Samudra Ilmu Agama Islam

Islam Rahmatan Lil 'Alamin

PELAJARAN KEENAM (TAFSIR SURAT AN NUR AYAT 11 – 26)

Posted by Administrator pada 21 November 2008

HADITSUL IFKI

(Berita Palsu tentang Aisyah ra)

SEBUAH PROSES TARBIYAH QUR’ANIYAH

 

Islam menghendaki terbentuknya masyarakat yang bersih dan terhormat, jauh dari perbuatan-perbuatan negatif yang merusak sendi-sendinya. Sehingga masyarakat mampu berperan pula sebagai pendidik bagi warganya.

Tersebarnya isu-isu negatif ke tengah masyarakat akan sangat berdampak luas pada fungsi pendidikan terutama pembinaan akhlaq. Dan isu negatif yang paling sensitif menyebar di masyarakat adalah isu perzinaan. Keresahan dan goncangan akan mengganggu dinamika masyarakat.

Islam telah berusaha maksimal meminimalisir penyebaran isu-isu negatif itu. Namun jika terjadi pula muncul isu negatif tentang seseorang, Islam mengajarkan untuk menghentikan isu itu dan fihak yang diisukan untuk pandai mengambil pelajaran.

Tuduhan perselingkuhan itu dituduhkan pada Aisyah ra, oleh kaum munafiq dan melibatkan tokoh-tokoh penting dalam Islam, seperti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai suami, Abu Bakar As Shiddiq ayah Aisyah dan sahabat terdekat Nabi, Shafwan ibn Al Mu’aththil seorang veteran Badr, seperti yang diterangkan dalam sababun nuzul ayat 11 sampai 22 ini.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila akan bepergian, ia mengundi dahulu, siapa di antara isterinya yang akan dibawa ikut serta dalam perjalanan itu. Demikian juga Rasulullah mengundi isterinya yang akan dibawa ke medan perang. Pada suatu hari dan kejadiannya setelah turun ayat hijab, kebetulan Aisyah terundi untuk dibawa. Aisyah digotong di atas tandu, dan tandu itu ditaruh di atas onta untuk kemudian berangkat.

Setelah selesai peperangan dan ketika pulang hampir mendekati Madinah, Rasulullah memberi izin untuk berhenti sebentar pada waktu malam. Aisyah turun dan pergi buang air. Ketika sampai kembali ke tempatnya, Aisyah meraba dadanya ternyata kalungnya hilang, sehingga ia pulang kembali ke tempat tadi untuk mencari kalungnya.

Lama ia mencarinya, dan orang-orang yang memikul tandunya mengangkat kembali tandu itu ke atas unta yang dinaikinya. Mereka mengira bahwa Aisyah ada di dalamnya, karena wanita-wanita pada waktu itu badannya enteng dan langsing-langsing, sehingga tidak begitu terasa bedanya antara tandu kosong dengan yang berisi.

Kalung itu diketemukan setelah pasukan Rasulullah berangkat, sehingga tak seorangpun terdapat di situ. Aisyah duduk kembali di tempat berhenti tadi, dengan harapan orang-orang akan menjemputnya atau mencarinya kembali.

Ketika duduk di tempat istirahat tadi Aisyah mengantuk dan terus tertidur. Kebetulan sekali Shafwan bin Al Mu’aththil yang tertinggal oleh pasukan karena suatu halangan pada pagi hari itu sampai ke tempat pemberhentian Aisyah dan melihat ada benda hitam bayangan manusia. Ia dapat mengenalnya karena sebelum turun ayat hijab pernah melihatnya.

Aisyah terbangun karena Shafwan mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” dan segera Aisyah menutup mukanya dengan kerudungnya. Tidak sepatah katapun yang diucapkan Aisyah dan ia tidak mendengar kecuali ucapan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” tadi. Ketika itu Shafwan menyuruh untanya berlutut agar Aisyah dapat naik di atas unta tersebut, dan ia menuntun unta itu sehingga sampai ke tempat pasukan yang sedang berteduh di tengah hari. Hal itulah yang terjadi pada diri Aisyah. Maka celakalah orang yang menuduhnya dengan fitnah yang dilancarkan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul.

Ketika sampai ke Madinah Aisyah menderita sakit selama satu bulan, dan orang-orang menyebar luaskan fitnah yang dibuat oleh Abdullah bin Ubay bin Salul, tapi Aisyah sendiri tidak mengetahuinya.

Setelah Aisyah merasa agak sembuh, ia memaksakan diri dibimbing Ummu Misthah pergi buang air. Ummu Misthah tergelincir dan latah dengan ucapan: ”Celaka anakku si Misthah”. Aisyah bertanya :”Mengapa engkau berkata demikian, mencaci maki seorang yang ikut serta dalam perang Badr”. Ummu Misthah berkata: “Wahai junjunganku! Tidakkah engkau mendengar apa yang ia katakana?”. Aisyah bertanya : “Apa yang ia katakan?”. Lalu Ummu Misthah menceritakan fitnah yang tersebar sehingga bertambahlah penyakit Aisyah.

Pada suatu hari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam datang menemuinya, tidak seperti biasanya dalam menyikapi Aisyah. Rasulullah hanya bertanya : “Bagaimana keadaanmu”?. Kemudian Aisyah meminta izin untuk pergi ke Ibu-Bapaknya untuk meyakinkan khabar yang tersebar itu. Rasulullah mengizinkan, dan ketika sampai di rumah orang tuanya, Aisyah bertanya kepada ibunya: ”Wahai ibuku! Apa yang mereka katakan tentang diriku?” Ia menjawab: ”Wahai anakku! Demi Allah tabahkanlah hatimu! Sangatlah sedikit wanita yang cantik dan dicintai suaminya serta dimadu, pasti banyak yang akan menghasutnya”. Aisyah berkata: “Subhanallah, apakah sampai demikian orang-orang memperbincangkanku. Dan apakah hal ini sampai kepada Rasulullah?” Ibunya mengiyakan. Iapun menangis malam itu hingga pagi, sehingga air matanya tak henti-hentinya mengalir.

Pada suatu hari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid untuk membicarakan perceraian dengan isterinya, karena wahyu tidak turun.

Usamah mengemukakan pendapatnya bahwa sepanjang pengetahuannya keluarga Rasul itu adalah orang baik. Berkata: “Ya Rasulallah, mereka itu adalah keluarga tuan dan kami mengetahui bahwa mereka itu baik”.

Ali berkata :”Allah tidak menyempitkan Tuan dan masih banyak wanita selainnya. Untuk itu sebaiknya Tuan bertanya kepada Barirah (pembantu rumah tangga Aisyah) pasti ia akan menerangkan yang benar”.

Rasulullah memanggil Barirah, dan bertanya: “Wahai Barirah, apakah engkau melihat yang meragukanmu tentang Aisyah?. Ia menjawab:”Demi Allah yang telah mengutus tuan dengan haq, jika aku melihat dari padanya sesuatu hal, tentu tak kan aku sembunyikan, tiada lebih ia seorang yang masih sangat muda, masih suka tertidur di samping tepung yang sedang diadoni, dan membiarkan ternaknya makan tepung karena tertidur”.

Maka berdirilah Raulullah di atas mimbar meminta bukti dari Abdullah bin Ubay bin Salul dengan berkata:”Wahai kaum Muslimin siapakah yang dapat menunjukkan orang yang telah menyakiti keluargaku, karena demi Allah aku tidak mengetahui tentang isteriku kecuali kebaikan”.

Di saat itu Aisyah sedang menangis sepanjang hari, demikian juga pada malam harinya, air matanya mengalir dan tidak sekejap pun dapat tidur, dan ibu-bapaknya mengira bahwa tangisannya akan membelah jantungnya.

Ketika kedua orang tuanya menunggui Aisyah yang sedang menangis, datanglah seorang wanita Anshar meminta izin masuk, dan Aisyah-pun mengizinkannya serta duduklah wanita itu di sisinya ikut menangis.

Ketika itu datanglah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberi salam dan duduk serta membaca syahadat dan berkata: ”Amma ba’du. Wahai Aisyah! Sesungguhnya telah sampai ke telingaku hal-hal mengenai dirimu. Sekiranya engkau bersih, maka Allah akan membersihkanmu dan jika engkau melakukan dosa, maka mintalah ampun kepada Allah. Sesungguhnya seseorang yang mengakui dosanya kemudian bertaubat, Allah akan menerima taubatnya”. Setelah beliau selesai bicara berkatalah Aisyah kepada ayahnya: ”Coba jawabkan untukku wahai Ayahku!” Abu Bakar menjawab: ”Apa yang mesti aku katakan?” Lalu Aisyah berkata kepada ibunya: “Coba jawab perkataan Rasulullah untukku wahai Ibuku!”. Ia menjawab: ”Demi Allah, apa yang mesti aku katakan?” Akhirnya Aisyah pun menjawab: “Aku ini seorang wanita yang masih sangat muda. Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui bahwa Tuan telah mendengar apa-apa dan terkena di hati tuan bahkan Tuan mempercayainya. Sekiranya aku berkata bahwa aku bersih, dan Allah mengetahui bahwa aku bersih, Tuan tidak akan mempercayainya”.

Hal ini terjadi setelah sebulan lamanya tidak turun wahyu berkenaan dengan peristiwa Aisyah.

Setelah itu ia pun pindah dan berbaring di tempat tidurnya.

Belum juga Rasulullah meninggalkan tempat duduknya dan tak seorangpun dari isi rumah yang keluar, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi, dan tampak sekali Rasulullah kepayahan sebagaimana biasanya apabila menerima wahyu.

Setelah selesai turun wahyu, kalimat pertama yang Rasulullah ucapkan ialah: “Bergembiralah wahai Aisyah, sesungguhnya Allah telah membersihkanmu”.

Maka berkatalah ibunya kepada Aisyah: ”Bangun dan menghadaplah kepadanya”. Aisyah berkata: ”Demi Allah, aku tidak akan bangun menghadap kepadanya, dan tidak akan memuji syukur kecuali kepada Allah yang telah menurunkan ayat yang menyatkan kesucianku.[1]

Setelah kejadian ini, Abu Bakar yang biasanya memberi nafkah kepada Misthah karena hubungan kerabat dan kefakirannya, berkata: “Demi Allah, aku tidak akan memberi nafkah lagi kepada Misthah karena ucapannya tentang Aisyah” maka turunlah Ayat 22 .[2]

 

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantun) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 

Ayat itu memberi teguran kepada orang-orang yang bersumpah tidak akan memberi nafkah kepada kerabat, fakir, dan lainnya karena merasa disakiti hatinya oleh mereka.

Abu Bakar berkata: “Demi Allah, sesungguhnya aku mengharapkan ampunan”. Ia pun terus menafkahi Misthah sebagaimana semula.[3]

Kekecewaan Abu Bakar terhadap Misthah tidak menghalanginya untuk terus berbuat baik, meskipun kepada orang yang pernah menyakiti diri dan keluarganya.

Permasalahan ini dalam surah An Nur dibahas dalam ayat 11 sampai 26

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ (11) لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ (12) لَوْلَا جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَئِكَ عِنْدَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ (13) وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (14) إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ (15) وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ (16) يَعِظُكُمَ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (17) وَيُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (18) إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (19) وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (20) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (21) وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (22) إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (23) يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (24) يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ وَيَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبِينُ (25) الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (26)

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagimu,bahkan ia adalah baik bagimu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakan.

Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata”.

Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta.

Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.

Ingatlah di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia di sisi Allah adalah besar.

Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha suci Engkau Ya Tuhan kami. Ini adalah dusta yang besar.

Allah memperingatka kamu agar (jangan) kembali berbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.

Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana.

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kaum kerabatnya, orang-orang yang miskin dan orang-orang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari ketika, lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang Maha Besar, lagi Maha menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya).

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji, dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik (pula). Mereka yang dituduh itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).

 

 

Permasalahan penting yang akan dibahas dalam bab kedua ini adalah:

1. Haditsul ifki

2. Manhaj Qur’aniy dalam menghadapi haditsul ifki

3. Haditsul ifki, Tarbiyah Qur’aniyah bagi umat Islam

4. Peringatan bagi orang-orang yang suka menyebarkan keburukan

5. Balasan bagi penuduh wanita muhshanat

 

1. Haditsul-Ifki

Kata “ifk” digunakan untuk menunjukkan pembicaraan yang lebih dusta dan lebih palsu. Ada yang mengartikannya dengan iftira’ (berita yang mengada-ada). Ada pula yang mengartikannya dengan buhtan (fitnah). [4]

Berita bohong ini mengenai isteri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Aisyah r.a. Ummul Mu’minin, sehabis perang dengan Bani Musthaliq tahun 5 H. Peperangan ini diikuti pula oleh kaum munafik, dan turut pula Aisyah dengan Nabi berdasarkan undian yang diadakan antara isteri-isteri beliau.

Dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat. Aisyah keluar dari sekedupnya untuk suatu keperluan, kemudian kembali. Tiba-tiba ia merasa kalungnya hilang, lalu dia pergi mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa Aisyah masih ada di dalam sekedup. Setelah Aisyah mengetahui, sekedupnya sudah berangkat dia duduk di tempatnya dan mengharapkan sekedup itu akan kembali menjemputnya.

Kebetulan, lewat di tempat itu seorang sahabat Nabi, Shafwan ibnu Mu’aththil, diketemukannya seseorang sedang tidur sendirian dan dia terkejut seraya mengucapkan : “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, isteri Rasul!”. Aisyah terbangun. Lalu dia dipersilahkan oleh Shafwan mengendarai untanya. Shafwan berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah. Orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut pendapat masing-masing.

Mulailah timbul desas-desus. Kemudian kaum munafik membesar-besarkannya, maka fitnah atas Aisyah itupun bertambah luas, sehingga menimbulkan kegincangan di kalangan kaum muslimin. [5]

Haditsul ifki telah memberi pelajaran yang sangat berharga bagi masyarakat muslim dalam menjaga akhlaknya dari ketergelinciran. Dalam peristiwa itu pula terjadi pembuangan kebiasan buruk masyarakat dalam menyebarkan berita tanpa ada ilmu dan keyakinan yang pasti. Firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ

 

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagimu,bahkan ia adalah baik bagimu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakan. (QS. An Nur/24: 11)

 

Peristiwa haditsul ifki yang kelihatan sangat merugikan itu tetap memiliki nilai positif bagi kaum mu’minin, yaitu :

1. Orang-orang yang menjadi sasaran fitnah, yaitu Aisyah, Rasulullah, Abu Bakar dan Shafwan bin Al Mu’aththil, dapat bersabar karena mengharapkan ridha Allah. Inilah cara orang-orang beriman dalam menyikapi kezaliman yang menimpa dirinya.

2. Dengan munculnya tuduhan ini ke permukaan maka terbuktilah siapa yang benar dan siapa yang dusta. Jika haditsul ifki tidak muncul maka akan menjadi pertanyaan sejarah yang krusial.

3. Menunjukkan kehormatan dan kemuliaan orang-orang yang menjadi sasaran fitnah ini. Ayat-ayat Al Qur’an yang turun secara khusus membersihkan Aisyah ra. dari tuduhan itu sudah sangat jelas menunjukkan kedudukan Ummul Mu’minin ini di hadapan Allah.

4. Peristiwa ini menjadi batu uji keimanan dan kekufuran seseorang. Penyikapan terhadap peristiwa ini menjadi salah satu ukuran keimanan.[6]

 

2. Manhaj Qur’ani Menghadapi Haditsul Ifki

Sampai hari ini seringkali kita tidak habis mengerti bagaimana haditsul-ifki dapat menyebar dalam masyarakat Islam pada waktu itu, dan menimbulkan luka mendalam pada jiwa manusia yang diakui kebersihan dan kemuliannya.

Haditsul-ifki adalah peperangan besar yang dialami Rasulullah dan umat Islam pada waktu itu. Dan umat Islam dapat keluar dari semua serangan itu dengan kemenangan besar. Menahan luka yang dalam, memelihara kesabaran dengan kebesaran jiwa.

Serangan isu yang sedemikian dahsyatnya tidak mampu mempengaruhi kesabaran dan pertahanan mereka. Penderitaan dan kepedihan yang dialami Nabi, Aisyah, Abu Bakar, dan kaum muslimin pada waktu itu bisa dinggap sebagai penderitaan terberat dalam sejarah hidup mereka. Dan haditsul ifki adalah ancaman terbesar yang dihadapi Islam dalam sejarahnya.

Peristiwa seperti ini akan mudah diredam, jika saja kaum muslimin memiliki cara efektif dalam menghadapai persoalan seperti ini.

Cara efektif menghadapi persoalan seperti ini dengan dua hal penting yaitu bertanya kepada hati nurani, dan mencari pembuktian faktual.

a. Dalil Hati Nurani

Jika seandainya kaum muslimin mau bertanya kepada diri sendiri pada waktu itu, dengan kembali kepada fitrahnya yang lurus, maka persoalannya akan lain. Firman Allah:

لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ

Artinya: Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata”. (QS. An Nur/24: 12)

 

Inilah langkah pertama yang seharusnya dilakukan kaum muslimin menghadapi berita seperti itu, husnuzhzhan (berbaik sangka) pada diri sendiri. Memposisikan diri dalam ketidak mungkinan seperti itu. Apalagi kepada isteri Nabi yang dikenal sangat bersih, dan seorang laki-laki sahabat mujahid fi sabilillah. Mereka adalah bagian dari diri kita sendiri.

Berbaik sangka kepada seorang mukmin jauh lebih utama dibandingkan terhadap diri sendiri. firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

 

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. (QS. Al Hujurat/49: 12)

 

Sikap yang tidak pantas dilakukan oleh kaum muslimin pada umumnya tentu sangat tidak pantas dilakukan oleh ummahatul-mu’minin (isteri-isteri Nabi) dan sahabat Nabi yang diakui kebaikannya.

Seperti yang dilakukan Abu Ayyub Khalid bin Zaid Al Anshari dan isterinya. Ummu Ayyub bertanya kepada Abu Ayyub: “Wahai Abu Ayyub! apakah kamu mendengar orang-orang yang membicarakan Aisyah? Abu Ayyub menjawab: “Ya ! saya mendengar, dan itu semua dusta, Apakah engkau mungkin melakukannya Wahai Ummu Ayyub? Ummu Ayyub menjawab :”Tidak ! Demi Allah saya tidak akan melakukannya!” Kata Abu Ayyub :”Demi Allah, Aisyah lebih baik dari kamu. [7]

Dalam riwayat lain menyebutkan. Abu Ayyub berkata kepada Ummu Ayyub : “Tahukah kamu apa yang dikatakan orang? Ummu Ayyub menimpali : “Jika seandainya kamu yang berposisi sebagai Shafwan, apakah kamu akan berfikir buruk terhadap kehormatan Rasulullah? Kata Abu Ayyub: “Tidak”. Kata Ummu Ayyub: “Dan jika saya yang berposisi sebagai Aisyah maka saya tidak akan berkhianat pada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Aisyah lebih baik dari pada saya, dan Shafwan lebih baik dari pada kamu…”[8]

Dua riwayat tadi menunjukkan bahwa ada sebagian kaum muslimin yang kembali bertanya pada diri sendiri, lalu menyimpulkan ketidak mungkinan peristiwa yang dituduhkan kepada Aisyah ra, dan sahabat Nabi Shafwan bin Al Mu’aththil.

Dengan cara itu mereka mampu menahan diri tidak terlibat dalam berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya, tenggelam dalam isu kotor, yang tidak bisa didiskusikan.

Inilah cara pertama yang surah An Nur ajarkan dalam menghadapi persolan seperti ini. Penggunaan mata hati dan perasaan pada diri sendiri sebagai bandingan untuk mengukur ketidak mungkinan pada orang yang diyakini jauh lebih baik dan lebih mulia.

 

b. Dalil Eksternal dan Pembuktian Faktual

Tuduhan berselingkuh kepada Aisyah r.a. adalah tuduhan terbesar dalam sejarah Islam, karena tuduhan itu menyerang kepada orang yang selama ini dikenal sebagai lambang kebersihan dan kesucian.

Maka sangat tidak logis dan sangat tidak realistis ketika masalah yang sebesar itu dapat lolos dan beredar di tengah-tengah masyarakat tanpa saksi yang kuat dan bukti nyata. Firman Allah :

لَوْلَا جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَئِكَ عِنْدَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ

Artinya: Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. (QS. AnNur/24: 13)

Ketidak mampuan mereka untuk mendatangkan bukti dan saksi menunjukkan bahwa berita itu adalah berita bohong.

Dua langkah ini, yaitu: bertanya kepada hati nurani dan pengukuhan dengan bukti dan saksi, dilupakan kaum muslimin pada saat mereka menghadapi haditsul-ifki. Konspirasi jahat untuk menghujat Rasulullah dan keluarganya dapat menyebar di Madinah selama satu bulan penuh.

Jika saja bukan karena rahmat dan kasih sayang Allah, tentulah kaum muslimin layak mendapatkan azab yang pedih karena kelalaian mereka dalam menyikapi persoalan ini.

Dari itulah Allah memperingatkan agar hal serupa tidak terjadi di kemudian hari. Firman Allah :

 

يَعِظُكُمَ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya: Allah memperingatka kamu agar (jangan) kembali berbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. An Nur/24:17)

 

1. Haditsul ifki, Tarbiyah Qur’aniyah bagi Umat Islam

Haditsul-ifki adalah pelajaran pahit bagi kaum muslimin yang sedang tumbuh pada waktu itu. Hanya dengan anugerah dan rahmat Allah mereka terbebas dari azab dan hukuman Allah.

Fitnah yang demikian adalah perbuatan yang sudah selayaknya mendapatkan azab yang pedih. Firman Allah:

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Artinya: Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (QS. An Nur/24: 14)

 

Rasulullah, putera bani Hasyim yang paling utama, dihujat rumah tangganya bersama orang yang paling dicintainya, rumah tangga suci yang menebarkan kesucian. Ia dihujat kehormatannya, padahal dialah orang yang gigih menegakkan kehormatan ummatnya. Ia dihujat telah berkhianat kepada Allah padahal ia adalah utusan Allah.

Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam tetaplah manusia yang merasakan penderitaan sebagaimana manusia lain. Keragu-raguan ikut pula bermain di hatinya, meskipun indikasi kuat mengatakan bahwa Aisyah bersih, tetapi ia belum dapat menyimpulkan indikasi itu menjadi ketenangan.

Aisyah ra, orang yang sangat bersih dan lurus pikirannya, dihujat kehormatan yang paling dibanggakannya. Puteri As Shiddiq yang tumbuh dalam lingkungan yang bersih dan mulia, dihujat amanahnya padahal ia adalah isteri Muhammad bin Abdillah. Ia dihujat kesetiaannya kepada suaminya, padahal ia adalah isteri tercinta yang sangat dekat dan dimanjakan. Ia dihujat imannya, padahal ia adalah wanita muslimah yang tumbuh dalam ruang Islam sejak ia membuka matanya.

Aisyah sangat menderita dengan berita-berita itu, hingga demamnya tinggi, ia sangat terpukul ketika berita itu juga didengar oleh ibu bapaknya. Sangat menderita lagi ketika Rasulullah menemuinya dan mengatakan kepadanya:

“Saya sudah mendengar tentang dirimu ini dan itu. Jika memang kamu bersih maka Allah akan membersihkanmu, dan jika kamu berbuat dosa maka mintalah ampun kepada Allah dan bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya seorang hamba yang mengakui kesalahannya lalu bertaubat, Allah akan memberinya taubat” [9]

 

Aisyah melihat ada keraguan pada diri Rasulullah meskipun tidak melancarkan tuduhan kepadanya. Allah belum menurunkan wahyu yang membersihkan suasana.

Abu Bakar as Siddiq, orang yang sangat sensitif, dihujat kehormatannya karena hujatan pada puterinya, isteri sahabat yang dia cintai, seorang Nabi yang dia imani dengan sepenuh hati. Ia tidak dapat melakukan pembelaan apapun. Luka hatinya terlihat dari ucapannya :

“Demi Allah, di masa jahiliyah saja, tidak pernah dituduh seperti ini, apakah pantas terjadi di masa Islam?[10]

 

Sahabat Shafwan bin Al Mu’aththil seorang mujahid, dituduh berkhianat pada Nabinya. Ia dihujat amanahnya, kehormatannya, dan loyalitasnya pada Islam.

Maka sudah sangat layak jika kaum muslimin pada waktu itu mendapatkan azab Allah sesuai dengan racun mematikan yang mereka sebarkan dalam masyarakat Islam yang sedang tumbuh, dan menyerang simbol-simbol kesucian yang menjadi tonggak berdirinya masyarakat itu.

Sangat layak jika Allah turunkan azab yang sebanding dengan kejahatan kaum munafik yang berusaha mencabut keimanan umat dari akarnya. Mereka menggoyang kepercayaan umat kepada Tuhannya, Nabinya, dan sesama muslim selama satu bulan penuh. Ketidak pastian, kebimbangan, dan keresahan melingkupi Madinah.

Akan tetapi karunia dan rahmat Allah melimpah kepada kaum muslimin yang sedang tumbuh membangun. Dan rahmat itupun akhirnya dinikmati pula oleh mereka yang menyebarkan malapetaka di Madinah.

Al Qur’an menggambarkan masa bimbang, tanpa kendali dan ukuran itu dengan mengungkapkan :

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ

Artinya: Ingatlah di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia di sisi Allah adalah besar. (QS. An Nur/24: 15)

 

Ayat yang menggambarkan sikap ceroboh, melakukan sesuatu yang sangat berbahaya tanpa ada beban dosa.

Masalah yang sebesar itu seharusnya disikapi dengan ekstra hati-hati, mendengarnya saja sudah merupakan goncangan, apalagi mempercayai dan ikut mengucapkan/menyebarkan.

Seharusnya kaum muslimin menghadapkan diri kepada Allah, meminta agar nabinya tidak didiskriditkan seperti itu. Firman Allah:

وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ

Artinya: Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha suci Engkau Ya Tuhan kami. Ini adalah dusta yang besar. (QS. An Nur/24:16)

 

Jika cara ini dihayati dengan seksama, maka masalah itu tidak akan berkembang menyudutkan Nabi dan keluarganya.

Mendengarkan hal seperti itu saja sudah harus dihindari, sebagai konsekwensi iman, apalagi ikut serta dalam penyebarannya. Firman Allah:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3)

Artinya: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna. (QS. Al Mu’minun/23: 1-3)

 

Artinya: Dan apabila mereka mendengar perkataan yag tidak bermanfaat, mereka berpaling dari padanya. (QS. Al Qashash/28: 55)

 

Dari itulah Allah SWT mengingatkan umat ini untuk tidak mengulang perbuatan ceroboh seperti itu di kemudian hari. Firman Allah :

 

يَعِظُكُمَ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya: Allah memperingatkan kamu agar ( jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. An Nur/24:17)

 

Allah menasehati dengan cara yang halus dan mendidik, sesuai dengan keadaan kaum muslimin yang sangat peka terhadap teguran, setia dengan perintah dan cerdas mengambil pelajaran. Kesetiaan untuk tidak mengulang kesalahan itu dikaitkan dengan iman sebagai garansinya.

Peristiwa ini juga memberikan tarbiyah imaniyah yang mendalam yaitu:

a. Bahwa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan status kenabian dan kerasulannya tidak pernah mengeluarkannya dari realitas dirinya sebagai manusia biasa. (sifat basyariyah).

b. Bahwa wahyu Allah bukanlah ilusi jiwa yang keluar dari seorang Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana wahyu Allah itu tidak dapat diproduk sesuai dengan keinginan dan harapan Nabi Muhammad. Sebab jika wahyu Allah dapat diatur sedemikian rupa oleh keinginan-keinginan manusia (Nabi Muhammad) maka sangat mudah bagi Nabi untuk mengakhiri kemelut haditsul ifki ini sebelum berkembang menjadi fitnah bagi diri dan keluarganya, dengan menjadikan apa yang diyakininya sebagai Al Qur’an dan kebenaran yang diyakini oleh kaum muslimin. Tetapi Rasulullah tidak melakukan hal itu karena memang di luar kemampuannya sebagai seorang rasul utusan Allah.

Sesungguhnya peristiwa haditsul ifki telah memberi pelajaran penting bagi kaum muslimin dalam membangun masyarakat, yaitu :

a. Sterilisasi masyarakat muslim dari isu-isu yang meresahkan, berupa ucapan-ucapan jorok atau tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar.

b. Sikap yang benar terhadap kehormatan sesama muslim, terutama dalam menjaga mulut/bicara.

c. Mengembangkan budaya husnuzh-zhan (berbaik sangka) kepada sesama muslim.

d. Mengajarkan adab Islam dalam mendengar sesuatu yang tidak berguna, dengan memposisikan diri sebagai orang yang tidak layak mendengarkannya, apalagi ikut menyebarkannya.

 

2. Peringatan Bagi Orang yang Suka Menyebarkan Keburukan

 

Pendidikan berikutnya yang Allah berikan kepada kaum muslimin ketika mendengar berita-berita bohong seperti itu adalah dengan mengingat hukuman Allah. Cara inilah yang disebut sebagai nasehat terberat bagi kaum muslimin. [11]

Allah SWT mengancam orang-orang yang suka menyebarkan keburukan dengan menuduh wanita-wanita muhshanat melakukan perselingkuhan dengan azab Allah di dunia dan akhirat. Firman Allah :

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (QS. An Nur/24: 19)

 

Orang-orang yang menuduh wanita muhshanat, khususnya Aisyah ra yang ada dalam baitun-nubuwwah (rumah kenabian)[12], sesungguhnya sedang menggoyang sendi kepercayaan kaum mukminin terhadap al khair (kebaikan) al Iffah ( pemeliharaan diri) dan An Nazhafah (kebersihan) masyarakat, dan menghilangkan rasa malu dan risih bagi orang yang suka berbuat keji.

Hal ini dilakukan dengan membangun opini bahwa perbuatan keji telah terjadi di mana-mana termasuk dalam rumah tangga Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sebagai pimpinan dan teladan umat Islam.

Cara ini akan menumbuhkan keberanian pada penakut yang ingin berbuat keji. Karena menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar dan dapat terjadi pada siapa saja. Inilah yang sering kali menjadi pendorong terjadinya gaya hidup permisif.

Karena demikian besar bahaya yang ditimbulkan oleh iklan keji, Allah menyebut orang-orang yang menuduh zina pada wanita-wanita muhshanat sebagai orang-orang yang menginginkan tersiarnya perbuatan keji di tengah-tengah kaum mu’minin. Allah menyediakan azab yang pedih bagi mereka di dunia dan akhirat. Firman Allah :

 

لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ

Artinya: Bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. (QS. An Nur/24:19)

 

Inilah salah satu bentuk pendidikan akhlaq dalam usaha memproteksi penyebaran perbuatan tercela di tengah-tengah masyarakat.

Sebuah konsep pendidikan yang diajukan sesuai dengan pengalaman kemanusiaan dalam pengendalian selera dengan mengarahkan pada ilmu Allah.

 

وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

 

Artinya: Dan Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. An Nur/24:19)

 

Ayat di atas memberikan pesan tarbiyah yang sangat mendalam bagi pendidikan lain :

a. Keberadaan anggota masyarakat muslim yang suka menyerang kehormatan orang lain, menuduhnya berselingkuh tanpa bukti yang benar, adalah realitas sosial yang telah, sedang dan akan terus ada di setiap ruang dan waktu.

b. Kondisi ini bisa dijadikan sebagai indikator penguatan dan perlemahan akhlak Islam di masyarakat. Ini adalah kenyataan buruk yang harus mendapatkan tindakan sesuai dengan syari’ah Allah.

c. Keberadaan oknum yang berbuat demikian tidak boleh mengurangi kebaikan masyarakat secara umum. Di tengah masyarakat tentu masih banyak orang-orang yang lebih mencintai kebajikan. Keberadaan oknum-oknum ini harus menjadi pemicu bagi ahlu-khair untuk melancarkan perbaikan-perbaikan sosial dengan sabar, dan penuh hikmah.

d. Siapapun, anggota masyarakat yang melakukan hujatan terhadap kehormatan orang lain akan diancam dengan hukuman dunia dan akherat. Dengan sanksi ini diharapakan akan terjadi pengendalian yang ketat pada masing-masing orang untuk tidak mudah melontarkan tuduhan kepada orang lain.

e. Ketika kita mendengar tuduhan yang dilontarkan seseorang kepada fihak lain, maka kita bangun dalam diri kita sikap husnuzh-zhan (berbaik sangka) kepada orang yang dituduh itu, bila perlu dengan melakukan pembelaan kehormatan orang yang dihujat.


[1] Al Qurthubi, , op cit, Juz XII, h. 197-200. Asy Syaukani, op cit, Jilid IV h. 15. Ibnul-Arabi, op cit, h. 359-362. Ibnu Katsir. op cit, Jilid III h. 359-361

[2] ibid,

[3] Al Qurthubi,, op cit, Juz XII h. 207, As Syaukani, op cit, Jilid IV, h. 18. Ibnu Katsir, op cit, Jilid III h. 361, Ibnul-Araby, op cit, III h. 368

[4] Ar Razi, Mafatihul-Ghaib, op cit, Jilid XII h. 150, Az Zamakhsyari, Al Kasysyaf, op cit, Juz III h. 52

[5] Ibnu Katsir, op cit, Juz III h. 359

[6] Ibnu Katsir menyebutkan Ijma’ Ulama, bahwa siapapun yang memaki-maki Aisyah r.a. setelah peristiwa haditsul-ifki, menuduhnya dengan tuduhan seperti itu, maka hukumnya kafir. Karena orang yang melakukan perbuatan itu berlawanan dengan Al Qur’an. Sedangkan untuk selain Aisyah r.a. ada dua pendapat tetapi yang paling shahih adalah sama dengan Aisyah r.a. Lihat Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al Azhim, op cit, Juz III h. 369

[7] Harun, Abdussalam Muhammad, Tahdzib Sirah ibn Hisyam, (Kairo: Maktabah As Sunnah, 1989) Cet. VI , h. 194.

[8] Az Zamakhsyari, Al Kasysyaf, (Beirut: Dar El Fikr, T. th), Jilid III h. 53, Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al Adhim, (Riyadh: Maktabah Darussalam, 1994) Cet. I. Jilid III h. 365

[9] Lihat Asbabun Nuzul, surah An Nur ayat 11- 20

[10] Quthb, Sayyid, Fi Zhilalil-Qur’an, (Jeddah: Syarikah Darul-ilmi, 1986) Cet. XII Jilid IV hal 2498

[11] Al Biqa’iy, Nadhmud-Durar, (Kairo: Dar al Kitab al Islami, 1992) Cet. II. Jilid XIII juz 18 h 233

[12] AL Qurthubi, Al Jami Li Ahkam Al Qur’an, ( Beirut: Dar Ihya’ at Turats Al Arabi,1966), Juz XII hal. 206

About these ads

9 Tanggapan to “PELAJARAN KEENAM (TAFSIR SURAT AN NUR AYAT 11 – 26)”

  1. nailahalkherid said

    Terima kasih ustad atas di muatnya tafsir surat An-nur,saya mahasiswa ustad dan kebetulan sekali sedang membahas tentang surat an-nur dalam pelajaran tafsir dan ini sangat membantu sekali, saya izin share ya ustad, jazakallah ustad

  2. fauzi said

    monggo, terima kasih atas bantuannya nyebarkan ilmu

  3. izin copy ustadz. Jazakumullaahu khoir :)

  4. ria said

    z copy ya pak……,makasih banyak…..

  5. [...] 1 2 Mari Beramal Dengan Menyebarkan Artikel Ini [...]

  6. arif said

    izin copi ustadz..

  7. alhamdulilah dapat materi untuk ceramah besok

  8. ujhy said

    alhamdulillah…saya mahasiswa yang sedang mencari tafsir surah an nur ini,,mohon izin copy ya ustad,,wasalam

  9. Reblogged this on senyumseikhlashati and commented:
    asbabun nuzul surah An Nur (24) ayat 11 – 26
    coba ambil ibroh dari sebuah peristiwa :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 85 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: