensional pada umumnya dilakukan oleh para budak tetapi tidak jarang pula dilakukan oleh orang-orang merdeka. Model pelacuran ini biasanya dilakukan dengan :

a. Sebagian tuan pemilik budak menuntut budaknya untuk medapatkan uang dalam jumlah besar setiap bulannya, sehingga para budak itu terpaksa melacurkan diri. Sebab sangat sulit bagi mereka untuk medapatkan uang dalam jumlah besar dengan bekerja normal.

b. Sebagian tuan-tuan budak sengaja menempatkan para budaknya di rumah khusus, di depan pintunya diberi tanda bebas masuk bagi siapa saja yang ingin melampiaskan syahwatnya. Para tuan itu tinggal mengambil uang yang mereka kumpulkan dari jasa jual badan itu. Jika salah satu budaknya menolak, ia pukuli dan dipaksanya untuk melayani siapa saja, sehingga pendapatan terus mengalir.

Abdullah bin Ubay, tokoh munafik seperti yang disebutkan dalam sababun-nuzul ayat ini, memiliki enam orang budak muda-muda yang cantik-cantik. Ia paksa budak-budaknya itu melacur agar mendapatkan uang dengan mudah dalam jumlah besar.

Itulah jahiliyah masa lalu yang memaksa para budak melakukan perbuatan asusila. Dan jahiliyah modern melindungi para pelacur di bawah payung hak asasi manusia, dengan mendapatkan perlindungan keamanan dan fasilitas pembinaan. Tidak ada yang berubah dari pelacuran jahiliyah masa lalu, hanya saja yang terjadi dalam jahliyah modern lebih dahsyat dari jahiliyah masa lalu. Jika pada masa lalu pelacuran itu lebih banyak dilakukan oleh para budak, dan di zaman modern ini pelacuran dilakukan oleh orang-orang yang bebas merdeka.

c. Kekayaan Hasil Pelacuran

Pelacuran adalah perbuatan haram sepanjang zaman. Dan orang yang melakukannya, memotivasi dan memfasilitasinya adalah termasuk dalam jaringan pelaku dosa besar ini.

Islam memandang pelcuran sebagai salah satu bentuk jarimah (kejahatan) sosial meskipun dilakukan dengan kesepakatan dan saling menyenangkan antara subyek dan obyeknya.

Islam melarang umatnya menjadikan pelacuran sebagai komoditas jasa dalam mendapatkan uang. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Mas’ud Al Anshariy yang mengatakan bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang jasa jual beli anjing, mahar pelacur, dan jasa perdukunan. [13]

d. Bahaya Pelacuran

Dampak pelacuran tidak kalah bahayanya dengan perzinaan dalam merusak struktur masyarakat. Bahaya yang ditimbulkan oleh pelacuran itu antara lain :

1. Menghilangkan kehormatan dan harga diri seseorang dalam masyarakat. Padahal kehormatan dan harga diri adalah modal utama dalam bermasyarakat.

2. Pelecehan terhadap kesucian lembaga pernikahan yang halal dan sah dalam memenuhi hajat jinsiyah (kebutuhan biologis). Karena dengan adanya pelacuran akan membuat orang yang berfikir pragmatis akan mengatakan bahwa tanpa menikah ia sudah dapat memenuhi kebutuhan biologisnya.

3. Pengakburan status keturunan yang mengakibatkan hilangnya kebanggaan seseorang sebagai manusia mulia yang dilahirkan dengan cara terhormat dan mulia.

4. Penyebaran penyakit-penyakit sosial baik fisik maupun mental yang berdampak pada lemahnya daya tahan masyarakat dan runtuhnya tatanan sosial.

e. Tarbiyah Qur’aniyah

Penghapusan praktek pelacuran adalah salah satu bentuk usaha membangun masyarakat yang bersih, dan terhormat.

Cita-cita ini tidak akan pernah terwujud jika tidak secara intensif mengembalikan solusi semua persoalan hidup ini kepada manhaj qur’aniy. Ayat 34 surah An Nur ini mengaskan perlunya kembalikepada Al Qur’an dalam mencari penjelasan atas semua persoalan. Firman Allah:

وَلَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ آَيَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ وَمَثَلاً مِنَ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. An Nur/24: 34)

Dengan kembalikepada Al Qur’an dalam setiap menghadapi persoalan, maka seorang mukmin akan mendapatkan solusi hukum, penjelasan yang meyakinkan dan aplikasi yang mudah.

Pesan tarbiyah yang dapat dipetik dari penegasan ayat ini adalah:

1. Menjadi kewajiban setiap pendidik untuk menjelaskan keutamaan dan kedudukan Al Que’an bagi umat ini, sehingga menggugah kebanggaan sebagai umat yang memiliki kitab suci yang mulia.

2. Bahwa ketinggian kualitas umat dapat dibangun lewat interaksi mereka terhadap Al Qur’an. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Artinya: Diriwayatkan dari Utsman radliallaahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa dia bersabda : “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajar-kan Al Qur’an (HR. Al Bukhari, Abu Dawud, Turmudzi dan Ahmad)

3. Ketenangan dan kedamaian umat ini akan ditemukan saat mereka intensif bert’amul (interaksi) dengan Al Qur’an. Sabda Nabi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ , يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ , وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ , إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ , وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ , وَحَفَّتْهُمْ الْمَلاَئِكَةُ , وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliallaahu ‘anhu bahwa dia berkata : “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidak pernah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan mengkajinya, kecuali akan turun di atas mereka itu ketenangan, akan memenuhi mereka rahmat, dan para malaikat akan melingkupinya, dan Allah akan sebutkan kepada orang-orang yang ada di sisi-Nya. (HR. Al Bukhari).


[1] As Suyuthi, op cit, h. 19

[2] Sikap Umar ini sudah diingatkan oleh Ubay bin Ka’b: “Hai Ibnul Khaththab! Janganlah kamu membuat siksaan kepada para sahabat Nabi”. Jawab Umar: “Subhanallah, subhanallah. Sesungguhnya saya sudah pernah mendengar hadits itu, dan saya ingin menguatkannya. Lihat Al Maghribi, Jam’ul Fawa’id, op cit, Juz III h. 14

[3] ibid.

[4] Al Qurthubi, Al Jami’ li Ahkam Al Qur’an, op cit, Juz XII h. 222

[5] Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa adillatuh, op cit. Juz I h. 579

[6] Ar Razi, Mafatihul-Ghaib, ( Beirut: Darul-Kutub al Ilmiyah, 1990) Cet. I Jilid XII h.176

[7] As Shan’ani, Subulusalam, (Riyadh: Mathabi’ Jami’ah Al Imam Muhammad Ibn Su’ud Al Islamiyah, 1408 H) Juz I h. 304

[8] Al Qurthubi, Al Jami’ li Ahkam Al Qur’an, op cit, Juz XII h. 228

[9] Asy Syaukani, Fathul-Qadir, (Beirut: Dar El Fikr T th) Jilid IV h.25

[10] Al Qurthubi, Al Jami’ li Ahkam Al Qur’an, op cit, Juz XII h. 231-232

[11] ibid,

[12] As Suyuthi, op cit.

[13] Shahih Muslim, op cit, Juz I h 684

About these ads

Satu Tanggapan to “PELAJARAN KETUJUH (TAFSIR SURAT AN NUR AYAT 27 – 34)”

  1. JUFRI YAZID said

    Terimakasih, atas ilmunya dan semoga bermanfaat buat semua muslim dan muslimat, dan mohon izin saya mengkopi file ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 82 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: